Tag Archive | rokok

Rokok Meledak Saat Diisap: Risiko Baru Bagi Para Perokok

Jakarta – Akibat menjadi korban rokok yang meledak setelah diisap, gigi Andi Susanto pun terpaksa dicabut 6 buah. Padahal, akhir tahun ini Andi berencana melangsungkan pernikahan. Maka, sang calon istri pun mengusulkan Andi dipasangi gigi palsu.

"Saya mau nikah dan memang sudah direncanakan. Tapi kalau bisa giginya minta dipasang lagi, gigi palsu juga tidak apa-apa," ujar calon istri Andi, Shella (23).

Hal itu dikatakan Shella ketika mendampingi Andi di ruang No 4 RS Adam Thalib, Cibitung, Kabupaten Bekasi, Senin (1/2/2010).

Tak hanya Shella, Andi juga ingin agar gigi buatan dipasang di mulutnya. Sebab, hari ini pukul 10.30 WIB, 2 gigi kembali dicabut dari mulutnya. Sehingga, total sudah 6 gigi dicabut paksa.

"Rencana ada 1 gigi lagi yang akan dicabut dan 1 gigi bekas patahan," katanya.

Andi kini masih tergolek lemas di ranjang. Tidak banyak aktivitas yang bisa dilakukan oleh pria asal Cibitung tersebut. Komunikasi juga belum bisa terlalu lancar.

Andi Susanto juga menerima 51 jahitan di bibir setelah rokok yang diisapkannya, Clas Mild produksi PT Nojorono, meledak pada 28 Januari 2010. Ia pun mengaku ogah merokok lagi.

"Saya nggak bakal ngerokok lagi deh," katanya.

Sumber: http://www.detiknews.com/read/2010/02/01/210640/1290671/10/calon-istri-minta-andi-dipasangi-gigi-palsu

Pendapat saya, untuk para perokok, sebaiknya memikirkan kembali risiko ini sebelum memutuskan untuk mengisap rokoknya. Rokok tidak saja beracun dan mengganggu orang lain, tetapi juga bisa mengakibatkan 6 gigi dicabut paksa dan 51 jahitan di bibir.

Baca Lanjutannya…

Iklan

Fakta (Mengejutkan) Tentang Rokok dan Perokok

Perhatikanlah fakta-fakta berikut tentang rokok dan perokok di Indonesia dan dunia:

  1. Sejauh ini, tembakau berada pada peringkat utama penyebab kematian yang dapat dicegah di dunia. Tembakau menyebabkan satu dari 10 kematian orang dewasa di seluruh dunia, dan mengakibatkan 5,4 juta kematian tahun 2006. Ini berarti rata-rata satu kematian setiap 6,5 detik. Kematian pada tahun 2020 akan mendekati dua kali jumlah kematian saat ini jika kebiasaan konsumsi rokok saat ini terus berlanjut. [1]
  2. Diperkirakan, 900 juta (84 persen) perokok sedunia hidup di negara-negara berkembang atau transisi ekonomi termasuk di Indonesia. The Tobacco Atlas mencatat, ada lebih dari 10 juta batang rokok diisap setiap menit, tiap hari, di seluruh dunia oleh satu miliar laki-laki, dan 250 juta perempuan. Sebanyak 50 persen total konsumsi rokok dunia dimiliki China, Amerika Serikat, Rusia, Jepang dan Indonesia. Bila kondisi ini berlanjut, jumlah total rokok yang dihisap tiap tahun adalah 9.000 triliun rokok pada tahun 2025. [1]
  3. Di Asia, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, Indonesia menempati urutan ketiga terbanyak jumlah perokok yang mencapai 146.860.000 jiwa. Namun, sampai saat ini Indonesia belum mempunyai Peraturan Perundangan untuk melarang anak merokok. Akibat tidak adanya aturan yang tegas, dalam penelitian di empat kota yaitu Bandung, Padang, Yogyakarta dan Malang pada tahun 2004, prevalensi perokok usia 5-9 tahun meningkat drastis dari 0,6 persen (tahun 1995) jadi 2,8 persen (2004). [1]
  4. Peningkatan prevalensi merokok tertinggi berada pada interval usia 15-19 tahun dari 13,7 persen jadi 24,2 persen atau naik 77 persen dari tahun 1995. Menurut Survei Global Tembakau di Kalangan Remaja pada 1.490 murid SMP di Jakarta tahun 1999, terdapat 46,7 persen siswa yang pernah merokok dan 19 persen di antaranya mencoba sebelum usia 10 tahun. “Remaja umumnya mulai merokok di usia remaja awal atau SMP,” kata psikolog dari Fakultas Psikologi UI Dharmayati Utoyo Lubis. [1]
  5. Sebanyak 84,8 juta jiwa perokok di Indonesia berpenghasilan kurang dari Rp 20 ribu per hari–upah minimum regional untuk Jakarta sekitar Rp 38 ribu per hari. [2]
  6. Perokok di Indonesia 70 persen diantaranya berasal dari kalangan keluarga miskin. [3]
  7. 12,9 persen budget keluarga miskin untuk rokok dan untuk orang kaya hanya sembilan persen. [3]
  8. Baca Lanjutannya…

Pengemis Pun Merokok!

Bulan lalu, saya pernah menulis sebuah artikel tentang rokok: “Budaya Merokok: Sebuah Ironi“. Pada postingan tersebut, saya menyebutkan sebuah fakta yang sempat mengejutkan saya, yaitu seorang tokoh yang saya kagumi di kampus saya, yang saya jadikan role model, ternyata adalah seorang perokok. Ternyata, keterkejutan saya tidak berhenti sampai di sana. Selama sebulan ini, saya menemukan sendiri beberapa fakta tentang perokok, dan fakta-fakta itu membuat saya terkejut… :shocked:

Mengemis tapi Merokok!?

Ini adalah sebuah kisah nyata yang membuat saya tidak habis pikir. Suatu hari di pintu sebuah stasiun di Jakarta, saya melihat seorang bapak yang duduk di emperan pintu. Bajunya kumal dan dia menyodorkan suatu kantong ke setiap orang yang lewat, berharap ada orang yang berbelas kasihan memberinya sepeser uang… Orang yang lewat di sana, mungkin akan berbelas kasihan melihat rupanya, tapi pasti akan langsung berubah pikiran ketika melihat benda yang dia pegang di tangan kanannya. Apa yang dia pegang? Rokok!

Baca Lanjutannya…

Budaya Merokok: Sebuah Ironi

Catatan:
Tulisan ini muncul karena:
  • Keprihatinan penulis melihat semakin banyaknya perokok di lingkungan penulis. Khususnya, pertumbuhan jumlah perokok kaum hawa yang sangat pesat dan mengkhawatirkan.
  • Kekecewaan penulis ketika mengetahui bahwa seorang tokoh yang dikagumi penulis di fakultasnya ternyata adalah seorang perokok.
  • Suara hati penulis, yang mengasihani orang yang merokok, tetapi membenci perilaku mereka.

Saat ini, merokok seakan telah menjadi sebuah budaya bangsa ini. Bagaimana tidak, saat ini rokok sudah menjadi milik semua kalangan, baik orang tua maupun anak-anak, baik pria maupun wanita, baik orang kaya maupun orang miskin, baik bos maupun kuli…

Indonesia adalah negara penyumbang asap rokok terbesar di Asia Tenggara. Ini bukanlah sesuatu hal yang main-main. Ini adalah suatu hal yang perlu kita sikapi secara serius. Pada tulisan saya saat ini, saya akan memberikan pandangan saya mengenai budaya merokok, yang menurut saya, adalah sebuah ironi yang sangat menyedihkan.

Racun yang menjadi “kebutuhan pokok”

Tidak dapat disangkal lagi, rokok adalah racun. Sekecil apapun kadar nikotin yang terkandung di dalam sebatang rokok, itu tetaplah racun yang merusak tubuh penghisapnya. Ironisnya, sekarang tidak sedikit orang yang menjadikan racun tersebut sebagai “kebutuhan pokok” mereka. Dulu, kita mengenal kebutuhan pokok manusia adalah sandang, pangan, dan papan. Sekarang, para perokok menambahkan daftar kebutuhan pokok mereka dengan sesuatu yang seharusnya bukanlah kebutuhan pokok, sesuatu yang pada hakikatnya adalah racun, yaitu rokok!

Merusak di saat yang lain bersusah payah mengobati

Karena rokok pada hakikatnya adalah racun, maka pastilah rokok akan merusak tubuh manusia, cepat atau lambat. Dengan merokok, mereka sedang menumpuk racun di dalam tubuh mereka yang akan merusak tubuh mereka. Sungguh ironis, mereka merusak paru-paru mereka di saat banyak orang yang berjuang mengobati paru-parunya. Mereka merusak jantung mereka di saat banyak orang yang rela menggunakan alat pacu jantung untuk menopang kehidupannya. Merusak memang jauh lebih mudah daripada mengobati. Pada saatnya nanti, para perokok akan mengerti betapa sulitnya pengobatan itu, dan betapa mahalnya harga kesehatan yang telah mereka sia-siakan.

Seorang merdeka yang terkekang

Baca Lanjutannya…

Warning Sign: Do Not Smoke

Kemarin saya sedang berjalan-jalan (baca: surfing) di sebuah forum. Di bagian jokes, saya menemukan gambar berikut, (yang katanya ada di dekat sebuah pipa gas di Citos). Warning sign-nya seperti ini:

Warning Sign

Baca Lanjutannya…

%d blogger menyukai ini: