Tag Archive | untung

Tips Agar Kita Selalu Beruntung Dalam Hidup (2)

Kejadian ini terjadi di suatu hari yang cerah 2 tahun yang lalu. Seperti biasa, tidak ada bintang jatuh… Seperti biasa juga, saya pergi ke kampus pakai sendal, yang sebenernya saya tau tuh sendal uda rada ga bener, uda hampir putus, tapi karena saya yang keras kepala tetep aja saya pake tanpa sedikit pun rasa bersalah. Saya sampai di kampus dengan aman sentosa, sehat walafiat, tidak kekurangan suatu apa pun, setidaknya sampai terjadi tragedi itu.

Tragedi apa? Jadi ceritanya saya lagi turun tangga. Terus abis saya turun, ada genangan air ga jelas ada di depan WC (siapa sih yang pipis sembarangan di depan WC?), yang saya ga liat (saking rabunnya nih mata…). Dan genangan air itu berhasil membuat saya meluncur beberapa meter ke depan seperti maen ice skating dan membuat sendal saya bener-bener putus!!! Tuh genangan cuma gagal membuat saya jatuh, karena keseimbangan tubuh saya yang udah saya latih bertaon-taon dengan bertapa di atas gunung salak… (yang ini ga bener).

Okeh… Akhirnya sendal saya putus juga. Nyesel deh saya, napa saya tadi pagi masih keras kepala make tuh sendal. Trus sekarang, gimana saya bisa balik ke kos saya dengan sendal yang putus gitu? Huhuhu… Apa saya mesti ngesot2 atau nyeker ampe kaki berdarah2 ke kos saya??

 

Baca Lanjutannya…

Iklan

Tips Agar Kita Selalu Beruntung Dalam Hidup (1)

image

Apa yang Anda pikirkan ketika Anda membaca judul tulisan ini? Saya menebak, ada dari Anda yang mungkin berpikir seperti ini: “Ah, mana mungkin kita selalu beruntung dalam hidup. Realistis aja, hidup ada di atas ada di bawah, ada naik ada turun, ada untung ada rugi… Ga mungkin lah hidup selalu beruntung.” Melalui tulisan ini, saya ingin membukakan, bahwa kita dapat selalu beruntung dalam hidup ini, jika saja kita tahu caranya. Tidak percaya? Mau tahu caranya? Lanjutkan baca tulisan ini sampai selesai… 😀

Suatu sore, ketika saya sedang membaca komik Paman Gober (atau komik Donal Bebek), saya menemukan sebuah kisah berikut. Diceritakan, Paman Gober sedang bekerja di dalam gudang uangnya. Tiba-tiba, Paman Gober mendengar ada keributan di luar gudang uangnya, yang begitu mengganggunya. Ketika dia melihat keluar jendela, ternyata keributan itu berasal dari kedua keponakannya, si Donal dan si Untung, yang sedang berkelahi di halaman depan gudang uang. Paman Gober yang merasa terganggu lalu meminta James, pelayannya, untuk membawakan kentang untuk menimpuk keponakannya tersebut (mungkin sayang kalau ditimpuk pakai karung emas, jadi ditimpuknya pakai kentang. 😛 ). James lalu membawakan sebuah kentang yang akhirnya dilemparkan Paman Gober ke luar jendela, dan mengenai salah satu dari keponakannya tersebut. Coba Anda tebak, siapa yang terkena lemparan Paman Gober ini sampai membuat kepalanya benjol? Apakah si Untung? Atau si Donal?

Baca Lanjutannya…

Menabung Kebaikan

Apa yang terlintas di benak Anda jika mendengar kata “menabung”? Sebagian besar orang akan berpikir tentang “uang” atau tentang “bank”. Tidak dapat dipungkiri, di zaman sekarang ini, uang menjadi suatu hal yang sangat penting bagi banyak orang. Katanya, “Zaman sekarang, apa sih yang ga pake duit?”. Banyak orang berpikir, uang sama dengan kuasa. Siapa yang punya lebih banyak uanglah yang akan lebih berkuasa. Tidak heran, banyak orang yang menginginkan mempunyai uang yang banyak.

Keinginan mempunyai uang yang banyak ternyata menjerumuskan sebagian orang ke dalam sifat egois mereka. Mereka mulai mencari banyak cara, dari yang putih, yang abu-abu, sampai yang hitam, untuk mendapatkan lebih banyak uang. Mereka akan menilai setiap hal yang mereka lakukan. “Apa untungnya ini bagiku? Kalau tidak ada untungnya, ngapain aku lakukan…”

Sayangnya, banyak orang yang hanya berpikir keuntungan jangka pendek.

  • Seorang karyawan yang mendapatkan gaji sejumlah tertentu untuk bekerja selama 8 jam sehari, merasa rugi jika suatu hari perusahaan meminta mereka lembur tanpa tambahan gaji.
  • Seorang pebisnis yang menjual suatu barang, merasa rugi jika sang customer meminta service secara cuma-cuma.
  • Seorang siswa merasa rugi mempelajari bab yang tidak ikut diujikan di ujian.
  • Seorang wajib pajak merasa rugi jika berlaku jujur melaporkan semua penghasilannya yang berujung pada semakin banyaknya pajak yang harus dibayar.
  • Bahkan, seorang bisa merasa rugi jika dia harus memberikan persembahan atau sedekah yang seharusnya dia lakukan.

Mereka semua berpikir, “Melakukan ini tidak akan menambah kekayaanku saat ini. Melakukan ini malah mengurangi kekayaanku saat ini.”

Saat ini, saya ingin mengajak Anda berpikir secara berbeda. Marilah kita berpikir untuk keuntungan jangka panjang…

  • Jika Anda sebagai seorang karyawan yang mendapatkan gaji sejumlah tertentu untuk bekerja selama 8 jam sehari, dan suatu hari perusahaan meminta Anda lembur tanpa tambahan gaji. Lakukanlah dengan senang hati, dan mungkin saja Anda mendapatkan promosi yang lebih cepat dan lebih tinggi karena bos menilai Anda seorang yang rajin, tulus, dan berharga bagi perusahaannya.
  • Jika Anda sebagai seorang pebisnis yang menjual suatu barang, dan suatu hari sang customer meminta service secara cuma-cuma. Lakukanlah dengan senang hati, dan mungkin saja sang customer akan membeli barang lainnya dari Anda karena mereka puas dengan service yang Anda berikan.
  • Jika Anda sebagai seorang siswa yang akan ujian dengan bahan 8 bab tapi sang guru meminta Anda mempelajari bab kesembilan juga. Lakukanlah dengan senang hati, dan mungkin Anda bisa mendapatkan cara yang jauh lebih cepat dan mudah untuk mengerjakan sebuah soal, yang hanya dijelaskan di bab kesembilan.
  • Jika Anda sebagai seorang wajib pajak, dan Anda diminta untuk berlaku jujur melaporkan semua penghasilan Anda yang akan berujung pada semakin banyaknya pajak yang harus Anda bayar. Lakukanlah dengan senang hati, dan Anda tidak akan terjerat masalah hukum yang mungkin dialami wajib pajak yang tidak jujur suatu hari nanti.
  • Jika Anda diminta untuk memberikan persembahan atau sedekah yang seharusnya Anda lakukan. Lakukanlah dengan senang hati, besar upahmu di Surga.

Ketika kita mulai berpikir hal-hal jangka panjang, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa ternyata tidak hanya uang yang dapat kita tabung. Kita dapat menabung kebaikan, yang mungkin tidak menguntungkan kita saat ini, tapi dapat menguntungkan kita di masa mendatang.

Kalau begitu, mungkin Anda bertanya-tanya, “Kalau begitu, itu namanya pamrih dong? Mengharapkan imbalan atau balasan di masa depan…”

Baca Lanjutannya…

Pemenang Idol Contest – Sungguhkah Seorang Idola?

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan saya terdahulu: Pembodohan Masyarakat dengan SMS Premium.

Pada tulisan saya kali ini, saya akan lebih menyoroti SMS premium yang digunakan sebagai media vote untuk idol contest (seperti AFI, Indonesian Idol, Penghuni Terakhir, KDI, dll…).

OK, sebelumnya, saya ingin memperlihatkan latar belakang dari tulisan saya, yaitu sebuah forward-an e-mail yang masuk ke alamat e-mail saya. Bunyinya seperti ini: Baca Lanjutannya…

Berbagi ilmu, yuk…

Teman-teman, berbagi ilmu itu tidak rugi loh, malah menguntungkan… 😀 Saya sudah merasakannya sendiri. Memang dengan belajar, ilmu kita akan bertambah. Tapi, dengan kita membagikan ilmu tersebut, kita pasti akan lebih mengerti lagi (iya dong ya, gimana bisa menjelaskan kalau ga ngerti? :P).

Pengalaman yang telah saya rasakan tentang berbagi ilmu adalah saat saya menjadi asisten dosen. Sudah 4 semester saya menjadi asisten dosen, dan saya banyak mendapatkan hal-hal baru selama saya mencoba membagikan ilmu yang telah saya dapatkan lebih dahulu. Saya juga menjadi lebih paham akan konsep yang saya ajarkan, dan juga, hal itu membantu saya untuk tidak melupakan ilmu yang telah saya dapatkan (biasanya kalau cuma belajar tapi ga suka dipakai suka lupa tuh…).

Jadi, kalau kita berbagi ilmu, kita telah membantu orang lain (yang kita bagikan ilmunya), dan juga diri kita sendiri. Tidak hanya orang yang kita bagikan ilmu yang akan bertambah ilmunya, ilmu kita pun akan bertambah. (Yang saya paling ingat, saya baru memahami konsep penyelesaian masalah tower of Hanoi saat saya mengajarkannya. Sebelumnya, saya belum terlalu paham akan konsep tersebut…).

Berbagi ilmu itu gampang-gampang-susah. Tapi, kalau ada kemauan, kita pasti bisa. Selain menambah ilmu yang kita bagikan, kita juga bisa menambah ilmu kita dalam berkomunikasi, dan menjelaskan maksud kita kepada orang lain. Itu juga suatu ilmu tersendiri loh…

Ilmu apa yang teman-teman miliki? Ga harus ilmu-ilmu yang ada di kuliah saja, banyak ilmu-ilmu lain yang dapat teman-teman bagikan. So… berbagi ilmu, yuk… 😀

Pembodohan Masyarakat dengan SMS Premium

Saat ini, handphone bukanlah barang mewah lagi. Hampir di setiap kalangan masyarakat memiliki alat komunikasi ini. Hal ini juga didukung dengan harga handphone yang semakin lama semakin terjangkau (dan promosi yang semakin menggiurkan).

Fakta ini kini telah dimanfaatkan oleh beberapa (bahkan banyak) oknum untuk mengeruk keuntungan. Mencari untung memang tidak salah, yang menjadi salah adalah ketika cara mencari untung itu telah sampai pada tahap “pembodohan masyarakat”. Pembodohan masyarakat yang seperti apa? Saya akan coba uraikan dalam tulisan ini.

Pernah dengar yang namanya SMS premium? Itu adalah SMS dengan tarif “luar biasa” (biasanya Rp 2000/SMS). Ada dua jenis SMS premium ini, yaitu SMS premium satu arah dan SMS premium dua arah.

SMS premium satu arah maksudnya adalah hanya konsumen yang mengirimkan SMS ke vendor penyedia SMS premium tersebut. Contohnya biasanya berupa voting (contoh: AFI, Indonesian Idol), pengiriman jawaban kuis (contoh: kuis bolam Lativi), atau pesan yang dikirim (untuk ditampilkan di televisi, contoh: pesan berjalan saat penyiaran piala FA di AnTV) yang dikirimkan melalui SMS.

SMS premium dua arah maksudnya adalah konsumen meminta vendor mengirimkan SMS (yang berisi informasi) kepada mereka, dan setiap SMS yang dikirimkan oleh vendor, konsumen akan dikenakan biaya SMS premium.

Baca Lanjutannya…

%d blogger menyukai ini: