Tag Archive | bersyukur

Bersyukur Karena Dimaki Pengendara Motor

Dua hari terakhir ini, ketika sedang berkendara, saya dimaki oleh dua pengendara motor yang berbeda.

Yang pertama terjadi kemarin, ketika saya melewati sebuah jalan dua arah yang padat dari arah sebaliknya, membuat saya lebih berhati-hati dan mengendarai mobil saya dengan perlahan. Tampaknya sang pengendara motor di belakang saya tidak sabar dan membunyikan klakson berulang kali, dan ketika ada kesempatan menyalip mobil saya, kata makian yang saya pun tidak dengar dengan jelas itu terlontar dari mulutnya sebelum dia memacu motornya dengan kecepatan tinggi dan menghilang dari pandangan saya.

Kejadian yang kedua terjadi malam ini, ketika saya sedang mengendarai mobil di sebuah jalan satu lajur, dan ada gerobak yang membuat saya menurunkan kecepatan saya secara cukup tiba-tiba. Tampaknya motor di belakang saya kaget karena perubahan kecepatan itu dan kembali membunyikan klakson. Ketika saya sudah sampai di jalan yang lebih lebar, motor tersebut melewati mobil saya dan saya pun dapat “hadiah” kata-kata keras yang saya pun tidak dengar dengan jelas.

Perasaan saya menjadi tidak enak ketika untuk kedua kalinya dalam dua hari saya dimaki oleh dua pengendara motor yang berbeda. Namun, tiba-tiba sebuah pencerahan terlintas di pikiran saya, “Wah, masih bagus si pengendara motor masih cukup sehat untuk memaki saya. Bayangkan kalau si pengendara motor itu menabrak mobil saya dan terluka. Dia terluka, mobil saya penyok, dan saya kena masalah yang lebih besar.”

Tiba-tiba, makian itu menjadi suatu hal yang dapat disyukuri. Bersyukur karena si pengendara motor masih cukup sehat untuk memaki saya. Hanya satu hal yang saya khawatirkan, apabila kedua pengendara motor itu menyimpan rasa kesalnya dan itu membuat mereka tidak berkonsentrasi dalam berkendara. Ah, semoga kiranya mereka semua dapat tiba dengan selamat sampai tujuan.

Dunia ini memang lucu. Kadang orang yang memaki yang perlu lebih dikasihani daripada orang yang dimaki.

What Money Can Buy

What Money Can Buy

It can buy a Bed, but not Sleep
It can buy a Clock, but not Time
It can buy a Book, but not Knowledge
It can buy a Position, but not Respect
It can buy Medicine, but not Health
It can buy Blood, but not Life
It can buy a House, but not a Home
It can buy a Faith, but not a Savior
It can buy Make-up, but not Beauty

What money can’t buy, God can give it free of charge

Tulisan di atas adalah isi dari selembar kertas yang ditempel di dinding ruangan praktek seorang dokter yang saya kunjungi minggu lalu. Dokter ini terkenal dengan kebaikan dan keramahannya dalam membantu orang lain yang membutuhkan. Baginya, uang bukanlah segala-galanya, karena dia sudah mendapatkan Tuhan, yang jauh lebih berharga dari uang.

Melalui selembar kertas tersebut, Tuhan mengingatkan saya bahwa uang memang dapat membeli obat-obatan, tetapi tidak kesehatan. Karena kesehatan adalah sesuatu yang Tuhan berikan.

Baca Lanjutannya…

Merasa Cukup & Keinginan Bertumbuh: Bagaimana Keduanya Disatukan? (2)

Bagaimana caranya seseorang dapat “merasa cukup” dan pada saat yang sama juga memiliki “keinginan bertumbuh”?

Bagaimana caranya seseorang dapat mengucap syukur atas segala hal yang dimilikinya, dia merasa cukup akan semua hal yang dia miliki… Namun, pada detik berikutnya, keinginan untuk bertumbuh begitu berapi-api dalam dirinya. Bagaimana mungkin?

Hanya “KASIH” yang dapat menjadi penghubungnya.

Apabila “KASIH” yang menjadi motivasi kita untuk bertumbuh, bertumbuhlah sebesar-besarnya. Pada waktu yang sama, teruslah bersyukur dan merasa cukup akan semua hal yang kita miliki.

Masih ingat cerita nelayan dan pedagang yang saya bagikan minggu lalu?

Apakah hal yang dilakukan sang nelayan yang merasa cukup itu baik? Ya, itu memang baik. Namun, bukankah lebih baik jika dia bisa bertumbuh, memberi makan lebih banyak orang dibanding hanya untuk keluarganya, dan memberi lapangan pekerjaan bagi nelayan-nelayan yang lain?

Bagaimana dengan sang pedagang? Baikkah keinginannya untuk bertumbuh? Ya, bertumbuh memang baik. Namun, tujuan sang pedagang yang hanya untuk “memperkaya dirinya sendiri” sangatlah dangkal. Saya percaya, Tuhan menciptakan kita untuk tujuan yang lebih besar daripada hanya untuk diri kita sendiri. Tuhan ingin kita mengasihiNya dan mengasihi sesama kita. Itulah sebabnya Yesus berkata hukum yang terutama adalah Hukum Kasih:

“Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Matius 22:36-39

Itulah kelemahan sang nelayan dan sang pedagang dalam cerita tersebut. Mereka hanya memikirkan diri dan keluarga mereka sendiri. Mereka menutup kemungkinan untuk mengasihi lebih banyak orang.

Baca Lanjutannya…

Rumput Tetangga Mungkin Lebih Hijau, Tapi Buah Kebun Kita Lebih Manis

Suatu siang di daerah Tanjung Duren, saya sedang mengendarai mobil. Jalan cukup macet saat itu, meski masih bergerak. Mobil saya ada di jalur tengah. Saya melihat ke jalur di sebelah kiri saya. Entah hanya perasaan atau bukan, saya merasa jalur di sebelah kiri saya lebih lancar. Mobil-mobil yang ada di sebelah saya melaju lebih cepat. Saya jadi ingat sebuah pepatah, “Rumput tetangga terlihat lebih hijau dari rumput di kebun kita sendiri”. Saya pun berinisiatif untuk berpindah jalur ke jalur di sebelah kiri saya.

Ternyata berpindah jalur tidak semudah yang saya bayangkan. Mobil-mobil yang ada di jalur kiri tentu tidak membiarkan begitu saja jalannya diambil oleh mobil saya. Di sini berlaku, siapa yang lebih cepat dan lebih tinggi skill-nya, dia yang akan mendapatkan jalan. Alhasil, setelah beberapa detik berusaha, saya masih belum berhasil berpindah jalur. Lalu, saya kaget ketika mendengar bunyi klakson mobil di belakang saya. Saya melihat ke depan, dan ternyata mobil di depan saya sudah berada jauh di depan saya, dan tercipta ruang kosong yang cukup banyak di jalur saya. Saya begitu terobsesi pada jalur sebelah saya sampai saya tidak memperhatikan jalur saya sendiri. Akhirnya saya mengurungkan niat saya untuk berpindah jalur dan meneruskan perjalanan pada jalur saya.

Baca Lanjutannya…

Arti Kebahagiaan

Semua orang yang berbahagia selalu bersyukur. Orang yang tidak bersyukur tidak dapat berbahagia. Kita cenderung berpikir bahwa karena tidak berbahagia maka orang mengeluh, tetapi yang lebih benar adalah karena orang mengeluh maka mereka tidak berbahagia.
Dennis Prager

Sukses bukanlah kunci menuju ke kebahagiaan. Kebahagiaan adalah kunci menuju sukses. Bila Anda menyukai yang Anda kerjakan, Anda akan sukses.
Albert Schweitzer

Bila suatu pintu kebahagiaan tertutup, pintu lainnya terbuka, tetapi seringkali kita terlalu lama berada di depan pintu tertutup itu hingga tidak melihat pintu lain yang terbuka.
Helen Keller

%d blogger menyukai ini: