Tag Archive | uang

Ketika Milik Orang Lain Terlihat Lebih Baik

Bagaimana kau bisa memiliki yang kau inginkan jika kau hanya inginkan semua yang tak kau miliki?

Quote di atas saya temukan dalam sebuah komik. Ya, Anda tidak salah baca: sebuah komik. Komik yang cukup terkanal, komik Paman Gober (atau Donal Bebek).

Diceritakan dalam kisah itu, Gober sedang bertarung dengan rivalnya, Roker, tentang siapa bebek terkaya di dunia (bagi yang tidak tahu, Gober dan Roker adalah 2 bebek terkaya di dalam cerita Donal Bebek). Mereka mulai bertarung dengan saling mengambil alih perusahaan-perusahaan lawan mereka. Satu demi satu perusahaan Roker diambil alih Gober dan sebaliknya. Semuanya tentu penuh dengan sabotase.

Hingga akhirnya, semua perusahaan yang awalnya dimiliki Roker, kini dimiliki Gober. Dan sebaliknya, semua perusahaan yang awalnya dimiliki Gober, kini dimiliki Roker. Sebagai akibatnya, mereka berdua harus bertukar kantor.

Roker harus pindah ke gudang uang Gober, dan Gober pindah ke kantor mewah Roker. Seolah seperti mereka telah mendapatkan semua yang mereka inginkan. Tapi, hal yang ironis adalah…

Keduanya tidak bahagia.

Roker mencoba mandi uang dalam gudang uang Gober, dan berakhir dengan tubuh yang kedinginan. Dia tak dapat mengerti bagaimana mungkin Gober bisa senang mandi uang di dalam gudang uang itu.

Gober pun setali tiga uang. Dia sama sekali tidak biasa dengan kursi yang menurutnya terlalu empuk, dan kantor yang kurang cahaya matahari. Terlebih, kantin kantor itu hanya menyediakan menu keju, ya, menu favorit Roker yang tidak disukai Gober.

Keduanya adalah bebek terkaya di dunia, dan keduanya merana. Mereka sama sekali tidak bahagia di tengah kekayaan dan ambisi yang sempat mereka kejar habis-habisan, dan kini telah mereka capai.

Di titik inilah, Kwik, Kwek, dan Kwak, ketiga keponakan Gober, dengan bijak mengatakan quote di atas: “Bagaimana kau bisa memiliki yang kau inginkan jika kau hanya inginkan semua yang tak kau miliki?”

Quote ini membuat saya berpikir

Baca Lanjutannya…

Iklan

Inilah Cara Terbaik Untuk Menginvestasikan Uang Kita

Dua orang teman saya tertabrak bus Transjakarta kemarin malam, dan kini sedang terbaring tak berdaya di dalam ruang ICU sebuah rumah sakit.

Seorang dari dua teman saya tersebut mengalami luka yang serius di bagian kepalanya. Tim dokter pagi ini telah melakukan sebuah operasi yang menghabiskan biaya Rp 60 juta.

Wow! Itu kata pertama yang terlintas di kepala saya ketika mendengar angka tersebut.

Dan biaya itu tidak berhenti sampai di sana. Biaya di ICU sekitar Rp 10 juta/hari akan membuat angka itu bertambah sedikitnya menjadi Rp 100 juta di akhir minggu ini.

Sebuah pikiran tiba-tiba melintas di kepala saya: Alangkah sia-sianya orang yang bekerja sepanjang hidupnya hanya untuk mendapatkan uang.

Baca Lanjutannya…

What Money Can Buy

What Money Can Buy

It can buy a Bed, but not Sleep
It can buy a Clock, but not Time
It can buy a Book, but not Knowledge
It can buy a Position, but not Respect
It can buy Medicine, but not Health
It can buy Blood, but not Life
It can buy a House, but not a Home
It can buy a Faith, but not a Savior
It can buy Make-up, but not Beauty

What money can’t buy, God can give it free of charge

Tulisan di atas adalah isi dari selembar kertas yang ditempel di dinding ruangan praktek seorang dokter yang saya kunjungi minggu lalu. Dokter ini terkenal dengan kebaikan dan keramahannya dalam membantu orang lain yang membutuhkan. Baginya, uang bukanlah segala-galanya, karena dia sudah mendapatkan Tuhan, yang jauh lebih berharga dari uang.

Melalui selembar kertas tersebut, Tuhan mengingatkan saya bahwa uang memang dapat membeli obat-obatan, tetapi tidak kesehatan. Karena kesehatan adalah sesuatu yang Tuhan berikan.

Baca Lanjutannya…

Uang, Kekayaan, dan Spiritualitas (3): Apa Definisi “Kekayaan” Bagimu?

Pada dua tulisan sebelumnya, saya sudah menjelaskan mengenai pergumulan yang saya hadapi seputar uang, kekayaan, dan spiritualitas (khususnya iman Kristen saya). Pada tulisan ini, saya akan membagikan posisi saya saat ini. Bagaimana pandangan saya saat ini tentang uang, kekayaan, dan spiritualitas?

Mari kita kembali ke pertanyaan awal yang saya ajukan di awal tulisan pertama saya: “Apakah orang Kristen boleh kaya?” Jawaban yang saya yakini saat ini adalah: “Orang Kristen sudah seharusnya dan harus berjuang terus untuk menjadi kaya.” Tolong jangan salah paham dan menelan pernyataan saya tersebut mentah-mentah sebelum membaca penjelasan saya mengenai definisi “kaya” menurut saya…

Apa Itu Kekayaan?

Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sangat mendasar yang harus dijawab terlebih dahulu. Jawaban dari pertanyaan: “Apakah orang Kristen boleh kaya?” akan sangat bergantung pada definisi “kekayaan” bagimu.

Umumnya, orang akan mendefinisikan kekayaan berdasarkan banyaknya harta materi atau uang yang dia miliki. Majalah Forbes menyatakan seseorang disebut kaya jika memiliki penghasilan lebih dari 1 juta US$ per tahun. Ada lagi paham lain yang menyatakan seorang disebut kaya jika dia sudah mempunyai passive income yang lebih besar daripada pengeluarannya. Kekayaan seringkali diidentikkan dengan kebebasan finansial.

Mari saya beritahu satu hal, kawan… Kekayaan jauh lebih berharga dari sekedar mempunyai banyak uang.

Baca Lanjutannya…

Uang, Kekayaan, Dan Spiritualitas (2): Mengapa Ingin Kaya?

Empat bulan yang lalu, paman saya sakit, dan masuk ke rumah sakit. Begitu banyak sakit komplikasi yang dideritanya. Berita buruknya, dia tidak mempunyai uang untuk biaya pengobatan.

Sehari di rumah sakit menghabiskan dana jutaan rupiah. Dia tidak dapat menanggungnya. Istrinya juga tidak bisa menanggungnya.

Menjadi satu-satunya keluarga yang diharapkan saat itu, keluarga saya yang menanggung biaya pengobatannya. Namun, keadaan bertambah berat ketika setelah beberapa minggu di rumah sakit, tidak ada tanda-tanda pemulihan, yang ada malah biaya yang bertambah besar setiap harinya.

Pertengkaran demi pertengkaran mulai terdengar di rumah saya. Mama saya, yang mengurus keuangan keluarga, melihat kondisi keuangan akan semakin kritis jika pengobatan dilanjutkan.

Dilema terbesar ada di pundak papa saya. Meskipun kakak papa saya ini bukanlah seorang yang menyenangkan dan telah berbuat begitu banyak kesalahan, dia tetaplah kakak papa saya, dan dia sedang terbaring sakit di rumah sakit saat ini, seperti menunggu ajal menjemput yang tidak tahu kapan terjadi. Konon, ikatan batin antar saudara kandung begitu besarnya, melampaui semua logika akuntansi dan perencanaan keuangan.

Baca Lanjutannya…

Uang, Kekayaan, dan Spiritualitas (1): Sebuah Pergumulan Besar

Tulisan saya kali ini akan sedikit berbeda dari tulisan saya biasanya. Jika biasanya saya banyak memberikan nasihat-nasihat motivasi, kali ini saya akan lebih banyak bercerita dan mencurahkan isi hati saya secara jujur. Saya akan membahas satu topik yang cukup sensitif di kalangan Kekristenan, yaitu mengenai uang, kekayaan, dan spiritualitas.

Banyak orang yang diam-diam bergumul akan hal ini. Saya termasuk di antaranya. Sekarang, melalui tulisan ini, saya mau sharingkan proses pergumulan saya itu.

“Apakah orang Kristen boleh kaya? Bisakah orang kaya masuk Surga? Apakah benar Tuhan ingin kita menjadi kaya?” Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang terus saya pertanyakan sepanjang pergumulan saya. Di akhir pergumulan saya, saya menemukan bahwa pertanyaan itu ternyata bukanlah pertanyaan yang baik. Saya akan menjelaskan alasannya di seri terakhir tulisan saya.

Oh ya, ngomong-ngomong, saya memutuskan untuk membuat tulisan saya kali ini menjadi sebuah serial bersambung (mengingat panjangnya tulisan yang saya buat kali ini). Pesan saya, janganlah mengutip kata-kata saya lepas dari konteksnya. Apa yang saya tuliskan di sini adalah proses pergumulan saya. Tolong jangan mengambil kesimpulan apa-apa sebelum saya menyimpulkannya di seri terakhir dari tulisan saya.

Oke, cukup pengantarnya… Sekarang marilah kita mulai seri pertama dari tulisan ini. 😀


Antara Uang dan Tuhan

Saya menemukan ada dua pandangan ekstrim kekristenan ketika berbicara tentang uang dan kekayaan.

Pandangan ekstrim yang pertama adalah pandangan “Orang Kristen harus kaya.” Pandangan ini biasanya diyakini oleh mereka yang mempercayai “Teologi Sukses”. Mereka menganggap kekayaan sebagai berkat Tuhan yang pasti didapatkan oleh semua orang beriman. Menurut mereka, Tuhan itu Maha Baik, dan pastilah akan memberkati orang-orang yang beriman kepada-Nya dengan berlimpah-limpah materi, kesuksesan, serta uang yang banyak. Bagi mereka, orang yang miskin adalah orang yang kurang beriman, maka kurang diberkati Tuhan.

Pandangan ekstrim yang kedua adalah pandangan “Orang Kristen tidak boleh kaya.” Mereka mempunyai ayat favorit yang berbunyi “lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Karena itu, mereka mengambil kesimpulan, orang kaya mustahil masuk Surga. Menurut mereka, setiap orang beriman dipanggil untuk menderita bagi Tuhan di dunia, salah satunya adalah dengan menjadi miskin. Dengan menjadi miskin, mereka yakin Tuhan akan mencukupkan kebutuhan mereka setiap hari melalui cara-cara yang mungkin tidak pernah mereka duga. Mereka hanya cukup beriman dan menunggu. Bagi mereka, orang kaya adalah orang yang cinta uang, yang akan lebih mementingkan uangnya daripada Tuhan.

Saya tidak menyatakan apakah kedua pandangan di atas benar atau salah, setidaknya tidak saat ini.

Saya akan menceritakan pergumulan yang saya hadapi terkait uang, kekayaan, dan spiritualitas.


Tuhan VS Uang

Ketika saya masih kecil, saya sudah ikut sekolah Minggu. Di sana, saya banyak mendengar cerita-cerita Alkitab. Saya mendengar cerita bagaimana hidup Tuhan Yesus yang jauh dari kekayaan. Di dalam sebuah cerita, ada seorang kaya yang ingin mengikut Yesus. Yesus memerintahkan orang kaya itu untuk menjual hartanya dan membagi-bagikan semua hartanya kepada orang-orang miskin sebelum dapat mengikut Dia. Saya juga cukup sering mendengar ayat yang saya kutip di atas: “lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (saat itu saya benar-benar membayangkan seekor unta dan sebuah jarum jahit!)

Baca Lanjutannya…

Menabung Kebaikan

Apa yang terlintas di benak Anda jika mendengar kata “menabung”? Sebagian besar orang akan berpikir tentang “uang” atau tentang “bank”. Tidak dapat dipungkiri, di zaman sekarang ini, uang menjadi suatu hal yang sangat penting bagi banyak orang. Katanya, “Zaman sekarang, apa sih yang ga pake duit?”. Banyak orang berpikir, uang sama dengan kuasa. Siapa yang punya lebih banyak uanglah yang akan lebih berkuasa. Tidak heran, banyak orang yang menginginkan mempunyai uang yang banyak.

Keinginan mempunyai uang yang banyak ternyata menjerumuskan sebagian orang ke dalam sifat egois mereka. Mereka mulai mencari banyak cara, dari yang putih, yang abu-abu, sampai yang hitam, untuk mendapatkan lebih banyak uang. Mereka akan menilai setiap hal yang mereka lakukan. “Apa untungnya ini bagiku? Kalau tidak ada untungnya, ngapain aku lakukan…”

Sayangnya, banyak orang yang hanya berpikir keuntungan jangka pendek.

  • Seorang karyawan yang mendapatkan gaji sejumlah tertentu untuk bekerja selama 8 jam sehari, merasa rugi jika suatu hari perusahaan meminta mereka lembur tanpa tambahan gaji.
  • Seorang pebisnis yang menjual suatu barang, merasa rugi jika sang customer meminta service secara cuma-cuma.
  • Seorang siswa merasa rugi mempelajari bab yang tidak ikut diujikan di ujian.
  • Seorang wajib pajak merasa rugi jika berlaku jujur melaporkan semua penghasilannya yang berujung pada semakin banyaknya pajak yang harus dibayar.
  • Bahkan, seorang bisa merasa rugi jika dia harus memberikan persembahan atau sedekah yang seharusnya dia lakukan.

Mereka semua berpikir, “Melakukan ini tidak akan menambah kekayaanku saat ini. Melakukan ini malah mengurangi kekayaanku saat ini.”

Saat ini, saya ingin mengajak Anda berpikir secara berbeda. Marilah kita berpikir untuk keuntungan jangka panjang…

  • Jika Anda sebagai seorang karyawan yang mendapatkan gaji sejumlah tertentu untuk bekerja selama 8 jam sehari, dan suatu hari perusahaan meminta Anda lembur tanpa tambahan gaji. Lakukanlah dengan senang hati, dan mungkin saja Anda mendapatkan promosi yang lebih cepat dan lebih tinggi karena bos menilai Anda seorang yang rajin, tulus, dan berharga bagi perusahaannya.
  • Jika Anda sebagai seorang pebisnis yang menjual suatu barang, dan suatu hari sang customer meminta service secara cuma-cuma. Lakukanlah dengan senang hati, dan mungkin saja sang customer akan membeli barang lainnya dari Anda karena mereka puas dengan service yang Anda berikan.
  • Jika Anda sebagai seorang siswa yang akan ujian dengan bahan 8 bab tapi sang guru meminta Anda mempelajari bab kesembilan juga. Lakukanlah dengan senang hati, dan mungkin Anda bisa mendapatkan cara yang jauh lebih cepat dan mudah untuk mengerjakan sebuah soal, yang hanya dijelaskan di bab kesembilan.
  • Jika Anda sebagai seorang wajib pajak, dan Anda diminta untuk berlaku jujur melaporkan semua penghasilan Anda yang akan berujung pada semakin banyaknya pajak yang harus Anda bayar. Lakukanlah dengan senang hati, dan Anda tidak akan terjerat masalah hukum yang mungkin dialami wajib pajak yang tidak jujur suatu hari nanti.
  • Jika Anda diminta untuk memberikan persembahan atau sedekah yang seharusnya Anda lakukan. Lakukanlah dengan senang hati, besar upahmu di Surga.

Ketika kita mulai berpikir hal-hal jangka panjang, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa ternyata tidak hanya uang yang dapat kita tabung. Kita dapat menabung kebaikan, yang mungkin tidak menguntungkan kita saat ini, tapi dapat menguntungkan kita di masa mendatang.

Kalau begitu, mungkin Anda bertanya-tanya, “Kalau begitu, itu namanya pamrih dong? Mengharapkan imbalan atau balasan di masa depan…”

Baca Lanjutannya…

Menyulap uang seribu menjadi puluhan ribu

Menyulap uang seribu menjadi puluhan ribu… Wah, bagaimana caranya? Nanti akan saya ceritakan. Sekarang saya mau ceritakan dulu “penyulapan uang” lainnya. Sang “pesulap” itu adalah teman kampus saya sendiri. Kejadian ini terjadi sekitar setahun yang lalu. Jadi ceritanya saya dan teman saya sedang mencari dana retret dengan menjual risol. Pagi-pagi risol dibeli, dan kami menjualnya dengan harga seribu (atau dua ribu yah?) Rupiah per risol. Kami membawa tempat kue yang terbuat dari plastik yang kami jadikan nampan dalam menjajakan risol tersebut. Tempat kue itu kami dapatkan saat membeli kue-kue yang lain. Kami pun berjalan mengitari rektorat dan menjajakan risol.

Singkat cerita, di depan rektorat keluarlah ibu-ibu (denger-denger sih salah satunya istrinya rektor). Kami bertemu ibu-ibu itu. Teman saya dengan sigap langsung menawarkan risolnya, dan terjadilah percakapan ini.

Teman saya (T): Risol, bu… Enak buat di jalan…
Ibu (I): Oo, apa ini? Risol ya? Boleh juga nih…
T: Silakan, bu… Mau berapa?
I: Wah kita ada berapa orang ya? 10an ya? (ngitung2 jumlah ibu-ibu yang bersamanya)… Saya beli semuanya deh…
T: (kesenengan) oo, boleh bu, boleh…
I: Tapi bawanya gimana ya?
T: Kami ada tissue bu…
I: Wah, tissue nanti repot… Oh ya, tempatnya (nampan plastiknya) boleh buat saya ga?
T: *memikirkan perjalanan karir sang nampan yang masih panjang* wah, kalau nampannya… harganya mahal bu…..
I: Emang berapa harganya?
T: *melihat nampan plastik yang didapatkan dengan gratis* SEPULUH RIBU bu… (dalam hati: nah, nih ibu ga akan beli deh…)
Baca Lanjutannya…

MLM Tianshi in my opinion… (Part 3)

Tulisan Terkait:

Tautan:

Tianshi Watch –> silakan Anda nilai sendiri tentang MLM Tianshi ini, siapa yang benar… Kuncinya cuma dua… bersikap objektif dan memakai hati nurani 🙂

Akhirnya ada kesempatan juga buat menulis part 3 dari pendapat saya mengenai MLM Tianshi ini. OK, review sedikit… Di part 1, saya sudah menuliskan pendahuluan, bagaimana saya berkenalan dengan MLM Tianshi… Di part 2, saya sudah menjabarkan pendapat saya mengenai sistem network marketing secara umum dan MLM Tianshi secara khusus. Di sana telah saya jelaskan hal apa yang menjadi masalah paling utama dari network marketing, yang selalu ditutup-tutupi oleh para pengikut MLM dengan begitu baiknya. Pada postingan kali ini, part 3, saya akan membahas mengenai sebuah isu MLM yang menurut saya lebih penting dibandingkan sistemnya, yaitu isu moral…

Saya akan memulai pendahuluan postingan ini dengan sebuah pertanyaan. “Kenapa sih presentasi MLM itu sangat menarik (atau setidaknya cukup menarik) untuk orang yang pertama kali mendengarkannya?” Hal itu juga yang saya alami ketika pertama kali saya dipresentasikan mengenai MLM Tianshi ini. OK, saya akan jawab pertanyaan itu dengan jujur – sejujur-jujurnya – saat itu saya begitu tertarik akan MLM Tianshi ini karena (berdasarkan presentasi yang saya dengar waktu itu) saya akan bisa mendapatkan penghasilan pasif, saya akan bisa mendapatkan banyak uang (bahkan ga usah kerja kalau sudah dapat penghasilan pasif, apalagi kalau sudah financial freedom). Selain itu, saya bisa dapat BMW, kapal yacht, atau bahkan pesawat terbang… Saya akan dapat menikmati semua kemewahan itu. Kalau saya sudah memiliki uang, saya akan bisa mendapatkan segalanya (mengutip kata-kata Pak Louis Tendean, petinggi MLM Indonesia, yang mendapatkan istrinya dari sebuah BMW)…

Baca Lanjutannya…

%d blogger menyukai ini: