Arsip | inspirasi RSS for this section

Jawaban Mengejutkan Petugas Disney World Atas Pertanyaan Jam Berapa Taman Hiburan Ini Tutup

 

Bayangkan seorang dokter mengatakan kepada pasiennya, “Ada kemungkinan 10% kamu akan mati.”

Sekarang bayangkan seorang dokter lainnya mengatakan kepada pasiennya, “Ada 90% kemungkinan kamu akan hidup.”

Meskipun secara logika, dua pernyataan di atas adalah hal yang sama, namun fokus mereka berbeda. Dokter yang pertama fokus kepada kematian, dan dokter kedua fokus kepada kehidupan. Dan perbedaan fokus inilah yang amat mempengaruhi perasaan sang pasien.

Berita baiknya, kita dapat memilih apa yang menjadi fokus kita. Apakah kita akan berfokus pada sisi buruk seseorang dan membuat kita menjadi marah, atau kita akan berfokus pada sisi baik seseorang dan membuat kita menjadi terinspirasi? Itu adalah pilihan kita.

Randy Pausch dalam bukunya “The Last Lecture” pernah menceritakan, “Cobalah tanyakan kepada petugas Disney World jam berapa taman hiburan ini tutup, dan mereka akan menjawab bahwa taman hiburan ini BUKA sampai jam 8 malam.” Randy sendiri juga menderita penyakit kritis dan bertanya kepada dokternya, “Kapan kira-kira saya mati?” dan sang dokter menjawab, “Kamu kemungkinan masih akan cukup sehat untuk 3-6 bulan ke depan.” Sang dokter telah mengubah fokus pertanyaan Randy dari kematian menjadi kehidupan, dan jawaban dokter itu mencerahkan hati Randy.

Di mana kamu letakkan fokusmu, itulah yang akan bertumbuh. Fokus pada keburukan, itulah yang bertumbuh. Fokus pada kebaikan, itulah juga yang bertumbuh. Jadi, pilihlah dengan bijak apa yang menjadi fokusmu.

Iklan

Getting To Know The Kindness and Humility of Mart DeHaan

Two years ago, I got a privilege to meet Mart DeHaan, who was the president of RBC Ministries at that time, the grandson of the founder of RBC Ministries. He is the most humble leader that I have ever met, and even arguably one of the most humble among all the leaders that I have ever known!

As a leader that has lead RBC Ministries for 26 years that time, I haven’t heard any single negative thingabout him. Every stories that I heard about him from the others are always about how others have experienced his kindness and how they were so impressed with his kindness and humility. Simply unbelievable!

And, two years ago, I got a privilege to get the first-hand experience of his kindness and humility, when he came to Jakarta from USA. When I first met him at the airport, he didn’t only shake my hand, he also looked at my eyes. He meant his handshake and asked for my name. For about 10 seconds, I got a full attention from the highest-position leader of an international ministry. And he did that not only to me, but to others also. He meant every handshake that he did and got interested to know more about the people whom he is handshaking.

So many good impressions that I got from him, but maybe the greatest that I will never forget is this following moment:

Baca Lanjutannya…

Keputusan Ibu Dosen yang Tak Terduga

Delapan tahun yang lalu, saat saya masih kuliah di Fasilkom, saya ingat saat itu sedang masa pendaftaran kuliah semester pendek. Karena ada yang bilang, “Kalau mau lulus kuliah 3,5 tahun, kamu harus ambil semester pendek”, maka kuliah semester pendek ini menjadi penting untuk saya ambil.

Saya pun memasukkan form pendaftaran untuk ikut kuliah semester pendek. Karena kuota kelas yang terbatas, hanya 50 mahasiswa saja yang bisa diterima, dan penerimaannya berdasarkan siapa yang daftar duluan.

Saya masih ingat ketika hari pengumuman mahasiswa yang diterima untuk ikut semester pendek. Nama saya tidak ada di sana. Tapi di sana ada nama teman saya, yang saya tahu dia memasukkan form setelah saya.

Saya masih ingat kekecewaan yang saya rasakan saat itu. Seolah harapan untuk lulus kuliah 3,5 tahun sirna karena itu (belakangan saya tahu ini lebay sih). “Pasti ada kesalahan! Ini tidak adil! Kenapa saya yang duluan mendaftar tidak diterima, sedangkan teman saya yang daftar belakangan yang diterima?”

Baca Lanjutannya…

What Does Matter More Than A Good Result?

Few years back, I got an idea to develop a computer application. I was excited about the project, and so I started right away. I enjoyed the coding, the design processes, and also learned some new things along the way. Until it was finished and I shared my idea and my works with others.

What’s their response? They thought that my idea was not good and couldn’t be used. Though there was a slight disappointment, it wasn’t really a matter for me. After all, it was not a waste, because I enjoyed the process, and I learned a lot from the process.

Later on, the lessons that I learned from that failed project enabled me to develop other applications that really work.

If you enjoy the process, you won’t care much about the result. The good result is just like a bonus for you. What really matters is what you have learned along the way.

Ketika Lukisanmu Dirusak

Di atas gunung, seorang pelukis melukis sebuah lukisan pemandangan yang sangat indah lukisan terindah yang pernah dia hasilkan sepanjang hidupnya.

Dia begitu bangga akan lukisannya, dan mulai mengamatinya. Dia ingin tahu bagaimana lukisannya jika dilihat dari jauh. Oleh karena itu, dia mulai mundur sambil terus mengangumi lukisannya.

Dia terus mundur sampai tiba-tiba ada seseorang yang tiba-tiba merusak lukisannya.

Terkejut dan marah, dia langsung lari ke arah orang itu dan lukisannya yang telah dirusak…

Dia begitu marah dan memukul orang yang merusak lukisan terbaiknya tersebut begitu rupa sampai orang itu tidak bernyawa lagi.

Ketika kemarahannya sudah mulai reda, dia melihat ke belakang dan dia sangat terkejut. Dia melihat ternyata dirinya ada di pinggir jurang! Selangkah mundur lagi ketika dia sedang mengamati lukisannya tadi, dan dia akan jatuh ke jurang yang tak terlihat dasarnya itu.

Rusaknya lukisan terbaiknya telah mencegahnya kehilangan nyawanya yang jauh lebih berharga.

Orang yang dia begitu marah karena telah merusak lukisannya, yang dia telah habisi, ternyata adalah penyelamat nyawanya.

Ada sebuah pelajaran berharga di dalam kisah ini. Kita melangkah tanpa tahu ke mana kita melangkah, tapi Tuhan tahu… Dan percayalah, ke mana pun Tuhan mengarahkanmu untuk pergi, itulah jalan yang terbaik yang dapat kamu tempuh.

Carilah Tuhan ketika Dia masih dapat dicari, karena akan tiba saatnya jika kita terus mengeraskan hati kita, mungkin berikutnya Tuhan tak dapat lagi kita temui.

Seperti yang terjadi pada Firaun, diawali dari dia mengeraskan hatinya, diakhiri dengan Tuhan yang mengeraskan hatinya.

Atau seperti orang-orang yang Asaf katakan di Mazmur 73, ditempatkan Tuhan di tempat yang licin hingga jatuh tergelincir dan hancur (Mazmur 73:18).

Bersyukurlah jika Tuhan masih merusak lukisan kita, karena itu berarti Tuhan tidak membiarkan kita melenggang dengan rencana kita yang penuh kerapuhan. Sebaliknya, Dia mau membawa kita kepada rencana-Nya yang penuh harapan.

Tuhan mengasihimu. Percayalah kepada-Nya.

Kejadiannya Mungkin Saja Lebih Buruk

Sore ini, ketika saya sedang mengendarai mobil dan berbelok di sebuah tikungan, mobil saya membentur trotoar jalan dan bunyinya cukup keras. Saya yakin pasti ada bagian mobil saya yang rusak karena benturan tersebut.

Kemudian, sambil terus melaju, saya mulai memikirkan kerusakan apa yang mungkin terjadi pada mobil saya, dan saya mulai menyesal kurang berhati-hati dalam menikung tadi. Saya berpikir, seharusnya saya bisa menikung dengan lebih baik.

Hanya selang beberapa detik sejak pikiran-pikiran negatif itu muncul, saya bersyukur ada pikiran-pikiran lain yang melintas di benak saya.

“Untunglah saya hanya menabrak trotoar dan tidak menabrak orang. Kejadiannya mungkin saja lebih buruk!

“Untunglah mobil saya masih bisa tetap berjalan dengan normal dan tidak menjadi mogok. Kejadiannya mungkin saja lebih buruk!

“Untunglah saya sama sekali tidak terluka. Kejadiannya mungkin saja lebih buruk!

Dan, ketika pikiran-pikiran itu mulai mengambil alih, saya mulai bisa menenangkan diri dan mulai bersyukur. Ya, bersyukur saya hanya menabrak trotoar dan bukan menabrak orang. Bersyukur mobil saya masih bisa berjalan dan tidak mogok. Bersyukur saya sama sekali tidak terluka. Sebenarnya kejadiannya mungkin saja lebih buruk. Tapi syukurlah, itu tidak terjadi.

Kini, peristiwa itu tidak lagi menjadi peristiwa buruk, tapi menjadi sebuah peristiwa berharga. Pertama, saya mendapatkan pelajaran untuk lebih berhati-hati dalam menikung. Kedua, saya dapat mensyukuri saya tidak menabrak orang, mobil saya tidak mogok, dan saya selamat sampai tujuan. Hal-hal yang jarang saya syukuri tanpa adanya kejadian seperti ini.

Jadi, setiap kali kita mengalami peristiwa buruk, katakanlah pada diri kita sendiri, “Kejadiannya mungkin saja lebih buruk!” Pikirkanlah kemungkinan-kemungkinan lebih buruk yang mungkin saja terjadi tetapi itu tidak terjadi, dan syukurilah bahwa hal itu tidak terjadi. Maka niscaya kita akan mengubah peristiwa buruk tersebut menjadi sebuah peristiwa berharga, yang menjadikan kita seorang yang lebih baik.

Kelemahan Menjadi Kekuatan

Apakah Anda sedang mengalami sebuah kegagalan? Apakah Anda sedang menanggung sebuah beban yang begitu berat sehingga Anda merasa tidak kuat lagi dan ingin menyerah? Apakah Anda sedang merasa frustrasi dengan kelemahan yang Anda miliki? Jika Anda menjawab ya dalam salah satu pertanyaan di atas, lanjutkan membaca. Saya menuliskan tulisan ini untuk Anda.

Setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan. Setiap orang juga pasti memiliki masalah dan kelemahan. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa kelemahan itu, jika kita tahu caranya, dapat kita ubah menjadi kekuatan.

Bagaimana caranya? Inilah resep rahasianya: Dengan pantang menyerah dalam melakukan yang terbaik yang Anda bisa lakukan di tengah kelemahan Anda.

Derek Redmond adalah seorang pelari dari Inggris dalam Olimpiade 1992 di Barcelona. Dia adalah salah satu yang difavoritkan untuk meraih medali dalam cabang lari 400 meter. Setidaknya, itu sampai sebuah tragedi terjadi di babak semifinal…

Segalanya tampak baik-baik saja saat babak semifinal dimulai. Derek, yang mempunyai impian yang besar untuk meraih medali, mengawali larinya dengan baik. Namun, setelah berlari 150 meter, harapan itu lenyap ketika Derek merasakan sakit pada kakinya yang membuatnya berhenti dan berlutut di tanah.

Saya berusaha merasakan apa yang Derek rasakan saat itu. Ketika semua jerih payahnya dalam latihan yang begitu lama tiba-tiba menjadi sia-sia karena rasa sakit yang datang di saat yang salah. Perasaan sakit, kecewa, gagal, malu, lemah dan tak berdaya mungkin menjadi perasaan yang dirasakan Derek saat itu.

Di titik itu, sesaat semua orang melihat bahwa Derek Redmond telah gagal. Tidak ada harapan baginya untuk memenangkan perlombaan dan meraih medali olimpiade.

Namun, di tengah rasa sakit dan kecewa yang dirasakannya, Derek menolak untuk menyerah. Dia ingin mengakhiri pertandingan dengan baik, meskipun sudah dipastikan dia pasti menjadi juara terakhir.

Akhirnya, dengan terpincang-pincang, Derek melanjutkan berlari dengan berusaha menahan rasa sakit yang dia rasakan.

Tiba-tiba, seseorang memaksa masuk ke dalam lapangan, dan membantu Derek berlari di sampingnya. Orang itu adalah ayah Derek. Begitu terharu melihat ayahnya yang membantunya, Derek tak kuasa untuk melepaskan air matanya sembari terus berlari. Seorang anak dan seorang ayah bersama-sama mencoba mencapai garis akhir.

Dengan terpincang-pincang, Derek Redmond mencapai garis akhir. Lebih dari 65000 penonton memberikan standing ovation, berdiri dan bertepuk tangan atas usaha Derek yang terus dengan pantang menyerah memberikan yang terbaik yang dapat dilakukannya di tengah kelemahannya.

Pada akhirnya, Derek Redmond memang gagal memenangkan perlombaan ini dan meraih medali. Tetapi, dia mengakhiri perlombaan ini dengan tekun dan memenangkan hati para penonton yang hadir saat itu.

Mari saksikan kisah Derek Redmond dalam video berikut ini:

Pelajaran Berharga

Apakah Anda terinspirasi dengan video di atas? Inspirasi itu takkan ada jika Derek tidak mengalami kegagalan saat itu, atau jika Derek memutuskan untuk berhenti berlari di tengah jalan.

Baca Lanjutannya…

Kenapa Kesalahpahaman Sering Terjadi?

Saya akan mengawali tulisan ini dengan tiga buah teka-teki. Cobalah Anda cari jawaban yang logis dari ketiga pertanyaan teka-teki berikut. Sudah siap? Oke, mari kita mulai.

Pertanyaan pertama: Seorang saudara si tukang kayu meninggal dunia dan mewariskan warisan senilai satu milyar Rupiah kepada saudara laki-laki satu-satunya. Namun, si tukang kayu tidak pernah menerima warisan sedikit pun meskipun warisan itu sah. Mengapa itu bisa terjadi?

Pertanyaan kedua: Adalah seorang anak laki-laki yang mempunyai kebiasaan aneh, yaitu mengulangi setiap suara yang didengarnya. Suatu hari, ayah anak tersebut berkata, “Nak, ayo kita makan malam bareng…”, tapi anak laki-laki tersebut tidak berkata apa-apa. Mengapa bisa begitu?

Pertanyaan ketiga: Seorang gadis yang baru bisa menyetir melalui sebuah jalan raya dengan arah yang salah (melawan arus), padahal jalan tersebut adalah jalan satu arah. Tapi, dia tidak melanggar hukum. Bagaimana bisa?

Oke, apakah Anda sudah mendapatkan jawaban ketiga pertanyaan tersebut? Sedikit bocoran, jawaban ketiga pertanyaan di atas sebenarnya sangat sederhana, namun beberapa orang sulit untuk melihatnya karena alasan yang akan saya jelaskan nanti dalam tulisan ini. Saat ini, marilah kita cocokkan dahulu jawaban Anda dengan jawaban saya…

Baca Lanjutannya…

Paspor

Pagi hari di hari Senin, tanggal 31 Oktober 2011, saya sedang ada di mobil dalam perjalanan menuju ke bandara. Saya akan pergi ke Singapura selama tiga minggu ke depan. Saya tidak tenang saat itu. Ada sebuah pertanyaan yang terus menerus terlintas di pikiran saya:

“Apakah ada barang yang ketinggalan?”

Meskipun saya sudah semalaman menyiapkan barang-barang yang saya bawa, saya tetap khawatir kalau-kalau ada barang yang saya lupakan. Saya tahu, jika ada barang yang saya lupakan, saya tidak mungkin pulang ke rumah lagi, atau saya akan ketinggalan pesawat.

Saat itu, saya hanya mengecek apakah saya membawa paspor saya. Dan… ada! Saya membawa paspor saya. Saya memutuskan untuk menenangkan diri, karena apapun yang saya lupakan, saya rasa saya masih tetap dapat hidup selama tiga minggu ke depan tanpanya (Ya, saya dapat hidup tanpa bantal kesayangan saya… Ngomong-ngomong, itu hanya bercanda, saya tidak punya bantal kesayangan, meskipun saya sayang bantal :P).

Mengingat akan hal itu membawa saya pada sebuah refleksi hidup. Kalau saya mempersiapkan diri saya begitu rupa sampai-sampai saya memastikan bahwa tidak ada barang yang saya lupa bawa untuk sebuah perjalanan yang hanya tiga minggu lamanya, bagaimana saya mempersiapkan diri saya untuk kekekalan, masa setelah saya meninggal nanti?

Baca Lanjutannya…

Melakukan yang Terbaik

Minggu lalu, dalam perjalanan saya pulang menuju rumah saya, kemacetan parah terjadi.

Saya tidak tahu apa penyebabnya. Yang saya tahu jalan di sekeliling saya semuanya dipenuhi mobil yang tidak atau lambat sekali bergerak. Dan perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dalam kurang dari 30 menit, hari itu saya tempuh dalam waktu 90 menit.

Di tengah kemacetan, saya menemui sebuah perempatan yang saya beri nama perempatan frustrasi. Kenapa perempatan frustrasi? Karena perempatan itu benar-benar membuat setiap pengemudi frustrasi, tidak terkecuali saya.

Bayangkan sebuah perempatan tanpa lampu merah. Mobil datang dari empat arah berbeda, menuju arah yang berbeda-beda. Ada yang dari depan mau belok kanan, dari kiri mau lurus, dari belakang mau belok kiri, dan yang dari tengah mau terbang ke atas (ehm, iya iya, yang terakhir itu cuma karangan saya…).

Saya sendiri? Saya sendiri datang dari belakang dan mau lurus ke depan. Tentu saja tidak bisa, karena ada mobil dari depan yang mau belok kanan. Dan mobil itu tentu saja tidak bisa belok kanan karena ada mobil dari kiri yang mau lurus. Demikian seterusnya…

Tidak berlebihan jika semua pengemudi menjadi frustrasi. Mereka saling membunyikan klakson. Mereka memepetkan mobil mereka, mencari celah untuk bisa lewat lebih dulu.

Saat itu, saya sedang mendengar musik di dalam mobil hanya bisa melihat mobil-mobil lain saling salib-menyalib. Kaki saya tidak lepas dari pedal rem. Saya hanya bisa menunggu dengan sabar, melihat bagaimana kekusutan itu terurai sedikit demi sedikit.

Saat itu, sebersit pikiran saya mengatakan, “Mengapa kamu mau kalah dengan pengemudi lainnya? Lihat, mereka bisa lewat lebih dulu. Mereka lebih baik dari kamu.”

Syukurlah tidak hanya pikiran itu yang terbersit di benak saya. Ada satu suara lain dalam hati saya yang menjawab pikiran itu.

Suara itu berkata, “Tidak apa-apa, Charles. That’s okay! Kamu ada di dunia ini bukanlah untuk menjadi yang terbaik di antara semua orang, tapi untuk melakukan yang terbaik sesuai kemampuan yang telah Aku berikan kepadamu.

Tepat saat itulah, sesaat setelah suara itu melintas di hati saya, lirik berikut dinyanyikan di lagu yang sedang saya dengar:

Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah. Tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik. Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasa-Nya bagi hamba-Nya yang sabar dan tak kenal putus asa.

Ya, itu adalah bagian dari lirik lagu Jangan Menyerah yang sedang saya dengarkan saat itu. Jangan tanya saya kenapa momennya begitu pas. Saya pun tidak tahu! Saya hanya bisa katakan ini adalah sebuah surprise lain yang Tuhan berikan pada saya.

Kawan, kita hidup bukanlah untuk menjadi orang yang paling hebat. Kita hidup bukan untuk mengalahkan orang lain! Kita hidup untuk menang bersama-sama, dan membantu orang lain untuk menang juga! Kita hidup untuk melakukan yang terbaik yang dapat kita lakukan untuk menyenangkan hati Tuhan.

Baca Lanjutannya…

%d blogger menyukai ini: