Tag Archive | kasih

Izinkan Orang Lain Untuk Mengasihi Anda

“Mama!!! Ini kenapa ayamnya kecil-kecil??? Nasinya banyak begini, ayamnya kecil begini, makanan macam apa ini???” teriak Andi dari ruang makan.

Sang ibu keluar dari dapur, membawa semangkuk besar sayur hijau dan sepiring tahu-tempe. “Ini ada sayur ijo dan tahu-tempe juga yang bisa kamu makan…”

“Sayur begitu mana bisa dimakan. Ngelihatnya saja sudah bikin ga nafsu makan…” kata Andi.

“Ya, adanya hanya ini… Kamu mau makan ngga?” sang ibu mulai kesal melihat Andi bersungut-sungut.

“Apa? ‘Mau makan ngga?’ Jadi gini mama memperlakukan anak mama sendiri…” Andi berdiri dari kursinya.

“Kamu sekarang makin berani ya sama mama???” sang ibu semakin kesal.

“Mama benar-benar membuat Andi ga nafsu makan lagi. Memang dari dulu mama selalu pilih kasih, lebih sayang dengan Budi. Mentang-mentang aku lebih tua, mama ga sayang aku, aku cuma dibentak-bentak. Cuma dede yang mama sayang!” Andi langsung meninggalkan meja makan, masuk ke kamarnya dan membanting pintu kamarnya keras-keras.

Baca Lanjutannya…

Iklan

Kebaikan Sederhana, dengan Ketulusan yang Luar Biasa

Suatu sore, beberapa tahun yang lalu, saya menerima sebuah kebaikan sederhana yang begitu membekas di hati saya, sehingga saya mengingatnya sampai sekarang.

Sore itu, saya sedang belajar di kos saya, mempersiapkan ujian akhir yang akan saya ikuti esok hari. Kebanyakan teman-teman saya tidak mengambil kuliah ini, sehingga saya menjadi satu dari sedikit orang yang sedang belajar sore itu.

Saya ada di kos. Sendirian. Di luar, hujan deras sedang turun. Cuaca seperti ini benar-benar menggoda saya untuk tidur. Ketika itulah saya mendengar pintu kamar saya diketuk.

Tok. Tok…

Siapa yang datang di tengah hujan lebat begini? Penasaran, saya buka pintu kamar saya. Berdiri di depan saya seorang teman kampus saya, datang dengan sebuah payung yang tak cukup besar untuk menjaganya tetap kering.

“Ada apa, Yo?” Teman saya itu bernama Yohanes.

“Ini Les, buat nemenin lu belajar…,” dia memberikan sekantong roti Breadtalk kepada saya.

“Oh, thank you, Yo…”

“OK Les… Gw harus pulang sekarang. Good luck ya buat ujian besok.”

Begitu cepat dia pergi dan menghilang di tengah hujan. Kenapa kejadian singkat ini begitu berkesan untuk saya?

Pertama, jarak kos saya dan kos dia terpisah lumayan jauh, sekitar setengah jam berjalan kaki. Dan saya tahu, roti itu pasti dibeli di Breadtalk Margo City, yang ada di dekat kosnya. Apa artinya? Artinya, dia bukanlah sekedar mampir ke tempat saya, tapi memang merencanakannya. Bisa saja setelah pulang dari Margo City dia langsung pulang ke kosnya, daripada berjalan kaki satu jam bolak-balik di tengah hujan deras hanya untuk mengantarkan roti ini pada saya. Sungguh dibutuhkan sebuah pengorbanan untuk melakukan kebaikan sederhana ini.

Lalu, apakah hanya pengorbanannya yang membuat saya terkesan? Tidak hanya itu, ada hal lain yang lebih membuat saya terkesan, yaitu motivasi di balik pengorbanan yang dia lakukan.

Baca Lanjutannya…

Merasa Cukup & Keinginan Bertumbuh: Bagaimana Keduanya Disatukan? (2)

Bagaimana caranya seseorang dapat “merasa cukup” dan pada saat yang sama juga memiliki “keinginan bertumbuh”?

Bagaimana caranya seseorang dapat mengucap syukur atas segala hal yang dimilikinya, dia merasa cukup akan semua hal yang dia miliki… Namun, pada detik berikutnya, keinginan untuk bertumbuh begitu berapi-api dalam dirinya. Bagaimana mungkin?

Hanya “KASIH” yang dapat menjadi penghubungnya.

Apabila “KASIH” yang menjadi motivasi kita untuk bertumbuh, bertumbuhlah sebesar-besarnya. Pada waktu yang sama, teruslah bersyukur dan merasa cukup akan semua hal yang kita miliki.

Masih ingat cerita nelayan dan pedagang yang saya bagikan minggu lalu?

Apakah hal yang dilakukan sang nelayan yang merasa cukup itu baik? Ya, itu memang baik. Namun, bukankah lebih baik jika dia bisa bertumbuh, memberi makan lebih banyak orang dibanding hanya untuk keluarganya, dan memberi lapangan pekerjaan bagi nelayan-nelayan yang lain?

Bagaimana dengan sang pedagang? Baikkah keinginannya untuk bertumbuh? Ya, bertumbuh memang baik. Namun, tujuan sang pedagang yang hanya untuk “memperkaya dirinya sendiri” sangatlah dangkal. Saya percaya, Tuhan menciptakan kita untuk tujuan yang lebih besar daripada hanya untuk diri kita sendiri. Tuhan ingin kita mengasihiNya dan mengasihi sesama kita. Itulah sebabnya Yesus berkata hukum yang terutama adalah Hukum Kasih:

“Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Matius 22:36-39

Itulah kelemahan sang nelayan dan sang pedagang dalam cerita tersebut. Mereka hanya memikirkan diri dan keluarga mereka sendiri. Mereka menutup kemungkinan untuk mengasihi lebih banyak orang.

Baca Lanjutannya…

Tempat Cinta Diwujudkan

Kalau urusan cinta kasih, saya langsung teringat pada dua bersaudara itu, Daniel dan Tony. Daniel tetap membujang, sedangkan Tony berkeluarga dan punya lima anak. Di antara keduanya ada kesepakatan: hasil panen dibagi dua secara adil.

Malam menjelang tidur, Tony berpikir: “Ah, kasihan adikku, sendirian, tanpa keluarga. Bagaimana kalau ia sakit?” Maka tengah malam ia bangun dan membawa sekarung beras ke lumbung adiknya. Daniel juga berpikir: “Kasihan abangku, punya anak-istri, pasti butuh lebih banyak daripada aku yang sendirian.” Maka ia pun bangun ketika yang lain tidur lelap, membawa sekarung beras ke lumbung kakaknya.

Baca Lanjutannya…

Jika ingin, Dia bisa turun dari salib!

Izinkanlah saya untuk memperkenalkan Seseorang yang sangat luar biasa, yang pernah ada di dunia ini 2000 tahun silam, dan Dia masih hidup sampai sekarang.

Dia adalah seorang guru bagi banyak orang, tetapi Dia dikhianati salah satu murid-Nya sendiri.

Ketika murid-Nya dan para pasukan datang untuk menangkap Dia, murid-Nya yang lain membelanya dengan mengeluarkan pedangnya dan menebas telinga salah seorang prajurit. Apa yang dilakukan oleh-Nya? Dia meminta murid-Nya tersebut untuk menyarungkan kembali pedangnya dan Dia menyembuhkan telinga sang prajurit. Padahal, jika ingin, daripada menyembuhkan telinga prajurit tersebut, Dia bisa saja memutuskan telinganya yang satu lagi.

Dia diludahi, harga diri-Nya diinjak-injak, tetapi Dia tidak membalasnya. Jangankan membalas, bahkan Dia tidak mengumpat. Padahal, jika ingin, Dia bisa saja memutuskan lidah orang yang meludahi-Nya.

Dia diadili secara tidak adil. Sang hakim tidak menemukan kesalahan apapun daripada-Nya, tetapi malah menghukum mati Dia dan membebaskan seorang penjahat yang seharusnya layak dihukum. Tapi, Dia tidak melawannya. Padahal, Dia bisa saja membuat sang hakim menjadi berpihak pada-Nya.

Dia yang tidak bersalah, dicambuk ratusan kali dengan cambuk berujung tajam yang dapat mengangkat daging orang yang dicambuknya. Daging-Nya tercabik-cabik, tetapi Dia tidak melawan. Padahal, Dia bisa saja memutuskan tangan algojo-algojo yang mencambuknya.

Dia dipakaikan mahkota duri. Bayangkan duri-duri menancap di kepalanya, dan Dia tidak berusaha melepaskannya. Padahal, Dia bisa saja membuat mahkota duri itu berubah menjadi topi biasa dalam sekejap.

Dia dengan luka-luka cambukan di tubuh-Nya, dipaksa untuk memikul balok kayu kasar yang sangat berat ke atas sebuah bukit, dan Dia bahkan tidak mengeluh. Padahal, Dia bisa saja “memindahkan” luka-luka-Nya ke prajurit yang memaksa-Nya memikul balok kayu tersebut.

Kedua tangan-Nya dan kaki-Nya dipaku, lalu tubuhnya digantung di atas kayu salib, dan Dia tidak dendam dengan orang yang menyalibkan-Nya. Malahan, Dia mengampuni-Nya saat itu juga. Padahal, Dia bisa saja melenyapkan nyawa orang-orang yang menyalibkan-Nya saat itu juga. Selain itu, Dia juga bisa turun dari salib, tetapi Dia tidak melakukan-Nya.

Baca Lanjutannya…

Kenapa Orang Bisa Membenci Orang yang Dicintainya?

Kadang saya bingung, kenapa ya seseorang bisa berubah drastis, dari mencintai seseorang tiba-tiba membenci orang yang dicintainya tersebut. Kenapa ya ada orang yang sangat mencintai pasangannya, dan tiba-tiba bisa begitu membencinya ketika pasangannya memutuskan hubungan mereka, atau pasangannya berbuat kesalahan yang sebenarnya adalah kesalahan yang sepele? Apakah batas cinta dan benci memang sedemikian tipisnya? Padahal cinta dan benci adalah sesuatu yang sangat bertolak belakang.

Kemarin saya menonton Arsenal, tim sepak bola kesayangan saya bermain. Pertandingannya disiarkan secara langsung, Arsenal vs Manchester City. Hasilnya? Arsenal kalah 0-3 dari Manchester City. Namun, bukan kekalahan itu yang akan saya bahas, tapi respon saya atas kekalahan “tim kesayangan saya” tersebut. Di akhir pertandingan, saya lebih cenderung menyalahkan dan menjatuhkan tim kesayangan saya tersebut, daripada memberikan support untuk membantunya bangkit. Apakah itu adalah respon kekecewaan saya? Mungkin, tapi saya tahu respon ini bukanlah untuk membangun Arsenal agar lebih baik lagi. Lalu, kenapa saya bisa begitu mudah “menjatuhkan”, meskipun hanya sesaat, tim kesayangan saya tersebut.

Saya lalu berpikir, kenapa saya mengharapkan Arsenal menang? Apakah itu untuk kebahagiaan “tim Arsenal” itu? Atau untuk kebahagiaan saya? Yah, secara jujur, saya mengharapkan Arsenal menang untuk kebahagiaan saya, yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Jadi, kalau Arsenal kalah, maka Arsenal telah merenggut “kebahagiaan saya” tersebut. Maka, sebagai respon, saya menghibur diri saya dengan “menjatuhkan” Arsenal yang tidak memberikan saya kebahagiaan.

Dari peristiwa itu, saya mulai berpikir hal yang saya angkat di awal tulisan. Kenapa orang bisa membenci orang yang dicintainya? Jawaban saya adalah, karena orang tersebut tidak mencintai dengan tulus (dan memang sangat sulit untuk mencintai dengan tulus). Dia mencintai seseorang karena orang tersebut memberikan kebahagiaan kepadanya. Maka, ketika orang tersebut tidak lagi memberikan kebahagiaan, dia berhenti mencintai orang tersebut. Pada kasus ekstrem, dia malah berbalik membencinya. 

Baca Lanjutannya…

Benarkah kamu sayang padanya?

Apakah kamu memiliki seseorang yang sangat kamu kasihi? Mungkin dia orang yang spesial untukmu, atau keluargamu, atau temanmu, atau siapapun dia… Punya? Yah, saya yakin kamu pasti mempunyai orang yang kamu kasihi. Izinkan saya bertanya satu pertanyaan, benarkah kamu mengasihinya?

Apakah jika dia mengecewakanmu, kamu akan tetap mengasihinya?

Apakah ketika kamu memberinya hadiah dan dia menolaknya, bahkan menyakitimu, kamu akan marah padanya? Ataukah kamu akan berusaha dengan lebih keras untuk menyenangkannya?

Apakah ketika dia berbuat suatu hal yang memalukan, kamu akan meninggalkannya?

Jika dia tidak lagi mengasihimu, akankah kamu tetap mengasihinya?

Jika dia berbuat kesalahan yang sangat besar kepadamu, dapatkah kamu mengampuninya dan tetap mengasihinya seperti sedia kala?

Jadi, apakah kamu benar-benar mengasihinya? Apakah kamu benar-benar sayang padanya? Ataukah itu semua hanya untuk kesenanganmu?

Saya mempunyai sebuah cerita. Sebuah cerita yang menggambarkan kasih yang sesungguhnya. Rasa sayang yang sesungguhnya. Cerita yang mengharukan bagi sebagian orang, namun sayangnya, sangat sedikit orang yang dapat meneladaninya. Inilah ceritanya…

Baca Lanjutannya…

A Touching Donation

Hari ini, saat saya sedang melihat-lihat milis yang masuk ke e-mail saya, saya menemukan sebuah kisah berikut…


Kasih adalah Tindakan, Bukan cuma Diucapkan

Ia berjalan di depan meja ‘donation’. Kami berpikir: “dia akan lewat…”

Touching Donation 1

“Saya ingin menyumbang!”

Ia menuang koin dari mangkuknya…

Baca Lanjutannya…

Selamat Ulang Tahun, Mama…

Hari ini adalah hari ulang tahun mama saya. Seorang yang telah melahirkan, membesarkan, menjaga, dan melindungi saya, sampai saya sudah sebesar ini. Saya sangat bersyukur mempunyai seorang mama yang baik.

Sedikit googling, saya mendapatkan sebuah artikel dari sini tentang kasih sayang seorang ibu…

Baca Lanjutannya…

Cinta Sejati

Cinta sejati? Pernahkah terbayang, cinta sejati itu seperti apa sih? Cobalah bayangkan Anda menerima cinta sejati itu… Apakah yang akan Anda lakukan? Tentunya Anda akan berusaha untuk membalas cinta itu bukan? Yah, yang saat ini akan saya bahas adalah mengenai cinta… Bukan cinta biasa, tapi cinta yang sangat luar biasa, kasih terbesar telah saya terima, yang telah didemonstrasikan 2000 tahun silam…

Hari ini adalah hari Jumat Agung, hari di mana umat Kristen memperingati kematian Yesus Kristus 2000 tahun silam. Sebuah kematian yang didapatkan dengan cara yang sangat hina dan tidak pantas, penyaliban! Hukuman salib adalah hukuman yang sangat menyakitkan. Kebanyakan hukuman mati membuat terhukum secepat mungkin mati (seperti hukuman tembak, kursi listrik, dll.). Tapi, hukuman salib ini tidaklah demikian. Terhukum akan merasakan penderitaan kesakitan yang sangat menyakitkan sebelum dia akhirnya mati. Bayangkan, dua paku pada tangan kiri dan kanan, serta sebuah paku pada kaki harus menyangga berat tubuh terhukum. Tak terbayangkan…

Yang lebih menyakitkan lagi, Yesus tidak hanya disalibkan. Dia juga dicemooh dan disesah sebelum penyaliban itu. Dan, dia harus memikul salib hingga ke bukit Golgota tempat Dia disalibkan. Penelitian “manusia kain kafan” menyebutkan terdapat 726 bekas luka cambuk pada tubuh Yesus. Luka yang disebabkan oleh cambuk berduri, yang sekali cambukannya dapat mengangkat daging orang yang dicambuk. Saya membayangkan, kalau hanya tertusuk jarum saja sudah sakit, apalagi dicambuk 726 kali dan dipaku? Tak terbayangkan…

Lalu, apa yang membuat Yesus harus disalibkan? Apakah karena dosa-dosa-Nya? Ternyata tidak demikian. Inilah cinta sejati yang diberikan Yesus pada kita. Marilah kita lihat, mengapa Yesus harus mengalami penderitaan ini. Penderitaan ini telah dinubuatkan jauh sebelum Dia disalibkan oleh Nabi Yesaya.

Yesaya 53

1Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan? 2Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupa pun tidak, sehingga kita menginginkannya.


Baca Lanjutannya…

%d blogger menyukai ini: