Arsip | My life RSS for this section

Journey Report 2014

Journey Report 2014-Overview

Last year, on the new year day, one of my resolution was to log all of my journeys along the year. The complete logs contain thousands of rows, and it enables me to compile the report to see the stats of my overall journeys.

I was surprised when I know that in 2014, I took a total of more than a thousand journeys, spent almost 40 days on the way, and drove almost ten thousands km.

That’s a lot of journeys, and most of them happened in one of the most crowded city in the world: Jakarta. Considering Jakarta traffic, one of the newspaper columnist in Indonesia said that in Jakarta, every second is a miracle. So, to survive millions of seconds I spent on the road this year was actually millions of miracles! Baca Lanjutannya…

Iklan

Getting To Know The Kindness and Humility of Mart DeHaan

Two years ago, I got a privilege to meet Mart DeHaan, who was the president of RBC Ministries at that time, the grandson of the founder of RBC Ministries. He is the most humble leader that I have ever met, and even arguably one of the most humble among all the leaders that I have ever known!

As a leader that has lead RBC Ministries for 26 years that time, I haven’t heard any single negative thingabout him. Every stories that I heard about him from the others are always about how others have experienced his kindness and how they were so impressed with his kindness and humility. Simply unbelievable!

And, two years ago, I got a privilege to get the first-hand experience of his kindness and humility, when he came to Jakarta from USA. When I first met him at the airport, he didn’t only shake my hand, he also looked at my eyes. He meant his handshake and asked for my name. For about 10 seconds, I got a full attention from the highest-position leader of an international ministry. And he did that not only to me, but to others also. He meant every handshake that he did and got interested to know more about the people whom he is handshaking.

So many good impressions that I got from him, but maybe the greatest that I will never forget is this following moment:

Baca Lanjutannya…

Kejadiannya Mungkin Saja Lebih Buruk

Sore ini, ketika saya sedang mengendarai mobil dan berbelok di sebuah tikungan, mobil saya membentur trotoar jalan dan bunyinya cukup keras. Saya yakin pasti ada bagian mobil saya yang rusak karena benturan tersebut.

Kemudian, sambil terus melaju, saya mulai memikirkan kerusakan apa yang mungkin terjadi pada mobil saya, dan saya mulai menyesal kurang berhati-hati dalam menikung tadi. Saya berpikir, seharusnya saya bisa menikung dengan lebih baik.

Hanya selang beberapa detik sejak pikiran-pikiran negatif itu muncul, saya bersyukur ada pikiran-pikiran lain yang melintas di benak saya.

“Untunglah saya hanya menabrak trotoar dan tidak menabrak orang. Kejadiannya mungkin saja lebih buruk!

“Untunglah mobil saya masih bisa tetap berjalan dengan normal dan tidak menjadi mogok. Kejadiannya mungkin saja lebih buruk!

“Untunglah saya sama sekali tidak terluka. Kejadiannya mungkin saja lebih buruk!

Dan, ketika pikiran-pikiran itu mulai mengambil alih, saya mulai bisa menenangkan diri dan mulai bersyukur. Ya, bersyukur saya hanya menabrak trotoar dan bukan menabrak orang. Bersyukur mobil saya masih bisa berjalan dan tidak mogok. Bersyukur saya sama sekali tidak terluka. Sebenarnya kejadiannya mungkin saja lebih buruk. Tapi syukurlah, itu tidak terjadi.

Kini, peristiwa itu tidak lagi menjadi peristiwa buruk, tapi menjadi sebuah peristiwa berharga. Pertama, saya mendapatkan pelajaran untuk lebih berhati-hati dalam menikung. Kedua, saya dapat mensyukuri saya tidak menabrak orang, mobil saya tidak mogok, dan saya selamat sampai tujuan. Hal-hal yang jarang saya syukuri tanpa adanya kejadian seperti ini.

Jadi, setiap kali kita mengalami peristiwa buruk, katakanlah pada diri kita sendiri, “Kejadiannya mungkin saja lebih buruk!” Pikirkanlah kemungkinan-kemungkinan lebih buruk yang mungkin saja terjadi tetapi itu tidak terjadi, dan syukurilah bahwa hal itu tidak terjadi. Maka niscaya kita akan mengubah peristiwa buruk tersebut menjadi sebuah peristiwa berharga, yang menjadikan kita seorang yang lebih baik.

You’ll Never Loose From The Grip of God’s Grace

I just can’t resist not to write and share my wonderful experience of God’s surprising way to work in my life. Too many surprises to be counted that I’ve received from God. Let me share the newest one…

I’m currently in Singapore for a three-weeks-visit, doing work in a Christian ministry. And this is my second week ongoing…

This happened yesterday, a day before Singapore National Day, which is a holiday here. I was planning where I would go on the National Day holiday when my office mate said that there would be a guest, who is the speaker of this coming Friday Youth Bible Conference, that would come and stay at the same place as mine (They provide me a guest house).

It didn’t end there. She said that the guest would come to a practice session tomorrow morning (which is today) which she supposed to accompany him, and there’s possibility for me to be asked to accompany him as well. And so I stopped planning, had already found something to do on the holiday, and that’s good!

At night, my other Indonesia office mate who also on visit and stays at the same place as me, invited me to join him and some other office mates to go to a mangrove garden, enjoy nature, tomorrow morning. Already having something to do tomorrow, which is still a possibility, I can’t promise to join him, though I would like to join since I never come there before. It should be an interesting adventure.

Then, late at night, the guest came. He is a friendly guy, came from US. We talked on some topics. Then I realized that he has yet to be given a key, so I assumed I have to stay and open the door for him tomorrow, and maybe, go with him to the practice session. So I said to my friend that I wouldn’t be able to join him (and he kindly left some curry puffs for my breakfast, thanks mate :D).

Don’t get me wrong. I would be happy to go with the guest, to introduce the good of Singapore that I just discovered, to come and experience practice session, to have lunch together :P, to share with him. That’s just another exciting plan for me!

Night was over, and the day comes… So, it’s today, the first national holiday I experienced in Singapore!

Baca Lanjutannya…

Pergoki Seseorang Sedang Berbuat Baik (2): Cara Saya Menghadapi Ayah Saya

Sebagai seorang anak, saya juga bergumul dalam menghadapi ayah saya (bagi yang belum membaca tulisan saya minggu lalu, bisa membacanya dulu sekarang sebelum melanjutkan membaca tulisan ini). Saya akan membagikan tiga cara efektif yang saya lakukan.

Pilihan untuk Bersyukur

Pertama, saya sadar saya selalu bisa memilih apakah saya akan mensyukuri hal-hal positif yang ada dalam diri ayah saya, atau meratapi kelemahan-kelemahan ayah saya. Saya memilih untuk bersyukur.

Saya bersyukur saya memiliki seorang ayah yang setia dan bertanggung jawab. Saya bersyukur saya memiliki seorang ayah yang memberikan teladan. Saya bersyukur saya memiliki seorang ayah yang begitu mengasihi anak-anaknya. Saya bersyukur saya memiliki seorang ayah yang mendidik anak-anaknya. Tulisan ini akan menjadi satu buku jika daftar ini saya lanjutkan…

Baca Lanjutannya…

Seorang Anak Bimbingan Yang Menjadi Berkat Untuk Saya

Sebuah Berita Mengejutkan Di Pagi Hari

“Ko, kayanya nanti saya ga kaer (kebaktian remaja) dan pembinaan deh… Rumah saya kebakaran!”

SMS itu masuk ke dalam inbox handphone saya pada hari Minggu kemarin, 25 Juli 2010 Pk 03:21 dini hari. Pengirimnya? Kurniawan, seorang anak bimbingan saya di gereja.

Saya baru membaca SMS itu ketika saya bangun jam setengah 6 pagi. Hampir saja saya menjatuhkan handphone saya saat membacanya. Saya langsung mencoba menghubungi dia.

Sia-sia. Handphone-nya tidak aktif. Saya malah menjadi bertambah khawatir. “Oh Tuhan, apa yang terjadi dengannya?”

Saya sungguh bergumul saat itu. Pagi itu, saya ada janji pergi dengan teman saya. Tapi, saya tidak akan mungkin dapat meninggalkan anak bimbingan saya dalam keadaan yang belum jelas dan sangat membuat saya khawatir. (Sebenarnya saya malu mengakui bahwa awalnya saya masih ragu-ragu untuk membantu anak bimbingan saya sendiri, tapi saya ingin bercerita dengan jujur). Kebingungan saya terjawab beberapa menit kemudian di kamar mandi saya.

Saya sedang mandi ketika saya bertanya kepada Tuhan di dalam hati saya, “Tuhan? Apa yang harus saya lakukan?” Dan saya percaya, Tuhan menjawabnya ketika ada sebuah suara yang saya rasakan sangat jelas di dalam hati saya: “Datanglah ke sana…”.

“Tapi Tuhan, apa yang bisa saya lakukan di sana?” Saya tidak pernah membantu orang yang mengalami musibah kebakaran sebelumnya. Meskipun di satu sisi saya sangat ingin membantu, di sisi lain saya merasa bingung dan tidak nyaman.

Semua keraguan saya sirna ketika suara itu bergema lagi di dalam hati saya: “Datanglah ke sana… Aku ingin menunjukkan sesuatu yang besar kepadamu.”

Singkat cerita, akhirnya saya membatalkan janji dengan teman saya. Dan saya pergi, ke lokasi kebakaran itu. Saat itu, saya sama sekali tidak tahu, bahwa Tuhan akan memberi saya berkat yang melimpah di sana.

Baca Lanjutannya…

Tips Agar Kita Selalu Beruntung Dalam Hidup (2)

Kejadian ini terjadi di suatu hari yang cerah 2 tahun yang lalu. Seperti biasa, tidak ada bintang jatuh… Seperti biasa juga, saya pergi ke kampus pakai sendal, yang sebenernya saya tau tuh sendal uda rada ga bener, uda hampir putus, tapi karena saya yang keras kepala tetep aja saya pake tanpa sedikit pun rasa bersalah. Saya sampai di kampus dengan aman sentosa, sehat walafiat, tidak kekurangan suatu apa pun, setidaknya sampai terjadi tragedi itu.

Tragedi apa? Jadi ceritanya saya lagi turun tangga. Terus abis saya turun, ada genangan air ga jelas ada di depan WC (siapa sih yang pipis sembarangan di depan WC?), yang saya ga liat (saking rabunnya nih mata…). Dan genangan air itu berhasil membuat saya meluncur beberapa meter ke depan seperti maen ice skating dan membuat sendal saya bener-bener putus!!! Tuh genangan cuma gagal membuat saya jatuh, karena keseimbangan tubuh saya yang udah saya latih bertaon-taon dengan bertapa di atas gunung salak… (yang ini ga bener).

Okeh… Akhirnya sendal saya putus juga. Nyesel deh saya, napa saya tadi pagi masih keras kepala make tuh sendal. Trus sekarang, gimana saya bisa balik ke kos saya dengan sendal yang putus gitu? Huhuhu… Apa saya mesti ngesot2 atau nyeker ampe kaki berdarah2 ke kos saya??

 

Baca Lanjutannya…

Yang Baik Dituntut Sempurna, Yang Kurang Baik Didiamkan

Terinspirasi dari suatu sore beberapa bulan yang lalu, di mana saya akan memimpin sebuah rapat jam 3 sore. Tepat jam 3 sore, hanya ada satu orang peserta rapat, (anggaplah namanya Denny), yang sudah datang dan sedang duduk menunggu di sofa, sedangkan yang lainnya belum datang.

Saat itu, saya berkata kepada Denny, “Den, coba lihat jam, jam berapa sekarang… Jam 3 kan, dan kita akan mulai rapat jam 3. Kenapa kamu masih duduk santai aja di sofa? Ayo cepat masuk ke dalam ruang rapat!”

Saat saya teringat kembali atas peristiwa tersebut, saya mulai berpikir. Bukankah Denny adalah seseorang yang sangat baik dengan datang tepat waktu, bahkan sebelum waktu yang dijanjikan. Bukankah dia lebih baik dari teman-temannya yang saat itu belum datang, atau bahkan tidak datang? Tapi, kenapa justru dia yang sangat baik tersebut, yang saya tuntut lebih? Kenapa dia yang justru saya lebih disiplinkan, dan kenapa justru dia yang merasakan energi negatif saya yang muncul karena banyaknya anak-anak yang belum datang rapat di waktu yang dijanjikan? Kalau dia yang sudah melakukan hal yang baik, malah mendapatkan respon negatif dari saya, bukankah itu akan membuatnya kecewa dan menjadi enggan datang tepat waktu lagi untuk menghindari energi negatif saya?

Baca Lanjutannya…

Tulisan Kategori “Tulisan Bebas”

Yeah! Tiba saatnya untuk tulisan bebas… Setiap hari Sabtu, saya akan menulis hal-hal bebas, yang tidak berkaitan dengan keenam subtopik yang ada di hari Minggu sampai Jumat.

Tulisan bebas di sini bisa berupa curhatcurhat dari kehidupan saya, pengalamanpengalaman menarik yang saya dapatkan, infoinfo menarik, ucapanucapan selamat, perkembangan blog ini, dan masih banyak lagi tulisantulisan bebas lainnya.

Baca Lanjutannya…

Tulisan Kategori “Pemikiran Pribadi”

Setiap hari, ada banyak peristiwa yang saya lewati. Tidak jarang, ketika saya mengalami suatu peristiwa, tiba-tiba melintas di kepala saya hal-hal yang saya dapat pelajari dari peristiwa tersebut. Peristiwa itu mungkin hanyalah sebuah peristiwa sederhana, yang ditemui oleh banyak orang setiap hari. Tetapi, jika kita melihat lebih dalam, ternyata ada banyak hal yang dapat dipelajari dari sebuah peristiwa sederhana.

Semangat inilah yang mendorong saya di awal untuk membuat sebuah blog dengan salah satu tagline “belajar dari kehidupan”. Saya percaya, kita semua adalah pembelajar seumur hidup kita, dan jika kita mau berpikir sejenak, ada banyak sekali hal-hal berharga yang dapat kita pelajari dari kehidupan ini, dari keseharian kita.

Mulai hari Senin mendatang, setiap hari Senin, teman-teman akan menemukan sebuah tulisan yang murni merupakan hasil pemikiran pribadi saya. Pemikiran yang mungkin muncul dari hal-hal sederhana yang terjadi dalam hidup saya. Pelajaran sederhana namun sangat berharga yang saya dapatkan dari kehidupan yang saya jalani.

Ya, ada banyak sekali hal yang terpikir begitu saja di kepala saya ketika saya menjalani keseharian saya. Bagaimana saya dapat mengambil lima hal positif ketika saya melihat pedagang-pedagang di dalam kereta, bagaimana saya belajar mengampuni dari menonton sepak bola, bagaimana saya berpikir tentang teman sejati, bagaimana saya belajar kerendahan hati dari tumbangnya Manchester United dan Chelsea, bagaimana saya belajar mensyukuri setiap makanan yang ada dari seorang anak kecil yang memakan sampah, apa yang saya pelajari dari kata-kata ayah saya tentang menggosok gigi, bagaimana saya belajar untuk lebih berhati-hati dari sakit sariawan yang saya derita, bagaimana saya belajar mengambil hikmah dari kegagalan ujian saya, bagaimana saya belajar introspeksi diri sebelum mencari kesalahan orang lain, bagaimana saya belajar untuk mempersiapkan skenario terburuk yang mungkin terjadi, apa yang saya pelajari dari cara saya memesan makanan di rumah makan, bagaimana saya belajar tentang rasa sayang sejati, bagaimana saya berpikir tentang rasa kehilangan dan reward yang tidak adil, bagaimana saya belajar tentang cinta dari kekalahan yang diderita klub favorit saya, bagaimana saya belajar tentang efektivitas teguran dari sebuah papan di Stasiun Kota, bagaimana saya menciptakan sebuah quote yang sangat positif tentang kehilangan, bagaimana saya melihat gelas setengah isi dan setengah kosong dari sudut pandang yang baru, bagaimana saya belajar tentang kehidupan dari kematian orang-orang yang dekat dengan saya, dan masih banyak lagi.

Baca Lanjutannya…

%d blogger menyukai ini: