Jawaban Faktual vs Jawaban Solutif

Sore itu, saya masuk ke dalam sebuah restoran sushi. Telah terbayang di pikiran saya sushi favorit saya yang akan saya pesan. Saya mencoba mencarinya di antara rak-rak display yang ada di sana. Setelah bolak-balik 3 kali karena tidak menemukan sushi favorit saya, saya sukses didatangi pelayan toko. Bukan satu, tapi dua pelayan toko!

Seorang pelayan pria dan wanita menghampiri saya. Si pelayan pria bertanya, “Ada yang bisa saya bantu pak? Sedang cari sushi apa?”

“Oh saya sedang cari sushi favorit saya, yang ada abon-abonnya itu, tapi saya lupa namanya…”

Si pelayan pria langsung mengambil daftar menu dan menunjukkan gambar sushi favorit saya dan bertanya pada saya, “Oh yang ini ya pak?”

“Ya, betul… Yang itu!” jawab saya.

Tiba-tiba si pelayan wanita berkata, “Oh, sushi itu kita sedang kosong pak sekarang…”

Sedikit rasa kekecewaan timbul ketika mendengar sushi favorit saya sedang kosong. Ketika saya sedang berpikir untuk pindah ke restoran seberang, tiba-tiba bak oase di padang gurun, si pelayan pria berkata, “Oh, sushi ini ada pak. Akan kami segera siapkan ya. Bapak bisa langsung duduk saja, nanti saya antar…”

Maka terjadilah, saya duduk, si pelayan pria segera masuk ke dapur, dan beberapa menit kemudian keluar dengan membawa sushi favorit saya. Akhirnya saya jadi makan di restoran sushi itu dan tidak jadi pindah ke restoran seberang.

Akhirnya, tidak hanya saya berhasil menikmati sushi favorit saya hari itu, saya juga mendapatkan sebuah pelajaran yang berharga yang terlintas di benak saya ketika sedang menunggu sushi favorit saya. Pelajaran apa yang saya dapatkan?

Baca Lanjutannya…

Paksalah Diri Anda untuk Mendapatkan Hal-Hal yang Berharga

Waktu menunjukkan Pukul 00:30 dini hari. Rasa kantuk sudah menyelimuti saya, ketika saya tiba-tiba teringat akan blog saya. Ya, hari ini hari Rabu. Waktunya saya untuk update blog ini.

Setahun yang lalu, saya bertekad akan update blog ini seminggu sekali, setiap hari Rabu jam 6 pagi. Selama hampir setahun lamanya tekad itu berjalan dengan lancar, hingga tiba saat-saat di mana saya benar-benar sibuk dan akhirnya tidak melanjutkan tekad yang telah saya buat.

Ya, awalnya saya berpikir, saya tidak bisa melanjutkan tekad saya tersebut karena kesibukan saya yang bertambah. Kesibukan yang membuat waktu luang saya untuk menulis semakin berkurang. Kesibukan yang membuat saya menjadi terlalu lelah untuk berpikir dan mencari ide-ide tulisan untuk blog ini.

Dahulu, saya berpikir, seandainya saya diberikan waktu luang sehari penuh, saya pasti bisa menulis banyak artikel untuk blog ini. Saya selalu berpikir, yang saya butuhkan hanyalah waktu untuk menulis. Ya, hanya waktu saja… Begitulah yang saya pikir saat itu.

Hingga suatu hari, di sebuah hari Sabtu yang cerah, Tuhan mengabulkan doa saya. Saya mendapatkan satu hari yang kosong, waktu luang sehari penuh yang saya rindukan sejak lama.

Bisakah Anda tebak berapa tulisan yang saya hasilkan hari itu?

Baca Lanjutannya…

Pertanyaan-Pertanyaan Besar Tentang Kehidupan

544853_22199986

Setiap dari kita pasti memiliki pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan. Beberapa di antaranya mungkin telah kita temukan dan yakini jawabannya. Beberapa pertanyaan lainnya, kita merasa kita telah temukan jawabannya, tetapi kita masih belum yakin apakah jawaban ini yang paling tepat. Namun, ada pula pertanyaan-pertanyaan yang kita masih terus cari jawabannya sampai saat ini. Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin sesekali atau sering kali mengusik pikiran kita.

Membahas tentang pertanyaan-pertanyaan dalam kehidupan selalu menjadi sebuah hal yang menarik. Mengapa? Karena kita hanya menjalani hidup ini sekali saja, dan terlalu banyak misteri kehidupan yang ada di dunia ini.

Saat ini, berbeda dari tulisan saya biasanya yang hanya bersifat satu arah, saya ingin kita bisa bersama-sama berdiskusi mengenai hal-hal ini. Bagaimana caranya?

Baca Lanjutannya…

Melakukan yang Terbaik

Minggu lalu, dalam perjalanan saya pulang menuju rumah saya, kemacetan parah terjadi.

Saya tidak tahu apa penyebabnya. Yang saya tahu jalan di sekeliling saya semuanya dipenuhi mobil yang tidak atau lambat sekali bergerak. Dan perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dalam kurang dari 30 menit, hari itu saya tempuh dalam waktu 90 menit.

Di tengah kemacetan, saya menemui sebuah perempatan yang saya beri nama perempatan frustrasi. Kenapa perempatan frustrasi? Karena perempatan itu benar-benar membuat setiap pengemudi frustrasi, tidak terkecuali saya.

Bayangkan sebuah perempatan tanpa lampu merah. Mobil datang dari empat arah berbeda, menuju arah yang berbeda-beda. Ada yang dari depan mau belok kanan, dari kiri mau lurus, dari belakang mau belok kiri, dan yang dari tengah mau terbang ke atas (ehm, iya iya, yang terakhir itu cuma karangan saya…).

Saya sendiri? Saya sendiri datang dari belakang dan mau lurus ke depan. Tentu saja tidak bisa, karena ada mobil dari depan yang mau belok kanan. Dan mobil itu tentu saja tidak bisa belok kanan karena ada mobil dari kiri yang mau lurus. Demikian seterusnya…

Tidak berlebihan jika semua pengemudi menjadi frustrasi. Mereka saling membunyikan klakson. Mereka memepetkan mobil mereka, mencari celah untuk bisa lewat lebih dulu.

Saat itu, saya sedang mendengar musik di dalam mobil hanya bisa melihat mobil-mobil lain saling salib-menyalib. Kaki saya tidak lepas dari pedal rem. Saya hanya bisa menunggu dengan sabar, melihat bagaimana kekusutan itu terurai sedikit demi sedikit.

Saat itu, sebersit pikiran saya mengatakan, “Mengapa kamu mau kalah dengan pengemudi lainnya? Lihat, mereka bisa lewat lebih dulu. Mereka lebih baik dari kamu.”

Syukurlah tidak hanya pikiran itu yang terbersit di benak saya. Ada satu suara lain dalam hati saya yang menjawab pikiran itu.

Suara itu berkata, “Tidak apa-apa, Charles. That’s okay! Kamu ada di dunia ini bukanlah untuk menjadi yang terbaik di antara semua orang, tapi untuk melakukan yang terbaik sesuai kemampuan yang telah Aku berikan kepadamu.

Tepat saat itulah, sesaat setelah suara itu melintas di hati saya, lirik berikut dinyanyikan di lagu yang sedang saya dengar:

Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah. Tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik. Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasa-Nya bagi hamba-Nya yang sabar dan tak kenal putus asa.

Ya, itu adalah bagian dari lirik lagu Jangan Menyerah yang sedang saya dengarkan saat itu. Jangan tanya saya kenapa momennya begitu pas. Saya pun tidak tahu! Saya hanya bisa katakan ini adalah sebuah surprise lain yang Tuhan berikan pada saya.

Kawan, kita hidup bukanlah untuk menjadi orang yang paling hebat. Kita hidup bukan untuk mengalahkan orang lain! Kita hidup untuk menang bersama-sama, dan membantu orang lain untuk menang juga! Kita hidup untuk melakukan yang terbaik yang dapat kita lakukan untuk menyenangkan hati Tuhan.

Baca Lanjutannya…

Kasih di Tengah Ketidaksempurnaan

Di tengah banyaknya musibah dan ketidakpedulian yang merebak akhir-akhir ini di surat kabar atau tayangan berita, foto di atas benar-benar memberikan sebuah harapan untuk saya.

Ada satu pesan luar biasa yang ingin disampaikan melalui foto di atas:

“You don’t have to be perfect to love”

“Kamu tidak harus jadi sempurna dulu untuk dapat mengasihi orang lain”

Pesan yang sangat sederhana, namun begitu mengena di hati saya. Sebuah foto yang membuat saya berpikir dan berintrospeksi.

Berapa sering saya menunda sebuah kebaikan karena saya merasa keadaan saya lebih buruk?

Berapa sering saya enggan menghibur karena saya merasa bahwa sayalah yang perlu dihibur?

Berapa sering saya tidak rela memberi karena saya merasa kekurangan?

Berapa sering saya menjadi iri hati ketika melihat orang yang lebih baik daripada saya?

Berapa sering saya membantu orang lain tanpa sebuah ketulusan?

Seringkali kita berpikir, kita tidak bisa mengasihi karena kita merasa kurang mendapatkan kasih.

Namun itu tidak benar! Justru sebaliknya, kita mendapatkan kasih ketika kita mengasihi.

Baca Lanjutannya…

Nasihat untuk Diri Sendiri

Di saat kita merasa senang atau merasa dalam keadaan positif, di saat akal sehat kita bekerja dengan baik, cobalah untuk menuliskan nasihat-nasihat yang baik dan positif.

Suatu saat nanti, pasti ada saatnya kita sedang mengalami kondisi yang buruk, di saat kita sulit berpikir dengan akal sehat. Di saat itulah, kita bisa membaca kembali tulisan yang telah kita tuliskan sebelumnya. Dan biarkan tulisan itu yang menyemangati dan menasihati kita.

Dibandingkan nasihat dari orang lain, kita pasti lebih percaya dengan nasihat yang kita tuliskan sendiri bukan? :D

Pahlawan Sejati

Pagi ini, aku berjalan keluar dari kamarku,

Berjalan di atas lantai yang begitu bersih,

Pastilah ada orang-orang yang telah bekerja keras membersihkannya

 

Lalu aku masuk ke dalam kamar mandi,

Kunyalakan shower yang kemudian langsung mengeluarkan air,

Pastilah ada orang-orang yang telah bekerja keras membuat air bersih itu dapat mengalir

 

Setelah selesai mandi aku masuk kembali ke kamarku,

Kupilih satu set baju yang akan kupakai hari ini,

Pastilah ada orang-orang yang telah bekerja keras menjahitkan kain-kain menjadi baju ini

 

Baca Lanjutannya…

Izinkan Orang Lain Untuk Mengasihi Anda

“Mama!!! Ini kenapa ayamnya kecil-kecil??? Nasinya banyak begini, ayamnya kecil begini, makanan macam apa ini???” teriak Andi dari ruang makan.

Sang ibu keluar dari dapur, membawa semangkuk besar sayur hijau dan sepiring tahu-tempe. “Ini ada sayur ijo dan tahu-tempe juga yang bisa kamu makan…”

“Sayur begitu mana bisa dimakan. Ngelihatnya saja sudah bikin ga nafsu makan…” kata Andi.

“Ya, adanya hanya ini… Kamu mau makan ngga?” sang ibu mulai kesal melihat Andi bersungut-sungut.

“Apa? ‘Mau makan ngga?’ Jadi gini mama memperlakukan anak mama sendiri…” Andi berdiri dari kursinya.

“Kamu sekarang makin berani ya sama mama???” sang ibu semakin kesal.

“Mama benar-benar membuat Andi ga nafsu makan lagi. Memang dari dulu mama selalu pilih kasih, lebih sayang dengan Budi. Mentang-mentang aku lebih tua, mama ga sayang aku, aku cuma dibentak-bentak. Cuma dede yang mama sayang!” Andi langsung meninggalkan meja makan, masuk ke kamarnya dan membanting pintu kamarnya keras-keras.

Baca Lanjutannya…

Inilah Cara Terbaik Untuk Menginvestasikan Uang Kita

Dua orang teman saya tertabrak bus Transjakarta kemarin malam, dan kini sedang terbaring tak berdaya di dalam ruang ICU sebuah rumah sakit.

Seorang dari dua teman saya tersebut mengalami luka yang serius di bagian kepalanya. Tim dokter pagi ini telah melakukan sebuah operasi yang menghabiskan biaya Rp 60 juta.

Wow! Itu kata pertama yang terlintas di kepala saya ketika mendengar angka tersebut.

Dan biaya itu tidak berhenti sampai di sana. Biaya di ICU sekitar Rp 10 juta/hari akan membuat angka itu bertambah sedikitnya menjadi Rp 100 juta di akhir minggu ini.

Sebuah pikiran tiba-tiba melintas di kepala saya: Alangkah sia-sianya orang yang bekerja sepanjang hidupnya hanya untuk mendapatkan uang.

Baca Lanjutannya…

Sisi Positif dari Kekalahan Arsenal 2-8 Manchester United

Manchester United 8 – 2 Arsenal

Itulah score akhir dari pertandingan di pekan ketiga Premier League musim ini. Sebuah pertandingan yang awalnya disebut-sebut sebagai pertandingan "big match". Dan hari ini saya, seorang fans klub Arsenal, menonton langsung pertandingannya di TV.

Jika hasil ini diperhadapkan pada saya enam tahun yang lalu, saya pasti akan bad mood seminggu. Saya takkan bisa tidur malam itu. Saya akan mulai memukul ranjang. Semua orang yang ada di dekat saya pasti akan mendengar gerutu saya. Saya akan mencari-cari aib klub MU sebagai tameng saya. Dan saya akan menghindar sebisa-bisanya dari teman-teman saya yang merupakan fans MU.

Jika hasil ini diperhadapkan pada saya tiga tahun yang lalu, saya akan tersenyum sinis, dan berkata, "Ah… Rasain!" Berbeda dari respon saya sebelumnya, saya malah akan mencaci Arsenal. Saya akan berkata bahwa mereka memang lemah, calon degradasi, dan mereka memang pantas menerima kekalahan itu. Setidaknya, itu membuat saya merasa lebih baik. Tapi, itu berarti saat itu saya tidak ada di pihak Arsenal, yang notabene adalah klub favorit saya.

Ada persamaan di antara kedua respon di atas. Persamaannya adalah, hati saya sama-sama panasnya…

Hari ini, hal itu benar-benar terjadi. Bisa dikatakan terparah dari yang pernah ada. Lalu bagaimana respon saya kali ini? Puji Tuhan, kali ini saya bersyukur karena saya dapat menemui beberapa hal positif yang hanya akan muncul karena score ini terjadi. Apa saja itu?

Baca Lanjutannya…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 314 pengikut lainnya.