Arsip | CSUI05 RSS for this section

Indonesia Mengajar: Inspirasi dari 51 Pengajar Muda Indonesia

β€œSatu tahun mengajar, seumur hidup memberi inspirasi.”

Kalimat di atas adalah tagline dari yayasan Indonesia Mengajar. Saya baru tahu tentang yayasan ini kemarin, tetapi yayasan yang didirikan oleh Anies Baswedan ini telah begitu menginspirasi saya.

Ide dari yayasan ini sederhana saja. Indonesia Mengajar akan merekrut anak-anak muda berkualitas, putra-putri terbaik bangsa, untuk ditempatkan di daerah-daerah terpencil sebagai seorang pengajar muda di sekolah dasar selama satu tahun. Dalam rentang satu tahun itu, para pengajar muda tersebut diharapkan dapat membangun kualitas pendidikan di daerah tersebut, selain juga berinteraksi dengan warga, dengan pemuda, dengan tokoh masyarakat, dengan tokoh agama, dan masih banyak lagi.

Untuk itu, proses seleksi telah dilakukan dan telah didapatkan 51 orang pengajar muda yang siap ditempatkan di 5 kabupaten di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku, untuk menunaikan misi mulia mereka, sekaligus juga untuk mendapatkan sebuah pengalaman yang sangat langka dan berharga.

51 pengajar muda ini bukanlah pemuda biasa. Mereka adalah putra-putri berkualitas yang dimiliki bangsa ini. Mereka adalah lulusan universitas-universitas ternama dengan banyak prestasi gemilang. Profil mereka dapat dilihat di sini.

Yang membuat saya terharu sekaligus yang membanggakan saya adalah, teman saya adalah salah satu dari 51 pengajar muda tersebut. Dia adalah Agung Firmansyah, teman kampus saya di Fasilkom UI, yang telah melepas karirnya di sebuah perusahaan IT terkemuka di Indonesia, untuk menjadi seorang pengajar muda di sebuah sekolah dasar di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.

Pilihan serupa juga yang dibuat oleh Ayu Kartika Dewi, seorang pengajar muda yang lain, yang memutuskan untuk berhenti dari karirnya yang menjanjikan di sebuah perusahaan multinasional di Singapura, dan bergabung dengan Indonesia Mengajar, untuk menjadi seorang pengajar muda di Maluku Utara.

Baca Lanjutannya…

Iklan

Wisuda Fasilkom UI

Sdri. Dyta Anggraeni, Sarjana Ilmu Komputer, dan Sdr. Charles Christian, Sarjana Ilmu Komputer, mewakili teman-temannya di Fakultas Ilmu Komputer.

Kira-kira begitulah panggilan MC saat memanggil wakil wisudawan/wisudawati Fasilkom untuk menerima penghargaan kelulusan oleh rektor saat wisuda program sarjana kemarin. Perasaan saya sungguh tidak terkatakan, antara senang, grogi, tidak percaya, bangga, terharu. Saat saya masuk ke Fasilkom, saya tidak pernah berpikir bahwa suatu saat saya akan mewakili teman-teman wisudawan dari fakultas saya, Fasilkom, apalagi mendapatkan predikat lulusan dengan IPK tertinggi dari Fasilkom. Namun, saat wisuda kemarin, hal yang tidak pernah saya pikirkan di awal itu terjadi! Saya menjadi wisudawan Fasilkom dengan IPK tertinggi, dan dapat menjadi salah satu kebanggan Fasilkom. Wow! Saya tidak percaya…

Baca Lanjutannya…

Being 21, 100th Post, First English Post

Today I am 21st years old. And this is my 100th post in this blog. So, there are 2 big milestones in my life today. Thanks God for everything He gave me, and for everything that happened in my life, for every happiness and every sorrow.

Now I want to thank all my friend that has given me a warm birthday greeting (esp. for the first one). That’s all such a precious things for me. My birthday will not complete without you. πŸ˜€

Moreover, there is a very good news today, on my birthday! My friend that lost yesterday has gone home today… That’s an early present for me, hearing my friend was OK.

And the last, there is one more milestone… What? Yeah, as what you should’ve realised. This is my first post in English. I guess there are some grammatical errors in this post, but at least I’ve tried. One journey started with a small step, right? πŸ˜‰

Being 21…
100th post…
1st post in English…

Once again, thanks God I’ve reached those milestones… πŸ˜€

Nominasi Best Blogger Fasilkom Award 2008

Melalui tulisan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada teman-teman yang telah menominasikan saya sebagai salah satu best blogger di Fasilkom Award 2008. Jujur, saya sama sekali tidak menyangka nama saya masuk sebagai salah satu nominasi, mengingat saya baru saja memulai menjadi blogger, dan tentunya masih memiliki banyak kelemahan dan perlu banyak belajar… Terima kasih untuk dukungan teman-teman semua. Semoga saya bisa menjadi blogger yang lebih baik lagi dan membuat isi blog ini menjadi lebih baik lagi πŸ˜€

Oh ya, saya juga mau mengucapkan selamat kepada teman saya, M. Ilman Akbar, yang terpilih menjadi best blogger pada Fasilkom Award 2008 ini. Selain selamat, saya juga ingin mengucapkan terima kasih atas motivasi ngeblog yang diberikan oleh iLm@N… Two thumbs up for him. πŸ˜€

Sekali lagi, terima kasih teman-teman… Maju terus blogger Indonesia! πŸ˜€

~Notes: Fasilkom Award 2008 adalah sebuah penghargaan dari elemen (mahasiswa, dosen, staf) Fasilkom UI untuk elemen Fasilkom UI, dibagi atas 14 kategori (best programmer, best enterpreneur, best athlete, best artist, best lecturer, best lecturer assistant, best blogger, best public speaker, best “satpam”, best janitor, most favorite student 2004, 2005, 2006, 2007).

Tautan: Daftar Pemenang Fasilkom Award 2008

Selamat Berjuang, Temanku

Tulisan ini saya buat untuk seorang teman sefakultas saya yang tengah berjuang menghadapi kerasnya (atau busuknya?) hukum di Indonesia.

Kisahnya dapat dilihat di sini

Kabar terakhirnya dapat dilihat di sini

Melalui hal ini saya belajar bahwa:

  1. Betapa besarnya hal yang harus dibayar untuk sebuah kelalaian (bukan hanya yang harus dibayar teman saya, tetapi juga yang harus dibayar korban). Mengingatkan betapa pentingnya untuk senantiasa berhati-hati.
  2. Betapa busuknya hukum di negeri ini. Betapa semua hal di negeri ini telah diukur oleh UANG. Seperti peribahasa berkata, “Ada uang abang disayang, tak ada uang abang melayang”. Bahkan saat ini, keadilan pun bisa dibeli dengan uang! Seolah-olah siapa yang memiliki uang paling banyak, dialah yang paling berkuasa. Benarkah uang dapat memberikan segala-galanya? Untuk kebahagiaan sementara mungkin ya, tetapi tidak untuk kebahagiaan kekal.
  3. Betapa sulitnya pengampunan itu. Di satu sisi mungkin kita sudah mengatakan kalau kita telah mengampuni, namun di sisi lain sebenarnya kita belum tulus mengampuninya. Bagaimana cara kita dapat mengampuni dengan tulus? Menurut saya, berkacalah dari dosa yang telah kita perbuat di hadapan Allah, dan bagaimana Allah telah mengampuni kita. Bagaimana mungkin kita tidak mengampuni sesama kita bukan?
  4. Betapa saya masih kurang mensyukuri hal-hal kecil yang ada di dalam hidup saya. Kebebasan adalah sebuah hal kecil, namun hal itu menjadi berharga ketika kita berada pada posisi tidak bebas. Kadangkala kita mensyukuri suatu hal justru ketika hal itu sudah diambil dari kita. Perlukah kita sakit untuk mensyukuri kesehatan? Jangan sampai dong ya…
  5. Betapa saya seharusnya bersyukur mempunyai sahabat-sahabat yang menyayangi saya, yang setia bersama saya di kala suka dan duka. Dan betapa pentingnya bersahabat dengan orang lain. Sahabatlah yang akan senantiasa mendukung kita dan menguatkan kita di saat kita susah, dan tertawa bersama kita di saat kita senang.

Untuk temanku Ipur,

Mungkin saya tidak pernah membantu Ipur. Bahkan saya juga tidak dapat hadir di pengadilan Senin besok. Namun, saya selalu mendukung Ipur. Bagaimanapun juga, Ipur adalah teman saya (malah sekelompok PPL yah? Masalah PPL jangan terlalu dipusingin dulu pur, fokuskan untuk hal ini dulu aja…). Saya akan terus mendoakan Ipur agar bisa mencapai jalan tengah dengan korban, dan agar Ipur bisa tetap berada di tengah-tengah kami, CSUI 05. Selamat berjuang, Pur… Mari hadapi masalah ini dan pengadilan yang “tidak beres” di negeri ini dengan kasih. Dan ingatlah juga, kalau Ipur tidak berjuang sendiri…

~btw, kalau ada teman-teman yang ingin datang ke pengadilan Ipur Senin depan, bisa lihat alamatnya di sini.

%d blogger menyukai ini: