Tag Archive | positif

Kesulitan adalah Kesempatan Besar untuk Memberikan Dampak yang Besar

Mengangkat gagang telepon adalah sebuah hal yang sederhana.

Mungkin sebagian besar dari kita akan setuju dengan pernyataan tersebut. Ya, apa susahnya mengangkat gagang telepon?

Mungkinkah mengangkat gagang telepon menjadi sebuah hal yang luar biasa, yang menginspirasi orang lain, dan yang berdampak besar bagi banyak orang?

Jawabannya adalah ya, jika itu dilakukan oleh Nick Vujicic, seorang yang dilahirkan tanpa tangan dan kaki. Suatu hari saya pernah melihatnya di dalam sebuah seminarnya, dia mempraktekkan mengangkat gagang telepon menggunakan tubuh dan kepalanya. Ketika dia berhasil, tepuk tangan penonton penuh keharuan membahana di ruangan tersebut.

Apa yang bisa kita pelajari? Ternyata kesulitan yang dialami oleh Nick telah membuat hal-hal yang sederhana dan biasa menjadi sebuah hal yang luar biasa dan begitu menginspirasi. Nick tidak perlu membelah batu karang menjadi dua untuk menarik perhatian penontonnya. Tidak dibutuhkan hal-hal yang sulit untuk membuat sesuatu yang spektakuler. Hal-hal sederhana seperti mengangkat telepon pun sudah cukup.

Ketika kita berada di dalam kesulitan, itu adalah kesempatan besar untuk memberikan pengaruh. Di saat kita dilanda kesulitan, hal-hal sederhana yang kita lakukan bisa menjadi sebuah hal yang spektakuler, yang menginspirasi banyak orang. Ini adalah kesempatan untuk berbuat hal yang mudah namun berdampak besar!

Sebuah senyuman yang diberikan seseorang yang baru menang lotere tentu sangat berbeda dampaknya dengan sebuah senyuman yang diberikan seseorang yang sedang menderita sakit.

Usaha yang dikeluarkan untuk menghasilkan kedua senyuman itu mungkin tak jauh berbeda. Mereka mengembangkan sejumlah otot yang sama di sekitar mulut. Mereka sama-sama dapat mengembangkan senyuman itu dalam hitungan detik bahkan sepersekian detik. Mereka mungkin memberikan senyuman itu kepada orang-orang yang sama. Namun, dampak senyuman seorang yang sedang sakit akan jauh lebih besar dibandingkan senyuman seorang yang baru saja mendapat lotere.

Kesimpulannya: Jika kita sedang sakit atau mengalami kesulitan, bersyukurlah. Ini adalah kesempatan kita bisa memberikan dampak positif yang besar bagi orang lain, hanya melalui sebuah hal yang mungkin sangat mudah dilakukan, jika kita mau melakukannya.

Lalu kenapa dampaknya dapat sedemikian berbeda? Itu karena tidak banyak yang melakukannya. Semua orang tentu akan tersenyum ketika menang lotere. Ini adalah sebuah hal yang sangat umum. Tapi orang-orang yang tersenyum di kala sakit melandanya? Tidak banyak orang yang melakukannya! Namun, tidak banyak orang yang melakukannya bukan berarti hal itu adalah hal yang sulit. Banyak orang tidak melakukannya hanya karena mereka terlalu berfokus pada penderitaan mereka daripada anugerah yang telah mereka terima.

Jadi, jika saat ini kita sedang dilanda kesulitan, bersyukurlah. Ini dapat menjadi sebuah kesempatan yang besar untuk menginspirasi orang lain. Pikirkanlah kebaikan-kebaikan sederhana yang dapat Anda lakukan, dan lakukanlah. Mungkin itu hanyalah sebuah senyuman yang sangat sederhana, namun senyuman itu dapat sangat berarti di hati orang-orang yang melihatnya.

Ketika Anda mengalami kesulitan, setiap kebaikan sederhana yang Anda lakukan akan berdampak ganda bagi para penerimanya.

Jangan sia-siakan kesempatan besar ini.

Tuhan memberkati kita semua,

Charles Christian

Iklan

Raksasa dalam Tanah Perjanjian

Beberapa orang mungkin pernah mendengar kisah ini sebelumnya, kisah tentang dua belas pengintai yang dikirimkan untuk mengintai tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Tuhan kepada bangsa Israel. Kisah ini dicatat dalam kitab Bilangan 13 – 14.

Dalam kisah tersebut, Musa memerintahkan kedua belas pengintai itu untuk melihat keadaan di dalam tanah Kanaan sebelum seluruh bangsa Israel akan masuk ke dalamnya.

Maka Musa menyuruh mereka untuk mengintai tanah Kanaan, katanya kepada mereka: “Pergilah dari sini ke Tanah Negeb dan naiklah ke pegunungan, dan amat-amatilah bagaimana keadaan negeri itu, apakah bangsa yang mendiaminya kuat atau lemah, apakah mereka sedikit atau banyak; dan bagaimana negeri yang didiaminya, apakah baik atau buruk, bagaimana kota-kota yang didiaminya, apakah mereka diam di tempat-tempat yang terbuka atau di tempat-tempat yang berkubu, dan bagaimana tanah itu, apakah gemuk atau kurus, apakah ada di sana pohon-pohonan atau tidak. Tabahkanlah hatimu dan bawalah sedikit dari hasil negeri itu.” (Bilangan 13:17-20)

Setelah 40 hari mereka pergi, mereka kembali dan melaporkan hasil temuan mereka:

Mereka menceritakan kepadanya: “Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya, dan inilah hasilnya. Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana. Orang Amalek diam di Tanah Negeb, orang Het, orang Yebus dan orang Amori diam di pegunungan, orang Kanaan diam sepanjang laut dan sepanjang tepi sungai Yordan.” (Bilangan 13:27-29)

Ada kabar baik dan kabar buruk di dalam laporan pengintai-pengintai itu. Bagaimana kira-kira respon Anda ketika mendengar kabar tersebut? Bangsa Israel sendiri terlihat khawatir, sehingga Kaleb, satu dari dua belas pengintai itu, mencoba menentramkan hati mereka.

Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: “Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!” (Bilangan 13:30)

Namun, tidak semua pengintai setuju dengan Kaleb…

Tetapi orang-orang yang pergi ke sana bersama-sama dengan dia berkata: “Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita.” Juga mereka menyampaikan kepada orang Israel kabar busuk tentang negeri yang diintai mereka, dengan berkata: “Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya. Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami.” (Bilangan 13:31-33)

Lihatlah bagaimana pengintai-pengintai itu mendeskripsikan negeri yang Tuhan janjikan akan dimiliki oleh bangsa Israel tersebut. Tidak heran akhirnya bangsa Israel meresponinya dengan buruk…

Lalu segenap umat itu mengeluarkan suara nyaring dan bangsa itu menangis pada malam itu. Bersungut-sungutlah semua orang Israel kepada Musa dan Harun; dan segenap umat itu berkata kepada mereka: “Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini! Mengapakah TUHAN membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan isteri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?” Dan mereka berkata seorang kepada yang lain: “Baiklah kita mengangkat seorang pemimpin, lalu pulang ke Mesir.” (Bilangan 14:1-4)

Dahulu, bangsa Israel menjadi budak di tanah Mesir, sampai akhirnya Tuhan membebaskan mereka, dan mereka menempuh perjalanan panjang menuju ke tanah yang sangat baik yang dijanjikan Tuhan kepada mereka, yaitu tanah Kanaan. Mereka sudah hampir sampai di tanah perjanjian itu! Namun, melihat raksasa yang ada di dalamnya, mereka lebih memilih menyerah dan kembali menjadi budak di tanah Mesir. Mereka melupakan janji Tuhan, bahwa Tuhan akan senantiasa menyertai mereka, dan menyerahkan tanah Kanaan tersebut ke tangan bangsa Israel.

Namun, di antara pengintai-pengintai itu, ada dua pengintai yang berpendapat lain…

Tetapi Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune, yang termasuk orang-orang yang telah mengintai negeri itu, mengoyakkan pakaiannya, dan berkata kepada segenap umat Israel: “Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya. Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka. (Bilangan 14:6-9)

Namun, tampaknya bangsa Israel tidak setuju dengan kedua pengintai itu, terlihat dari mereka ingin melempari Yosua dan Kaleb dengan batu. Mereka masih tidak percaya kepada Tuhan yang berjanji akan membawa mereka masuk tanah Kanaan.

Lalu segenap umat itu mengancam hendak melontari kedua orang itu dengan batu. Tetapi tampaklah kemuliaan TUHAN di Kemah Pertemuan kepada semua orang Israel. TUHAN berfirman kepada Musa: “Berapa lama lagi bangsa ini menista Aku, dan berapa lama lagi mereka tidak mau percaya kepada-Ku, sekalipun sudah ada segala tanda mujizat yang Kulakukan di tengah-tengah mereka! (Bilangan 14:10-11)

Saya menemukan beberapa hal yang sangat menarik dalam kisah ini.

 

Baca Lanjutannya…

Pergoki Seseorang Sedang Berbuat Baik (1): Saya dan Ayah Saya

Suatu pagi, saya sedang mengelap jendela kamar saya. Suatu hal yang jarang saya lakukan, tapi saya mencoba berinisiatif membersihkan kamar saya.

Ketika itulah, ayah saya masuk dan dengan spontan berkata, “Kalau ngelap tuh dari atas ke bawah, jangan dari bawah ke atas. Kamu ngelap dari bawah ke atas, nanti kotoran yang di atas jatuh lagi ke yang di bawah…”.

Di kesempatan lain, ayah saya meminta saya membantu menjemur pakaian. Maka saya sebagai anak yang baik, ada di sana, di depan mesin cuci. Saya mulai mengeluarkan baju dari mesin cuci ketika saya menyadari masih banyak air yang tergenang di dalam mesin cuci. Suatu hal yang tidak biasa, karena biasanya tidak ada air di sana. Maka saya memanggil ayah saya yang biasa mencuci baju.

Ayah saya datang dan langsung berkata, “Hei, itu belum papa cuci. Kemarin papa lupa cuci. Masukin lagi! Masukin lagi! Makanya kamu harus ngerti nih mesin cuci, liat angkanya 1, bukan 9… Sini papa ajarin kamu! Kamu harus bisa dan ngerti hal-hal seperti ini…”

Di hari yang lain, saya mencoba membereskan kamar saya, yang rupanya tidak jauh berbeda dari kapal pecah. Alasannya? Saya tidak tahan mendengar ayah saya yang senantiasa berkata, “Papa paling ga suka liat kamar kamu berantakan. Beresin. Ini kan kamar kamu, kamu yang harus beresin.” Maka, dengan sedikit kekuatan sulap, saya menyulap kamar saya, setidaknya menjadi lebih terlihat sebagai sebuah kamar tidur daripada tumpukan kapal pecah. Sebuah kemajuan, saya pikir. Ayah saya tidak setuju.

Keesokan harinya, ayah saya masuk ke dalam kamar saya. Daripada berkata, “Kamar kamu sudah lebih rapi. Papa seperti melihat sebuah kamar sekarang.”, ayah saya malah berkata, “Kamar kamu kotor sekali. Debu di mana-mana. Kamu harus pel kamar ini sehari dua kali…”. Dia membawa kain pel, dan mulai mengepel lantai kamar saya, memberikan contoh pada saya.

Yang menyakitkan adalah, ayah saya benar. Kamar saya masih kotor. Kemarin saya hanya mengepel seadanya, sehingga ketika ayah saya mengepel 1 meter persegi di dalam kamar saya, kain pel itu sudah dipenuhi debu. Dan, itu adalah bukti nyata kalau kamar saya masih sangat kotor. Hal menyakitkan yang lain, ayah saya tidak melihat kamar saya yang lebih rapi. Dia melihat kamar saya yang masih sangat kotor. Setidaknya, itu yang saya tangkap dari apa yang dia katakan.

Baca Lanjutannya…

Kalau Anda Berpikir Anda Bisa, Anda Bisa. Kalau Anda Berpikir Anda Tidak Bisa, Anda Tidak Bisa

Judul di atas adalah sebuah quote yang cukup populer. Mungkin awalnya ada dari Anda yang tidak menyetujui quote tersebut. Masakan kita bisa atau tidak bisa berdasarkan apa yang kita pikirkan. Tidak dong, itu tergantung kemampuan kita, anugerah Tuhan, dan lain-lain (yang sebenarnya itu semua benar juga).

Saya pun awalnya berpikir seperti itu. Wah, betapa enaknya kalau quote ini benar. Saya tinggal berpikir, “Saya juara kelas”, maka saya akan menjadi juara kelas. Ketika saya berpikir, “Saya bisa jadi miliarder”, maka saya akan menjadi miliarder.

Kesalahan orang biasanya (termasuk saya dahulu) adalah menganggap semua proses itu akan didapatkan secara instan. Ketika saya berpikir “saya juara kelas”, saya mengharapkan saya bisa jadi juara kelas secara instan. Saya bisa tetap bermalas-malasan, tidak pernah belajar, tidak pernah mendengarkan guru… dan saya mengharapkan saya menjadi juara kelas karena saya percaya quote di atas. Saya mau katakan, ini sama sekali bukan yang dimaksud oleh quote tersebut. Quote tersebut bukanlah berbicara sesuatu yang supernatural dan instan. Ketika Anda berpikir Anda bisa, bukan berarti secara instan Anda pasti akan langsung bisa tanpa berusaha.

Namun demikian, saya percaya pada quote di atas. Saya akhirnya menemukan sebuah penjelasan yang masuk akal yang menjelaskan mengapa quote di atas bisa menjadi benar.

Yang dimaksud oleh quote di atas sebenarnya adalah mengenai fokus pikiran kita. Ketika kita memfokuskan diri kalau kita bisa, itu akan mempengaruhi kita. Seperti apa pengaruhnya? Pengaruhnya akan terlihat ketika kita mencari dan ketika kita gagal.

Pengaruh Pertama: Ketika Kita Mencari

Pengalaman ini saya dapatkan ketika saya mencari parkir di sebuah gedung parkir. Saya berpikir saya pasti akan mendapatkan tempat kosong dalam gedung parkir itu. Saya pasti akan mendapatkan parkir! Karena saya berpikir saya pasti mendapatkan parkir, itu membuat saya mengemudikan mobil lebih lambat, dan saya mencari ke sekeliling apakah ada tempat kosong. Karena saya fokus kepada tempat kosong, saya akan dapat melihat dengan mudah jika terdapat tempat kosong. Ini sama halnya ketika Anda fokus kepada warna merah, Anda akan melihat banyak warna merah di sekeliling Anda. Itu bukan karena warna merahnya yang bertambah banyak, tetapi karena Anda memfokuskan diri Anda pada warna merah. Akhirnya, tidak heran jika saya mendapatkan tempat kosong untuk parkir.

Baca Lanjutannya…

Blame Disease

“Char, belok di sini…” saya mendengar suara teman saya di sebelah saya.

“Bukan di sini… Di depan ada satu belokan lagi…” saya menjawab dengan begitu yakinnya, sambil terus menyetir mobil saya terus maju melewati belokan itu.

Tapi, benar kata teman saya, tidak ada belokan lagi di depan. Saya baru saja melewati belokan yang benar.

“Tuh kan, ga ada belokan lagi… Bener kan tadi gua bilang. Lo ga ikutin sih, nyasar dah…” teman saya geleng-geleng kepala.

Ouch. Percaya saya, tidak pernah menyenangkan mengetahui kita salah pilih jalan, apalagi karena kita yang keras kepala.

Baca Lanjutannya…

Tips Agar Kita Selalu Beruntung Dalam Hidup (1)

image

Apa yang Anda pikirkan ketika Anda membaca judul tulisan ini? Saya menebak, ada dari Anda yang mungkin berpikir seperti ini: “Ah, mana mungkin kita selalu beruntung dalam hidup. Realistis aja, hidup ada di atas ada di bawah, ada naik ada turun, ada untung ada rugi… Ga mungkin lah hidup selalu beruntung.” Melalui tulisan ini, saya ingin membukakan, bahwa kita dapat selalu beruntung dalam hidup ini, jika saja kita tahu caranya. Tidak percaya? Mau tahu caranya? Lanjutkan baca tulisan ini sampai selesai… 😀

Suatu sore, ketika saya sedang membaca komik Paman Gober (atau komik Donal Bebek), saya menemukan sebuah kisah berikut. Diceritakan, Paman Gober sedang bekerja di dalam gudang uangnya. Tiba-tiba, Paman Gober mendengar ada keributan di luar gudang uangnya, yang begitu mengganggunya. Ketika dia melihat keluar jendela, ternyata keributan itu berasal dari kedua keponakannya, si Donal dan si Untung, yang sedang berkelahi di halaman depan gudang uang. Paman Gober yang merasa terganggu lalu meminta James, pelayannya, untuk membawakan kentang untuk menimpuk keponakannya tersebut (mungkin sayang kalau ditimpuk pakai karung emas, jadi ditimpuknya pakai kentang. 😛 ). James lalu membawakan sebuah kentang yang akhirnya dilemparkan Paman Gober ke luar jendela, dan mengenai salah satu dari keponakannya tersebut. Coba Anda tebak, siapa yang terkena lemparan Paman Gober ini sampai membuat kepalanya benjol? Apakah si Untung? Atau si Donal?

Baca Lanjutannya…

Kesalahan yang Membawa Berkah

Saya yakin, setiap dari kita pasti pernah berbuat salah, entah disengaja atau tidak disengaja. Tidak sedikit pula yang akhirnya menyesali kesalahannya terus-menerus. Kesalahan itu membawa malapetaka bagi mereka. Namun, jika kita tahu caranya, ternyata kita bisa membalikkan kesalahan yang seharusnya membawa malapetaka bagi kita, menjadi berkah untuk kita. Setidaknya, itu yang saya dapatkan dari kisah yang saya alami berikut.

Kisah ini terjadi hari Minggu lalu, ketika saya dan keluarga makan malam bersama di Pizza Hut Pluit Village. Seperti biasa, sang waiter memberikan daftar menu, dan mencatat pesanan kami. Sebelum dia pergi, dia berkata “Baik Pak… Menunya bisa saya ambil ya Pak? Pizzanya ditunggu 15 menit. Terima kasih.” Kata-kata itu mungkin tidak asing bagi Anda yang sering makan di Pizza Hut. Tampaknya, itu sudah menjadi suatu standar pelayanan Pizza Hut, agar waiter berkata-kata seperti itu, dan menjanjikan pizza yang dipesan akan datang dalam waktu 15 menit.

Kami pun menunggu… 10 menit kemudian, salah satu pesanan kami, yaitu Spaghetti, datang. Spaghetti pun saya lahap sembari menunggu pizza yang belum datang. Waktu terus berlalu, 5 menit, 10 menit, hingga 15 menit kemudian, ketika Spaghetti telah habis saya lahap, ternyata pizza yang kami pesan belum kunjung tiba. Ini berarti sudah terlambat lebih dari 10 menit dari waktu yang dijanjikan sebelumnya.

Saat itu, yang ada di pikiran saya adalah “Wah, kok pelayanan mereka ke customer kaya gini ya?”, “Wah, mereka melanggar janji”, “Wah, mereka sudah melakukan kesalahan…”, “Wah, kalau pelayanan mereka begini, mereka bisa kehilangan customer mereka.” dan lain sebagainya. Intinya, saya menganggap Pizza Hut telah berbuat kesalahan besar dan tidak profesional dengan membiarkan customernya menunggu terlalu lama, lebih dari waktu yang dijanjikan. Kami mulai kesal, dan memanggil sang waiter menanyakan pizza yang kami pesan.

“Mas, mana pizza yang kami pesan? Sudah setengah jam kok belum keluar? Janjinya kan 15 menit…” protes kami.

Baca Lanjutannya…

Sisi Positif dari Penderitaan

Penderitaan. Di saat banyak orang yang mengaitkan kata ini dengan sejumlah hal-hal negatif seperti “bencana”, “kemiskinan”, “kesakitan”, dan lain sebagainya, saya tertantang untuk berpikir, sebenarnya ada tidak ya hal positif dari penderitaan?

Banyak orang yang mengatakan bahwa dirinya menderita. Menderita karena sakit penyakit, menderita karena ditinggal orang yang dikasihi, menderita karena ditolak saat nembak, menderita karena ditipu orang, menderita karena ketiban bencana alam, menderita karena perbuatannya yang tidak baik ketahuan orang lain, menderita karena diejek orang lain, menderita karena kemiskinan, dan lain sebagainya. Sekilas, mendengar semuanya itu, yang terlintas di pikiran kita, penderitaan adalah sesuatu yang sangat jelek, dan tidak ada positif-positifnya. Ternyata tidak juga kawan… Ada hal yang sangat positif yang bisa diambil dari penderitaan. Namun sayangnya, tidak banyak orang yang melihat sisi positif ini.

Jadi, apa sisi positif dari penderitaan? Sisi positifnya adalah ketika kita bisa memanfaatkan penderitaan yang kita alami untuk memotivasi kita untuk melakukan hal-hal yang positif dalam kehidupan kita. Ketika kita menderita, badan atau hati kita akan terluka, dan hal itu akan menciptakan suatu emosi yang dapat mendorong kita untuk membuat kita keluar dari penderitaan tersebut. Namun tentunya kita harus dapat memanfaatkan emosi tersebut dengan baik, dan bukannya malah menjadi depresi.

Baca Lanjutannya…

Renungan: Dinding yang Kosong

Ada dua orang pasien pria yang menderita sakit parah. Mereka dirawat di rumah sakit yang sama. Pria pertama diizinkan duduk di tempat tidurnya setiap sore selama satu jam. Tujuannya adalah agar cairan dari paru-parunya bisa dikeluarkan. Tempat tidurnya terletak di dekat satu-satunya jendela yang ada di kamar itu. Sedang pria yang kedua harus selalu berbaring dalam keadaan terlentang. Karena di antara dua tempat tidur ada dinding pemisah yang cukup tinggi, pria yang tidur terlentang tidak bisa melihat ke jendela.

Kedua orang pria tersebut sering mengobrol. Macam-macam hal yang mereka bicarakan. Dari mengenai istri, keluarga, rumah, pekerjaan, wajib militer sampai tempat-tempat yang dikunjungi saat liburan. Sore hari, saat pria yang menempati tempat tidur dekat jendela diizinkan duduk, dia bercerita ke teman sekamarnya. Ia melaporkan apa-apa yang dilihatnya di balik jendela.

Pria yang hanya bisa terlentang lama-kelamaan bisa menikmati cerita temannya. Selama satu jam sehari, cara pandangnya diperluas dan dihidupkan kembali dengan mendengarkan tentang kegiatan dan warna-warni dunia luar. Jendela itu menghadap ke sebuah taman. Di taman itu juga ada sebuah danau yang indah dengan bebek-bebek dan angsa-angsa yang berenang di atasnya. Anak-anak bermain dengan mainan kapal layarnya. Pasangan suami isteri yang sedang dimabuk asmara berjalan sambil bergandengan tangan di antara bunga-bunga yang berwarna-warni bagaikan warna pelangi. Beberapa pohon besar tumbuh di atas rerumputan. Pemandangan indah kota terlihat dari kejauhan.

Baca Lanjutannya…

Cara Pandang Positif

Saya pernah mendengar cerita tentang seorang pemain golf profesional. Pada suatu hari, ia baru saja meninggalkan klub golfnya setelah memenangkan sebuah turnamen. Di tempat parkir, ia bertemu dengan seorang wanita yang mengatakan kepadanya bahwa bayinya sedang dirawat di Rumah Sakit. Karena tidak punya uang, ia meminta bantuan pemain golf tersebut agar mau menyumbangkan sebagian uang hadiah kemenangannya. Alasannya, anaknya sedang sakit keras. Orang tersebut sangat tersentuh dan ingin menolong. Ia pun lalu memberikan seluruh uang hadiahnya untuk membayar biaya operasi guna menyelamatkan sang bayi.

Satu atau dua hari kemudian, pemain golf itu kembali ke lapangan gold. Ia menceritakan hal tersebut kepada teman-temannya di sana. Beberapa orang berkomentar, “Wah! Kamu tertipu. Ini bukan pertama kalinya perempuan itu berbuat begitu. Kasihan kamu jadi korbannya lagi. Mata pencahariannya memang dari menipu!”

Pemain golf itu berkata, “Jadi, tidak ada bayi yang sakit keras?”

Mereka menjawab, “Jelas tidak!”

Lalu pemain golf itu berkata lagi, “Bagus! Saya lega karena ternyata tidak ada yang sakit.Baca Lanjutannya…

%d blogger menyukai ini: