Tag Archive | hidup

Pertanyaan-Pertanyaan Refleksi Diri

Ada banyak pertanyaan yang ada di dunia ini. Beberapa di antaranya merupakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak biasa kita jumpai, yang membawa kita pada sebuah refleksi diri yang mungkin dapat mengubah sudut pandang kita dalam kehidupan.

Berikut adalah contoh pertanyaan-pertanyaan refleksi yang saya pikirkan. Anda bisa mencoba menjawab setiap pertanyaan tersebut dalam hati Anda, dan saya pun akan sangat senang jika Anda mau membagikan beberapa jawaban Anda dalam kolom komentar di setiap halaman pertanyaan tersebut.

Inilah pertanyaan-pertanyaan refleksi itu… (klik setiap pertanyaan untuk masuk ke setiap halaman pertanyaan) Baca Lanjutannya…

Iklan

Paspor

Pagi hari di hari Senin, tanggal 31 Oktober 2011, saya sedang ada di mobil dalam perjalanan menuju ke bandara. Saya akan pergi ke Singapura selama tiga minggu ke depan. Saya tidak tenang saat itu. Ada sebuah pertanyaan yang terus menerus terlintas di pikiran saya:

“Apakah ada barang yang ketinggalan?”

Meskipun saya sudah semalaman menyiapkan barang-barang yang saya bawa, saya tetap khawatir kalau-kalau ada barang yang saya lupakan. Saya tahu, jika ada barang yang saya lupakan, saya tidak mungkin pulang ke rumah lagi, atau saya akan ketinggalan pesawat.

Saat itu, saya hanya mengecek apakah saya membawa paspor saya. Dan… ada! Saya membawa paspor saya. Saya memutuskan untuk menenangkan diri, karena apapun yang saya lupakan, saya rasa saya masih tetap dapat hidup selama tiga minggu ke depan tanpanya (Ya, saya dapat hidup tanpa bantal kesayangan saya… Ngomong-ngomong, itu hanya bercanda, saya tidak punya bantal kesayangan, meskipun saya sayang bantal :P).

Mengingat akan hal itu membawa saya pada sebuah refleksi hidup. Kalau saya mempersiapkan diri saya begitu rupa sampai-sampai saya memastikan bahwa tidak ada barang yang saya lupa bawa untuk sebuah perjalanan yang hanya tiga minggu lamanya, bagaimana saya mempersiapkan diri saya untuk kekekalan, masa setelah saya meninggal nanti?

Baca Lanjutannya…

Paksalah Diri Anda untuk Mendapatkan Hal-Hal yang Berharga

Waktu menunjukkan Pukul 00:30 dini hari. Rasa kantuk sudah menyelimuti saya, ketika saya tiba-tiba teringat akan blog saya. Ya, hari ini hari Rabu. Waktunya saya untuk update blog ini.

Setahun yang lalu, saya bertekad akan update blog ini seminggu sekali, setiap hari Rabu jam 6 pagi. Selama hampir setahun lamanya tekad itu berjalan dengan lancar, hingga tiba saat-saat di mana saya benar-benar sibuk dan akhirnya tidak melanjutkan tekad yang telah saya buat.

Ya, awalnya saya berpikir, saya tidak bisa melanjutkan tekad saya tersebut karena kesibukan saya yang bertambah. Kesibukan yang membuat waktu luang saya untuk menulis semakin berkurang. Kesibukan yang membuat saya menjadi terlalu lelah untuk berpikir dan mencari ide-ide tulisan untuk blog ini.

Dahulu, saya berpikir, seandainya saya diberikan waktu luang sehari penuh, saya pasti bisa menulis banyak artikel untuk blog ini. Saya selalu berpikir, yang saya butuhkan hanyalah waktu untuk menulis. Ya, hanya waktu saja… Begitulah yang saya pikir saat itu.

Hingga suatu hari, di sebuah hari Sabtu yang cerah, Tuhan mengabulkan doa saya. Saya mendapatkan satu hari yang kosong, waktu luang sehari penuh yang saya rindukan sejak lama.

Bisakah Anda tebak berapa tulisan yang saya hasilkan hari itu?

Baca Lanjutannya…

Pertanyaan-Pertanyaan Besar Tentang Kehidupan

Setiap dari kita pasti memiliki pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan. Beberapa di antaranya mungkin telah kita temukan dan yakini jawabannya. Beberapa pertanyaan lainnya, kita merasa kita telah temukan jawabannya, tetapi kita masih belum yakin apakah jawaban ini yang paling tepat. Namun, ada pula pertanyaan-pertanyaan yang kita masih terus cari jawabannya sampai saat ini. Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin sesekali atau sering kali mengusik pikiran kita.

Membahas tentang pertanyaan-pertanyaan dalam kehidupan selalu menjadi sebuah hal yang menarik. Mengapa? Karena kita hanya menjalani hidup ini sekali saja, dan terlalu banyak misteri kehidupan yang ada di dunia ini.

Saat ini, berbeda dari tulisan saya biasanya yang hanya bersifat satu arah, saya ingin kita bisa bersama-sama berdiskusi mengenai hal-hal ini. Bagaimana caranya?

Baca Lanjutannya…

Hidup Bagaikan Roller Coaster

Minggu lalu saya naik roller coaster, setelah lebih dari setahun saya tidak pernah bermain permainan yang memacu adrenalin seperti itu. Tidak heran, saat menunggu antrian yang sangat panjang itu, saya merasa deg-deg-an, sekaligus juga tidak sabar. Satu jam saya harus mengantri sampai akhirnya saya mendapat giliran naik ke atas roller coaster itu. Sabuk pengaman dikenakan, dan roller coaster pun mulai bergerak, dari awalnya lambat, menjadi semakin cepat, dan akhirnya sangat cepat…

Saya benar-benar menikmati satu menit itu, ketika saya berada di atas roller coaster. Saya harus akui, desain roller coaster itu sungguh hebat. Dalam satu menit itu, ada sekitar sepuluh kali saya merasa hampir menabrak tiang atau lantai. Dan di saat saya benar-benar sudah sangat dekat dengan tiang itu, roller coaster itu berbelok, tepat pada waktunya. Saya sungguh beruntung mendapat view yang paling baik dari kursi paling depan. Saya tidak menyia-nyiakannya, saya hampir tidak berkedip sepanjang satu menit itu. Saya sungguh menikmati bagaimana adrenalin saya dipacu oleh roller coaster itu. Sungguh momen yang sangat menyenangkan. Tepat ketika itulah, di atas roller coaster yang sedang melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi, Tuhan membisikkan sesuatu di telinga saya…

“Demikian juga dengan hidup, Charles…”

Saya terkejut mendengar bisikan itu di dalam hati saya, dan saya bertanya, “Apa maksudmu Tuhan?”

“Kau lihat, berkali-kali kau merasakan kalau kau akan menabrak tiang-tiang itu… Tapi, pada kenyataannya, kau selalu selamat tepat pada waktunya. Roller coaster yang kau naiki tidak pernah terlambat berbelok, bahkan ketika kau tidak percaya dia masih sempat untuk berbelok…”

“Ah… Benar Tuhan, begitu juga dengan hidup ini… Seberat apa pun masalah yang saya hadapi, meskipun saya merasa saya akan hancur oleh masalah-masalah saya… Pada kenyataannya, Kau selalu memberikan jalan keluar tepat pada waktunya, dan mengubah segalanya menjadi kebaikan, pada waktu yang telah Kau tetapkan.”

“Ya, Charles… Kau sudah mengerti rupanya… Sekarang, aku mau bertanya kepadamu satu pertanyaan yang sangat penting dan dalam… Ini adalah kunci kebahagiaan dalam hidup…”

Baca Lanjutannya…

Merasa Cukup & Keinginan Bertumbuh: Bagaimana Keduanya Disatukan? (2)

Bagaimana caranya seseorang dapat “merasa cukup” dan pada saat yang sama juga memiliki “keinginan bertumbuh”?

Bagaimana caranya seseorang dapat mengucap syukur atas segala hal yang dimilikinya, dia merasa cukup akan semua hal yang dia miliki… Namun, pada detik berikutnya, keinginan untuk bertumbuh begitu berapi-api dalam dirinya. Bagaimana mungkin?

Hanya “KASIH” yang dapat menjadi penghubungnya.

Apabila “KASIH” yang menjadi motivasi kita untuk bertumbuh, bertumbuhlah sebesar-besarnya. Pada waktu yang sama, teruslah bersyukur dan merasa cukup akan semua hal yang kita miliki.

Masih ingat cerita nelayan dan pedagang yang saya bagikan minggu lalu?

Apakah hal yang dilakukan sang nelayan yang merasa cukup itu baik? Ya, itu memang baik. Namun, bukankah lebih baik jika dia bisa bertumbuh, memberi makan lebih banyak orang dibanding hanya untuk keluarganya, dan memberi lapangan pekerjaan bagi nelayan-nelayan yang lain?

Bagaimana dengan sang pedagang? Baikkah keinginannya untuk bertumbuh? Ya, bertumbuh memang baik. Namun, tujuan sang pedagang yang hanya untuk “memperkaya dirinya sendiri” sangatlah dangkal. Saya percaya, Tuhan menciptakan kita untuk tujuan yang lebih besar daripada hanya untuk diri kita sendiri. Tuhan ingin kita mengasihiNya dan mengasihi sesama kita. Itulah sebabnya Yesus berkata hukum yang terutama adalah Hukum Kasih:

“Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Matius 22:36-39

Itulah kelemahan sang nelayan dan sang pedagang dalam cerita tersebut. Mereka hanya memikirkan diri dan keluarga mereka sendiri. Mereka menutup kemungkinan untuk mengasihi lebih banyak orang.

Baca Lanjutannya…

Seorang Anak Bimbingan Yang Menjadi Berkat Untuk Saya

Sebuah Berita Mengejutkan Di Pagi Hari

“Ko, kayanya nanti saya ga kaer (kebaktian remaja) dan pembinaan deh… Rumah saya kebakaran!”

SMS itu masuk ke dalam inbox handphone saya pada hari Minggu kemarin, 25 Juli 2010 Pk 03:21 dini hari. Pengirimnya? Kurniawan, seorang anak bimbingan saya di gereja.

Saya baru membaca SMS itu ketika saya bangun jam setengah 6 pagi. Hampir saja saya menjatuhkan handphone saya saat membacanya. Saya langsung mencoba menghubungi dia.

Sia-sia. Handphone-nya tidak aktif. Saya malah menjadi bertambah khawatir. “Oh Tuhan, apa yang terjadi dengannya?”

Saya sungguh bergumul saat itu. Pagi itu, saya ada janji pergi dengan teman saya. Tapi, saya tidak akan mungkin dapat meninggalkan anak bimbingan saya dalam keadaan yang belum jelas dan sangat membuat saya khawatir. (Sebenarnya saya malu mengakui bahwa awalnya saya masih ragu-ragu untuk membantu anak bimbingan saya sendiri, tapi saya ingin bercerita dengan jujur). Kebingungan saya terjawab beberapa menit kemudian di kamar mandi saya.

Saya sedang mandi ketika saya bertanya kepada Tuhan di dalam hati saya, “Tuhan? Apa yang harus saya lakukan?” Dan saya percaya, Tuhan menjawabnya ketika ada sebuah suara yang saya rasakan sangat jelas di dalam hati saya: “Datanglah ke sana…”.

“Tapi Tuhan, apa yang bisa saya lakukan di sana?” Saya tidak pernah membantu orang yang mengalami musibah kebakaran sebelumnya. Meskipun di satu sisi saya sangat ingin membantu, di sisi lain saya merasa bingung dan tidak nyaman.

Semua keraguan saya sirna ketika suara itu bergema lagi di dalam hati saya: “Datanglah ke sana… Aku ingin menunjukkan sesuatu yang besar kepadamu.”

Singkat cerita, akhirnya saya membatalkan janji dengan teman saya. Dan saya pergi, ke lokasi kebakaran itu. Saat itu, saya sama sekali tidak tahu, bahwa Tuhan akan memberi saya berkat yang melimpah di sana.

Baca Lanjutannya…

Tips Agar Kita Selalu Beruntung Dalam Hidup (2)

Kejadian ini terjadi di suatu hari yang cerah 2 tahun yang lalu. Seperti biasa, tidak ada bintang jatuh… Seperti biasa juga, saya pergi ke kampus pakai sendal, yang sebenernya saya tau tuh sendal uda rada ga bener, uda hampir putus, tapi karena saya yang keras kepala tetep aja saya pake tanpa sedikit pun rasa bersalah. Saya sampai di kampus dengan aman sentosa, sehat walafiat, tidak kekurangan suatu apa pun, setidaknya sampai terjadi tragedi itu.

Tragedi apa? Jadi ceritanya saya lagi turun tangga. Terus abis saya turun, ada genangan air ga jelas ada di depan WC (siapa sih yang pipis sembarangan di depan WC?), yang saya ga liat (saking rabunnya nih mata…). Dan genangan air itu berhasil membuat saya meluncur beberapa meter ke depan seperti maen ice skating dan membuat sendal saya bener-bener putus!!! Tuh genangan cuma gagal membuat saya jatuh, karena keseimbangan tubuh saya yang udah saya latih bertaon-taon dengan bertapa di atas gunung salak… (yang ini ga bener).

Okeh… Akhirnya sendal saya putus juga. Nyesel deh saya, napa saya tadi pagi masih keras kepala make tuh sendal. Trus sekarang, gimana saya bisa balik ke kos saya dengan sendal yang putus gitu? Huhuhu… Apa saya mesti ngesot2 atau nyeker ampe kaki berdarah2 ke kos saya??

 

Baca Lanjutannya…

Tips Agar Kita Selalu Beruntung Dalam Hidup (1)

image

Apa yang Anda pikirkan ketika Anda membaca judul tulisan ini? Saya menebak, ada dari Anda yang mungkin berpikir seperti ini: “Ah, mana mungkin kita selalu beruntung dalam hidup. Realistis aja, hidup ada di atas ada di bawah, ada naik ada turun, ada untung ada rugi… Ga mungkin lah hidup selalu beruntung.” Melalui tulisan ini, saya ingin membukakan, bahwa kita dapat selalu beruntung dalam hidup ini, jika saja kita tahu caranya. Tidak percaya? Mau tahu caranya? Lanjutkan baca tulisan ini sampai selesai… 😀

Suatu sore, ketika saya sedang membaca komik Paman Gober (atau komik Donal Bebek), saya menemukan sebuah kisah berikut. Diceritakan, Paman Gober sedang bekerja di dalam gudang uangnya. Tiba-tiba, Paman Gober mendengar ada keributan di luar gudang uangnya, yang begitu mengganggunya. Ketika dia melihat keluar jendela, ternyata keributan itu berasal dari kedua keponakannya, si Donal dan si Untung, yang sedang berkelahi di halaman depan gudang uang. Paman Gober yang merasa terganggu lalu meminta James, pelayannya, untuk membawakan kentang untuk menimpuk keponakannya tersebut (mungkin sayang kalau ditimpuk pakai karung emas, jadi ditimpuknya pakai kentang. 😛 ). James lalu membawakan sebuah kentang yang akhirnya dilemparkan Paman Gober ke luar jendela, dan mengenai salah satu dari keponakannya tersebut. Coba Anda tebak, siapa yang terkena lemparan Paman Gober ini sampai membuat kepalanya benjol? Apakah si Untung? Atau si Donal?

Baca Lanjutannya…

Kesenangan Tanpa Kesusahan Adalah Kosong

Ada sebuah cerita tentang seorang penjahat yang meninggal dunia. Ketika dia mau mati, dia sudah merasa pasti akan masuk neraka. Nah ketika dia mati, tiba-tiba dia dibangunkan. Dia melihat sesuatu yang tidak diharapkannya. "Wah kok suasananya bagus. Indah menarik dan menyenangkan sekali ya," katanya dalam hati. Dia melihat semua serba bahagia.

"Aduh rasanya saya keliru terkirim ke surga," katanya lirih. Tiba-tiba seorang bidadari mendatanginya. "Ayo-ayo bangun. Kamu ingin apa ? Di sini kamu apa saja diberi." Awalnya dia ragu. Tapi memberanikan juga untuk meminta, "Saya tidak mau kerja." "Ok," kata bidadari. Ting! Maka dia tidak usah kerja. Semuanya tercukupi.

Setelah keinginannya terwujud, dia mulai berani, "Saya boleh minta lagi ?" "Boleh," kata bidadari, "Kamu minta apa ?" "Saya minta uang yang banyak." Ting! Maka keluar uang yang banyak. Dia beli apa saja bisa. Dia ingin beli mobil baru, bisa. Beli apa saja, bisa.

Lalu dia datang lagi ke bidadari. "Bidadari, saya minta rumah yang bagus," pintanya. Ting! Dia dapat rumah yang sangat mewah, indah dan semuanya ada. "Wah apapun dikasih katanya. Ini betul-betul surga," teriaknya senang. Kemudian dia kembali ke bidadari. "Saya bisa tidak minta wanita- wanita yang cantik ?" Ting! Maka ada 10 wanita yang cantik yang siap melayani dia terus.

Dia senang sekali. Uang ada. Punya rumah. Dikelilingi wanita-wanita cantik. Dan dia tidak usah kerja. Makan apapun bisa sekenyang-kenyangnya. Dan semua itu berlalu dengan cepat. Sebulan, 2 bulan, 3 bulan dia mulai bosan. Jenuh. Dia tidak mau segala keenakan ini. Rasanya bikin ‘eneg’. Mual.

Maka dia menghadap bidadari. "Bidadari, saya mau kerja," katanya. Bidadari itu heran, "Tidak bisa, tidak bisa. Di sini tidak perlu kerja. Tidak ada kerjaan. Kamu tidak usah kerja. Kamu nikmati saja segala kenikmatan ini." Dia bingung. Kembali ke kegiatan sebelumnya dan dia coba menikmati lagi surganya. Makan lebih banyak lagi, sampai gendut. Tapi dia tetap jenuh karena tidak ada kegiatan yang bisa dilakukan. Dia kembali lagi bidadari. "Aku minta kerja," katanya. Dan biadadari tegas berkata, "Tidak bisa. Di sini tidak ada kerja."

Akhirnya dia tidak tahan. Penjahat ini mengaku, "Bidadari yang baik, saya sebanarnya adalah penjahat. Saya tidak layak masuk surga ini. Saya seharusnya masuk neraka. Kalau di neraka, saya bisa kerja. Bahkan kerja keras. Saya bisa merasakan sakit dan sengsara. Saya tidak mau segala ini. Ternyata kenikmatan ini tidak enak," teriaknya marah.

Tiba-tiba wajah bidadari yang cantik dan menyenangkan dilihat ini, tiba-tiba berubah menyeramkan. Wajahnya berubah menjadi setan. Dia berkata keras, "Sebenarnya ini adalah neraka."

Cerita ini disadur dari salah satu episode seri TV kuno ‘Twilight Zone’.

Saya tidak mengatakan supaya anda semua menjadi penjahat supaya tidak masuk surga. Manusia baru ingat dan menghargai segala kenikmatan yang dia rasakan, ketika kesedihan dan kesengsaraan juga dirasakannya. Kehidupan adalah sebuah keseimbangan antara kenikmatan dan penderitaan, inilah yang memperkaya kazanah kehidupan kita. Selamat menghargai kesengsaraan anda, karena di sanalah akan anda temui kenikmatan yang lebih.

Sumber cerita: Business Wisdom Pak Tanadi Santoso

Itu adalah cerita yang saya dengarkan di radio hari Senin lalu. Cerita yang membuat saya berpikir. Ya, memang benar… Kesusahan perlu kita lalui agar kita bisa menghargai kebahagiaan. Suatu kebahagiaan tidak lagi jadi kebahagiaan untuk kita jika kita tidak merasakan kesusahan. Saya akan berikan contoh yang sederhana. Bayangkan Anda baru saja berjalan selama satu jam di bawah terik matahari siang hari, yang membuat Anda sangat berdahaga. Lalu, ketika sampai di tujuan, Anda ditawarkan sebotol Aqua dingin. Tentu karena Anda sedang sangat haus dan kepanasan, sebotol Aqua dingin tersebut menjadi sebuah kesenangan bagi Anda. Tapi, apa yang terjadi jika Anda sedang tidak haus dan diberikan sebotol Aqua dingin tersebut? Rasa nikmatnya tentu sangat berbeda bukan? Rasa nikmat yang Anda dapat dari sebotol Aqua dingin tergantung dari seberapa haus Anda saat Anda meminumnya. Semakin Anda merasa haus, atau mengalami penderitaan (kehausan), semakin banyak nikmat yang akan Anda rasakan dari sebotol Aqua dingin.

Baca Lanjutannya…

%d blogger menyukai ini: