Tag Archive | kaya

Uang, Kekayaan, dan Spiritualitas (3): Apa Definisi “Kekayaan” Bagimu?

Pada dua tulisan sebelumnya, saya sudah menjelaskan mengenai pergumulan yang saya hadapi seputar uang, kekayaan, dan spiritualitas (khususnya iman Kristen saya). Pada tulisan ini, saya akan membagikan posisi saya saat ini. Bagaimana pandangan saya saat ini tentang uang, kekayaan, dan spiritualitas?

Mari kita kembali ke pertanyaan awal yang saya ajukan di awal tulisan pertama saya: “Apakah orang Kristen boleh kaya?” Jawaban yang saya yakini saat ini adalah: “Orang Kristen sudah seharusnya dan harus berjuang terus untuk menjadi kaya.” Tolong jangan salah paham dan menelan pernyataan saya tersebut mentah-mentah sebelum membaca penjelasan saya mengenai definisi “kaya” menurut saya…

Apa Itu Kekayaan?

Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sangat mendasar yang harus dijawab terlebih dahulu. Jawaban dari pertanyaan: “Apakah orang Kristen boleh kaya?” akan sangat bergantung pada definisi “kekayaan” bagimu.

Umumnya, orang akan mendefinisikan kekayaan berdasarkan banyaknya harta materi atau uang yang dia miliki. Majalah Forbes menyatakan seseorang disebut kaya jika memiliki penghasilan lebih dari 1 juta US$ per tahun. Ada lagi paham lain yang menyatakan seorang disebut kaya jika dia sudah mempunyai passive income yang lebih besar daripada pengeluarannya. Kekayaan seringkali diidentikkan dengan kebebasan finansial.

Mari saya beritahu satu hal, kawan… Kekayaan jauh lebih berharga dari sekedar mempunyai banyak uang.

Baca Lanjutannya…

Uang, Kekayaan, Dan Spiritualitas (2): Mengapa Ingin Kaya?

Empat bulan yang lalu, paman saya sakit, dan masuk ke rumah sakit. Begitu banyak sakit komplikasi yang dideritanya. Berita buruknya, dia tidak mempunyai uang untuk biaya pengobatan.

Sehari di rumah sakit menghabiskan dana jutaan rupiah. Dia tidak dapat menanggungnya. Istrinya juga tidak bisa menanggungnya.

Menjadi satu-satunya keluarga yang diharapkan saat itu, keluarga saya yang menanggung biaya pengobatannya. Namun, keadaan bertambah berat ketika setelah beberapa minggu di rumah sakit, tidak ada tanda-tanda pemulihan, yang ada malah biaya yang bertambah besar setiap harinya.

Pertengkaran demi pertengkaran mulai terdengar di rumah saya. Mama saya, yang mengurus keuangan keluarga, melihat kondisi keuangan akan semakin kritis jika pengobatan dilanjutkan.

Dilema terbesar ada di pundak papa saya. Meskipun kakak papa saya ini bukanlah seorang yang menyenangkan dan telah berbuat begitu banyak kesalahan, dia tetaplah kakak papa saya, dan dia sedang terbaring sakit di rumah sakit saat ini, seperti menunggu ajal menjemput yang tidak tahu kapan terjadi. Konon, ikatan batin antar saudara kandung begitu besarnya, melampaui semua logika akuntansi dan perencanaan keuangan.

Baca Lanjutannya…

Uang, Kekayaan, dan Spiritualitas (1): Sebuah Pergumulan Besar

Tulisan saya kali ini akan sedikit berbeda dari tulisan saya biasanya. Jika biasanya saya banyak memberikan nasihat-nasihat motivasi, kali ini saya akan lebih banyak bercerita dan mencurahkan isi hati saya secara jujur. Saya akan membahas satu topik yang cukup sensitif di kalangan Kekristenan, yaitu mengenai uang, kekayaan, dan spiritualitas.

Banyak orang yang diam-diam bergumul akan hal ini. Saya termasuk di antaranya. Sekarang, melalui tulisan ini, saya mau sharingkan proses pergumulan saya itu.

“Apakah orang Kristen boleh kaya? Bisakah orang kaya masuk Surga? Apakah benar Tuhan ingin kita menjadi kaya?” Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang terus saya pertanyakan sepanjang pergumulan saya. Di akhir pergumulan saya, saya menemukan bahwa pertanyaan itu ternyata bukanlah pertanyaan yang baik. Saya akan menjelaskan alasannya di seri terakhir tulisan saya.

Oh ya, ngomong-ngomong, saya memutuskan untuk membuat tulisan saya kali ini menjadi sebuah serial bersambung (mengingat panjangnya tulisan yang saya buat kali ini). Pesan saya, janganlah mengutip kata-kata saya lepas dari konteksnya. Apa yang saya tuliskan di sini adalah proses pergumulan saya. Tolong jangan mengambil kesimpulan apa-apa sebelum saya menyimpulkannya di seri terakhir dari tulisan saya.

Oke, cukup pengantarnya… Sekarang marilah kita mulai seri pertama dari tulisan ini. 😀


Antara Uang dan Tuhan

Saya menemukan ada dua pandangan ekstrim kekristenan ketika berbicara tentang uang dan kekayaan.

Pandangan ekstrim yang pertama adalah pandangan “Orang Kristen harus kaya.” Pandangan ini biasanya diyakini oleh mereka yang mempercayai “Teologi Sukses”. Mereka menganggap kekayaan sebagai berkat Tuhan yang pasti didapatkan oleh semua orang beriman. Menurut mereka, Tuhan itu Maha Baik, dan pastilah akan memberkati orang-orang yang beriman kepada-Nya dengan berlimpah-limpah materi, kesuksesan, serta uang yang banyak. Bagi mereka, orang yang miskin adalah orang yang kurang beriman, maka kurang diberkati Tuhan.

Pandangan ekstrim yang kedua adalah pandangan “Orang Kristen tidak boleh kaya.” Mereka mempunyai ayat favorit yang berbunyi “lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Karena itu, mereka mengambil kesimpulan, orang kaya mustahil masuk Surga. Menurut mereka, setiap orang beriman dipanggil untuk menderita bagi Tuhan di dunia, salah satunya adalah dengan menjadi miskin. Dengan menjadi miskin, mereka yakin Tuhan akan mencukupkan kebutuhan mereka setiap hari melalui cara-cara yang mungkin tidak pernah mereka duga. Mereka hanya cukup beriman dan menunggu. Bagi mereka, orang kaya adalah orang yang cinta uang, yang akan lebih mementingkan uangnya daripada Tuhan.

Saya tidak menyatakan apakah kedua pandangan di atas benar atau salah, setidaknya tidak saat ini.

Saya akan menceritakan pergumulan yang saya hadapi terkait uang, kekayaan, dan spiritualitas.


Tuhan VS Uang

Ketika saya masih kecil, saya sudah ikut sekolah Minggu. Di sana, saya banyak mendengar cerita-cerita Alkitab. Saya mendengar cerita bagaimana hidup Tuhan Yesus yang jauh dari kekayaan. Di dalam sebuah cerita, ada seorang kaya yang ingin mengikut Yesus. Yesus memerintahkan orang kaya itu untuk menjual hartanya dan membagi-bagikan semua hartanya kepada orang-orang miskin sebelum dapat mengikut Dia. Saya juga cukup sering mendengar ayat yang saya kutip di atas: “lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (saat itu saya benar-benar membayangkan seekor unta dan sebuah jarum jahit!)

Baca Lanjutannya…

MLM Tianshi in my opinion… (Part 3)

Tulisan Terkait:

Tautan:

Tianshi Watch –> silakan Anda nilai sendiri tentang MLM Tianshi ini, siapa yang benar… Kuncinya cuma dua… bersikap objektif dan memakai hati nurani 🙂

Akhirnya ada kesempatan juga buat menulis part 3 dari pendapat saya mengenai MLM Tianshi ini. OK, review sedikit… Di part 1, saya sudah menuliskan pendahuluan, bagaimana saya berkenalan dengan MLM Tianshi… Di part 2, saya sudah menjabarkan pendapat saya mengenai sistem network marketing secara umum dan MLM Tianshi secara khusus. Di sana telah saya jelaskan hal apa yang menjadi masalah paling utama dari network marketing, yang selalu ditutup-tutupi oleh para pengikut MLM dengan begitu baiknya. Pada postingan kali ini, part 3, saya akan membahas mengenai sebuah isu MLM yang menurut saya lebih penting dibandingkan sistemnya, yaitu isu moral…

Saya akan memulai pendahuluan postingan ini dengan sebuah pertanyaan. “Kenapa sih presentasi MLM itu sangat menarik (atau setidaknya cukup menarik) untuk orang yang pertama kali mendengarkannya?” Hal itu juga yang saya alami ketika pertama kali saya dipresentasikan mengenai MLM Tianshi ini. OK, saya akan jawab pertanyaan itu dengan jujur – sejujur-jujurnya – saat itu saya begitu tertarik akan MLM Tianshi ini karena (berdasarkan presentasi yang saya dengar waktu itu) saya akan bisa mendapatkan penghasilan pasif, saya akan bisa mendapatkan banyak uang (bahkan ga usah kerja kalau sudah dapat penghasilan pasif, apalagi kalau sudah financial freedom). Selain itu, saya bisa dapat BMW, kapal yacht, atau bahkan pesawat terbang… Saya akan dapat menikmati semua kemewahan itu. Kalau saya sudah memiliki uang, saya akan bisa mendapatkan segalanya (mengutip kata-kata Pak Louis Tendean, petinggi MLM Indonesia, yang mendapatkan istrinya dari sebuah BMW)…

Baca Lanjutannya…

MLM Tianshi in my opinion… (Part 2)

Tulisan Terkait:

Saya dan Anda bisa saja sukses di bisnis MLM ini, namun setiap kesuksesan tersebut seakan menjadi bom waktu, yang ketika saatnya tiba, akan banyak sekali orang yang akan gagal, bukan karena mereka kurang berusaha atau tidak memiliki impian, tapi karena sistem MLM mengharuskan mereka untuk gagal, dan setiap orang yang menjalankan sistem MLM ini pastinya bertanggung jawab atas kegagalan mereka.

Hal pertama yang akan saya bahas adalah mengenai sistem dari MLM Tianshi (satu-satunya sistem MLM yang saya tahu)… Saya telah beberapa kali dipresentasikan mengenai MLM Tianshi ini, dan di semua presentasi itu, saya mendapatkan satu kesamaan. Kesamaan apakah itu? Semua yang dipresentasikan adalah hal yang bagus-bagus, yang indah-indah, bahwa semua orang yang menjalani bisnis ini pasti bisa sukses, bisa kaya, membantu orang lain, dapet BMW, kapal n pesawat, ditambah testimonial tentang produk Tianshi yang sudah menyembuhkan banyak orang.

Muncul sebuah pertanyaan… Apakah semua yang dikatakan dalam presentasi tersebut itu tepat, ataukah ada yang ditutup-tutupi, bahkan ada hal yang tidak benar dan dipaksakan untuk menjadi benar? Setelah meneliti sistemnya, saya menemukan ternyata banyak hal yang disembunyikan, dan semua kekurangan yang ada di dalamnya dibungkus dengan begitu rapi. Hal-hal apa saja itu?

Semua orang yang menjalani bisnis ini pasti bisa sukses… Benarkah?

Saya beberapa kali dipresentasikan tentang sistem MLM Tianshi ini, dan mereka semua dengan yakin mengatakan “semua orang yang ikut bisnis ini pasti bisa sukses… Kuncinya, 95% adalah impian… Milikilah impian, kejarlah impian itu, anda pasti akan sukses. Kita semua pasti bisa sukses di sini!”

Anda boleh percaya atau tidak… Justru sistem MLM yang mengharuskan banyak orang untuk gagal. Tidak percaya? OK, kita lanjutkan dulu…

Baca Lanjutannya…

MLM Tianshi in my opinion… (Part 1)

Tulisan berikutnya:

Warning: Tulisan ini dibuat bukan untuk mendukung atau menjelek-jelekkan bisnis multi level marketing. Ini hanyalah pendapat dan hasil pemikiran saya saja atas bisnis ini. Kalau ada yang bertanya, kenapa saya memasukkan nama merk “Tianshi” di judul, itu karena satu-satunya MLM yang saya tahu (baca: pernah diprospek dan dipresentasikan sistemnya).

Suatu hari beberapa tahun yang lalu… Saya menerima SMS dari seorang teman yang mengajak saya untuk ketemuan. Katanya, dia ingin menawarkan kepada saya sebuah bisnis yang bagus. Dia cukup berhasil membuat saya penasaran dengan bisnis tersebut dan akhirnya kami pun bertemu.

Pertemuan diawali dengan pertanyaan: “Apa yang menjadi cita-cita atau impian saya”. Lanjut… Dia mengeluarkan sebuah buku yang dia sebut “alat bantu presentasi”, dan dia mulai mempresentasikan kepada saya mengenai bisnis tersebut, yang kemudian saya tahu bahwa itu adalah bisnis MLM alias “Multi Level Marketing”, secara lebih spesifik, MLM Tianshi.

Baca Lanjutannya…

%d blogger menyukai ini: