Tag Archive | syukur

Rasa Sakit Terbesar

Apabila saya bertanya kepada Anda, “Menurut Anda, rasa sakit yang terbesar itu seperti apa sih?”, apakah yang akan menjadi jawaban Anda?

Dulu sekali, waktu saya baru mulai imut-imut (karena sekarang lebih imut-imut, hehe, mohon maaf kalau saya terlalu jujur), saya pikir rasa sakit yang terbesar itu adalah “sakit perut waktu lagi di jalan”.

Ya, saya sempat mengalami sakitnya menahan diri untuk tidak mencret di tengah rasa sakit perut yang luar biasa, di tengah perjalanan bersama beberapa teman. Tepat saat itu, impian terbesar saya adalah menemukan toilet terdekat dan “melepaskan” semuanya.

Sungguh tidak enak rasanya sakit perut sampai saya sempat mengatakan saat itu, “tiada yang lebih sengsara daripada sakit perut”. Untung zaman itu kata lebay belum ditemukan, kalau tidak saya pasti sudah dibilang lebay setengah mati.

Seiring berjalannya waktu, pendapat saya pun mulai berubah. Saya sempat sampai pada sebuah pernyataan “rasa sakit terbesar adalah ketika kita telah berkorban tetapi malah dicaci maki karena apa yang kita lakukan ternyata adalah suatu hal yang tidak diharapkan”.

Baca Lanjutannya…

Iklan

Kasih di Tengah Ketidaksempurnaan

Di tengah banyaknya musibah dan ketidakpedulian yang merebak akhir-akhir ini di surat kabar atau tayangan berita, foto di atas benar-benar memberikan sebuah harapan untuk saya.

Ada satu pesan luar biasa yang ingin disampaikan melalui foto di atas:

“You don’t have to be perfect to love”

“Kamu tidak harus jadi sempurna dulu untuk dapat mengasihi orang lain”

Pesan yang sangat sederhana, namun begitu mengena di hati saya. Sebuah foto yang membuat saya berpikir dan berintrospeksi.

Berapa sering saya menunda sebuah kebaikan karena saya merasa keadaan saya lebih buruk?

Berapa sering saya enggan menghibur karena saya merasa bahwa sayalah yang perlu dihibur?

Berapa sering saya tidak rela memberi karena saya merasa kekurangan?

Berapa sering saya menjadi iri hati ketika melihat orang yang lebih baik daripada saya?

Berapa sering saya membantu orang lain tanpa sebuah ketulusan?

Seringkali kita berpikir, kita tidak bisa mengasihi karena kita merasa kurang mendapatkan kasih.

Namun itu tidak benar! Justru sebaliknya, kita mendapatkan kasih ketika kita mengasihi.

Baca Lanjutannya…

Izinkan Orang Lain Untuk Mengasihi Anda

“Mama!!! Ini kenapa ayamnya kecil-kecil??? Nasinya banyak begini, ayamnya kecil begini, makanan macam apa ini???” teriak Andi dari ruang makan.

Sang ibu keluar dari dapur, membawa semangkuk besar sayur hijau dan sepiring tahu-tempe. “Ini ada sayur ijo dan tahu-tempe juga yang bisa kamu makan…”

“Sayur begitu mana bisa dimakan. Ngelihatnya saja sudah bikin ga nafsu makan…” kata Andi.

“Ya, adanya hanya ini… Kamu mau makan ngga?” sang ibu mulai kesal melihat Andi bersungut-sungut.

“Apa? ‘Mau makan ngga?’ Jadi gini mama memperlakukan anak mama sendiri…” Andi berdiri dari kursinya.

“Kamu sekarang makin berani ya sama mama???” sang ibu semakin kesal.

“Mama benar-benar membuat Andi ga nafsu makan lagi. Memang dari dulu mama selalu pilih kasih, lebih sayang dengan Budi. Mentang-mentang aku lebih tua, mama ga sayang aku, aku cuma dibentak-bentak. Cuma dede yang mama sayang!” Andi langsung meninggalkan meja makan, masuk ke kamarnya dan membanting pintu kamarnya keras-keras.

Baca Lanjutannya…

Sisi Positif dari Kekalahan Arsenal 2-8 Manchester United

Manchester United 8 – 2 Arsenal

Itulah score akhir dari pertandingan di pekan ketiga Premier League musim ini. Sebuah pertandingan yang awalnya disebut-sebut sebagai pertandingan "big match". Dan hari ini saya, seorang fans klub Arsenal, menonton langsung pertandingannya di TV.

Jika hasil ini diperhadapkan pada saya enam tahun yang lalu, saya pasti akan bad mood seminggu. Saya takkan bisa tidur malam itu. Saya akan mulai memukul ranjang. Semua orang yang ada di dekat saya pasti akan mendengar gerutu saya. Saya akan mencari-cari aib klub MU sebagai tameng saya. Dan saya akan menghindar sebisa-bisanya dari teman-teman saya yang merupakan fans MU.

Jika hasil ini diperhadapkan pada saya tiga tahun yang lalu, saya akan tersenyum sinis, dan berkata, "Ah… Rasain!" Berbeda dari respon saya sebelumnya, saya malah akan mencaci Arsenal. Saya akan berkata bahwa mereka memang lemah, calon degradasi, dan mereka memang pantas menerima kekalahan itu. Setidaknya, itu membuat saya merasa lebih baik. Tapi, itu berarti saat itu saya tidak ada di pihak Arsenal, yang notabene adalah klub favorit saya.

Ada persamaan di antara kedua respon di atas. Persamaannya adalah, hati saya sama-sama panasnya…

Hari ini, hal itu benar-benar terjadi. Bisa dikatakan terparah dari yang pernah ada. Lalu bagaimana respon saya kali ini? Puji Tuhan, kali ini saya bersyukur karena saya dapat menemui beberapa hal positif yang hanya akan muncul karena score ini terjadi. Apa saja itu?

Baca Lanjutannya…

Apa Gunanya Penyakit ?

Sepanjang hidup saya, sudah begitu banyak penyakit yang pernah saya derita… Mulai dari bentol karena digigit nyamuk, atau penyakit flu yang begitu banyak merebak di musim hujan, sampai penyakit yang mengharuskan saya dirawat di rumah sakit, seperti demam berdarah yang membuat saya tidak masuk sekolah selama sebulan saat saya masih SMP.

Yang paling baru saya alami adalah sakit mata. Ini terjadi minggu lalu. Ketika saya bangun tidur, saya merasa mata saya begitu perih dan gatal, dan membuat saya tidak tahan untuk tidak menguceknya. Tindakan yang membuat mata saya menjadi merah dan semakin merah. Akhirnya, saya membatalkan rencana-rencana saya hari itu, dan memutuskan untuk beristirahat di rumah.

Saya pikir saya hanya terlalu capek, karena memang sudah beberapa hari terakhir saya kurang tidur. Maka hari itu saya tidur siang, berharap ketika saya bangun, mata saya telah pulih. Tidak berhasil. Setelah saya bangun 3 jam kemudian, bukannya pulih, mata saya malah bertambah sakit.

Baca Lanjutannya…

Merasa Cukup & Keinginan Bertumbuh: Bagaimana Keduanya Disatukan? (1)

Izinkan saya memulai tulisan saya kali ini dengan sebuah kisah yang saya temukan di Internet. Beberapa dari Anda mungkin sudah pernah membaca kisah ini. Jika Anda sudah pernah membaca kisah ini, Anda bisa melanjutkan ke analisis saya mengenai kisah ini. Oke, berikut adalah kisahnya.

Suatu hari, seorang pedagang kaya datang berlibur ke sebuah pulau yang masih asri. Saat merasa bosan, dia berjalan-jalan keluar dari vila tempat dia menginap dan menyusuri tepian pantai. Terlihat di sebuah dinding karang seseorang sedang memancing. Dia menghampiri sambil menyapa, "Sedang memancing ya pak?"

Sambil menoleh si nelayan menjawab, "Benar tuan. Mancing satu-dua ikan untuk makan malam keluarga kami."

"Kenapa cuma satu-dua ikan, Pak? Kan banyak ikan di laut ini, kalau Bapak mau sedikit lebih lama duduk di sini, tiga-empat ekor ikan pasti dapat kan?"

Kata si pedagang yang menilai si nelayan sebagai orang malas. "Apa gunanya buat saya ?" tanya si nelayan keheranan.

"Satu-dua ekor disantap keluarga Bapak, sisanya kan bisa dijual. Hasil penjualan ikan bisa ditabung untuk membeli alat pancing lagi sehingga hasil pancingan Bapak bisa lebih banyak lagi," katanya menggurui.

"Apa gunanya bagi saya?" tanya si nelayan semakin keheranan.

"Begini. Dengan uang tabungan yang lebih banyak, Bapak bisa membeli jala. Bila hasil tangkapan ikan semakin banyak, uang yang dihasilkan juga lebih banyak, Bapak bisa saja membeli sebuah perahu. Dari satu perahu bisa bertambah menjadi armada penangkapan ikan. Bapak bisa memiliki perusahaan sendiri. Suatu hari Bapak akan menjadi seorang nelayan yang kaya raya."

Nelayan yang sederhana itu memandang si turis dengan penuh tanda tanya dan kebingungan. Dia berpikir, laut dan tanah telah menyediakan banyak makanan bagi dia dan keluarganya, mengapa harus dihabiskan untuk mendapatkan uang? Mengapa dia ingin merampas kekayaan alam sebanyak-banyaknya untuk dijual kembali? Sungguh tidak masuk di akal ide yang ditawarkan kepadanya.

Sebaliknya, merasa hebat dengan ide bisnisnya si pedagang kembali meyakinkan, "Kalau Bapak mengikuti saran saya, Bapak akan menjadi kaya dan bisa memiliki apa pun yang Bapak mau."

"Apa yang bisa saya lakukan bila saya memiliki banyak uang?" tanya si nelayan.

"Bapak bisa melakukan hal yang sama seperti saya lakukan, setiap tahun bisa berlibur, mengunjungi pulau seperti ini, duduk di dinding pantai sambil memancing."

"Lho, bukankan hal itu yang setiap hari saya lakukan Tuan. Kenapa harus menunggu berlibur baru memancing?" kata si nelayan menggeleng-gelengkan kepalanya semakin heran.

Mendengar jawaban si nelayan, si pedagang seperti tersentak kesadarannya bahwa untuk menikmati memancing ternyata tidak harus menunggu kaya raya.

Kisah ini diceritakan kembali oleh motivator Andrie Wongso di sini. Berikut adalah analisis yang diberikan Andrie Wongso mengenai kisah ini.

Baca Lanjutannya…

Seorang Anak Bimbingan Yang Menjadi Berkat Untuk Saya

Sebuah Berita Mengejutkan Di Pagi Hari

“Ko, kayanya nanti saya ga kaer (kebaktian remaja) dan pembinaan deh… Rumah saya kebakaran!”

SMS itu masuk ke dalam inbox handphone saya pada hari Minggu kemarin, 25 Juli 2010 Pk 03:21 dini hari. Pengirimnya? Kurniawan, seorang anak bimbingan saya di gereja.

Saya baru membaca SMS itu ketika saya bangun jam setengah 6 pagi. Hampir saja saya menjatuhkan handphone saya saat membacanya. Saya langsung mencoba menghubungi dia.

Sia-sia. Handphone-nya tidak aktif. Saya malah menjadi bertambah khawatir. “Oh Tuhan, apa yang terjadi dengannya?”

Saya sungguh bergumul saat itu. Pagi itu, saya ada janji pergi dengan teman saya. Tapi, saya tidak akan mungkin dapat meninggalkan anak bimbingan saya dalam keadaan yang belum jelas dan sangat membuat saya khawatir. (Sebenarnya saya malu mengakui bahwa awalnya saya masih ragu-ragu untuk membantu anak bimbingan saya sendiri, tapi saya ingin bercerita dengan jujur). Kebingungan saya terjawab beberapa menit kemudian di kamar mandi saya.

Saya sedang mandi ketika saya bertanya kepada Tuhan di dalam hati saya, “Tuhan? Apa yang harus saya lakukan?” Dan saya percaya, Tuhan menjawabnya ketika ada sebuah suara yang saya rasakan sangat jelas di dalam hati saya: “Datanglah ke sana…”.

“Tapi Tuhan, apa yang bisa saya lakukan di sana?” Saya tidak pernah membantu orang yang mengalami musibah kebakaran sebelumnya. Meskipun di satu sisi saya sangat ingin membantu, di sisi lain saya merasa bingung dan tidak nyaman.

Semua keraguan saya sirna ketika suara itu bergema lagi di dalam hati saya: “Datanglah ke sana… Aku ingin menunjukkan sesuatu yang besar kepadamu.”

Singkat cerita, akhirnya saya membatalkan janji dengan teman saya. Dan saya pergi, ke lokasi kebakaran itu. Saat itu, saya sama sekali tidak tahu, bahwa Tuhan akan memberi saya berkat yang melimpah di sana.

Baca Lanjutannya…

Humor: Warisan Beruntun

Agus bertemu dengan Budi, sahabatnya. Namun anehnya Budi memperlihatkan wajah murung. Wajahnya seperti diselimuti oleh mendung, padahal hari itu cerah.

Agus: "Kenapa lu Bud, kok kayaknya sedih banget?"
Budi: "Begini Gus, tiga minggu yang lalu Om gua meninggal dunia, gua dapet warisan 100 juta rupiah"

Agus: "Lha, bagus, dong!"
Budi: "Bagus apaan? Denger dulu cerita gua. Nah, dua minggu yang lalu salah seorang sepupu gua meninggal karena tabrakan. Gua dapet warisan motor
Harley-nya"

Agus: "Enak banget nasib lu!"
Budi: "Terus, minggu lalu kakek gua meninggal dunia, gua dapet warisan 500 juta rupiah dan sebuah rumah di Pondok Indah"

Agus: "Gile benerrrr!!! Lantas ngapain lu kelihatannya sedih banget hari ini?"
Budi: "Soalnya minggu ini belum ada lagi yang meninggal

Moral: Kunci dari kebahagiaan bukanlah seberapa banyak harta yang kita miliki. Kita akan bahagia ketika kita dapat mensyukuri apa yang kita miliki. 😀

Rumput Tetangga Mungkin Lebih Hijau, Tapi Buah Kebun Kita Lebih Manis

Suatu siang di daerah Tanjung Duren, saya sedang mengendarai mobil. Jalan cukup macet saat itu, meski masih bergerak. Mobil saya ada di jalur tengah. Saya melihat ke jalur di sebelah kiri saya. Entah hanya perasaan atau bukan, saya merasa jalur di sebelah kiri saya lebih lancar. Mobil-mobil yang ada di sebelah saya melaju lebih cepat. Saya jadi ingat sebuah pepatah, “Rumput tetangga terlihat lebih hijau dari rumput di kebun kita sendiri”. Saya pun berinisiatif untuk berpindah jalur ke jalur di sebelah kiri saya.

Ternyata berpindah jalur tidak semudah yang saya bayangkan. Mobil-mobil yang ada di jalur kiri tentu tidak membiarkan begitu saja jalannya diambil oleh mobil saya. Di sini berlaku, siapa yang lebih cepat dan lebih tinggi skill-nya, dia yang akan mendapatkan jalan. Alhasil, setelah beberapa detik berusaha, saya masih belum berhasil berpindah jalur. Lalu, saya kaget ketika mendengar bunyi klakson mobil di belakang saya. Saya melihat ke depan, dan ternyata mobil di depan saya sudah berada jauh di depan saya, dan tercipta ruang kosong yang cukup banyak di jalur saya. Saya begitu terobsesi pada jalur sebelah saya sampai saya tidak memperhatikan jalur saya sendiri. Akhirnya saya mengurungkan niat saya untuk berpindah jalur dan meneruskan perjalanan pada jalur saya.

Baca Lanjutannya…

Humor: Surat Penyesalan untuk Ayah

Sang Ayah mendapati kamar itu sudah rapi, dengan selembar amplop bertuliskan “Untuk ayah” di atas kasurnya. Perlahan dia mulai membuka surat itu…

Ayah tercinta,

Aku menulis surat ini dengan perasaan sedih dan sangat menyesal. Saat ayah membaca surat ini, aku telah pergi meninggalkan rumah. Aku pergi bersama kekasihku, dia cowok yang baik.

Setelah bertemu dia, ayah juga pasti akan setuju. Meski dengan tatto2 dan piercing yang melekat ditubuhnya, juga dengan motor bututnya serta rambut gondrongnya.

Dia sudah cukup dewasa meskipun belum begitu tua (aq pikir jaman sekarang 42 tahun tidaklah terlalu tua). Dia sangat baik terhadapku, lebih lagi dy ayah dari anak di kandunganku saat ini. Dia memintaku untuk membiarkan anak ini lahir dan kita akan membesarkannya bersama.

Kami akan tinggal berpindah-pindah, dia punya bisnis perdagangan extacy yang sangat luas, dia juga telah meyakinkanku bahwa marijuana itu tidak begitu buruk.

Kami akan tinggal bersama sampai maut memisahkan kami. Para ahli pengobatan pasti akan menemukan obat untuk AIDS jadi dy bisa segera sembuh.

Aq tahu dia juga punya cewek lain tapi aq percaya dia akan setia padaku dengan cara yang berbeda.

Ayah.. jangan khawatirkan keadaanku. Aku sudah 15 tahun sekarang, aku bisa menjaga diriku. Salam sayang untuk kalian semua.

Oh iya, berikan bonekaku untuk adik, dia sangat menginginkannya.

Masih dengan perasaan terguncang dan tangan gemetaran, sang ayah membaca lembar kedua surat dari putri tercintanya itu… Baca Lanjutannya…

%d blogger menyukai ini: