Getting To Know The Kindness and Humility of Mart DeHaan

Two years ago, I got a privilege to meet Mart DeHaan, who was the president of RBC Ministries at that time, the grandson of the founder of RBC Ministries. He is the most humble leader that I have ever met, and even arguably one of the most humble among all the leaders that I have ever known!

As a leader that has lead RBC Ministries for 26 years that time, I haven’t heard any single negative thingabout him. Every stories that I heard about him from the others are always about how others have experienced his kindness and how they were so impressed with his kindness and humility. Simply unbelievable!

And, two years ago, I got a privilege to get the first-hand experience of his kindness and humility, when he came to Jakarta from USA. When I first met him at the airport, he didn’t only shake my hand, he also looked at my eyes. He meant his handshake and asked for my name. For about 10 seconds, I got a full attention from the highest-position leader of an international ministry. And he did that not only to me, but to others also. He meant every handshake that he did and got interested to know more about the people whom he is handshaking.

So many good impressions that I got from him, but maybe the greatest that I will never forget is this following moment:

Continue Reading

Keputusan Ibu Dosen yang Tak Terduga

Delapan tahun yang lalu, saat saya masih kuliah di Fasilkom, saya ingat saat itu sedang masa pendaftaran kuliah semester pendek. Karena ada yang bilang, “Kalau mau lulus kuliah 3,5 tahun, kamu harus ambil semester pendek”, maka kuliah semester pendek ini menjadi penting untuk saya ambil.

Saya pun memasukkan form pendaftaran untuk ikut kuliah semester pendek. Karena kuota kelas yang terbatas, hanya 50 mahasiswa saja yang bisa diterima, dan penerimaannya berdasarkan siapa yang daftar duluan.

Saya masih ingat ketika hari pengumuman mahasiswa yang diterima untuk ikut semester pendek. Nama saya tidak ada di sana. Tapi di sana ada nama teman saya, yang saya tahu dia memasukkan form setelah saya.

Saya masih ingat kekecewaan yang saya rasakan saat itu. Seolah harapan untuk lulus kuliah 3,5 tahun sirna karena itu (belakangan saya tahu ini lebay sih). “Pasti ada kesalahan! Ini tidak adil! Kenapa saya yang duluan mendaftar tidak diterima, sedangkan teman saya yang daftar belakangan yang diterima?”

Continue Reading

What Does Matter More Than A Good Result?

Few years back, I got an idea to develop a computer application. I was excited about the project, and so I started right away. I enjoyed the coding, the design processes, and also learned some new things along the way. Until it was finished and I shared my idea and my works with others.

What’s their response? They thought that my idea was not good and couldn’t be used. Though there was a slight disappointment, it wasn’t really a matter for me. After all, it was not a waste, because I enjoyed the process, and I learned a lot from the process.

Later on, the lessons that I learned from that failed project enabled me to develop other applications that really work.

If you enjoy the process, you won’t care much about the result. The good result is just like a bonus for you. What really matters is what you have learned along the way.

Bersyukur Karena Dimaki Pengendara Motor

Dua hari terakhir ini, ketika sedang berkendara, saya dimaki oleh dua pengendara motor yang berbeda.

Yang pertama terjadi kemarin, ketika saya melewati sebuah jalan dua arah yang padat dari arah sebaliknya, membuat saya lebih berhati-hati dan mengendarai mobil saya dengan perlahan. Tampaknya sang pengendara motor di belakang saya tidak sabar dan membunyikan klakson berulang kali, dan ketika ada kesempatan menyalip mobil saya, kata makian yang saya pun tidak dengar dengan jelas itu terlontar dari mulutnya sebelum dia memacu motornya dengan kecepatan tinggi dan menghilang dari pandangan saya.

Kejadian yang kedua terjadi malam ini, ketika saya sedang mengendarai mobil di sebuah jalan satu lajur, dan ada gerobak yang membuat saya menurunkan kecepatan saya secara cukup tiba-tiba. Tampaknya motor di belakang saya kaget karena perubahan kecepatan itu dan kembali membunyikan klakson. Ketika saya sudah sampai di jalan yang lebih lebar, motor tersebut melewati mobil saya dan saya pun dapat “hadiah” kata-kata keras yang saya pun tidak dengar dengan jelas.

Perasaan saya menjadi tidak enak ketika untuk kedua kalinya dalam dua hari saya dimaki oleh dua pengendara motor yang berbeda. Namun, tiba-tiba sebuah pencerahan terlintas di pikiran saya, “Wah, masih bagus si pengendara motor masih cukup sehat untuk memaki saya. Bayangkan kalau si pengendara motor itu menabrak mobil saya dan terluka. Dia terluka, mobil saya penyok, dan saya kena masalah yang lebih besar.”

Tiba-tiba, makian itu menjadi suatu hal yang dapat disyukuri. Bersyukur karena si pengendara motor masih cukup sehat untuk memaki saya. Hanya satu hal yang saya khawatirkan, apabila kedua pengendara motor itu menyimpan rasa kesalnya dan itu membuat mereka tidak berkonsentrasi dalam berkendara. Ah, semoga kiranya mereka semua dapat tiba dengan selamat sampai tujuan.

Dunia ini memang lucu. Kadang orang yang memaki yang perlu lebih dikasihani daripada orang yang dimaki.

Ketika Lukisanmu Dirusak

Di atas gunung, seorang pelukis melukis sebuah lukisan pemandangan yang sangat indah lukisan terindah yang pernah dia hasilkan sepanjang hidupnya.

Dia begitu bangga akan lukisannya, dan mulai mengamatinya. Dia ingin tahu bagaimana lukisannya jika dilihat dari jauh. Oleh karena itu, dia mulai mundur sambil terus mengangumi lukisannya.

Dia terus mundur sampai tiba-tiba ada seseorang yang tiba-tiba merusak lukisannya.

Terkejut dan marah, dia langsung lari ke arah orang itu dan lukisannya yang telah dirusak…

Dia begitu marah dan memukul orang yang merusak lukisan terbaiknya tersebut begitu rupa sampai orang itu tidak bernyawa lagi.

Ketika kemarahannya sudah mulai reda, dia melihat ke belakang dan dia sangat terkejut. Dia melihat ternyata dirinya ada di pinggir jurang! Selangkah mundur lagi ketika dia sedang mengamati lukisannya tadi, dan dia akan jatuh ke jurang yang tak terlihat dasarnya itu.

Rusaknya lukisan terbaiknya telah mencegahnya kehilangan nyawanya yang jauh lebih berharga.

Orang yang dia begitu marah karena telah merusak lukisannya, yang dia telah habisi, ternyata adalah penyelamat nyawanya.

Ada sebuah pelajaran berharga di dalam kisah ini. Kita melangkah tanpa tahu ke mana kita melangkah, tapi Tuhan tahu… Dan percayalah, ke mana pun Tuhan mengarahkanmu untuk pergi, itulah jalan yang terbaik yang dapat kamu tempuh.

Carilah Tuhan ketika Dia masih dapat dicari, karena akan tiba saatnya jika kita terus mengeraskan hati kita, mungkin berikutnya Tuhan tak dapat lagi kita temui.

Seperti yang terjadi pada Firaun, diawali dari dia mengeraskan hatinya, diakhiri dengan Tuhan yang mengeraskan hatinya.

Atau seperti orang-orang yang Asaf katakan di Mazmur 73, ditempatkan Tuhan di tempat yang licin hingga jatuh tergelincir dan hancur (Mazmur 73:18).

Bersyukurlah jika Tuhan masih merusak lukisan kita, karena itu berarti Tuhan tidak membiarkan kita melenggang dengan rencana kita yang penuh kerapuhan. Sebaliknya, Dia mau membawa kita kepada rencana-Nya yang penuh harapan.

Tuhan mengasihimu. Percayalah kepada-Nya.

Kejadiannya Mungkin Saja Lebih Buruk

Sore ini, ketika saya sedang mengendarai mobil dan berbelok di sebuah tikungan, mobil saya membentur trotoar jalan dan bunyinya cukup keras. Saya yakin pasti ada bagian mobil saya yang rusak karena benturan tersebut.

Kemudian, sambil terus melaju, saya mulai memikirkan kerusakan apa yang mungkin terjadi pada mobil saya, dan saya mulai menyesal kurang berhati-hati dalam menikung tadi. Saya berpikir, seharusnya saya bisa menikung dengan lebih baik.

Hanya selang beberapa detik sejak pikiran-pikiran negatif itu muncul, saya bersyukur ada pikiran-pikiran lain yang melintas di benak saya.

“Untunglah saya hanya menabrak trotoar dan tidak menabrak orang. Kejadiannya mungkin saja lebih buruk!

“Untunglah mobil saya masih bisa tetap berjalan dengan normal dan tidak menjadi mogok. Kejadiannya mungkin saja lebih buruk!

“Untunglah saya sama sekali tidak terluka. Kejadiannya mungkin saja lebih buruk!

Dan, ketika pikiran-pikiran itu mulai mengambil alih, saya mulai bisa menenangkan diri dan mulai bersyukur. Ya, bersyukur saya hanya menabrak trotoar dan bukan menabrak orang. Bersyukur mobil saya masih bisa berjalan dan tidak mogok. Bersyukur saya sama sekali tidak terluka. Sebenarnya kejadiannya mungkin saja lebih buruk. Tapi syukurlah, itu tidak terjadi.

Kini, peristiwa itu tidak lagi menjadi peristiwa buruk, tapi menjadi sebuah peristiwa berharga. Pertama, saya mendapatkan pelajaran untuk lebih berhati-hati dalam menikung. Kedua, saya dapat mensyukuri saya tidak menabrak orang, mobil saya tidak mogok, dan saya selamat sampai tujuan. Hal-hal yang jarang saya syukuri tanpa adanya kejadian seperti ini.

Jadi, setiap kali kita mengalami peristiwa buruk, katakanlah pada diri kita sendiri, “Kejadiannya mungkin saja lebih buruk!” Pikirkanlah kemungkinan-kemungkinan lebih buruk yang mungkin saja terjadi tetapi itu tidak terjadi, dan syukurilah bahwa hal itu tidak terjadi. Maka niscaya kita akan mengubah peristiwa buruk tersebut menjadi sebuah peristiwa berharga, yang menjadikan kita seorang yang lebih baik.

Kompromi

Semua orang dapat membuat komitmen, namun tidak semua berhasil memenuhinya.

Tantangan terbesar bukanlah saat kita “membuat komitmen”, tetapi seberapa setia kita dalam “memenuhi komitmen” yang telah kita buat.

Saya merasakannya sendiri, bagaimana “memenuhi sebuah komitmen” tidaklah semudah “membuat komitmen”. Berkali-kali saya gagal memenuhi komitmen yang telah saya tetapkan.

Tiga tahun yang lalu, saya sempat membuat sebuah komitmen untuk update blog setiap hari jam 6 pagi, yang kemudian saya longgarkan menjadi update blog seminggu sekali, setiap hari Rabu jam 6 pagi. Saya bahkan membuat ini menjadi sebuah “public commitment“.

Continue Reading