Tag Archive | Pendapat

Tulisan Kategori “Opini”

Kadang-kadang, saya tertarik memberikan opini saya tentang suatu topik atau berita yang sedang hot-hotnya. Tidak ada berita baik atau berita buruk, yang ada hanyalah berita. Yang membuatnya menjadi “berita baik” atau “berita buruk” adalah opini setiap orang, bagaimana orang tersebut memandang berita tersebut.

Opini-opini yang akan saya bagikan adalah murni pendapat saya, sehingga tulisan-tulisan di kategori ini akan bersifat subjektif. Inilah pandangan dan pendapat saya, yang ingin saya bagikan kepada para pembaca.

Sebelumnya, di blog ini juga, saya sudah memberikan beberapa opini saya tentang berbagai topik atau berita. Jika teman-teman tertarik, teman-teman dapat melihat opini saya tentang berita terbunuhnya seorang mahasiswi UI, perang tarif dan promosi telepon selular, logo Google di hari Valentine, berita mobil terjun dari gedung bertingkat, budaya merokok, SMS premium yang membodohkan masyarakat, Idol contest, kata-kata makian, mencari popularitas melalui pornografi, penentuan buku best seller, definisi pornografi yang absurd, April Mop, komentar “blogger tukang tipu”, film Fitna & pemblokiran Youtube, hak wartawan dan blogger, pengemis yang merokok, Multi Level Marketing, bunuh diri, pengamen yang menganiaya anaknya di dalam kereta, Ryan sang psikopat pembunuh berdarah dingin, plagiarisme, SMS kutukan berantai, teman saya yang telah tiada: David Hartanto, golput, dan yang terakhir adalah tentang alasan saya membagikan trik sulap angka.

Baca Lanjutannya…

MLM Tianshi in my opinion… (Part 4 – End)

Iya… Ini bagian yang terakhir! Janji deh… hehehe. Oke, pada postingan kali ini saya hanya ingin berbagi saja mengenai beberapa hal (tepatnya sih 2 hal) tentang MLM Tianshi ini…

Yang pertama, saya merasakan hubungan saya dengan beberapa teman saya yang ikutan MLM dan masih aktif di dalamnya itu menjadi berubah. Perubahan menjadi lebih buruk (atau setidaknya tidak sama lagi seperti yang dulu)… Lebih buruk yang saya maksud di sini bukan artinya saya jadi suka berantem dengan mereka. Tapi, saya secara subjektif merasakan kalau hubungan pertemanan saya dengan mereka telah mereka reduksi menjadi hubungan teman bisnis. Mereka mencari saat-saat yang tepat untuk bertemu dengan saya, beberapa dengan kedok pertemuan teman lama, yang berakhir dengan presentasi MLM ini… Oh tidak! Mereka bisa jadi baik banget loh pas menawarkan MLM ini, dan ketika saya menolaknya, saya merasakan hubungan saya dengan mereka jadi merenggang… Seolah mereka hanya membina hubungan yang baik dengan orang yang ikut bisnis ini saja.

Baca Lanjutannya…

MLM Tianshi in my opinion… (Part 3)

Tulisan Terkait:

Tautan:

Tianshi Watch –> silakan Anda nilai sendiri tentang MLM Tianshi ini, siapa yang benar… Kuncinya cuma dua… bersikap objektif dan memakai hati nurani 🙂

Akhirnya ada kesempatan juga buat menulis part 3 dari pendapat saya mengenai MLM Tianshi ini. OK, review sedikit… Di part 1, saya sudah menuliskan pendahuluan, bagaimana saya berkenalan dengan MLM Tianshi… Di part 2, saya sudah menjabarkan pendapat saya mengenai sistem network marketing secara umum dan MLM Tianshi secara khusus. Di sana telah saya jelaskan hal apa yang menjadi masalah paling utama dari network marketing, yang selalu ditutup-tutupi oleh para pengikut MLM dengan begitu baiknya. Pada postingan kali ini, part 3, saya akan membahas mengenai sebuah isu MLM yang menurut saya lebih penting dibandingkan sistemnya, yaitu isu moral…

Saya akan memulai pendahuluan postingan ini dengan sebuah pertanyaan. “Kenapa sih presentasi MLM itu sangat menarik (atau setidaknya cukup menarik) untuk orang yang pertama kali mendengarkannya?” Hal itu juga yang saya alami ketika pertama kali saya dipresentasikan mengenai MLM Tianshi ini. OK, saya akan jawab pertanyaan itu dengan jujur – sejujur-jujurnya – saat itu saya begitu tertarik akan MLM Tianshi ini karena (berdasarkan presentasi yang saya dengar waktu itu) saya akan bisa mendapatkan penghasilan pasif, saya akan bisa mendapatkan banyak uang (bahkan ga usah kerja kalau sudah dapat penghasilan pasif, apalagi kalau sudah financial freedom). Selain itu, saya bisa dapat BMW, kapal yacht, atau bahkan pesawat terbang… Saya akan dapat menikmati semua kemewahan itu. Kalau saya sudah memiliki uang, saya akan bisa mendapatkan segalanya (mengutip kata-kata Pak Louis Tendean, petinggi MLM Indonesia, yang mendapatkan istrinya dari sebuah BMW)…

Baca Lanjutannya…

Wartawan Berhak Menghancurkan Orang Lain, Blogger Tidak!

Saya baru saja membaca sebuah berita di detikinet tentang kebebasan pers dan UU ITE. Pas baca, saya merasakan keanehan dan agak lucu juga sih… Judulnya: “UU ITE Bukan Untuk Pers, Tetapi Untuk Blogger” Jadi ingin tahu juga pendapat teman-teman pembaca dan teman-teman blogger tentang ini.

Ada satu bagian dari artikel tersebut yang menggelitik saya. Bagian itu adalah:

Dalam pasal 27 ayat 3 disebutkan: “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menditribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektonik dan/dokumen elektronik yang memilik muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.”

“Dalam pasal itu tidak mengatur pers. Jurnalis kan tetap punyak hak menyebarluaskan informasi. Tapi bagi yang tak punya hak dan informasinya bermasalah maka itu yang diatur. Misalnya blogger diatur dalam UU ini,” terang dia.

dan

“Yang diancam itu tanpa hak dan sengaja untuk melakukan pencemaran atau menghancurkan orang lain. Nah yang tanpa hak itu bukan kalangan wartawan,”

Kesimpulan yang saya dapatkan dari tulisan di atas adalah sesuai dengan judul tulisan ini: Kalangan wartawan memiliki hak untuk mencemarkan dan menghancurkan orang lain, hak yang tidak dimiliki kalangan blogger.

Kenapa kalangan wartawan harus dibeda-bedakan dengan kalangan blogger? Kalau ada blogger yang tidak bertanggung jawab, harusnya ada juga wartawan yang tidak bertanggung jawab. Mungkin maksudnya pihak wartawan sudah diatur hukumnya di UU tentang pers, tetapi pernyataan di atas berarti menyetujui kalau wartawan berhak menghancurkan orang lain, dan blogger tidak…

Bagaimana pendapat pembaca? 😉

Ketika Mahal Terlihat Murah

Saya terinspirasi untuk membuat tulisan ini setelah membaca postingan “Ilusi Finansial” di sini. Di sana digambarkan bagaimana konsumer “ditipu” tanpa merasakan kalau dirinya tertipu. Saya jadi mengingat tentang suatu bentuk “ilusi finansial” lainnya yang saya temui di sekitar saya.

Baca Lanjutannya…

Pasar Berjalan di Kereta

Dear readers…

Hari ini saya ingin menceritakan mengenai pengalaman dan pendapat saya mengenai realita yang ada di kereta api Indonesia (khususnya kereta api ekonomi). Hari ini saya naik kereta api ekonomi dari Stasiun UI menuju Stasiun Jakarta Kota seperti biasanya. Saya sudah sering naik kereta tersebut, dan ada pemandangan yang sebenarnya tidak asing lagi bagi saya… Apakah itu? Itu adalah pasar berjalan di kereta…

Kenapa disebut pasar berjalan di kereta? Karena mereka menjajakan barang jualan mereka di atas kereta untuk para penumpang. Hmm, awalnya saya cukup terkejut melihat betapa banyaknya jenis barang yang dijual di kereta, namun sekarang saya sudah lebih terbiasa. Apa saja sih yang dijual itu? Beberapa di antaranya (yang saya ingat adalah):

  • Jasa: mengamen, menyapu lantai kereta, …
  • Makanan ringan: kerupuk, roti buaya, kacang, tahu, permen, …
  • Buah-buahan: jeruk, salak, buah naga, …
  • Koran: Kompas, Warta Kota, Koran Tempo, Lampu Merah, Non Stop, …
  • Minuman: aqua, frutang, kopi, jelly, green tea, …
  • Aksesoris: anting, jepitan rambut, casing HP, gantungan kunci, …
  • Alat kesehatan: alat pijat refleksi, sandal kesehatan, …
  • ATK: pulpen, isolasi, gunting, laser pointer, amplop, lem, …
  • Buku: Buku mewarnai, RPUL, buku agama, majalah, …
  • Lain-lain: tissue, rokok, lampu meja, tas, racun tikus, lem tikus, pupuk tanaman, stiker, bingkai foto, sarung tangan, keranjang baju, bangku lipat, kipas angin mini, pajangan, mainan, …

Ada lagi yang bisa menambahkan daftar di atas? Saya yakin masih banyak barang-barang lainnya yang belum disebutkan di atas. Tapi bukan list barang-barang di atas yang menjadi inti postingan saya saat ini…

Baca Lanjutannya…

Selamat Jalan Pak Harto

Pada hari Minggu kemarin, tanggal 27 Januari 2008, seorang mantan orang nomor 1 di Indonesia, Bapak H. M. Soeharto, telah wafat. Seorang yang penuh kontroversi antara jasanya dan kesalahannya. Saya setuju dengan pendapat beberapa orang untuk memaafkan Pak Harto sebagai seorang pribadi, namun akibat dari kesalahannya juga masih harus dipertanggungjawabkan.

Baca Lanjutannya…

%d blogger menyukai ini: