What Does Matter More Than A Good Result?

Few years back, I got an idea to develop a computer application. I was excited about the project, and so I started right away. I enjoyed the coding, the design processes, and also learned some new things along the way. Until it was finished and I shared my idea and my works with others.

What’s their response? They thought that my idea was not good and couldn’t be used. Though there was a slight disappointment, it wasn’t really a matter for me. After all, it was not a waste, because I enjoyed the process, and I learned a lot from the process.

Later on, the lessons that I learned from that failed project enabled me to develop other applications that really work.

If you enjoy the process, you won’t care much about the result. The good result is just like a bonus for you. What really matters is what you have learned along the way.

Bersyukur Karena Dimaki Pengendara Motor

Dua hari terakhir ini, ketika sedang berkendara, saya dimaki oleh dua pengendara motor yang berbeda.

Yang pertama terjadi kemarin, ketika saya melewati sebuah jalan dua arah yang padat dari arah sebaliknya, membuat saya lebih berhati-hati dan mengendarai mobil saya dengan perlahan. Tampaknya sang pengendara motor di belakang saya tidak sabar dan membunyikan klakson berulang kali, dan ketika ada kesempatan menyalip mobil saya, kata makian yang saya pun tidak dengar dengan jelas itu terlontar dari mulutnya sebelum dia memacu motornya dengan kecepatan tinggi dan menghilang dari pandangan saya.

Kejadian yang kedua terjadi malam ini, ketika saya sedang mengendarai mobil di sebuah jalan satu lajur, dan ada gerobak yang membuat saya menurunkan kecepatan saya secara cukup tiba-tiba. Tampaknya motor di belakang saya kaget karena perubahan kecepatan itu dan kembali membunyikan klakson. Ketika saya sudah sampai di jalan yang lebih lebar, motor tersebut melewati mobil saya dan saya pun dapat “hadiah” kata-kata keras yang saya pun tidak dengar dengan jelas.

Perasaan saya menjadi tidak enak ketika untuk kedua kalinya dalam dua hari saya dimaki oleh dua pengendara motor yang berbeda. Namun, tiba-tiba sebuah pencerahan terlintas di pikiran saya, “Wah, masih bagus si pengendara motor masih cukup sehat untuk memaki saya. Bayangkan kalau si pengendara motor itu menabrak mobil saya dan terluka. Dia terluka, mobil saya penyok, dan saya kena masalah yang lebih besar.”

Tiba-tiba, makian itu menjadi suatu hal yang dapat disyukuri. Bersyukur karena si pengendara motor masih cukup sehat untuk memaki saya. Hanya satu hal yang saya khawatirkan, apabila kedua pengendara motor itu menyimpan rasa kesalnya dan itu membuat mereka tidak berkonsentrasi dalam berkendara. Ah, semoga kiranya mereka semua dapat tiba dengan selamat sampai tujuan.

Dunia ini memang lucu. Kadang orang yang memaki yang perlu lebih dikasihani daripada orang yang dimaki.

Ketika Lukisanmu Dirusak

Di atas gunung, seorang pelukis melukis sebuah lukisan pemandangan yang sangat indah lukisan terindah yang pernah dia hasilkan sepanjang hidupnya.

Dia begitu bangga akan lukisannya, dan mulai mengamatinya. Dia ingin tahu bagaimana lukisannya jika dilihat dari jauh. Oleh karena itu, dia mulai mundur sambil terus mengangumi lukisannya.

Dia terus mundur sampai tiba-tiba ada seseorang yang tiba-tiba merusak lukisannya.

Terkejut dan marah, dia langsung lari ke arah orang itu dan lukisannya yang telah dirusak…

Dia begitu marah dan memukul orang yang merusak lukisan terbaiknya tersebut begitu rupa sampai orang itu tidak bernyawa lagi.

Ketika kemarahannya sudah mulai reda, dia melihat ke belakang dan dia sangat terkejut. Dia melihat ternyata dirinya ada di pinggir jurang! Selangkah mundur lagi ketika dia sedang mengamati lukisannya tadi, dan dia akan jatuh ke jurang yang tak terlihat dasarnya itu.

Rusaknya lukisan terbaiknya telah mencegahnya kehilangan nyawanya yang jauh lebih berharga.

Orang yang dia begitu marah karena telah merusak lukisannya, yang dia telah habisi, ternyata adalah penyelamat nyawanya.

Ada sebuah pelajaran berharga di dalam kisah ini. Kita melangkah tanpa tahu ke mana kita melangkah, tapi Tuhan tahu… Dan percayalah, ke mana pun Tuhan mengarahkanmu untuk pergi, itulah jalan yang terbaik yang dapat kamu tempuh.

Carilah Tuhan ketika Dia masih dapat dicari, karena akan tiba saatnya jika kita terus mengeraskan hati kita, mungkin berikutnya Tuhan tak dapat lagi kita temui.

Seperti yang terjadi pada Firaun, diawali dari dia mengeraskan hatinya, diakhiri dengan Tuhan yang mengeraskan hatinya.

Atau seperti orang-orang yang Asaf katakan di Mazmur 73, ditempatkan Tuhan di tempat yang licin hingga jatuh tergelincir dan hancur (Mazmur 73:18).

Bersyukurlah jika Tuhan masih merusak lukisan kita, karena itu berarti Tuhan tidak membiarkan kita melenggang dengan rencana kita yang penuh kerapuhan. Sebaliknya, Dia mau membawa kita kepada rencana-Nya yang penuh harapan.

Tuhan mengasihimu. Percayalah kepada-Nya.

Kejadiannya Mungkin Saja Lebih Buruk

Sore ini, ketika saya sedang mengendarai mobil dan berbelok di sebuah tikungan, mobil saya membentur trotoar jalan dan bunyinya cukup keras. Saya yakin pasti ada bagian mobil saya yang rusak karena benturan tersebut.

Kemudian, sambil terus melaju, saya mulai memikirkan kerusakan apa yang mungkin terjadi pada mobil saya, dan saya mulai menyesal kurang berhati-hati dalam menikung tadi. Saya berpikir, seharusnya saya bisa menikung dengan lebih baik.

Hanya selang beberapa detik sejak pikiran-pikiran negatif itu muncul, saya bersyukur ada pikiran-pikiran lain yang melintas di benak saya.

“Untunglah saya hanya menabrak trotoar dan tidak menabrak orang. Kejadiannya mungkin saja lebih buruk!

“Untunglah mobil saya masih bisa tetap berjalan dengan normal dan tidak menjadi mogok. Kejadiannya mungkin saja lebih buruk!

“Untunglah saya sama sekali tidak terluka. Kejadiannya mungkin saja lebih buruk!

Dan, ketika pikiran-pikiran itu mulai mengambil alih, saya mulai bisa menenangkan diri dan mulai bersyukur. Ya, bersyukur saya hanya menabrak trotoar dan bukan menabrak orang. Bersyukur mobil saya masih bisa berjalan dan tidak mogok. Bersyukur saya sama sekali tidak terluka. Sebenarnya kejadiannya mungkin saja lebih buruk. Tapi syukurlah, itu tidak terjadi.

Kini, peristiwa itu tidak lagi menjadi peristiwa buruk, tapi menjadi sebuah peristiwa berharga. Pertama, saya mendapatkan pelajaran untuk lebih berhati-hati dalam menikung. Kedua, saya dapat mensyukuri saya tidak menabrak orang, mobil saya tidak mogok, dan saya selamat sampai tujuan. Hal-hal yang jarang saya syukuri tanpa adanya kejadian seperti ini.

Jadi, setiap kali kita mengalami peristiwa buruk, katakanlah pada diri kita sendiri, “Kejadiannya mungkin saja lebih buruk!” Pikirkanlah kemungkinan-kemungkinan lebih buruk yang mungkin saja terjadi tetapi itu tidak terjadi, dan syukurilah bahwa hal itu tidak terjadi. Maka niscaya kita akan mengubah peristiwa buruk tersebut menjadi sebuah peristiwa berharga, yang menjadikan kita seorang yang lebih baik.

Kompromi

Semua orang dapat membuat komitmen, namun tidak semua berhasil memenuhinya.

Tantangan terbesar bukanlah saat kita “membuat komitmen”, tetapi seberapa setia kita dalam “memenuhi komitmen” yang telah kita buat.

Saya merasakannya sendiri, bagaimana “memenuhi sebuah komitmen” tidaklah semudah “membuat komitmen”. Berkali-kali saya gagal memenuhi komitmen yang telah saya tetapkan.

Tiga tahun yang lalu, saya sempat membuat sebuah komitmen untuk update blog setiap hari jam 6 pagi, yang kemudian saya longgarkan menjadi update blog seminggu sekali, setiap hari Rabu jam 6 pagi. Saya bahkan membuat ini menjadi sebuah “public commitment“.

Lanjutkan Membaca

Rasa Sakit Terbesar

Apabila saya bertanya kepada Anda, “Menurut Anda, rasa sakit yang terbesar itu seperti apa sih?”, apakah yang akan menjadi jawaban Anda?

Dulu sekali, waktu saya baru mulai imut-imut (karena sekarang lebih imut-imut, hehe, mohon maaf kalau saya terlalu jujur), saya pikir rasa sakit yang terbesar itu adalah “sakit perut waktu lagi di jalan”.

Ya, saya sempat mengalami sakitnya menahan diri untuk tidak mencret di tengah rasa sakit perut yang luar biasa, di tengah perjalanan bersama beberapa teman. Tepat saat itu, impian terbesar saya adalah menemukan toilet terdekat dan “melepaskan” semuanya.

Sungguh tidak enak rasanya sakit perut sampai saya sempat mengatakan saat itu, “tiada yang lebih sengsara daripada sakit perut”. Untung zaman itu kata lebay belum ditemukan, kalau tidak saya pasti sudah dibilang lebay setengah mati.

Seiring berjalannya waktu, pendapat saya pun mulai berubah. Saya sempat sampai pada sebuah pernyataan “rasa sakit terbesar adalah ketika kita telah berkorban tetapi malah dicaci maki karena apa yang kita lakukan ternyata adalah suatu hal yang tidak diharapkan”.

Lanjutkan Membaca

Kelemahan Menjadi Kekuatan

Apakah Anda sedang mengalami sebuah kegagalan? Apakah Anda sedang menanggung sebuah beban yang begitu berat sehingga Anda merasa tidak kuat lagi dan ingin menyerah? Apakah Anda sedang merasa frustrasi dengan kelemahan yang Anda miliki? Jika Anda menjawab ya dalam salah satu pertanyaan di atas, lanjutkan membaca. Saya menuliskan tulisan ini untuk Anda.

Setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan. Setiap orang juga pasti memiliki masalah dan kelemahan. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa kelemahan itu, jika kita tahu caranya, dapat kita ubah menjadi kekuatan.

Bagaimana caranya? Inilah resep rahasianya: Dengan pantang menyerah dalam melakukan yang terbaik yang Anda bisa lakukan di tengah kelemahan Anda.

Derek Redmond adalah seorang pelari dari Inggris dalam Olimpiade 1992 di Barcelona. Dia adalah salah satu yang difavoritkan untuk meraih medali dalam cabang lari 400 meter. Setidaknya, itu sampai sebuah tragedi terjadi di babak semifinal…

Segalanya tampak baik-baik saja saat babak semifinal dimulai. Derek, yang mempunyai impian yang besar untuk meraih medali, mengawali larinya dengan baik. Namun, setelah berlari 150 meter, harapan itu lenyap ketika Derek merasakan sakit pada kakinya yang membuatnya berhenti dan berlutut di tanah.

Saya berusaha merasakan apa yang Derek rasakan saat itu. Ketika semua jerih payahnya dalam latihan yang begitu lama tiba-tiba menjadi sia-sia karena rasa sakit yang datang di saat yang salah. Perasaan sakit, kecewa, gagal, malu, lemah dan tak berdaya mungkin menjadi perasaan yang dirasakan Derek saat itu.

Di titik itu, sesaat semua orang melihat bahwa Derek Redmond telah gagal. Tidak ada harapan baginya untuk memenangkan perlombaan dan meraih medali olimpiade.

Namun, di tengah rasa sakit dan kecewa yang dirasakannya, Derek menolak untuk menyerah. Dia ingin mengakhiri pertandingan dengan baik, meskipun sudah dipastikan dia pasti menjadi juara terakhir.

Akhirnya, dengan terpincang-pincang, Derek melanjutkan berlari dengan berusaha menahan rasa sakit yang dia rasakan.

Tiba-tiba, seseorang memaksa masuk ke dalam lapangan, dan membantu Derek berlari di sampingnya. Orang itu adalah ayah Derek. Begitu terharu melihat ayahnya yang membantunya, Derek tak kuasa untuk melepaskan air matanya sembari terus berlari. Seorang anak dan seorang ayah bersama-sama mencoba mencapai garis akhir.

Dengan terpincang-pincang, Derek Redmond mencapai garis akhir. Lebih dari 65000 penonton memberikan standing ovation, berdiri dan bertepuk tangan atas usaha Derek yang terus dengan pantang menyerah memberikan yang terbaik yang dapat dilakukannya di tengah kelemahannya.

Pada akhirnya, Derek Redmond memang gagal memenangkan perlombaan ini dan meraih medali. Tetapi, dia mengakhiri perlombaan ini dengan tekun dan memenangkan hati para penonton yang hadir saat itu.

Mari saksikan kisah Derek Redmond dalam video berikut ini:

Pelajaran Berharga

Apakah Anda terinspirasi dengan video di atas? Inspirasi itu takkan ada jika Derek tidak mengalami kegagalan saat itu, atau jika Derek memutuskan untuk berhenti berlari di tengah jalan.

Lanjutkan Membaca