Tag Archive | cinta

Tempat Cinta Diwujudkan

Kalau urusan cinta kasih, saya langsung teringat pada dua bersaudara itu, Daniel dan Tony. Daniel tetap membujang, sedangkan Tony berkeluarga dan punya lima anak. Di antara keduanya ada kesepakatan: hasil panen dibagi dua secara adil.

Malam menjelang tidur, Tony berpikir: “Ah, kasihan adikku, sendirian, tanpa keluarga. Bagaimana kalau ia sakit?” Maka tengah malam ia bangun dan membawa sekarung beras ke lumbung adiknya. Daniel juga berpikir: “Kasihan abangku, punya anak-istri, pasti butuh lebih banyak daripada aku yang sendirian.” Maka ia pun bangun ketika yang lain tidur lelap, membawa sekarung beras ke lumbung kakaknya.

Baca Lanjutannya…

Iklan

Bagaimana Cara Mengubah Orang Lain

Sepanjang hidup kita, pasti ada orang-orang di sekitar kita yang kita harapkan untuk berubah. Namun, tidak jarang orang tersebut tidak kunjung berubah dan malah kita yang menjadi frustrasi. Pernah mengalaminya?

Saya tertarik dengan sebuah kisah yang ditulis di dalam sebuah buku yang saya baca. Kisah ini menceritakan bagaimana seorang pangeran yang gila dapat diubahkan dan disembuhkan dari kegilaannya. Berikut adalah kisahnya.

Seorang pangeran pernah menjadi gila dan berpikir dia adalah seekor kalkun. Dia terdorong untuk duduk telanjang di bawah meja, mematuki tulang-belulang dan remahan roti seperti seekor kalkun. Para tabib istana sudah angkat tangan untuk dapat menyembuhkan dia dari penyakit gila ini, dan sang raja menjadi sangat sedih.

Seorang bijak datang dan berkata, “Aku akan berusaha menyembuhkannya.”

Lalu, orang bijak itu melepas pakaiannya dan duduk telanjang di bawah meja di dekat sang pangeran, mematuki remah-remah dan tulang-belulang.

“Siapa kamu?” tanya pangeran. “Apa yang kamu lakukan di sini?”

“Aku adalah seekor kalkun,” kata pangeran.

“Aku juga seekor kalkun,” kata orang bijak.

Mereka duduk bersama seperti itu selama beberapa saat, dan akhirnya mereka menjadi teman baik. Suatu hari, orang bijak itu memberi isyarat kepada pelayan raja untuk melemparkan bajunya. Dia berkata kepada pangeran, “Apa yang membuatmu berpikir kalkun tidak bisa memakai baju? Kamu bisa memakai baju dan tetap menjadi seekor kalkun.” Dengan begitu, keduanya memakai baju mereka.

Setelah beberapa saat, orang bijak itu memberi isyarat lagi kepada pelayan, dan mereka melemparkan celana panjang. Lalu, dia berkata kepada pangeran, “Apa yang membuatmu berpikir kamu tidak bisa menjadi seekor kalkun jika kamu memakai celana panjang?”

Orang bijak melanjutkan cara ini sampai keduanya berpakaian lengkap.

Segera dia memberi isyarat lagi, lalu dia dan pangeran diberi makanan seperti biasa di atas meja. Lalu, orang bijak berkata, “Apa yang membuatmu berpikir kamu akan berhenti menjadi kalkun jika kamu makan makanan enak? Kamu bisa makan apa pun yang kauinginkan dan tetap menjadi seekor kalkun!” Mereka berdua lalu memakan hidangan yang disajikan.

Akhirnya, orang bijak berkata, “Apa yang membuatmu berpikir seekor kalkun harus duduk di bawah meja? Kalkun sekalipun bisa duduk di depan meja, dan seekor kalkun dapat juga berjalan ke mana saja dan tidak akan ada yang merasa keberatan.”

Pangeran merenungkan perkataan itu dan menerima pendapat orang bijak itu. Ketika dia beranjak berdiri dan berjalan seperti seorang manusia, dia juga mulai bertingkah laku layaknya manusia.

Sumber: Diceritakan kembali oleh David J. Liebarman, Ph.D. dalam bukunya “Agar Siapa Saja Mau Berubah untuk Anda”

Ada beberapa pelajaran yang saya ambil dari kisah tersebut. Saya belajar bahwa untuk membantu orang lain agar dapat berubah, kita dapat mengaplikasikan hal-hal berikut.

  1. Baca Lanjutannya…

Mungkinkah Mencintai Secara Apa Adanya?

Suatu siang, ayah saya bercerita kepada saya tentang sebuah kisah cinta yang menarik yang didapatnya ketika mendengarkan radio. Kisah yang akhirnya membuat saya berpikir lebih dalam tentang arti cinta, dan yang akan saya bagikan dalam tulisan saya ini. Berikut adalah kisahnya.

Ada sebuah cerita yang ringan, menarik sekaligus indah. Konon ada seorang cowok yang jatuh cinta pada seorang cewek. Ini biasa. Cowok ganteng jatuh cinta pada cewek cantik.

Cowok ini adalah seorang pendiam. Tidak banyak cakap. Dan dia takut untuk mengungkapkannya. Akhirnya dia memberanikan diri, “Saya cinta kamu. Maukah kamu menjadi kekasihku?” Untunglah cinta si cowok ini tidak bertepuk sebelah tangan. “Saya juga cinta kamu,” jawabnya. Maka keduanya mulai menjadi kekasih.

Suatu waktu si cewek berpikir, “Kenapa ya cowokku mencintai saya ?” Dan dia mulai menanyakannya.

“Saya kenal seorang teman cowok. Dia mencintai ceweknya karena dia bisa menyanyi dengan indah. Suaranya merdu dan enak didengar.” Dan dia menambahkan contoh teman lainnya yang jatuh cinta pada ceweknya, karena dia pandai menari. Tangan dan kakinya begitu gemulai ketika dia mulai menari.

“Lalu kenapa kamu mencintaiku ?”, tanya si cewek. Si cowok hanya diam saja. Memang dia tidak pandai bicara. Dia hanya bisa mematung sambil memandang mata si cewek. Ditanya berulang-ulang, si cowok tetap membisu.

Si cewek mulai naik pitam. Dia mulai berpikir yang negatif. Jangan-jangan si cowok cuma bohong. Mungkin saja dia tidak jatuh cinta padaku, tebaknya. Maka dia ingin memutuskan hubungan dengan si cowok ini. Tentu saja si cowok keberatan.

Di tengah persoalan ini, dalam perjalanan ke luar kota, tiba-tiba si cewek kehilangan kendali pada mobilnya. Mobilnya selip, dan terjun ke jurang. Sialnya dia tidak pakai seat belt.

Suatu keajaiban meski lukanya cukup parah, dia akhirnya sembuh. Meski harus meninggalkan 2 cacat. Yang satu kakinya pincang. Jalannya jadi tertaih-tatih. Dan yang kedua, dia menjadi bisu. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Yang menarik, si cowok tetap sabar dan baik hati menunggui ceweknya.

Dan dia akhirnya berbicara, “Kekasihku, untung aku tidak bilang ke kamu, kalau aku mencintaimu karena suaramu yang indah itu. Dan untung aku juga tidak bilang ke kamu, bahwa aku mencintaimu karena tarianmu yang indah.”

“Coba kalau aku menjawab aku mencintaimu karena suara dan tarianmu, padahal sekarang kakimu sudah luka, dan kamu tidak bisa bersuara lagi. Maka aku tidak punya alasan untuk mencintaimu. Alasan apa lagi yang harus aku utarakan, nanti kamu menyangka aku bohong.”

“Sebenarnya aku mencintaimu tanpa alasan apapun. Karena aku memang sadar dan benar-benar mencintaimu seperti apa adanya. Walaupun sekarang kakimu menjadi pincang dan kamu menjadi bisu.”

Air mata mengalir membasahi pipi si cewek. Dia sungguh tersentuh. Dan mereka kembali menjadi sepasang kekasih.

Kadang kita tidak dapat lagi mencintai seseorang, atau mencintai sesuatu karena alasan a atau b. Bukan berarti kita tidak punya alasan. Tetapi kita memang mencintainya secara apa adanya.

Sumber: Tanadi Santoso

Ketika saya mendengar cerita di atas, saya berpikir, “Seberapa banyak orang yang bisa mencintai pasangannya secara apa adanya?” Saya sampai pada satu kesimpulan, tidak ada orang yang bisa mencintai pasangannya benar-benar secara apa adanya. Tapi, bukankah kisah di atas menggambarkan sang cowok yang mencintai ceweknya secara apa adanya? Well, menurut saya, cowok itu hanya mempunyai toleransi yang lebih besar atas cewek yang dicintainya jika dibandingkan dengan kebanyakan cowok lainnya.

Baca Lanjutannya…

Jika ingin, Dia bisa turun dari salib!

Izinkanlah saya untuk memperkenalkan Seseorang yang sangat luar biasa, yang pernah ada di dunia ini 2000 tahun silam, dan Dia masih hidup sampai sekarang.

Dia adalah seorang guru bagi banyak orang, tetapi Dia dikhianati salah satu murid-Nya sendiri.

Ketika murid-Nya dan para pasukan datang untuk menangkap Dia, murid-Nya yang lain membelanya dengan mengeluarkan pedangnya dan menebas telinga salah seorang prajurit. Apa yang dilakukan oleh-Nya? Dia meminta murid-Nya tersebut untuk menyarungkan kembali pedangnya dan Dia menyembuhkan telinga sang prajurit. Padahal, jika ingin, daripada menyembuhkan telinga prajurit tersebut, Dia bisa saja memutuskan telinganya yang satu lagi.

Dia diludahi, harga diri-Nya diinjak-injak, tetapi Dia tidak membalasnya. Jangankan membalas, bahkan Dia tidak mengumpat. Padahal, jika ingin, Dia bisa saja memutuskan lidah orang yang meludahi-Nya.

Dia diadili secara tidak adil. Sang hakim tidak menemukan kesalahan apapun daripada-Nya, tetapi malah menghukum mati Dia dan membebaskan seorang penjahat yang seharusnya layak dihukum. Tapi, Dia tidak melawannya. Padahal, Dia bisa saja membuat sang hakim menjadi berpihak pada-Nya.

Dia yang tidak bersalah, dicambuk ratusan kali dengan cambuk berujung tajam yang dapat mengangkat daging orang yang dicambuknya. Daging-Nya tercabik-cabik, tetapi Dia tidak melawan. Padahal, Dia bisa saja memutuskan tangan algojo-algojo yang mencambuknya.

Dia dipakaikan mahkota duri. Bayangkan duri-duri menancap di kepalanya, dan Dia tidak berusaha melepaskannya. Padahal, Dia bisa saja membuat mahkota duri itu berubah menjadi topi biasa dalam sekejap.

Dia dengan luka-luka cambukan di tubuh-Nya, dipaksa untuk memikul balok kayu kasar yang sangat berat ke atas sebuah bukit, dan Dia bahkan tidak mengeluh. Padahal, Dia bisa saja “memindahkan” luka-luka-Nya ke prajurit yang memaksa-Nya memikul balok kayu tersebut.

Kedua tangan-Nya dan kaki-Nya dipaku, lalu tubuhnya digantung di atas kayu salib, dan Dia tidak dendam dengan orang yang menyalibkan-Nya. Malahan, Dia mengampuni-Nya saat itu juga. Padahal, Dia bisa saja melenyapkan nyawa orang-orang yang menyalibkan-Nya saat itu juga. Selain itu, Dia juga bisa turun dari salib, tetapi Dia tidak melakukan-Nya.

Baca Lanjutannya…

Kenapa Orang Bisa Membenci Orang yang Dicintainya?

Kadang saya bingung, kenapa ya seseorang bisa berubah drastis, dari mencintai seseorang tiba-tiba membenci orang yang dicintainya tersebut. Kenapa ya ada orang yang sangat mencintai pasangannya, dan tiba-tiba bisa begitu membencinya ketika pasangannya memutuskan hubungan mereka, atau pasangannya berbuat kesalahan yang sebenarnya adalah kesalahan yang sepele? Apakah batas cinta dan benci memang sedemikian tipisnya? Padahal cinta dan benci adalah sesuatu yang sangat bertolak belakang.

Kemarin saya menonton Arsenal, tim sepak bola kesayangan saya bermain. Pertandingannya disiarkan secara langsung, Arsenal vs Manchester City. Hasilnya? Arsenal kalah 0-3 dari Manchester City. Namun, bukan kekalahan itu yang akan saya bahas, tapi respon saya atas kekalahan “tim kesayangan saya” tersebut. Di akhir pertandingan, saya lebih cenderung menyalahkan dan menjatuhkan tim kesayangan saya tersebut, daripada memberikan support untuk membantunya bangkit. Apakah itu adalah respon kekecewaan saya? Mungkin, tapi saya tahu respon ini bukanlah untuk membangun Arsenal agar lebih baik lagi. Lalu, kenapa saya bisa begitu mudah “menjatuhkan”, meskipun hanya sesaat, tim kesayangan saya tersebut.

Saya lalu berpikir, kenapa saya mengharapkan Arsenal menang? Apakah itu untuk kebahagiaan “tim Arsenal” itu? Atau untuk kebahagiaan saya? Yah, secara jujur, saya mengharapkan Arsenal menang untuk kebahagiaan saya, yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Jadi, kalau Arsenal kalah, maka Arsenal telah merenggut “kebahagiaan saya” tersebut. Maka, sebagai respon, saya menghibur diri saya dengan “menjatuhkan” Arsenal yang tidak memberikan saya kebahagiaan.

Dari peristiwa itu, saya mulai berpikir hal yang saya angkat di awal tulisan. Kenapa orang bisa membenci orang yang dicintainya? Jawaban saya adalah, karena orang tersebut tidak mencintai dengan tulus (dan memang sangat sulit untuk mencintai dengan tulus). Dia mencintai seseorang karena orang tersebut memberikan kebahagiaan kepadanya. Maka, ketika orang tersebut tidak lagi memberikan kebahagiaan, dia berhenti mencintai orang tersebut. Pada kasus ekstrem, dia malah berbalik membencinya. 

Baca Lanjutannya…

Benarkah kamu sayang padanya?

Apakah kamu memiliki seseorang yang sangat kamu kasihi? Mungkin dia orang yang spesial untukmu, atau keluargamu, atau temanmu, atau siapapun dia… Punya? Yah, saya yakin kamu pasti mempunyai orang yang kamu kasihi. Izinkan saya bertanya satu pertanyaan, benarkah kamu mengasihinya?

Apakah jika dia mengecewakanmu, kamu akan tetap mengasihinya?

Apakah ketika kamu memberinya hadiah dan dia menolaknya, bahkan menyakitimu, kamu akan marah padanya? Ataukah kamu akan berusaha dengan lebih keras untuk menyenangkannya?

Apakah ketika dia berbuat suatu hal yang memalukan, kamu akan meninggalkannya?

Jika dia tidak lagi mengasihimu, akankah kamu tetap mengasihinya?

Jika dia berbuat kesalahan yang sangat besar kepadamu, dapatkah kamu mengampuninya dan tetap mengasihinya seperti sedia kala?

Jadi, apakah kamu benar-benar mengasihinya? Apakah kamu benar-benar sayang padanya? Ataukah itu semua hanya untuk kesenanganmu?

Saya mempunyai sebuah cerita. Sebuah cerita yang menggambarkan kasih yang sesungguhnya. Rasa sayang yang sesungguhnya. Cerita yang mengharukan bagi sebagian orang, namun sayangnya, sangat sedikit orang yang dapat meneladaninya. Inilah ceritanya…

Baca Lanjutannya…

Cinta Sejati

Cinta sejati? Pernahkah terbayang, cinta sejati itu seperti apa sih? Cobalah bayangkan Anda menerima cinta sejati itu… Apakah yang akan Anda lakukan? Tentunya Anda akan berusaha untuk membalas cinta itu bukan? Yah, yang saat ini akan saya bahas adalah mengenai cinta… Bukan cinta biasa, tapi cinta yang sangat luar biasa, kasih terbesar telah saya terima, yang telah didemonstrasikan 2000 tahun silam…

Hari ini adalah hari Jumat Agung, hari di mana umat Kristen memperingati kematian Yesus Kristus 2000 tahun silam. Sebuah kematian yang didapatkan dengan cara yang sangat hina dan tidak pantas, penyaliban! Hukuman salib adalah hukuman yang sangat menyakitkan. Kebanyakan hukuman mati membuat terhukum secepat mungkin mati (seperti hukuman tembak, kursi listrik, dll.). Tapi, hukuman salib ini tidaklah demikian. Terhukum akan merasakan penderitaan kesakitan yang sangat menyakitkan sebelum dia akhirnya mati. Bayangkan, dua paku pada tangan kiri dan kanan, serta sebuah paku pada kaki harus menyangga berat tubuh terhukum. Tak terbayangkan…

Yang lebih menyakitkan lagi, Yesus tidak hanya disalibkan. Dia juga dicemooh dan disesah sebelum penyaliban itu. Dan, dia harus memikul salib hingga ke bukit Golgota tempat Dia disalibkan. Penelitian “manusia kain kafan” menyebutkan terdapat 726 bekas luka cambuk pada tubuh Yesus. Luka yang disebabkan oleh cambuk berduri, yang sekali cambukannya dapat mengangkat daging orang yang dicambuk. Saya membayangkan, kalau hanya tertusuk jarum saja sudah sakit, apalagi dicambuk 726 kali dan dipaku? Tak terbayangkan…

Lalu, apa yang membuat Yesus harus disalibkan? Apakah karena dosa-dosa-Nya? Ternyata tidak demikian. Inilah cinta sejati yang diberikan Yesus pada kita. Marilah kita lihat, mengapa Yesus harus mengalami penderitaan ini. Penderitaan ini telah dinubuatkan jauh sebelum Dia disalibkan oleh Nabi Yesaya.

Yesaya 53

1Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan? 2Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupa pun tidak, sehingga kita menginginkannya.


Baca Lanjutannya…

%d blogger menyukai ini: