Tag Archive | masalah

Raksasa dalam Tanah Perjanjian

Beberapa orang mungkin pernah mendengar kisah ini sebelumnya, kisah tentang dua belas pengintai yang dikirimkan untuk mengintai tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Tuhan kepada bangsa Israel. Kisah ini dicatat dalam kitab Bilangan 13 – 14.

Dalam kisah tersebut, Musa memerintahkan kedua belas pengintai itu untuk melihat keadaan di dalam tanah Kanaan sebelum seluruh bangsa Israel akan masuk ke dalamnya.

Maka Musa menyuruh mereka untuk mengintai tanah Kanaan, katanya kepada mereka: “Pergilah dari sini ke Tanah Negeb dan naiklah ke pegunungan, dan amat-amatilah bagaimana keadaan negeri itu, apakah bangsa yang mendiaminya kuat atau lemah, apakah mereka sedikit atau banyak; dan bagaimana negeri yang didiaminya, apakah baik atau buruk, bagaimana kota-kota yang didiaminya, apakah mereka diam di tempat-tempat yang terbuka atau di tempat-tempat yang berkubu, dan bagaimana tanah itu, apakah gemuk atau kurus, apakah ada di sana pohon-pohonan atau tidak. Tabahkanlah hatimu dan bawalah sedikit dari hasil negeri itu.” (Bilangan 13:17-20)

Setelah 40 hari mereka pergi, mereka kembali dan melaporkan hasil temuan mereka:

Mereka menceritakan kepadanya: “Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya, dan inilah hasilnya. Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana. Orang Amalek diam di Tanah Negeb, orang Het, orang Yebus dan orang Amori diam di pegunungan, orang Kanaan diam sepanjang laut dan sepanjang tepi sungai Yordan.” (Bilangan 13:27-29)

Ada kabar baik dan kabar buruk di dalam laporan pengintai-pengintai itu. Bagaimana kira-kira respon Anda ketika mendengar kabar tersebut? Bangsa Israel sendiri terlihat khawatir, sehingga Kaleb, satu dari dua belas pengintai itu, mencoba menentramkan hati mereka.

Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: “Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!” (Bilangan 13:30)

Namun, tidak semua pengintai setuju dengan Kaleb…

Tetapi orang-orang yang pergi ke sana bersama-sama dengan dia berkata: “Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita.” Juga mereka menyampaikan kepada orang Israel kabar busuk tentang negeri yang diintai mereka, dengan berkata: “Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya. Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami.” (Bilangan 13:31-33)

Lihatlah bagaimana pengintai-pengintai itu mendeskripsikan negeri yang Tuhan janjikan akan dimiliki oleh bangsa Israel tersebut. Tidak heran akhirnya bangsa Israel meresponinya dengan buruk…

Lalu segenap umat itu mengeluarkan suara nyaring dan bangsa itu menangis pada malam itu. Bersungut-sungutlah semua orang Israel kepada Musa dan Harun; dan segenap umat itu berkata kepada mereka: “Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini! Mengapakah TUHAN membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan isteri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?” Dan mereka berkata seorang kepada yang lain: “Baiklah kita mengangkat seorang pemimpin, lalu pulang ke Mesir.” (Bilangan 14:1-4)

Dahulu, bangsa Israel menjadi budak di tanah Mesir, sampai akhirnya Tuhan membebaskan mereka, dan mereka menempuh perjalanan panjang menuju ke tanah yang sangat baik yang dijanjikan Tuhan kepada mereka, yaitu tanah Kanaan. Mereka sudah hampir sampai di tanah perjanjian itu! Namun, melihat raksasa yang ada di dalamnya, mereka lebih memilih menyerah dan kembali menjadi budak di tanah Mesir. Mereka melupakan janji Tuhan, bahwa Tuhan akan senantiasa menyertai mereka, dan menyerahkan tanah Kanaan tersebut ke tangan bangsa Israel.

Namun, di antara pengintai-pengintai itu, ada dua pengintai yang berpendapat lain…

Tetapi Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune, yang termasuk orang-orang yang telah mengintai negeri itu, mengoyakkan pakaiannya, dan berkata kepada segenap umat Israel: “Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya. Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka. (Bilangan 14:6-9)

Namun, tampaknya bangsa Israel tidak setuju dengan kedua pengintai itu, terlihat dari mereka ingin melempari Yosua dan Kaleb dengan batu. Mereka masih tidak percaya kepada Tuhan yang berjanji akan membawa mereka masuk tanah Kanaan.

Lalu segenap umat itu mengancam hendak melontari kedua orang itu dengan batu. Tetapi tampaklah kemuliaan TUHAN di Kemah Pertemuan kepada semua orang Israel. TUHAN berfirman kepada Musa: “Berapa lama lagi bangsa ini menista Aku, dan berapa lama lagi mereka tidak mau percaya kepada-Ku, sekalipun sudah ada segala tanda mujizat yang Kulakukan di tengah-tengah mereka! (Bilangan 14:10-11)

Saya menemukan beberapa hal yang sangat menarik dalam kisah ini.

 

Baca Lanjutannya…

Fokuskan Diri Pada Tuhan yang Jauh Lebih Besar Dari Masalah Kita

"Hendaklah pandangan kita tertuju kepada Yesus, sebab Dialah yang membangkitkan iman kita dan memeliharanya dari permulaan sampai akhir. Yesus tahan menderita di kayu salib! Ia tidak peduli bahwa mati di kayu salib itu adalah suatu hal yang memalukan. Ia hanya ingat akan kegembiraan yang akan dirasakan-Nya kemudian. Sekarang Ia duduk di sebelah kanan takhta Allah dan memerintah bersama dengan Dia." – Ibrani 12:2, BIS

Setiap dari kita pasti mempunyai masalah. Hanya orang yang sudah meninggalkan dunia ini yang sudah tidak mempunyai masalah. Jadi, jika Anda mempunyai masalah saat ini, bersyukurlah. Itu tandanya Anda masih hidup.

Namun, jika semua orang mempunyai masalah, kenapa ada orang yang bahagia, dan ada orang yang tidak bahagia? Apa yang membedakan kedua orang tersebut? Yang membedakannya adalah fokus mereka…

Orang-orang yang tidak bahagia memfokuskan diri mereka pada masalah mereka. Mereka selalu merasa masalah mereka begitu beratnya. Mereka tidak melihat harapan. Mereka berpikir masalah mereka takkan pernah berakhir. Akhirnya, yang mereka lakukan hanyalah mengeluh dan bertanya mengapa mereka mendapatkan masalah tersebut.

Sebaliknya, orang-orang yang bahagia memfokuskan diri mereka pada Tuhan yang jauh lebih besar daripada masalah mereka. Mereka memikirkan kegembiraan yang akan dirasakan oleh mereka ketika mereka berhasil melalui masalah mereka. Mereka percaya masalah mereka akan mengajarkan sesuatu kepada mereka yang dapat membuat mereka menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih tangguh. Mereka percaya ada banyak sisi positif dari masalah mereka, dan masalah mereka tersebut hanyalah sementara. Pertanyaan mereka adalah apa yang harus mereka lakukan untuk menyelesaikan masalah mereka, dan bagaimana masalah mereka dapat membantu mereka untuk menjadi lebih baik.

Baca Lanjutannya…

Ketika Kita Berhenti Mengeluh, Kita Menjadi Lebih Kuat

Kemarin, ketika saya sedang menjelajah internet, saya menemukan sebuah video yang lucu berikut.

Bagaimana komentar Anda ketika melihat kedua orang yang ada di eskalator tersebut? Banyak dari Anda mungkin berpikir kedua orang itu sungguh konyol. Ngapain juga teriak-teriak minta tolong dan sibuk mengeluh karena eskalator mati di tengah jalan? Kenapa mereka ga langsung aja naik sendiri dengan jalan kaki?

Kita mungkin gregetan ketika melihat tingkah kedua orang itu. Tapi, ternyata banyak dari kita yang melakukan hal yang sama dalam hidup kita. Berapa banyak orang yang sibuk mengeluh ketika menghadapi masalah? Berapa sering kita sibuk menyalahkan orang lain karena hal buruk yang menimpa kita?

Baca Lanjutannya…

Kesalahan yang Membawa Berkah

Saya yakin, setiap dari kita pasti pernah berbuat salah, entah disengaja atau tidak disengaja. Tidak sedikit pula yang akhirnya menyesali kesalahannya terus-menerus. Kesalahan itu membawa malapetaka bagi mereka. Namun, jika kita tahu caranya, ternyata kita bisa membalikkan kesalahan yang seharusnya membawa malapetaka bagi kita, menjadi berkah untuk kita. Setidaknya, itu yang saya dapatkan dari kisah yang saya alami berikut.

Kisah ini terjadi hari Minggu lalu, ketika saya dan keluarga makan malam bersama di Pizza Hut Pluit Village. Seperti biasa, sang waiter memberikan daftar menu, dan mencatat pesanan kami. Sebelum dia pergi, dia berkata “Baik Pak… Menunya bisa saya ambil ya Pak? Pizzanya ditunggu 15 menit. Terima kasih.” Kata-kata itu mungkin tidak asing bagi Anda yang sering makan di Pizza Hut. Tampaknya, itu sudah menjadi suatu standar pelayanan Pizza Hut, agar waiter berkata-kata seperti itu, dan menjanjikan pizza yang dipesan akan datang dalam waktu 15 menit.

Kami pun menunggu… 10 menit kemudian, salah satu pesanan kami, yaitu Spaghetti, datang. Spaghetti pun saya lahap sembari menunggu pizza yang belum datang. Waktu terus berlalu, 5 menit, 10 menit, hingga 15 menit kemudian, ketika Spaghetti telah habis saya lahap, ternyata pizza yang kami pesan belum kunjung tiba. Ini berarti sudah terlambat lebih dari 10 menit dari waktu yang dijanjikan sebelumnya.

Saat itu, yang ada di pikiran saya adalah “Wah, kok pelayanan mereka ke customer kaya gini ya?”, “Wah, mereka melanggar janji”, “Wah, mereka sudah melakukan kesalahan…”, “Wah, kalau pelayanan mereka begini, mereka bisa kehilangan customer mereka.” dan lain sebagainya. Intinya, saya menganggap Pizza Hut telah berbuat kesalahan besar dan tidak profesional dengan membiarkan customernya menunggu terlalu lama, lebih dari waktu yang dijanjikan. Kami mulai kesal, dan memanggil sang waiter menanyakan pizza yang kami pesan.

“Mas, mana pizza yang kami pesan? Sudah setengah jam kok belum keluar? Janjinya kan 15 menit…” protes kami.

Baca Lanjutannya…

Inilah Alasan Kenapa Orang Menjauhi Kita

Suatu hari, teman saya bertanya kepada saya, “Kenapa ya banyak orang yang ngejauhin saya? Kenapa ya ga ada orang yang mau peduli sama saya?”

Saya mencoba menjawabnya dengan sebuah pertanyaan lain, “Menurut kamu, kamu lebih banyak jadi solusi atau lebih banyak jadi masalah?”

Dia lalu mulai berpikir… “Saya ga pernah jadi masalah kok… Saya kan cuma mau sharing sama teman-teman saya, dan saya mau mereka memperhatikan saya.”

Saya bertanya balik padanya, “Apakah kamu sendiri pernah memperhatikan masalah teman-temanmu?”

Acuh tak acuh, dia tersenyum sinis… “Heh… Buat apa perhatiin masalah mereka? Toh mereka semua juga ga ada yang memperhatikan saya.”

Apa yang Anda tangkap dari percakapan di atas? Apakah Anda juga pernah menjumpai percakapan serupa? Yang saya tangkap dari percakapan di atas adalah, teman saya tersebut merasa dijauhi dan tidak diperhatikan oleh teman-teman di sekelilingnya. Namun, meskipun dia ingin diperhatikan, dia tidak mau proaktif memperhatikan teman-temannya terlebih dahulu. Intinya, teman saya tersebut menjadi bagian dari masalah, bukan bagian dari solusi, meskipun dia sendiri tidak mengakui atau menyadari dirinya adalah bagian dari masalah.

Baca Lanjutannya…

Cara Pandang Baru Dalam Menghadapi Masalah

Semua orang pasti mempunyai masalah, kecuali dia sudah mati. Berhubung kita semua masih hidup, kita semua pasti mempunyai masalah. Kebanyakan orang akan melihat masalah sebagai suatu hal yang negatif, yang hanya mempersulit hidup ini. Mereka akan berusaha menghindar dari masalah-masalah mereka, atau menunggu saat-saat di mana semua masalah itu pergi dari kehidupan mereka. Sayangnya, semakin mereka menunggu masalah-masalah itu pergi, semakin banyak masalah yang datang. Hidup bahagia bukanlah hidup tanpa masalah. Masalah boleh saja tetap ada, tetapi jika kita dapat menghadapinya dengan baik, kita dapat mengarungi hidup ini dengan lebih sukacita.

Sekarang, bagaimana caranya menghadapi masalah-masalah itu dengan baik? Saya pun masih terus belajar akan hal ini, tapi dari pengalaman saya, jika kita bisa memandang masalah dengan cara pandang yang baru, yang lebih positif, itu akan sangat membantu.

Tidak ada kejadian baik atau kejadian buruk. Yang ada hanyalah kejadian. Baik atau buruk itu tergantung bagaimana kita memandangnya. Begitu pula dengan masalah. Mungkin kita terbiasa memandang masalah sebagai sesuatu yang buruk. Tapi, jika kita bisa mengubah cara pandang kita, dan memandang masalah sebagai sesuatu yang baik, kita tidak akan dibuat stres lagi dengan masalah-masalah kita. Kita akan menghadapi masalah-masalah itu dengan sukacita.

Tapi pertanyaannya, apa hal positif dari sebuah masalah?

Mungkin Anda sudah pernah mendengar beberapa hal positif dari masalah, seperti “masalah membuatmu menjadi orang yang lebih kuat”, atau “masalah membuatmu lebih dekat dengan Tuhan”, atau “di tengah berbagai masalah, ada kesempatan”. Ketiga-tiganya benar, dan sangat baik kalau Anda juga memandang masalah sebagai tiga hal di atas. Namun, izinkan saya untuk menambahkan beberapa hal positif dari sebuah masalah, yang merupakan buah dari pemikiran pribadi saya. Jika Anda adalah tipe orang yang suka menginspirasi orang lain, maka cara-cara pandang berikut sangatlah cocok untuk Anda.

1. Hal kecil bagi orang yang tidak bermasalah menjadi hal besar bagi orang yang bermasalah

Nick Vujicic adalah seorang yang dilahirkan tanpa tangan dan kaki. Suatu hari, dalam ceramahnya, dia mendemonstrasikan bagaimana dia mengangkat telepon dengan badan dan kepalanya. Banyak orang yang terharu dan terinspirasi ketika melihatnya.

Baca Lanjutannya…

Mau Bunuh Diri ?

Siapapun Anda yang membaca tulisan ini, saya percaya ini bukanlah sebuah kebetulan, tapi ini adalah sebuah rencana Tuhan bagi hidup Anda, yang mungkin saja dapat mengubah hidup Anda.

Saya akan memulai tulisan ini dengan sebuah cerita tentang film yang berjudul “Diving Bell and The Butterfly”. Film ini diangkat dari sebuah kisah nyata. Judul film ini diambil dari judul sebuah buku karangan Jean-Dominique Bauby. Pria yang lahir tahun 1952 ini adalah seorang editor terkenal dari majalah fashion Perancis ELLE. Hidup Bauby yang penuh dengan kesenangan dan kejayaan berubah secara drastis ketika pada akhir Desember 1995 dia terserang stroke dan tidak sadarkan diri selama 20 hari. Ketika dia sadar 20 hari kemudian, dia tidak dapat menggerakkan seluruh tubuhnya, kecuali satu bagian — yaitu mengedipkan mata kirinya. Bauby menderita suatu penyakit yang dikenal dengan locked-in syndrome.

Baca Lanjutannya…

%d blogger menyukai ini: