Kompromi

Semua orang dapat membuat komitmen, namun tidak semua berhasil memenuhinya.

Tantangan terbesar bukanlah saat kita “membuat komitmen”, tetapi seberapa setia kita dalam “memenuhi komitmen” yang telah kita buat.

Saya merasakannya sendiri, bagaimana “memenuhi sebuah komitmen” tidaklah semudah “membuat komitmen”. Berkali-kali saya gagal memenuhi komitmen yang telah saya tetapkan.

Tiga tahun yang lalu, saya sempat membuat sebuah komitmen untuk update blog setiap hari jam 6 pagi, yang kemudian saya longgarkan menjadi update blog seminggu sekali, setiap hari Rabu jam 6 pagi. Saya bahkan membuat ini menjadi sebuah “public commitment“.

Baca Lanjutannya…

Iklan

Rasa Sakit Terbesar

Apabila saya bertanya kepada Anda, “Menurut Anda, rasa sakit yang terbesar itu seperti apa sih?”, apakah yang akan menjadi jawaban Anda?

Dulu sekali, waktu saya baru mulai imut-imut (karena sekarang lebih imut-imut, hehe, mohon maaf kalau saya terlalu jujur), saya pikir rasa sakit yang terbesar itu adalah “sakit perut waktu lagi di jalan”.

Ya, saya sempat mengalami sakitnya menahan diri untuk tidak mencret di tengah rasa sakit perut yang luar biasa, di tengah perjalanan bersama beberapa teman. Tepat saat itu, impian terbesar saya adalah menemukan toilet terdekat dan “melepaskan” semuanya.

Sungguh tidak enak rasanya sakit perut sampai saya sempat mengatakan saat itu, “tiada yang lebih sengsara daripada sakit perut”. Untung zaman itu kata lebay belum ditemukan, kalau tidak saya pasti sudah dibilang lebay setengah mati.

Seiring berjalannya waktu, pendapat saya pun mulai berubah. Saya sempat sampai pada sebuah pernyataan “rasa sakit terbesar adalah ketika kita telah berkorban tetapi malah dicaci maki karena apa yang kita lakukan ternyata adalah suatu hal yang tidak diharapkan”.

Baca Lanjutannya…

Kelemahan Menjadi Kekuatan

Apakah Anda sedang mengalami sebuah kegagalan? Apakah Anda sedang menanggung sebuah beban yang begitu berat sehingga Anda merasa tidak kuat lagi dan ingin menyerah? Apakah Anda sedang merasa frustrasi dengan kelemahan yang Anda miliki? Jika Anda menjawab ya dalam salah satu pertanyaan di atas, lanjutkan membaca. Saya menuliskan tulisan ini untuk Anda.

Setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan. Setiap orang juga pasti memiliki masalah dan kelemahan. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa kelemahan itu, jika kita tahu caranya, dapat kita ubah menjadi kekuatan.

Bagaimana caranya? Inilah resep rahasianya: Dengan pantang menyerah dalam melakukan yang terbaik yang Anda bisa lakukan di tengah kelemahan Anda.

Derek Redmond adalah seorang pelari dari Inggris dalam Olimpiade 1992 di Barcelona. Dia adalah salah satu yang difavoritkan untuk meraih medali dalam cabang lari 400 meter. Setidaknya, itu sampai sebuah tragedi terjadi di babak semifinal…

Segalanya tampak baik-baik saja saat babak semifinal dimulai. Derek, yang mempunyai impian yang besar untuk meraih medali, mengawali larinya dengan baik. Namun, setelah berlari 150 meter, harapan itu lenyap ketika Derek merasakan sakit pada kakinya yang membuatnya berhenti dan berlutut di tanah.

Saya berusaha merasakan apa yang Derek rasakan saat itu. Ketika semua jerih payahnya dalam latihan yang begitu lama tiba-tiba menjadi sia-sia karena rasa sakit yang datang di saat yang salah. Perasaan sakit, kecewa, gagal, malu, lemah dan tak berdaya mungkin menjadi perasaan yang dirasakan Derek saat itu.

Di titik itu, sesaat semua orang melihat bahwa Derek Redmond telah gagal. Tidak ada harapan baginya untuk memenangkan perlombaan dan meraih medali olimpiade.

Namun, di tengah rasa sakit dan kecewa yang dirasakannya, Derek menolak untuk menyerah. Dia ingin mengakhiri pertandingan dengan baik, meskipun sudah dipastikan dia pasti menjadi juara terakhir.

Akhirnya, dengan terpincang-pincang, Derek melanjutkan berlari dengan berusaha menahan rasa sakit yang dia rasakan.

Tiba-tiba, seseorang memaksa masuk ke dalam lapangan, dan membantu Derek berlari di sampingnya. Orang itu adalah ayah Derek. Begitu terharu melihat ayahnya yang membantunya, Derek tak kuasa untuk melepaskan air matanya sembari terus berlari. Seorang anak dan seorang ayah bersama-sama mencoba mencapai garis akhir.

Dengan terpincang-pincang, Derek Redmond mencapai garis akhir. Lebih dari 65000 penonton memberikan standing ovation, berdiri dan bertepuk tangan atas usaha Derek yang terus dengan pantang menyerah memberikan yang terbaik yang dapat dilakukannya di tengah kelemahannya.

Pada akhirnya, Derek Redmond memang gagal memenangkan perlombaan ini dan meraih medali. Tetapi, dia mengakhiri perlombaan ini dengan tekun dan memenangkan hati para penonton yang hadir saat itu.

Mari saksikan kisah Derek Redmond dalam video berikut ini:

Pelajaran Berharga

Apakah Anda terinspirasi dengan video di atas? Inspirasi itu takkan ada jika Derek tidak mengalami kegagalan saat itu, atau jika Derek memutuskan untuk berhenti berlari di tengah jalan.

Baca Lanjutannya…

Kenapa Kesalahpahaman Sering Terjadi?

Saya akan mengawali tulisan ini dengan tiga buah teka-teki. Cobalah Anda cari jawaban yang logis dari ketiga pertanyaan teka-teki berikut. Sudah siap? Oke, mari kita mulai.

Pertanyaan pertama: Seorang saudara si tukang kayu meninggal dunia dan mewariskan warisan senilai satu milyar Rupiah kepada saudara laki-laki satu-satunya. Namun, si tukang kayu tidak pernah menerima warisan sedikit pun meskipun warisan itu sah. Mengapa itu bisa terjadi?

Pertanyaan kedua: Adalah seorang anak laki-laki yang mempunyai kebiasaan aneh, yaitu mengulangi setiap suara yang didengarnya. Suatu hari, ayah anak tersebut berkata, “Nak, ayo kita makan malam bareng…”, tapi anak laki-laki tersebut tidak berkata apa-apa. Mengapa bisa begitu?

Pertanyaan ketiga: Seorang gadis yang baru bisa menyetir melalui sebuah jalan raya dengan arah yang salah (melawan arus), padahal jalan tersebut adalah jalan satu arah. Tapi, dia tidak melanggar hukum. Bagaimana bisa?

Oke, apakah Anda sudah mendapatkan jawaban ketiga pertanyaan tersebut? Sedikit bocoran, jawaban ketiga pertanyaan di atas sebenarnya sangat sederhana, namun beberapa orang sulit untuk melihatnya karena alasan yang akan saya jelaskan nanti dalam tulisan ini. Saat ini, marilah kita cocokkan dahulu jawaban Anda dengan jawaban saya…

Baca Lanjutannya…

Pertanyaan-Pertanyaan Refleksi Diri

Ada banyak pertanyaan yang ada di dunia ini. Beberapa di antaranya merupakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak biasa kita jumpai, yang membawa kita pada sebuah refleksi diri yang mungkin dapat mengubah sudut pandang kita dalam kehidupan.

Berikut adalah contoh pertanyaan-pertanyaan refleksi yang saya pikirkan. Anda bisa mencoba menjawab setiap pertanyaan tersebut dalam hati Anda, dan saya pun akan sangat senang jika Anda mau membagikan beberapa jawaban Anda dalam kolom komentar di setiap halaman pertanyaan tersebut.

Inilah pertanyaan-pertanyaan refleksi itu… (klik setiap pertanyaan untuk masuk ke setiap halaman pertanyaan) Baca Lanjutannya…

Ketika Milik Orang Lain Terlihat Lebih Baik

Bagaimana kau bisa memiliki yang kau inginkan jika kau hanya inginkan semua yang tak kau miliki?

Quote di atas saya temukan dalam sebuah komik. Ya, Anda tidak salah baca: sebuah komik. Komik yang cukup terkanal, komik Paman Gober (atau Donal Bebek).

Diceritakan dalam kisah itu, Gober sedang bertarung dengan rivalnya, Roker, tentang siapa bebek terkaya di dunia (bagi yang tidak tahu, Gober dan Roker adalah 2 bebek terkaya di dalam cerita Donal Bebek). Mereka mulai bertarung dengan saling mengambil alih perusahaan-perusahaan lawan mereka. Satu demi satu perusahaan Roker diambil alih Gober dan sebaliknya. Semuanya tentu penuh dengan sabotase.

Hingga akhirnya, semua perusahaan yang awalnya dimiliki Roker, kini dimiliki Gober. Dan sebaliknya, semua perusahaan yang awalnya dimiliki Gober, kini dimiliki Roker. Sebagai akibatnya, mereka berdua harus bertukar kantor.

Roker harus pindah ke gudang uang Gober, dan Gober pindah ke kantor mewah Roker. Seolah seperti mereka telah mendapatkan semua yang mereka inginkan. Tapi, hal yang ironis adalah…

Keduanya tidak bahagia.

Roker mencoba mandi uang dalam gudang uang Gober, dan berakhir dengan tubuh yang kedinginan. Dia tak dapat mengerti bagaimana mungkin Gober bisa senang mandi uang di dalam gudang uang itu.

Gober pun setali tiga uang. Dia sama sekali tidak biasa dengan kursi yang menurutnya terlalu empuk, dan kantor yang kurang cahaya matahari. Terlebih, kantin kantor itu hanya menyediakan menu keju, ya, menu favorit Roker yang tidak disukai Gober.

Keduanya adalah bebek terkaya di dunia, dan keduanya merana. Mereka sama sekali tidak bahagia di tengah kekayaan dan ambisi yang sempat mereka kejar habis-habisan, dan kini telah mereka capai.

Di titik inilah, Kwik, Kwek, dan Kwak, ketiga keponakan Gober, dengan bijak mengatakan quote di atas: “Bagaimana kau bisa memiliki yang kau inginkan jika kau hanya inginkan semua yang tak kau miliki?”

Quote ini membuat saya berpikir

Baca Lanjutannya…

If God Is Good, Why Do So Many Sick People Aren’t Healed?

The blind isn’t seeing?
That’s okay, as long as he sees God’s grace in his life

The lame isn’t walking?
That’s okay, as long as he walks with God in his daily life

The deaf isn’t hearing?
That’s okay, as long as he hears God’s words in his heart and obeys them

The dumb isn’t speaking?
That’s okay, as long as his life speaks God’s truth that leads people to God

The sick isn’t healed?
That’s okay, as long as his relationship with God is healed and thus saved his soul

Never limit God to work only in big and miraculous things
Because while He may not provide the things that you think you need now
He does prepare for the things you’ll absolutely need in the eternity
And in His time, you’ll know and be grateful for what He did for you

Always be grateful for who He is,
He, who gave up His life so you can live,
He, who accepts you as you are,
He, who loves you so much

N.B. Curious to know the answer of the question in the title? Baca Lanjutannya…

Kemenangan dan Kekalahan Semu

Saya akan mengajak Anda membayangkan dua skenario.

Di skenario pertama, andaikan Anto bertarung dengan Badu. Di akhir pertarungan, Anto rugi 10 juta dan Badu rugi 20 juta. Pertanyaan: Siapakah yang menang?

Apakah Anda menjawab Anto yang menang? Jika ya, Anda salah. Anto hanya mengalami “kemenangan semu” saja. Jawaban yang tepat: Dua-duanya kalah karena dua-duanya rugi.

Kini, mari andaikan skenario yang lain. Chandra bertarung dengan Denny. Di akhir pertarungan, Chandra untung 10 juta dan Denny untung 20 juta. Pertanyaan: Siapakah yang kalah?

Kebanyakan orang akan berkata, “Si Chandra dong yang kalah, kan untungnya lebih sedikit…”

Namun sesungguhnya, Chandra hanyalah mengalami “kekalahan semu”, karena faktanya, dua-duanya menang karena dua-duanya untung.

Apakah ada yang masih bingung atau tidak setuju? Kalau begitu, cobalah hal berikut…

Baca Lanjutannya…

Berani Itu Baik atau Buruk?

Berani. Menurutmu, “berani” adalah kata yang positif atau kata yang negatif?

Dahulu sekali, ketika saya masih kecil, saya melihat kata “berani” sangat identik dengan pahlawan (terutama di pelajaran sejarah). Saya diajarkan bahwa warna bendera Indonesia itu merah-putih, warna merahnya berarti berani. Saya didorong untuk memiliki keberanian untuk bertemu orang-orang. Kata “berani” identik dengan hal-hal yang positif, dan saya dididik untuk menjadi “seorang yang berani”.

Semakin saya beranjak dewasa, saya melihat ada beberapa orang menggunakan kata “berani” ini untuk memanipulasi orang-orang, terutama orang-orang yang belum dewasa. Contohnya?

Kata “berani” digunakan untuk memberikan tekanan kelompok. Bayangkan sebuah kelompok yang terdiri dari 5 orang, 4 orang di antaranya merokok dan 1 orang tidak. Tahukah kamu salah satu kalimat yang paling berhasil untuk menjerumuskan 1 orang ini juga untuk ikut merokok? Saya rasa kalimat itu bukanlah “Cobain nih rokok, enak loh…”, tapi kalimat berikut…

Baca Lanjutannya…

Paspor

Pagi hari di hari Senin, tanggal 31 Oktober 2011, saya sedang ada di mobil dalam perjalanan menuju ke bandara. Saya akan pergi ke Singapura selama tiga minggu ke depan. Saya tidak tenang saat itu. Ada sebuah pertanyaan yang terus menerus terlintas di pikiran saya:

“Apakah ada barang yang ketinggalan?”

Meskipun saya sudah semalaman menyiapkan barang-barang yang saya bawa, saya tetap khawatir kalau-kalau ada barang yang saya lupakan. Saya tahu, jika ada barang yang saya lupakan, saya tidak mungkin pulang ke rumah lagi, atau saya akan ketinggalan pesawat.

Saat itu, saya hanya mengecek apakah saya membawa paspor saya. Dan… ada! Saya membawa paspor saya. Saya memutuskan untuk menenangkan diri, karena apapun yang saya lupakan, saya rasa saya masih tetap dapat hidup selama tiga minggu ke depan tanpanya (Ya, saya dapat hidup tanpa bantal kesayangan saya… Ngomong-ngomong, itu hanya bercanda, saya tidak punya bantal kesayangan, meskipun saya sayang bantal :P).

Mengingat akan hal itu membawa saya pada sebuah refleksi hidup. Kalau saya mempersiapkan diri saya begitu rupa sampai-sampai saya memastikan bahwa tidak ada barang yang saya lupa bawa untuk sebuah perjalanan yang hanya tiga minggu lamanya, bagaimana saya mempersiapkan diri saya untuk kekekalan, masa setelah saya meninggal nanti?

Baca Lanjutannya…

%d blogger menyukai ini: