Tag Archive | Renungan

Kejadiannya Mungkin Saja Lebih Buruk

Sore ini, ketika saya sedang mengendarai mobil dan berbelok di sebuah tikungan, mobil saya membentur trotoar jalan dan bunyinya cukup keras. Saya yakin pasti ada bagian mobil saya yang rusak karena benturan tersebut.

Kemudian, sambil terus melaju, saya mulai memikirkan kerusakan apa yang mungkin terjadi pada mobil saya, dan saya mulai menyesal kurang berhati-hati dalam menikung tadi. Saya berpikir, seharusnya saya bisa menikung dengan lebih baik.

Hanya selang beberapa detik sejak pikiran-pikiran negatif itu muncul, saya bersyukur ada pikiran-pikiran lain yang melintas di benak saya.

“Untunglah saya hanya menabrak trotoar dan tidak menabrak orang. Kejadiannya mungkin saja lebih buruk!

“Untunglah mobil saya masih bisa tetap berjalan dengan normal dan tidak menjadi mogok. Kejadiannya mungkin saja lebih buruk!

“Untunglah saya sama sekali tidak terluka. Kejadiannya mungkin saja lebih buruk!

Dan, ketika pikiran-pikiran itu mulai mengambil alih, saya mulai bisa menenangkan diri dan mulai bersyukur. Ya, bersyukur saya hanya menabrak trotoar dan bukan menabrak orang. Bersyukur mobil saya masih bisa berjalan dan tidak mogok. Bersyukur saya sama sekali tidak terluka. Sebenarnya kejadiannya mungkin saja lebih buruk. Tapi syukurlah, itu tidak terjadi.

Kini, peristiwa itu tidak lagi menjadi peristiwa buruk, tapi menjadi sebuah peristiwa berharga. Pertama, saya mendapatkan pelajaran untuk lebih berhati-hati dalam menikung. Kedua, saya dapat mensyukuri saya tidak menabrak orang, mobil saya tidak mogok, dan saya selamat sampai tujuan. Hal-hal yang jarang saya syukuri tanpa adanya kejadian seperti ini.

Jadi, setiap kali kita mengalami peristiwa buruk, katakanlah pada diri kita sendiri, “Kejadiannya mungkin saja lebih buruk!” Pikirkanlah kemungkinan-kemungkinan lebih buruk yang mungkin saja terjadi tetapi itu tidak terjadi, dan syukurilah bahwa hal itu tidak terjadi. Maka niscaya kita akan mengubah peristiwa buruk tersebut menjadi sebuah peristiwa berharga, yang menjadikan kita seorang yang lebih baik.

Melakukan yang Terbaik

Minggu lalu, dalam perjalanan saya pulang menuju rumah saya, kemacetan parah terjadi.

Saya tidak tahu apa penyebabnya. Yang saya tahu jalan di sekeliling saya semuanya dipenuhi mobil yang tidak atau lambat sekali bergerak. Dan perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dalam kurang dari 30 menit, hari itu saya tempuh dalam waktu 90 menit.

Di tengah kemacetan, saya menemui sebuah perempatan yang saya beri nama perempatan frustrasi. Kenapa perempatan frustrasi? Karena perempatan itu benar-benar membuat setiap pengemudi frustrasi, tidak terkecuali saya.

Bayangkan sebuah perempatan tanpa lampu merah. Mobil datang dari empat arah berbeda, menuju arah yang berbeda-beda. Ada yang dari depan mau belok kanan, dari kiri mau lurus, dari belakang mau belok kiri, dan yang dari tengah mau terbang ke atas (ehm, iya iya, yang terakhir itu cuma karangan saya…).

Saya sendiri? Saya sendiri datang dari belakang dan mau lurus ke depan. Tentu saja tidak bisa, karena ada mobil dari depan yang mau belok kanan. Dan mobil itu tentu saja tidak bisa belok kanan karena ada mobil dari kiri yang mau lurus. Demikian seterusnya…

Tidak berlebihan jika semua pengemudi menjadi frustrasi. Mereka saling membunyikan klakson. Mereka memepetkan mobil mereka, mencari celah untuk bisa lewat lebih dulu.

Saat itu, saya sedang mendengar musik di dalam mobil hanya bisa melihat mobil-mobil lain saling salib-menyalib. Kaki saya tidak lepas dari pedal rem. Saya hanya bisa menunggu dengan sabar, melihat bagaimana kekusutan itu terurai sedikit demi sedikit.

Saat itu, sebersit pikiran saya mengatakan, “Mengapa kamu mau kalah dengan pengemudi lainnya? Lihat, mereka bisa lewat lebih dulu. Mereka lebih baik dari kamu.”

Syukurlah tidak hanya pikiran itu yang terbersit di benak saya. Ada satu suara lain dalam hati saya yang menjawab pikiran itu.

Suara itu berkata, “Tidak apa-apa, Charles. That’s okay! Kamu ada di dunia ini bukanlah untuk menjadi yang terbaik di antara semua orang, tapi untuk melakukan yang terbaik sesuai kemampuan yang telah Aku berikan kepadamu.

Tepat saat itulah, sesaat setelah suara itu melintas di hati saya, lirik berikut dinyanyikan di lagu yang sedang saya dengar:

Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah. Tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik. Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasa-Nya bagi hamba-Nya yang sabar dan tak kenal putus asa.

Ya, itu adalah bagian dari lirik lagu Jangan Menyerah yang sedang saya dengarkan saat itu. Jangan tanya saya kenapa momennya begitu pas. Saya pun tidak tahu! Saya hanya bisa katakan ini adalah sebuah surprise lain yang Tuhan berikan pada saya.

Kawan, kita hidup bukanlah untuk menjadi orang yang paling hebat. Kita hidup bukan untuk mengalahkan orang lain! Kita hidup untuk menang bersama-sama, dan membantu orang lain untuk menang juga! Kita hidup untuk melakukan yang terbaik yang dapat kita lakukan untuk menyenangkan hati Tuhan.

Baca Lanjutannya…

Izinkan Orang Lain Untuk Mengasihi Anda

“Mama!!! Ini kenapa ayamnya kecil-kecil??? Nasinya banyak begini, ayamnya kecil begini, makanan macam apa ini???” teriak Andi dari ruang makan.

Sang ibu keluar dari dapur, membawa semangkuk besar sayur hijau dan sepiring tahu-tempe. “Ini ada sayur ijo dan tahu-tempe juga yang bisa kamu makan…”

“Sayur begitu mana bisa dimakan. Ngelihatnya saja sudah bikin ga nafsu makan…” kata Andi.

“Ya, adanya hanya ini… Kamu mau makan ngga?” sang ibu mulai kesal melihat Andi bersungut-sungut.

“Apa? ‘Mau makan ngga?’ Jadi gini mama memperlakukan anak mama sendiri…” Andi berdiri dari kursinya.

“Kamu sekarang makin berani ya sama mama???” sang ibu semakin kesal.

“Mama benar-benar membuat Andi ga nafsu makan lagi. Memang dari dulu mama selalu pilih kasih, lebih sayang dengan Budi. Mentang-mentang aku lebih tua, mama ga sayang aku, aku cuma dibentak-bentak. Cuma dede yang mama sayang!” Andi langsung meninggalkan meja makan, masuk ke kamarnya dan membanting pintu kamarnya keras-keras.

Baca Lanjutannya…

Sisi Positif dari Kekalahan Arsenal 2-8 Manchester United

Manchester United 8 – 2 Arsenal

Itulah score akhir dari pertandingan di pekan ketiga Premier League musim ini. Sebuah pertandingan yang awalnya disebut-sebut sebagai pertandingan "big match". Dan hari ini saya, seorang fans klub Arsenal, menonton langsung pertandingannya di TV.

Jika hasil ini diperhadapkan pada saya enam tahun yang lalu, saya pasti akan bad mood seminggu. Saya takkan bisa tidur malam itu. Saya akan mulai memukul ranjang. Semua orang yang ada di dekat saya pasti akan mendengar gerutu saya. Saya akan mencari-cari aib klub MU sebagai tameng saya. Dan saya akan menghindar sebisa-bisanya dari teman-teman saya yang merupakan fans MU.

Jika hasil ini diperhadapkan pada saya tiga tahun yang lalu, saya akan tersenyum sinis, dan berkata, "Ah… Rasain!" Berbeda dari respon saya sebelumnya, saya malah akan mencaci Arsenal. Saya akan berkata bahwa mereka memang lemah, calon degradasi, dan mereka memang pantas menerima kekalahan itu. Setidaknya, itu membuat saya merasa lebih baik. Tapi, itu berarti saat itu saya tidak ada di pihak Arsenal, yang notabene adalah klub favorit saya.

Ada persamaan di antara kedua respon di atas. Persamaannya adalah, hati saya sama-sama panasnya…

Hari ini, hal itu benar-benar terjadi. Bisa dikatakan terparah dari yang pernah ada. Lalu bagaimana respon saya kali ini? Puji Tuhan, kali ini saya bersyukur karena saya dapat menemui beberapa hal positif yang hanya akan muncul karena score ini terjadi. Apa saja itu?

Baca Lanjutannya…

What Money Can Buy

What Money Can Buy

It can buy a Bed, but not Sleep
It can buy a Clock, but not Time
It can buy a Book, but not Knowledge
It can buy a Position, but not Respect
It can buy Medicine, but not Health
It can buy Blood, but not Life
It can buy a House, but not a Home
It can buy a Faith, but not a Savior
It can buy Make-up, but not Beauty

What money can’t buy, God can give it free of charge

Tulisan di atas adalah isi dari selembar kertas yang ditempel di dinding ruangan praktek seorang dokter yang saya kunjungi minggu lalu. Dokter ini terkenal dengan kebaikan dan keramahannya dalam membantu orang lain yang membutuhkan. Baginya, uang bukanlah segala-galanya, karena dia sudah mendapatkan Tuhan, yang jauh lebih berharga dari uang.

Melalui selembar kertas tersebut, Tuhan mengingatkan saya bahwa uang memang dapat membeli obat-obatan, tetapi tidak kesehatan. Karena kesehatan adalah sesuatu yang Tuhan berikan.

Baca Lanjutannya…

Apa Gunanya Penyakit ?

Sepanjang hidup saya, sudah begitu banyak penyakit yang pernah saya derita… Mulai dari bentol karena digigit nyamuk, atau penyakit flu yang begitu banyak merebak di musim hujan, sampai penyakit yang mengharuskan saya dirawat di rumah sakit, seperti demam berdarah yang membuat saya tidak masuk sekolah selama sebulan saat saya masih SMP.

Yang paling baru saya alami adalah sakit mata. Ini terjadi minggu lalu. Ketika saya bangun tidur, saya merasa mata saya begitu perih dan gatal, dan membuat saya tidak tahan untuk tidak menguceknya. Tindakan yang membuat mata saya menjadi merah dan semakin merah. Akhirnya, saya membatalkan rencana-rencana saya hari itu, dan memutuskan untuk beristirahat di rumah.

Saya pikir saya hanya terlalu capek, karena memang sudah beberapa hari terakhir saya kurang tidur. Maka hari itu saya tidur siang, berharap ketika saya bangun, mata saya telah pulih. Tidak berhasil. Setelah saya bangun 3 jam kemudian, bukannya pulih, mata saya malah bertambah sakit.

Baca Lanjutannya…

Jangan Sampai Menyesal Nanti…

Banyak orang yang menyesal di akhir hidupnya.

John Izzo pernah mewawancarai banyak orang tua yang telah mendekati akhir hidupnya, tentang hal apa yang paling mereka sesali sepanjang hidup mereka. Berikut adalah jawaban-jawaban yang paling sering muncul…

“Saya tidak cukup banyak meluangkan waktu saya bersama keluarga…”

“Saya tidak sempat mengungkapkan rasa sayang saya pada orangtua saya…”

“Saya tidak cukup mengasihi…”

Mereka baru menyesalinya ketika mereka sudah tua, dan mereka baru menyadari bahwa hubungan itu lebih berharga daripada apa yang mereka kejar sepanjang hidup mereka.

Di akhir hidup Anda, penghargaan apakah yang ingin Anda dapatkan?

Baca Lanjutannya…

Kesimpulan yang Salah

Saya mempunyai sebuah remote TV yang unik di rumah saya. Untuk dapat menyalakan TV saya, saya harus melakukan hal-hal berikut.

Pertama, saya ambil remote TV saya, dekatkan ke TV, dan tekan tombol “Power” pada remote itu. Namun jangan heran kalau TV saya tidak menyala meskipun tombol “Power” sudah ditekan, karena kita perlu melakukan sebuah gerakan rahasia yang saya temukan dengan susah payah. Apakah itu? Kita harus menggoyangkan remote TV itu, memukul bagian belakang remote itu sekali, lalu tekan tombol “Power” sekali lagi. Dan, 2 detik kemudian, secara ajaib TV saya akan menyala.

Apa hubungannya menggoyangkan remote dan menyalakan TV? Kenapa remote itu harus dipukul dulu sebelum TV saya mau menyala? Jawabannya… Saya tidak tahu. (Ini sama anehnya dengan membetulkan handphone yang rusak terbanting dengan membantingnya sekali lagi. Tidak masuk akal kan?). Tapi yang saya tahu, cara itu bekerja. TV saya menyala. Maka itu yang saya lakukan setiap menyalakan TV saya. Setidaknya sampai suatu hari ketika papa saya menemukan saya sedang menggunakan jurus rahasia ini…

Siang itu, saya sedang menyalakan TV. Seperti biasa, saya menekan tombol “Power”, menggoyangnya, lalu memukulnya sekali. Saat itulah papa saya datang melihat saya…

“Apa yang kamu lakukan? Kenapa dipukul-pukul tuh remote?” tanya papa saya.

“Ini emang begini pa, kalau ga gini ga mau nyala…” jawab saya dengan bangganya seperti seorang guru sedang mengajarkan sebuah jurus rahasia pada muridnya.

Papa saya menghampiri saya dan berkata, “Ah, bukan begitu caranya… Itu mah namanya ngerusak remote. Tekan aja tombol “Power”-nya dan tunggu 5 detik.”

Tidak percaya namun penasaran, saya mencobanya. Saya tekan tombol “Power”. 5 detik kemudian, TV itu menyala. Tanpa goyangan. Tanpa pukulan. TV ITU MENYALA!

“Dari mana papa tahu?”

“Baca dong buku manualnya…”

Baca Lanjutannya…

Kebaikan Sederhana, dengan Ketulusan yang Luar Biasa

Suatu sore, beberapa tahun yang lalu, saya menerima sebuah kebaikan sederhana yang begitu membekas di hati saya, sehingga saya mengingatnya sampai sekarang.

Sore itu, saya sedang belajar di kos saya, mempersiapkan ujian akhir yang akan saya ikuti esok hari. Kebanyakan teman-teman saya tidak mengambil kuliah ini, sehingga saya menjadi satu dari sedikit orang yang sedang belajar sore itu.

Saya ada di kos. Sendirian. Di luar, hujan deras sedang turun. Cuaca seperti ini benar-benar menggoda saya untuk tidur. Ketika itulah saya mendengar pintu kamar saya diketuk.

Tok. Tok…

Siapa yang datang di tengah hujan lebat begini? Penasaran, saya buka pintu kamar saya. Berdiri di depan saya seorang teman kampus saya, datang dengan sebuah payung yang tak cukup besar untuk menjaganya tetap kering.

“Ada apa, Yo?” Teman saya itu bernama Yohanes.

“Ini Les, buat nemenin lu belajar…,” dia memberikan sekantong roti Breadtalk kepada saya.

“Oh, thank you, Yo…”

“OK Les… Gw harus pulang sekarang. Good luck ya buat ujian besok.”

Begitu cepat dia pergi dan menghilang di tengah hujan. Kenapa kejadian singkat ini begitu berkesan untuk saya?

Pertama, jarak kos saya dan kos dia terpisah lumayan jauh, sekitar setengah jam berjalan kaki. Dan saya tahu, roti itu pasti dibeli di Breadtalk Margo City, yang ada di dekat kosnya. Apa artinya? Artinya, dia bukanlah sekedar mampir ke tempat saya, tapi memang merencanakannya. Bisa saja setelah pulang dari Margo City dia langsung pulang ke kosnya, daripada berjalan kaki satu jam bolak-balik di tengah hujan deras hanya untuk mengantarkan roti ini pada saya. Sungguh dibutuhkan sebuah pengorbanan untuk melakukan kebaikan sederhana ini.

Lalu, apakah hanya pengorbanannya yang membuat saya terkesan? Tidak hanya itu, ada hal lain yang lebih membuat saya terkesan, yaitu motivasi di balik pengorbanan yang dia lakukan.

Baca Lanjutannya…

Jangan Biarkan Hal Mendesak Mengalahkan Hal Penting

Menjelang tengah malam pada tanggal 29 Desember 1972, pesawat Eastern Airlines dengan nomor penerbangan 401 sedang mendekati bandara Miami dalam keadaan normal. Pesawat tersebut membawa 163 penumpang beserta 13 awak pesawat. Kelihatannya persiapan pendarat itu berjalan normal-normal saja. Sampai tibalah saatnya pilot harus menurunkan roda pesawat. Lampu penunjuk tanda roda sudah turun, tetapi ternyata tidak menyala. Karena proses pendaratan berlangsung di atas Florida Everglades, sama sekali tidak ada cahaya dari luar yang bisa membantu melihat rodanya sudah turun atau belum.

Keputusan harus segera diambil. Pasalnya, kalau tidak ada kepastian bahwa rodanya sudah turun dan masih dalam keadaan terkunci, pendaratan akan sangat berbahaya. Akhirnya kapten memutuskan untuk terbang memutar agar bisa memiliki waktu untuk membuat perkiraan secara manual.

Baca Lanjutannya…

%d blogger menyukai ini: