Keputusan Ibu Dosen yang Tak Terduga

Delapan tahun yang lalu, saat saya masih kuliah di Fasilkom, saya ingat saat itu sedang masa pendaftaran kuliah semester pendek. Karena ada yang bilang, “Kalau mau lulus kuliah 3,5 tahun, kamu harus ambil semester pendek”, maka kuliah semester pendek ini menjadi penting untuk saya ambil.

Saya pun memasukkan form pendaftaran untuk ikut kuliah semester pendek. Karena kuota kelas yang terbatas, hanya 50 mahasiswa saja yang bisa diterima, dan penerimaannya berdasarkan siapa yang daftar duluan.

Saya masih ingat ketika hari pengumuman mahasiswa yang diterima untuk ikut semester pendek. Nama saya tidak ada di sana. Tapi di sana ada nama teman saya, yang saya tahu dia memasukkan form setelah saya.

Saya masih ingat kekecewaan yang saya rasakan saat itu. Seolah harapan untuk lulus kuliah 3,5 tahun sirna karena itu (belakangan saya tahu ini lebay sih). “Pasti ada kesalahan! Ini tidak adil! Kenapa saya yang duluan mendaftar tidak diterima, sedangkan teman saya yang daftar belakangan yang diterima?”

Saya bertanya ke bagian sekretariat, tetapi saya mendapat jawaban bahwa keputusan ini sudah final. Mereka yakin kalau mereka sudah memproses semuanya dengan benar, dan saya tidak diterima karena saya terlambat memasukkan form. Tapi saya yakin benar, teman saya memasukkan form itu lebih belakangan daripada saya, dan teman saya diterima. Tapi pihak sekretariat tidak menggubrisnya.

Akhirnya saya coba datangi ibu dosen mata kuliah tersebut dan memohon kepadanya agar saya dapat dimasukkan dapat kelas tersebut. Tapi ibu dosen berkata, keputusan sudah dibuat oleh pihak sekretariat dan dia tidak dapat mengizinkan saya untuk ikut kuliah tersebut.

Di tengah rasa kecewa, marah, dan frustrasi, saya akhirnya pasrah. Saya menerima bahwa saya tidak dapat mengikuti kuliah semester pendek itu. Lalu saya berpikir, daripada saya tidak ngapa-ngapain selama liburan, kenapa saya tidak iseng-iseng saja saya hadir dalam kuliah tersebut? Meskipun tidak mendapatkan nilai, saya bisa belajar sesuatu sehingga di semester depan ketika saya benar-benar mengikuti kuliah tersebut, saya sudah lebih paham. Maka, saya tanyakan kepada ibu dosen, apakah saya boleh sekadar ikut kelas kuliah tersebut? Tidak masalah kalau saya harus duduk paling belakang dan saya tidak mendapat nilai. Syukurlah, ibu dosen mengizinkan…

Akhirnya di minggu berikutnya, saya mulai nongol di kelas itu, dan duduk paling belakang mendengarkan kuliah. Tidak ada absen, tidak ada nilai, hanya sekadar menimba ilmu.

Setelah dua minggu, ibu dosen mengumumkan kepada kelas bahwa besok akan ada kuis. Saya tahu bahwa saya tidak bisa ikut kuis itu, sehingga pengumuman itu tidak terlalu penting untuk saya. Tapi, tanpa terduga, setelah kelas berakhir, ibu dosen datang menghampiri saya dan berkata, “Charles, besok kamu ikut kuis ya…”

Kaget dan bingung mendengar kata-kata itu, saya bertanya pada ibu dosen, “Maksud ibu, saya diterima menjadi peserta terdaftar kuliah ini?”

“Ya,” kata ibu dosen.

“Tapi bu, bukankah 2 minggu yang lalu ibu bilang semuanya sudah diputuskan oleh pihak sekretariat dan saya tidak bisa terdaftar menjadi peserta kuliah ibu?”

Dengan tersenyum, ibu dosen menjawab, “Ya Charles, kalau 2 minggu yang lalu saya terima kamu, bisa jadi akan ada banyak mahasiswa lain yang juga minta hal yang sama kepada saya. Kalau saya berikan kepada kamu dan tidak berikan kepada mereka, itu tidak adil. Tapi sekarang, kalau ada mahasiswa lain yang datang kepada saya dan minta untuk dimasukkan dalam kuliah ini, saya dapat menolak mereka, meskipun saya menerima kamu. Karena mereka tidak melakukan seperti yang kamu lakukan, hadir di kuliah ini setiap kali selama 2 minggu, meskipun kamu tidak terdaftar.”

Tiba-tiba saya merasa senang sekali. Akhirnya saya bisa diterima dalam kuliah tersebut! Sebelumnya saya hanya berharap saya bisa mendengar saja kuliah tersebut. Sekarang, saya juga bisa menjadi peserta dan bisa mendapatkan nilai.

Dalam kuis berikutnya, ibu dosen menuliskan sebuah kalimat yang membuat saya begitu terharu, yang terus saya ingat sampai saat ini:

“Saya bersyukur dpt memberi kesempatan Charles ikut SP. Teruskan sikap positif spt yg sudah kamu tunjukkan.”

kuis-alin


Lesson learned: Kalau kamu menginginkan sesuatu yang lebih dari yang didapatkan orang-orang lain, lakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh mereka. Never give up!

P.S. Terima kasih banyak, ibu Kasiyah, untuk kesempatan yang telah ibu berikan kepada saya.

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

9 responses to “Keputusan Ibu Dosen yang Tak Terduga”

  1. ALVI ALEVI says :

    Lesson learned: Kalau kamu menginginkan sesuatu yang lebih dari yang didapatkan orang-orang lain, lakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh mereka. Never give up!

    Setuju banget. Salut sama perjuangannya..
    Salam kenal,

    -ALVI-

  2. ALVI ALEVI says :

    yup.. Sama – sama..

  3. SINAR says :

    Thanks, menjadi inspirasi untuk boleh berbagi dengan orang lain

  4. chirstianman says :

    Air mataku hampir jatuh (saya tahu ini agak lebay juga sih)!
    terima kasih bang charles, sangat mengispirasi saya untuk “struggle” dalam hidup!

    Tuhan Yesus membrkati.

  5. Istanamurah says :

    sangat menyetujui sekali pembahasan pada kalimat dan paragraf terakhir yang bilang bahwa kita harus membuat sesuatu yang belum pernah orang lain buat!!

  6. Sylvia Yusim says :

    suka bgt cherr🙂

  7. Chandra Prasetyo Utomo says :

    Semangat belajar yang luar biasa! Terima kasih Charles inspirasinya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: