Ketika saya masih muda dan bebas berimajinasi, saya bermimpi mengubah dunia. Seiring dengan bertambahnya usia dan kebijaksanaan, saya mendapati dunia yang tidak berubah, saya pun menyederhanakan keinginan saya dan memutuskan hanya ingin mengubah negeri saya.
Akan tetapi, tampaknya tak ada yang berubah dengan negeri saya. Usia pun kian senja, usaha terakhir saya adalah berusaha mengubah keluarga, orang-orang terdekat. Akan tetapi, lagi-lagi, mereka tetap sama, tak ada yang berubah.
Setelah setiap hari saya mengamati blog saya, baik dari statistik dan komentar-komentar yang masuk, saya mengamati ada beberapa fenomena menarik. Apakah fenomena menarik tersebut?
Yang pertama adalah mengenai banyaknya orang yang masuk ke blog saya dari search engine dengan kata kunci “trik sulap angka”, “sulap matematika”, dan “sulap angka”. Yang menarik adalah jumlah pencarian ini melonjak drastis sejak Joe Sandy mempertontonkan aksinya dalam bermain angka di acara sulap The Master. Saya cukup senang dengan fenomena ini karena banyak orang-orang Indonesia yang menjadi tertarik mempelajari matematika, meskipun beberapa hanya sebatas penasaran akan sulap angka yang diperagakan Joe Sandy.
Ini adalah modifikasi dari trik sulap angka yang pernah saya berikan di postingan ini.
Untuk memudahkan jalannya permainan, sebaiknya siapkan selembar kertas, sebuah pen, dan sebuah kalkulator. Sudah? Oke, kita siap melakukan permainan ini…
Jalan Permainan
Pertama, minta seseorang menuliskan sebuah bilangan empat angka di atas kertas yang telah diberikan (misal: 1976). Selanjutnya, minta orang tersebut untuk mengubah susunan angka dari bilangan yang telah dituliskannya sekehendak hatinya, lalu tuliskan di bawah bilangan yang pertama (misal: angka-angkanya diacak menjadi 9671). Lalu, minta dia mengambil kalkulator dan mengurangkan bilangan yang LEBIH BESAR dengan bilangan yang LEBIH KECIL, lalu tuliskan di bagian paling bawah kertas (9671 – 1976 = 7695). Dari hasil pengurangan yang telah dilakukan, minta dia untuk menyembunyikan satu angka yang mana saja, dan memberitahu Anda angka-angka lainnya. Kemudian, anda akan mengejutkan dia dengan memberitahu angka yang dia sembunyikan.
Dua bulan yang lalu, seorang teman sekelas saya yang kuliah di NTU pergi meninggalkan dunia ini dengan tiba-tiba karena jatuh. Bulan lalu, giliran saudara mama saya yang pergi karena sakit yang merenggut tubuhnya di usianya yang ke-51. Hari ini, giliran saudara papa saya yang menghembuskan nafasnya yang terakhir, kembali karena penyakit, di usianya yang ke-23.
Saya seakan tersentak. Seorang demi seorang orang yang saya kenal meninggalkan dunia ini, dengan cara yang berbeda-beda, dengan usia yang berbeda-beda pula. Suka atau tidak, cepat atau lambat, saya pun akan mendapatkan giliran. Ketika saat itu terjadi, kira-kira apakah saya sudah siap? Apakah saya sudah cukup membahagiakan orang-orang di sekitar saya? Apakah orang-orang yang saya kenal akan menangisi kepergian saya? Pengaruh seperti apa yang telah saya buat di dunia ini? Apakah saya akan diingat orang karena hal positif yang saya buat, atau hal negatif yang saya lakukan sepanjang hidup ini? Kira-kira, sudah puaskah Tuhan melihat hidup saya?
Dua hari yang lalu, ketika saya naik bajaj, saya memberikan uang bayaran dua ribu Rupiah lebih daripada ongkos yang kami sepakati. Saya menghargai kerja keras dia, dan terutama karena satu hal, dia tidak merokok. Ketika begitu banyak abang bajaj yang merokok, dia mengambil keputusan untuk tidak ikut-ikutan, dan saya sangat menghargainya. Tapi, ada yang lebih penting daripada sekadar dua ribu Rupiah tersebut. Saya melihat dia tersenyum, dan berterima kasih. Oh, saya sungguh bahagia melihat senyum tersebut. Saya tidak menyangka saya akan mendapatkan senyumnya yang menurut saya jauh lebih berharga dari dua ribu Rupiah milik saya.
Ikan yang Kelaparan
Beberapa tahun yang lalu sebuah penelitian ilmiah yang penting tengah dilakukan. Saya mengetahui hal ini dari sebuah film dokumenter tentang pendidikan. Di situ ditampilkan Dr. Eden Ryl seorang psikolog spesialis perilaku. Ia juga dikenal sebagai pembicara. Di dalam eksperimennya, seekor ikan Great northern Pike (jenis salmon besar bisa tumbuh sampai sepanjang 1,4 meter dan beratnya mencapai 21 kilogram), dimasukkan ke dalam sebuah akuarium. Dia diberi makan berupa ikan-ikan minnow, sejenis ikan sungai berukuran kecil (biasanya berukuran 6-10 cm). Selama beberapa hari, beberapa kamera digunakan untuk merekam tingkah laku kedua jenis ikan tersebut.
Beberapa waktu kemudian, para peneliti mengubah kondisi akuarium itu. Mereka meletakkan penyekat dari kaca, untuk memisahkan ikan besar dari ikan-ikan kecil. Setiap kali ikan besar berupaya memangsa ikan kecil, setiap kali pula ia membentur penyekat kaca. Karena kegagalan demi kegagalan yang dialaminya dalam memperoleh mangsanya dan merasakan sakit di seluruh tubuhnya akibat benturan-benturan pada sekat kaca itu, ia pun menghentikan upaya menangkap ikan kecil. Setelah diperkirakan ikan besar sangat kelaparan, para peneliti mengangkat sekat pembatas tersebut. Ikan-ikan kecil pun bisa berenang bebas dalam akuarium tersebut. Mereka siap menjadi santapan ikan besar yang sedang kelaparan.
Akhirnya pertarungan The Master Season II berakhir Jumat kemarin dan Limbad lah yang menjadi The Master untuk season II ini. Mungkin sebagian masyarakat menganggap Limbad adalah seorang yang sangat hebat dan kuat, dan sebagian lainnya menganggap dia seorang yang menyeramkan. Aksi-aksinya seperti dilindas oleh stum, disetrum listrik 5000 Watt, dan lain-lain. Saingannya di final, Denny Darko, sebenarnya juga memberikan perlawanan yang ketat dengan meloloskan diri dari akuarium dengan mencari 1 dari 50 kunci yang tepat dan menebak kombinasi dari kunci akuarium tersebut. Kalau saya pribadi, saya lebih menyukai Denny Darko daripada Limbad. Tapi saya juga mengucapkan selamat kepada Limbad yang sudah jadi juara.
Limbad yang menjadi juara di Season II ini akan melawan Joe Sandy, pemenang Season I, dua minggu lagi. Saya jadi ingin tahu pendapat masyarakat, siapa yang lebih didukung untuk menjadi pemenangnya? Silakan mengisi polling di bawah ini.
mau Blackberry / iPhone 3G gratis? klik aja http://www.xpango.com?ref=91708312
Izinkanlah saya untuk memperkenalkan Seseorang yang sangat luar biasa, yang pernah ada di dunia ini 2000 tahun silam, dan Dia masih hidup sampai sekarang.
Dia adalah seorang guru bagi banyak orang, tetapi Dia dikhianati salah satu murid-Nya sendiri.
Ketika murid-Nya dan para pasukan datang untuk menangkap Dia, murid-Nya yang lain membelanya dengan mengeluarkan pedangnya dan menebas telinga salah seorang prajurit. Apa yang dilakukan oleh-Nya? Dia meminta murid-Nya tersebut untuk menyarungkan kembali pedangnya dan Dia menyembuhkan telinga sang prajurit. Padahal, jika ingin, daripada menyembuhkan telinga prajurit tersebut, Dia bisa saja memutuskan telinganya yang satu lagi.
Dia diludahi, harga diri-Nya diinjak-injak, tetapi Dia tidak membalasnya. Jangankan membalas, bahkan Dia tidak mengumpat. Padahal, jika ingin, Dia bisa saja memutuskan lidah orang yang meludahi-Nya.
Dia diadili secara tidak adil. Sang hakim tidak menemukan kesalahan apapun daripada-Nya, tetapi malah menghukum mati Dia dan membebaskan seorang penjahat yang seharusnya layak dihukum. Tapi, Dia tidak melawannya. Padahal, Dia bisa saja membuat sang hakim menjadi berpihak pada-Nya.
Dia yang tidak bersalah, dicambuk ratusan kali dengan cambuk berujung tajam yang dapat mengangkat daging orang yang dicambuknya. Daging-Nya tercabik-cabik, tetapi Dia tidak melawan. Padahal, Dia bisa saja memutuskan tangan algojo-algojo yang mencambuknya.
Dia dipakaikan mahkota duri. Bayangkan duri-duri menancap di kepalanya, dan Dia tidak berusaha melepaskannya. Padahal, Dia bisa saja membuat mahkota duri itu berubah menjadi topi biasa dalam sekejap.
Dia dengan luka-luka cambukan di tubuh-Nya, dipaksa untuk memikul balok kayu kasar yang sangat berat ke atas sebuah bukit, dan Dia bahkan tidak mengeluh. Padahal, Dia bisa saja “memindahkan” luka-luka-Nya ke prajurit yang memaksa-Nya memikul balok kayu tersebut.
Kedua tangan-Nya dan kaki-Nya dipaku, lalu tubuhnya digantung di atas kayu salib, dan Dia tidak dendam dengan orang yang menyalibkan-Nya. Malahan, Dia mengampuni-Nya saat itu juga. Padahal, Dia bisa saja melenyapkan nyawa orang-orang yang menyalibkan-Nya saat itu juga. Selain itu, Dia juga bisa turun dari salib, tetapi Dia tidak melakukan-Nya.
Tanggal 9 April nanti, akan diadakan PEMILU (Pemilihan Umum). Di saat banyak orang sudah menetapkan pilihannya, ternyata banyak orang yang masih bingung, dan ada sebagian yang cenderung menjadi GOLPUT (golongan putih) alias tidak menggunakan hak pilihnya. Sebagian orang berpikir, dengan menjadi GOLPUT adalah langkah yang terbaik, daripada salah memilih. Ada pula yang memilih untuk menjadi GOLPUT karena tidak ada satu partai pun yang benar-benar pas di hatinya. Apakah benar menjadi GOLPUT adalah langkah terbaik? Sebelum saya melanjutkan, saya akan menceritakan sebuah ilustrasi.
Anda dihadapkan pada sebuah meja pertemuan. Di atas meja tersebut terdapat dua buah gelas. Sekilas, kedua gelas tersebut tampak sama. Isinya berwarna hitam kemerahan, dan baunya seperti bau anggur. Keduanya tidak dapat dibedakan secara kasat mata, tetapi ada satu hal yang sangat membedakan kedua gelas tersebut. Salah satu gelas tersebut berisi “anggur masam”, dan yang satunya lagi berisi “racun”!
Anda harus meminum salah satu dari kedua gelas tersebut. Anda diberikan kesempatan untuk memilih gelas yang akan Anda minum. Jika Anda tidak menggunakan kesempatan tersebut, orang lain akan memilihkan sebuah gelas secara acak untuk Anda minum. Anda diperbolehkan menggunakan alat-alat untuk mendeteksi racun, tetapi Anda harus mencarinya sendiri. Anda hanya diberikan waktu 2 jam untuk membuat pilihan, atau orang lain yang akan memilihkannya untuk Anda. Anda boleh saja memilih secara asal-asalan, Anda boleh saja membiarkan orang lain yang memilihkannya untuk Anda, tapi jangan menyesal kalau ternyata gelas yang Anda minum berisi racun.
Ilustrasi di atas mengilustrasikan PEMILU yang akan diadakan tanggal 9 April nanti.
Ada sebuah definisi “sukses” dan “bahagia” yang saya sedang sukai saat ini.
Sukses adalah mendapatkan apa yang kita inginkan.
Bahagia adalah menginginkan apa yang kita dapatkan.
Bagaimana menurut teman-teman?

David Hartanto. A great mathematician. A great player. A great friend.
David Hartanto. Ketika mendengar nama ini, terbayang di kepala saya seorang teman yang begitu ceria, jago matematika, dan menikmati hidupnya dengan berbagai macam game. Saya mengenal David sejak saya duduk di kelas 1 SMA di SMAK I, tahun 2002. Kami memiliki hobi yang sama, kami sama-sama menyukai matematika. Saat itu, saya iseng-iseng pernah membuat sebuah olimpiade matematika. Olimpiade ini hanyalah iseng-iseng saya, dan tidak mengatasnamakan sekolah. David adalah salah satu dari 29 peserta yang terdaftar di olimpiade itu. Hasil olimpiade menempatkan David pada peringkat 4, dengan nilai 45, setelah Sander, Hantonius, dan Anthony. Ini adalah salah satu kesan pertama saya pada seorang David Hartanto. Mendapatkan nilai 45 dari soal yang saya rancang saat itu tidaklah mudah. Nama David pun semakin terdengar karena bakatnya di bidang matematika.
Dua tahun kemudian, saya kembali dipertemukan dengan David, di dalam sebuah keluarga besar 3 IPA 4. Ya, ke-29 anggota kelas 3 IPA 4 memang sudah layaknya sebuah keluarga besar. Terlalu banyak kenangan yang terlalu baik untuk kami lupakan.
Cobalah tanya kepada semua siswa-siswi kelas 3 IPA angkatan saya, “Siapakah David Hartanto?”. Mereka akan menjawabnya, “Oh… Si jago mat itu…”. Ya, dia selalu bisa diandalkan untuk memecahkan soal matematika yang kami rasa pun tidak ada jawabannya. Tetapi untuk seorang David, dia hanya mengambil selembar kertas, mencoret-coret sebentar, dan jawaban telah muncul secara ajaib. Namun, oleh karena bentuk tulisannya yang sangat unik, hanya sedikit orang yang dapat menafsirkannya. Saya sendiri agak kesulitan untuk membacanya, tetapi kalau dibaca dengan sungguh, terbaca kok… Saya ingat saya masih menyimpan setumpuk fotokopi pekerjaan David mengenai latihan integral.

