Tag Archive | Tuhan

Melakukan yang Terbaik

Minggu lalu, dalam perjalanan saya pulang menuju rumah saya, kemacetan parah terjadi.

Saya tidak tahu apa penyebabnya. Yang saya tahu jalan di sekeliling saya semuanya dipenuhi mobil yang tidak atau lambat sekali bergerak. Dan perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dalam kurang dari 30 menit, hari itu saya tempuh dalam waktu 90 menit.

Di tengah kemacetan, saya menemui sebuah perempatan yang saya beri nama perempatan frustrasi. Kenapa perempatan frustrasi? Karena perempatan itu benar-benar membuat setiap pengemudi frustrasi, tidak terkecuali saya.

Bayangkan sebuah perempatan tanpa lampu merah. Mobil datang dari empat arah berbeda, menuju arah yang berbeda-beda. Ada yang dari depan mau belok kanan, dari kiri mau lurus, dari belakang mau belok kiri, dan yang dari tengah mau terbang ke atas (ehm, iya iya, yang terakhir itu cuma karangan saya…).

Saya sendiri? Saya sendiri datang dari belakang dan mau lurus ke depan. Tentu saja tidak bisa, karena ada mobil dari depan yang mau belok kanan. Dan mobil itu tentu saja tidak bisa belok kanan karena ada mobil dari kiri yang mau lurus. Demikian seterusnya…

Tidak berlebihan jika semua pengemudi menjadi frustrasi. Mereka saling membunyikan klakson. Mereka memepetkan mobil mereka, mencari celah untuk bisa lewat lebih dulu.

Saat itu, saya sedang mendengar musik di dalam mobil hanya bisa melihat mobil-mobil lain saling salib-menyalib. Kaki saya tidak lepas dari pedal rem. Saya hanya bisa menunggu dengan sabar, melihat bagaimana kekusutan itu terurai sedikit demi sedikit.

Saat itu, sebersit pikiran saya mengatakan, “Mengapa kamu mau kalah dengan pengemudi lainnya? Lihat, mereka bisa lewat lebih dulu. Mereka lebih baik dari kamu.”

Syukurlah tidak hanya pikiran itu yang terbersit di benak saya. Ada satu suara lain dalam hati saya yang menjawab pikiran itu.

Suara itu berkata, “Tidak apa-apa, Charles. That’s okay! Kamu ada di dunia ini bukanlah untuk menjadi yang terbaik di antara semua orang, tapi untuk melakukan yang terbaik sesuai kemampuan yang telah Aku berikan kepadamu.

Tepat saat itulah, sesaat setelah suara itu melintas di hati saya, lirik berikut dinyanyikan di lagu yang sedang saya dengar:

Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah. Tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik. Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasa-Nya bagi hamba-Nya yang sabar dan tak kenal putus asa.

Ya, itu adalah bagian dari lirik lagu Jangan Menyerah yang sedang saya dengarkan saat itu. Jangan tanya saya kenapa momennya begitu pas. Saya pun tidak tahu! Saya hanya bisa katakan ini adalah sebuah surprise lain yang Tuhan berikan pada saya.

Kawan, kita hidup bukanlah untuk menjadi orang yang paling hebat. Kita hidup bukan untuk mengalahkan orang lain! Kita hidup untuk menang bersama-sama, dan membantu orang lain untuk menang juga! Kita hidup untuk melakukan yang terbaik yang dapat kita lakukan untuk menyenangkan hati Tuhan.

Baca Lanjutannya…

Iklan

Inilah Cara Terbaik Untuk Menginvestasikan Uang Kita

Dua orang teman saya tertabrak bus Transjakarta kemarin malam, dan kini sedang terbaring tak berdaya di dalam ruang ICU sebuah rumah sakit.

Seorang dari dua teman saya tersebut mengalami luka yang serius di bagian kepalanya. Tim dokter pagi ini telah melakukan sebuah operasi yang menghabiskan biaya Rp 60 juta.

Wow! Itu kata pertama yang terlintas di kepala saya ketika mendengar angka tersebut.

Dan biaya itu tidak berhenti sampai di sana. Biaya di ICU sekitar Rp 10 juta/hari akan membuat angka itu bertambah sedikitnya menjadi Rp 100 juta di akhir minggu ini.

Sebuah pikiran tiba-tiba melintas di kepala saya: Alangkah sia-sianya orang yang bekerja sepanjang hidupnya hanya untuk mendapatkan uang.

Baca Lanjutannya…

What Money Can Buy

What Money Can Buy

It can buy a Bed, but not Sleep
It can buy a Clock, but not Time
It can buy a Book, but not Knowledge
It can buy a Position, but not Respect
It can buy Medicine, but not Health
It can buy Blood, but not Life
It can buy a House, but not a Home
It can buy a Faith, but not a Savior
It can buy Make-up, but not Beauty

What money can’t buy, God can give it free of charge

Tulisan di atas adalah isi dari selembar kertas yang ditempel di dinding ruangan praktek seorang dokter yang saya kunjungi minggu lalu. Dokter ini terkenal dengan kebaikan dan keramahannya dalam membantu orang lain yang membutuhkan. Baginya, uang bukanlah segala-galanya, karena dia sudah mendapatkan Tuhan, yang jauh lebih berharga dari uang.

Melalui selembar kertas tersebut, Tuhan mengingatkan saya bahwa uang memang dapat membeli obat-obatan, tetapi tidak kesehatan. Karena kesehatan adalah sesuatu yang Tuhan berikan.

Baca Lanjutannya…

Hidup Bagaikan Roller Coaster

Minggu lalu saya naik roller coaster, setelah lebih dari setahun saya tidak pernah bermain permainan yang memacu adrenalin seperti itu. Tidak heran, saat menunggu antrian yang sangat panjang itu, saya merasa deg-deg-an, sekaligus juga tidak sabar. Satu jam saya harus mengantri sampai akhirnya saya mendapat giliran naik ke atas roller coaster itu. Sabuk pengaman dikenakan, dan roller coaster pun mulai bergerak, dari awalnya lambat, menjadi semakin cepat, dan akhirnya sangat cepat…

Saya benar-benar menikmati satu menit itu, ketika saya berada di atas roller coaster. Saya harus akui, desain roller coaster itu sungguh hebat. Dalam satu menit itu, ada sekitar sepuluh kali saya merasa hampir menabrak tiang atau lantai. Dan di saat saya benar-benar sudah sangat dekat dengan tiang itu, roller coaster itu berbelok, tepat pada waktunya. Saya sungguh beruntung mendapat view yang paling baik dari kursi paling depan. Saya tidak menyia-nyiakannya, saya hampir tidak berkedip sepanjang satu menit itu. Saya sungguh menikmati bagaimana adrenalin saya dipacu oleh roller coaster itu. Sungguh momen yang sangat menyenangkan. Tepat ketika itulah, di atas roller coaster yang sedang melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi, Tuhan membisikkan sesuatu di telinga saya…

“Demikian juga dengan hidup, Charles…”

Saya terkejut mendengar bisikan itu di dalam hati saya, dan saya bertanya, “Apa maksudmu Tuhan?”

“Kau lihat, berkali-kali kau merasakan kalau kau akan menabrak tiang-tiang itu… Tapi, pada kenyataannya, kau selalu selamat tepat pada waktunya. Roller coaster yang kau naiki tidak pernah terlambat berbelok, bahkan ketika kau tidak percaya dia masih sempat untuk berbelok…”

“Ah… Benar Tuhan, begitu juga dengan hidup ini… Seberat apa pun masalah yang saya hadapi, meskipun saya merasa saya akan hancur oleh masalah-masalah saya… Pada kenyataannya, Kau selalu memberikan jalan keluar tepat pada waktunya, dan mengubah segalanya menjadi kebaikan, pada waktu yang telah Kau tetapkan.”

“Ya, Charles… Kau sudah mengerti rupanya… Sekarang, aku mau bertanya kepadamu satu pertanyaan yang sangat penting dan dalam… Ini adalah kunci kebahagiaan dalam hidup…”

Baca Lanjutannya…

Apa Gunanya Penyakit ?

Sepanjang hidup saya, sudah begitu banyak penyakit yang pernah saya derita… Mulai dari bentol karena digigit nyamuk, atau penyakit flu yang begitu banyak merebak di musim hujan, sampai penyakit yang mengharuskan saya dirawat di rumah sakit, seperti demam berdarah yang membuat saya tidak masuk sekolah selama sebulan saat saya masih SMP.

Yang paling baru saya alami adalah sakit mata. Ini terjadi minggu lalu. Ketika saya bangun tidur, saya merasa mata saya begitu perih dan gatal, dan membuat saya tidak tahan untuk tidak menguceknya. Tindakan yang membuat mata saya menjadi merah dan semakin merah. Akhirnya, saya membatalkan rencana-rencana saya hari itu, dan memutuskan untuk beristirahat di rumah.

Saya pikir saya hanya terlalu capek, karena memang sudah beberapa hari terakhir saya kurang tidur. Maka hari itu saya tidur siang, berharap ketika saya bangun, mata saya telah pulih. Tidak berhasil. Setelah saya bangun 3 jam kemudian, bukannya pulih, mata saya malah bertambah sakit.

Baca Lanjutannya…

Kesimpulan yang Salah

Saya mempunyai sebuah remote TV yang unik di rumah saya. Untuk dapat menyalakan TV saya, saya harus melakukan hal-hal berikut.

Pertama, saya ambil remote TV saya, dekatkan ke TV, dan tekan tombol “Power” pada remote itu. Namun jangan heran kalau TV saya tidak menyala meskipun tombol “Power” sudah ditekan, karena kita perlu melakukan sebuah gerakan rahasia yang saya temukan dengan susah payah. Apakah itu? Kita harus menggoyangkan remote TV itu, memukul bagian belakang remote itu sekali, lalu tekan tombol “Power” sekali lagi. Dan, 2 detik kemudian, secara ajaib TV saya akan menyala.

Apa hubungannya menggoyangkan remote dan menyalakan TV? Kenapa remote itu harus dipukul dulu sebelum TV saya mau menyala? Jawabannya… Saya tidak tahu. (Ini sama anehnya dengan membetulkan handphone yang rusak terbanting dengan membantingnya sekali lagi. Tidak masuk akal kan?). Tapi yang saya tahu, cara itu bekerja. TV saya menyala. Maka itu yang saya lakukan setiap menyalakan TV saya. Setidaknya sampai suatu hari ketika papa saya menemukan saya sedang menggunakan jurus rahasia ini…

Siang itu, saya sedang menyalakan TV. Seperti biasa, saya menekan tombol “Power”, menggoyangnya, lalu memukulnya sekali. Saat itulah papa saya datang melihat saya…

“Apa yang kamu lakukan? Kenapa dipukul-pukul tuh remote?” tanya papa saya.

“Ini emang begini pa, kalau ga gini ga mau nyala…” jawab saya dengan bangganya seperti seorang guru sedang mengajarkan sebuah jurus rahasia pada muridnya.

Papa saya menghampiri saya dan berkata, “Ah, bukan begitu caranya… Itu mah namanya ngerusak remote. Tekan aja tombol “Power”-nya dan tunggu 5 detik.”

Tidak percaya namun penasaran, saya mencobanya. Saya tekan tombol “Power”. 5 detik kemudian, TV itu menyala. Tanpa goyangan. Tanpa pukulan. TV ITU MENYALA!

“Dari mana papa tahu?”

“Baca dong buku manualnya…”

Baca Lanjutannya…

Raksasa dalam Tanah Perjanjian

Beberapa orang mungkin pernah mendengar kisah ini sebelumnya, kisah tentang dua belas pengintai yang dikirimkan untuk mengintai tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Tuhan kepada bangsa Israel. Kisah ini dicatat dalam kitab Bilangan 13 – 14.

Dalam kisah tersebut, Musa memerintahkan kedua belas pengintai itu untuk melihat keadaan di dalam tanah Kanaan sebelum seluruh bangsa Israel akan masuk ke dalamnya.

Maka Musa menyuruh mereka untuk mengintai tanah Kanaan, katanya kepada mereka: “Pergilah dari sini ke Tanah Negeb dan naiklah ke pegunungan, dan amat-amatilah bagaimana keadaan negeri itu, apakah bangsa yang mendiaminya kuat atau lemah, apakah mereka sedikit atau banyak; dan bagaimana negeri yang didiaminya, apakah baik atau buruk, bagaimana kota-kota yang didiaminya, apakah mereka diam di tempat-tempat yang terbuka atau di tempat-tempat yang berkubu, dan bagaimana tanah itu, apakah gemuk atau kurus, apakah ada di sana pohon-pohonan atau tidak. Tabahkanlah hatimu dan bawalah sedikit dari hasil negeri itu.” (Bilangan 13:17-20)

Setelah 40 hari mereka pergi, mereka kembali dan melaporkan hasil temuan mereka:

Mereka menceritakan kepadanya: “Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya, dan inilah hasilnya. Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana. Orang Amalek diam di Tanah Negeb, orang Het, orang Yebus dan orang Amori diam di pegunungan, orang Kanaan diam sepanjang laut dan sepanjang tepi sungai Yordan.” (Bilangan 13:27-29)

Ada kabar baik dan kabar buruk di dalam laporan pengintai-pengintai itu. Bagaimana kira-kira respon Anda ketika mendengar kabar tersebut? Bangsa Israel sendiri terlihat khawatir, sehingga Kaleb, satu dari dua belas pengintai itu, mencoba menentramkan hati mereka.

Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: “Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!” (Bilangan 13:30)

Namun, tidak semua pengintai setuju dengan Kaleb…

Tetapi orang-orang yang pergi ke sana bersama-sama dengan dia berkata: “Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita.” Juga mereka menyampaikan kepada orang Israel kabar busuk tentang negeri yang diintai mereka, dengan berkata: “Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya. Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami.” (Bilangan 13:31-33)

Lihatlah bagaimana pengintai-pengintai itu mendeskripsikan negeri yang Tuhan janjikan akan dimiliki oleh bangsa Israel tersebut. Tidak heran akhirnya bangsa Israel meresponinya dengan buruk…

Lalu segenap umat itu mengeluarkan suara nyaring dan bangsa itu menangis pada malam itu. Bersungut-sungutlah semua orang Israel kepada Musa dan Harun; dan segenap umat itu berkata kepada mereka: “Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini! Mengapakah TUHAN membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan isteri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?” Dan mereka berkata seorang kepada yang lain: “Baiklah kita mengangkat seorang pemimpin, lalu pulang ke Mesir.” (Bilangan 14:1-4)

Dahulu, bangsa Israel menjadi budak di tanah Mesir, sampai akhirnya Tuhan membebaskan mereka, dan mereka menempuh perjalanan panjang menuju ke tanah yang sangat baik yang dijanjikan Tuhan kepada mereka, yaitu tanah Kanaan. Mereka sudah hampir sampai di tanah perjanjian itu! Namun, melihat raksasa yang ada di dalamnya, mereka lebih memilih menyerah dan kembali menjadi budak di tanah Mesir. Mereka melupakan janji Tuhan, bahwa Tuhan akan senantiasa menyertai mereka, dan menyerahkan tanah Kanaan tersebut ke tangan bangsa Israel.

Namun, di antara pengintai-pengintai itu, ada dua pengintai yang berpendapat lain…

Tetapi Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune, yang termasuk orang-orang yang telah mengintai negeri itu, mengoyakkan pakaiannya, dan berkata kepada segenap umat Israel: “Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya. Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka. (Bilangan 14:6-9)

Namun, tampaknya bangsa Israel tidak setuju dengan kedua pengintai itu, terlihat dari mereka ingin melempari Yosua dan Kaleb dengan batu. Mereka masih tidak percaya kepada Tuhan yang berjanji akan membawa mereka masuk tanah Kanaan.

Lalu segenap umat itu mengancam hendak melontari kedua orang itu dengan batu. Tetapi tampaklah kemuliaan TUHAN di Kemah Pertemuan kepada semua orang Israel. TUHAN berfirman kepada Musa: “Berapa lama lagi bangsa ini menista Aku, dan berapa lama lagi mereka tidak mau percaya kepada-Ku, sekalipun sudah ada segala tanda mujizat yang Kulakukan di tengah-tengah mereka! (Bilangan 14:10-11)

Saya menemukan beberapa hal yang sangat menarik dalam kisah ini.

 

Baca Lanjutannya…

Menjadi Penonton vs Menjadi Pelaku

Tidak banyak film yang saya nonton berulang kali. Salah satu dari beberapa judul film yang ‘langka’ ini adalah “Titanic”. Ya, saya sudah menonton film ini berkali-kali, terakhir kali beberapa minggu yang lalu di RCTI, dan sampai sekarang film ini masih menjadi salah satu film favorit saya.

Salah satu bagian yang paling menyentuh dalam film ini adalah bagian akhir film ini. Ketika saya meminta beberapa teman saya untuk memikirkan sebuah adegan sedih dalam film, sebagian besar dari mereka akan langsung memikirkan adegan ini.

Adegan Jack bersama Rose di tengah luasnya Samudera Atlantik di malam hari, setelah Titanic tenggelam.

Mari bayangkan adegan ini bersama saya…

Pengorbanan Jack

Rose berbaring di atas bekas pintu kayu yang terapung. Sementara Jack hanya memegang pinggiran kayu tersebut, dan membiarkan tubuhnya di dalam air beku Samudera Atlantik. Apa boleh buat. Jika Jack memaksa naik ke atas kayu tersebut, mereka berdua akan tenggelam bersama. Karena kayu itu hanya bisa menampung satu orang saja. Maka Jack berkorban untuk Rose.

Baca Lanjutannya…

Fokuskan Diri Pada Tuhan yang Jauh Lebih Besar Dari Masalah Kita

"Hendaklah pandangan kita tertuju kepada Yesus, sebab Dialah yang membangkitkan iman kita dan memeliharanya dari permulaan sampai akhir. Yesus tahan menderita di kayu salib! Ia tidak peduli bahwa mati di kayu salib itu adalah suatu hal yang memalukan. Ia hanya ingat akan kegembiraan yang akan dirasakan-Nya kemudian. Sekarang Ia duduk di sebelah kanan takhta Allah dan memerintah bersama dengan Dia." – Ibrani 12:2, BIS

Setiap dari kita pasti mempunyai masalah. Hanya orang yang sudah meninggalkan dunia ini yang sudah tidak mempunyai masalah. Jadi, jika Anda mempunyai masalah saat ini, bersyukurlah. Itu tandanya Anda masih hidup.

Namun, jika semua orang mempunyai masalah, kenapa ada orang yang bahagia, dan ada orang yang tidak bahagia? Apa yang membedakan kedua orang tersebut? Yang membedakannya adalah fokus mereka…

Orang-orang yang tidak bahagia memfokuskan diri mereka pada masalah mereka. Mereka selalu merasa masalah mereka begitu beratnya. Mereka tidak melihat harapan. Mereka berpikir masalah mereka takkan pernah berakhir. Akhirnya, yang mereka lakukan hanyalah mengeluh dan bertanya mengapa mereka mendapatkan masalah tersebut.

Sebaliknya, orang-orang yang bahagia memfokuskan diri mereka pada Tuhan yang jauh lebih besar daripada masalah mereka. Mereka memikirkan kegembiraan yang akan dirasakan oleh mereka ketika mereka berhasil melalui masalah mereka. Mereka percaya masalah mereka akan mengajarkan sesuatu kepada mereka yang dapat membuat mereka menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih tangguh. Mereka percaya ada banyak sisi positif dari masalah mereka, dan masalah mereka tersebut hanyalah sementara. Pertanyaan mereka adalah apa yang harus mereka lakukan untuk menyelesaikan masalah mereka, dan bagaimana masalah mereka dapat membantu mereka untuk menjadi lebih baik.

Baca Lanjutannya…

Seorang Anak Bimbingan Yang Menjadi Berkat Untuk Saya

Sebuah Berita Mengejutkan Di Pagi Hari

“Ko, kayanya nanti saya ga kaer (kebaktian remaja) dan pembinaan deh… Rumah saya kebakaran!”

SMS itu masuk ke dalam inbox handphone saya pada hari Minggu kemarin, 25 Juli 2010 Pk 03:21 dini hari. Pengirimnya? Kurniawan, seorang anak bimbingan saya di gereja.

Saya baru membaca SMS itu ketika saya bangun jam setengah 6 pagi. Hampir saja saya menjatuhkan handphone saya saat membacanya. Saya langsung mencoba menghubungi dia.

Sia-sia. Handphone-nya tidak aktif. Saya malah menjadi bertambah khawatir. “Oh Tuhan, apa yang terjadi dengannya?”

Saya sungguh bergumul saat itu. Pagi itu, saya ada janji pergi dengan teman saya. Tapi, saya tidak akan mungkin dapat meninggalkan anak bimbingan saya dalam keadaan yang belum jelas dan sangat membuat saya khawatir. (Sebenarnya saya malu mengakui bahwa awalnya saya masih ragu-ragu untuk membantu anak bimbingan saya sendiri, tapi saya ingin bercerita dengan jujur). Kebingungan saya terjawab beberapa menit kemudian di kamar mandi saya.

Saya sedang mandi ketika saya bertanya kepada Tuhan di dalam hati saya, “Tuhan? Apa yang harus saya lakukan?” Dan saya percaya, Tuhan menjawabnya ketika ada sebuah suara yang saya rasakan sangat jelas di dalam hati saya: “Datanglah ke sana…”.

“Tapi Tuhan, apa yang bisa saya lakukan di sana?” Saya tidak pernah membantu orang yang mengalami musibah kebakaran sebelumnya. Meskipun di satu sisi saya sangat ingin membantu, di sisi lain saya merasa bingung dan tidak nyaman.

Semua keraguan saya sirna ketika suara itu bergema lagi di dalam hati saya: “Datanglah ke sana… Aku ingin menunjukkan sesuatu yang besar kepadamu.”

Singkat cerita, akhirnya saya membatalkan janji dengan teman saya. Dan saya pergi, ke lokasi kebakaran itu. Saat itu, saya sama sekali tidak tahu, bahwa Tuhan akan memberi saya berkat yang melimpah di sana.

Baca Lanjutannya…

%d blogger menyukai ini: