Arsip | Pemikiran RSS for this section

Untuk Apa Hidup Kalau Nanti Mati Juga?

Siang ini, ketika sedang pergi ke Pasar Baru, saya melewati sebuah toko handphone dan melihat salah seorang pegawai toko itu sedang sibuk melakban sebuah paket yang sepertinya akan segera dikirimkan. Paket itu telah dibungkus dengan bubble wrap sebelumnya, dan selanjutnya dilakban berulang kali.

Tiba-tiba, sebuah pertanyaan iseng terlontar di pikiran saya, “Bukankah nanti sang penerima paket itu akan membuka paket itu juga. Pada akhirnya, bubble wrap dan lakban itu akan dirusak dan dibuang juga. Lantas apa gunanya pegawai itu susah-payah membungkus paket itu dengan bubble wrap dan berlapis-lapis lakban?”

Saya tahu, ini adalah sebuah pertanyaan yang konyol yang sudah jelas jawabannya: Bubble wrap dan lakban itu dipakai dengan tujuan untuk menjaga isi paket tersebut agar sampai dengan baik di tangan si penerima. Pada dasarnya, yang berharga adalah isi paket tersebut. Bubble wrap dan lakban itu sendiri tidaklah berharga. Namun, “tugas yang ditunaikan” oleh bubble wrap dan lakban itu untuk menjaga isi paket itu membuat peran mereka menjadi sangat penting.

Saya sering mendapatkan kiriman paket buku. Paket itu dibungkus dengan begitu rapi dengan amplop dan lakban berlapis-lapis. Ketika saya menerima paket itu, yang saya lakukan adalah merobek lakban dan amplop yang membungkusnya, dan juga plastik yang melapisi buku baru tersebut. Kemudian, saya hanya akan memperhatikan buku baru saya. Amplop, lakban, dan plastik yang telah berjasa besar untuk menjaga buku saya tetap dalam keadaan baik akhirnya akan berakhir di tempat sampah tanpa sempat menerima ucapan terima kasih dari saya. Namun, meskipun mereka pada akhirnya berakhir di tempat sampah, mereka bukanlah sampah yang tidak berguna. Mereka telah berguna pada waktunya, menjaga buku saya selama perjalanan, dan mereka telah menjalankan tujuan sang pencipta ketika menciptakan mereka. Yang terpenting bukanlah keberadaan diri mereka, tapi bagaimana mereka dengan setia memenuhi tujuan dari mereka diciptakan.

Justru, jika amplop, lakban, dan plastik itu menolak untuk dihancurkan, saya takkan bisa membaca buku saya. Ketika paket buku itu telah saya terima dengan baik, tugas amplop, lakban, dan plastik itu telah selesai. Dan untuk memenuhi tujuan mereka diciptakan, pada akhirnya, mereka harus merelakan diri mereka dihancurkan. Diri mereka yang hancur bukanlah sebuah kesedihan, tapi menjadi sebuah rasa syukur karena mereka telah menunaikan tugas dan tujuan mereka dengan baik.

Perenungan singkat ini mengingatkan saya akan keberadaan diri kita sebagai manusia. Setiap manusia pada akhirnya juga akan mati dan kembali menjadi debu, sama seperti bubble wrap dan lakban yang pada akhirnya akan berakhir di tempat sampah. Nilai dari seorang manusia ditentukan bukanlah dari keberadaan diri mereka, tapi dari kesetiaan mereka melakukan tujuan yang telah ditetapkan Sang Pencipta ketika menciptakan mereka.

Bubble wrap dan lakban ada bukan untuk diri mereka sendiri, tapi untuk menjaga benda lain yang lebih berharga. Bukan karena mereka kurang berharga, tapi karena itulah tujuan mereka diciptakan. Begitu pula dengan kita. Kita diciptakan Sang Pencipta bukan untuk diri kita sendiri, tapi untuk memenuhi tujuan yang telah diberikan Sang Pencipta bagi setiap diri kita, untuk membawa kemuliaan bagi Dia. Dialah pusat daripada segalanya, dan kita ada dari Dia dan untuk Dia.

Saya percaya, setiap dari kita diciptakan dengan tujuan yang unik, sesuai dengan kerinduan, kemampuan, dan talenta yang unik yang telah Tuhan berikan bagi setiap kita. Marilah kita menjadi berkat bagi dunia ini dengan mengerjakan dengan setia tujuan yang telah Tuhan berikan di dalam hidup kita. Itulah sebuah hidup yang berharga.

Jadi, untuk apa hidup kalau nanti mati juga? Saya percaya jawabannya adalah ini: untuk memenuhi tujuan Sang Pencipta ketika menciptakan diri kita.

What Does Matter More Than A Good Result?

Few years back, I got an idea to develop a computer application. I was excited about the project, and so I started right away. I enjoyed the coding, the design processes, and also learned some new things along the way. Until it was finished and I shared my idea and my works with others.

What’s their response? They thought that my idea was not good and couldn’t be used. Though there was a slight disappointment, it wasn’t really a matter for me. After all, it was not a waste, because I enjoyed the process, and I learned a lot from the process.

Later on, the lessons that I learned from that failed project enabled me to develop other applications that really work.

If you enjoy the process, you won’t care much about the result. The good result is just like a bonus for you. What really matters is what you have learned along the way.

Bersyukur Karena Dimaki Pengendara Motor

Dua hari terakhir ini, ketika sedang berkendara, saya dimaki oleh dua pengendara motor yang berbeda.

Yang pertama terjadi kemarin, ketika saya melewati sebuah jalan dua arah yang padat dari arah sebaliknya, membuat saya lebih berhati-hati dan mengendarai mobil saya dengan perlahan. Tampaknya sang pengendara motor di belakang saya tidak sabar dan membunyikan klakson berulang kali, dan ketika ada kesempatan menyalip mobil saya, kata makian yang saya pun tidak dengar dengan jelas itu terlontar dari mulutnya sebelum dia memacu motornya dengan kecepatan tinggi dan menghilang dari pandangan saya.

Kejadian yang kedua terjadi malam ini, ketika saya sedang mengendarai mobil di sebuah jalan satu lajur, dan ada gerobak yang membuat saya menurunkan kecepatan saya secara cukup tiba-tiba. Tampaknya motor di belakang saya kaget karena perubahan kecepatan itu dan kembali membunyikan klakson. Ketika saya sudah sampai di jalan yang lebih lebar, motor tersebut melewati mobil saya dan saya pun dapat “hadiah” kata-kata keras yang saya pun tidak dengar dengan jelas.

Perasaan saya menjadi tidak enak ketika untuk kedua kalinya dalam dua hari saya dimaki oleh dua pengendara motor yang berbeda. Namun, tiba-tiba sebuah pencerahan terlintas di pikiran saya, “Wah, masih bagus si pengendara motor masih cukup sehat untuk memaki saya. Bayangkan kalau si pengendara motor itu menabrak mobil saya dan terluka. Dia terluka, mobil saya penyok, dan saya kena masalah yang lebih besar.”

Tiba-tiba, makian itu menjadi suatu hal yang dapat disyukuri. Bersyukur karena si pengendara motor masih cukup sehat untuk memaki saya. Hanya satu hal yang saya khawatirkan, apabila kedua pengendara motor itu menyimpan rasa kesalnya dan itu membuat mereka tidak berkonsentrasi dalam berkendara. Ah, semoga kiranya mereka semua dapat tiba dengan selamat sampai tujuan.

Dunia ini memang lucu. Kadang orang yang memaki yang perlu lebih dikasihani daripada orang yang dimaki.

Kejadiannya Mungkin Saja Lebih Buruk

Sore ini, ketika saya sedang mengendarai mobil dan berbelok di sebuah tikungan, mobil saya membentur trotoar jalan dan bunyinya cukup keras. Saya yakin pasti ada bagian mobil saya yang rusak karena benturan tersebut.

Kemudian, sambil terus melaju, saya mulai memikirkan kerusakan apa yang mungkin terjadi pada mobil saya, dan saya mulai menyesal kurang berhati-hati dalam menikung tadi. Saya berpikir, seharusnya saya bisa menikung dengan lebih baik.

Hanya selang beberapa detik sejak pikiran-pikiran negatif itu muncul, saya bersyukur ada pikiran-pikiran lain yang melintas di benak saya.

“Untunglah saya hanya menabrak trotoar dan tidak menabrak orang. Kejadiannya mungkin saja lebih buruk!

“Untunglah mobil saya masih bisa tetap berjalan dengan normal dan tidak menjadi mogok. Kejadiannya mungkin saja lebih buruk!

“Untunglah saya sama sekali tidak terluka. Kejadiannya mungkin saja lebih buruk!

Dan, ketika pikiran-pikiran itu mulai mengambil alih, saya mulai bisa menenangkan diri dan mulai bersyukur. Ya, bersyukur saya hanya menabrak trotoar dan bukan menabrak orang. Bersyukur mobil saya masih bisa berjalan dan tidak mogok. Bersyukur saya sama sekali tidak terluka. Sebenarnya kejadiannya mungkin saja lebih buruk. Tapi syukurlah, itu tidak terjadi.

Kini, peristiwa itu tidak lagi menjadi peristiwa buruk, tapi menjadi sebuah peristiwa berharga. Pertama, saya mendapatkan pelajaran untuk lebih berhati-hati dalam menikung. Kedua, saya dapat mensyukuri saya tidak menabrak orang, mobil saya tidak mogok, dan saya selamat sampai tujuan. Hal-hal yang jarang saya syukuri tanpa adanya kejadian seperti ini.

Jadi, setiap kali kita mengalami peristiwa buruk, katakanlah pada diri kita sendiri, “Kejadiannya mungkin saja lebih buruk!” Pikirkanlah kemungkinan-kemungkinan lebih buruk yang mungkin saja terjadi tetapi itu tidak terjadi, dan syukurilah bahwa hal itu tidak terjadi. Maka niscaya kita akan mengubah peristiwa buruk tersebut menjadi sebuah peristiwa berharga, yang menjadikan kita seorang yang lebih baik.

Rasa Sakit Terbesar

Apabila saya bertanya kepada Anda, “Menurut Anda, rasa sakit yang terbesar itu seperti apa sih?”, apakah yang akan menjadi jawaban Anda?

Dulu sekali, waktu saya baru mulai imut-imut (karena sekarang lebih imut-imut, hehe, mohon maaf kalau saya terlalu jujur), saya pikir rasa sakit yang terbesar itu adalah “sakit perut waktu lagi di jalan”.

Ya, saya sempat mengalami sakitnya menahan diri untuk tidak mencret di tengah rasa sakit perut yang luar biasa, di tengah perjalanan bersama beberapa teman. Tepat saat itu, impian terbesar saya adalah menemukan toilet terdekat dan “melepaskan” semuanya.

Sungguh tidak enak rasanya sakit perut sampai saya sempat mengatakan saat itu, “tiada yang lebih sengsara daripada sakit perut”. Untung zaman itu kata lebay belum ditemukan, kalau tidak saya pasti sudah dibilang lebay setengah mati.

Seiring berjalannya waktu, pendapat saya pun mulai berubah. Saya sempat sampai pada sebuah pernyataan “rasa sakit terbesar adalah ketika kita telah berkorban tetapi malah dicaci maki karena apa yang kita lakukan ternyata adalah suatu hal yang tidak diharapkan”.

Baca Lanjutannya…

Kenapa Kesalahpahaman Sering Terjadi?

Saya akan mengawali tulisan ini dengan tiga buah teka-teki. Cobalah Anda cari jawaban yang logis dari ketiga pertanyaan teka-teki berikut. Sudah siap? Oke, mari kita mulai.

Pertanyaan pertama: Seorang saudara si tukang kayu meninggal dunia dan mewariskan warisan senilai satu milyar Rupiah kepada saudara laki-laki satu-satunya. Namun, si tukang kayu tidak pernah menerima warisan sedikit pun meskipun warisan itu sah. Mengapa itu bisa terjadi?

Pertanyaan kedua: Adalah seorang anak laki-laki yang mempunyai kebiasaan aneh, yaitu mengulangi setiap suara yang didengarnya. Suatu hari, ayah anak tersebut berkata, “Nak, ayo kita makan malam bareng…”, tapi anak laki-laki tersebut tidak berkata apa-apa. Mengapa bisa begitu?

Pertanyaan ketiga: Seorang gadis yang baru bisa menyetir melalui sebuah jalan raya dengan arah yang salah (melawan arus), padahal jalan tersebut adalah jalan satu arah. Tapi, dia tidak melanggar hukum. Bagaimana bisa?

Oke, apakah Anda sudah mendapatkan jawaban ketiga pertanyaan tersebut? Sedikit bocoran, jawaban ketiga pertanyaan di atas sebenarnya sangat sederhana, namun beberapa orang sulit untuk melihatnya karena alasan yang akan saya jelaskan nanti dalam tulisan ini. Saat ini, marilah kita cocokkan dahulu jawaban Anda dengan jawaban saya…

Baca Lanjutannya…

Pertanyaan-Pertanyaan Refleksi Diri

Ada banyak pertanyaan yang ada di dunia ini. Beberapa di antaranya merupakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak biasa kita jumpai, yang membawa kita pada sebuah refleksi diri yang mungkin dapat mengubah sudut pandang kita dalam kehidupan.

Berikut adalah contoh pertanyaan-pertanyaan refleksi yang saya pikirkan. Anda bisa mencoba menjawab setiap pertanyaan tersebut dalam hati Anda, dan saya pun akan sangat senang jika Anda mau membagikan beberapa jawaban Anda dalam kolom komentar di setiap halaman pertanyaan tersebut.

Inilah pertanyaan-pertanyaan refleksi itu… (klik setiap pertanyaan untuk masuk ke setiap halaman pertanyaan) Baca Lanjutannya…

Ketika Milik Orang Lain Terlihat Lebih Baik

Bagaimana kau bisa memiliki yang kau inginkan jika kau hanya inginkan semua yang tak kau miliki?

Quote di atas saya temukan dalam sebuah komik. Ya, Anda tidak salah baca: sebuah komik. Komik yang cukup terkanal, komik Paman Gober (atau Donal Bebek).

Diceritakan dalam kisah itu, Gober sedang bertarung dengan rivalnya, Roker, tentang siapa bebek terkaya di dunia (bagi yang tidak tahu, Gober dan Roker adalah 2 bebek terkaya di dalam cerita Donal Bebek). Mereka mulai bertarung dengan saling mengambil alih perusahaan-perusahaan lawan mereka. Satu demi satu perusahaan Roker diambil alih Gober dan sebaliknya. Semuanya tentu penuh dengan sabotase.

Hingga akhirnya, semua perusahaan yang awalnya dimiliki Roker, kini dimiliki Gober. Dan sebaliknya, semua perusahaan yang awalnya dimiliki Gober, kini dimiliki Roker. Sebagai akibatnya, mereka berdua harus bertukar kantor.

Roker harus pindah ke gudang uang Gober, dan Gober pindah ke kantor mewah Roker. Seolah seperti mereka telah mendapatkan semua yang mereka inginkan. Tapi, hal yang ironis adalah…

Keduanya tidak bahagia.

Roker mencoba mandi uang dalam gudang uang Gober, dan berakhir dengan tubuh yang kedinginan. Dia tak dapat mengerti bagaimana mungkin Gober bisa senang mandi uang di dalam gudang uang itu.

Gober pun setali tiga uang. Dia sama sekali tidak biasa dengan kursi yang menurutnya terlalu empuk, dan kantor yang kurang cahaya matahari. Terlebih, kantin kantor itu hanya menyediakan menu keju, ya, menu favorit Roker yang tidak disukai Gober.

Keduanya adalah bebek terkaya di dunia, dan keduanya merana. Mereka sama sekali tidak bahagia di tengah kekayaan dan ambisi yang sempat mereka kejar habis-habisan, dan kini telah mereka capai.

Di titik inilah, Kwik, Kwek, dan Kwak, ketiga keponakan Gober, dengan bijak mengatakan quote di atas: “Bagaimana kau bisa memiliki yang kau inginkan jika kau hanya inginkan semua yang tak kau miliki?”

Quote ini membuat saya berpikir

Baca Lanjutannya…

Kemenangan dan Kekalahan Semu

Saya akan mengajak Anda membayangkan dua skenario.

Di skenario pertama, andaikan Anto bertarung dengan Badu. Di akhir pertarungan, Anto rugi 10 juta dan Badu rugi 20 juta. Pertanyaan: Siapakah yang menang?

Apakah Anda menjawab Anto yang menang? Jika ya, Anda salah. Anto hanya mengalami “kemenangan semu” saja. Jawaban yang tepat: Dua-duanya kalah karena dua-duanya rugi.

Kini, mari andaikan skenario yang lain. Chandra bertarung dengan Denny. Di akhir pertarungan, Chandra untung 10 juta dan Denny untung 20 juta. Pertanyaan: Siapakah yang kalah?

Kebanyakan orang akan berkata, “Si Chandra dong yang kalah, kan untungnya lebih sedikit…”

Namun sesungguhnya, Chandra hanyalah mengalami “kekalahan semu”, karena faktanya, dua-duanya menang karena dua-duanya untung.

Apakah ada yang masih bingung atau tidak setuju? Kalau begitu, cobalah hal berikut…

Baca Lanjutannya…

Berani Itu Baik atau Buruk?

Berani. Menurutmu, “berani” adalah kata yang positif atau kata yang negatif?

Dahulu sekali, ketika saya masih kecil, saya melihat kata “berani” sangat identik dengan pahlawan (terutama di pelajaran sejarah). Saya diajarkan bahwa warna bendera Indonesia itu merah-putih, warna merahnya berarti berani. Saya didorong untuk memiliki keberanian untuk bertemu orang-orang. Kata “berani” identik dengan hal-hal yang positif, dan saya dididik untuk menjadi “seorang yang berani”.

Semakin saya beranjak dewasa, saya melihat ada beberapa orang menggunakan kata “berani” ini untuk memanipulasi orang-orang, terutama orang-orang yang belum dewasa. Contohnya?

Kata “berani” digunakan untuk memberikan tekanan kelompok. Bayangkan sebuah kelompok yang terdiri dari 5 orang, 4 orang di antaranya merokok dan 1 orang tidak. Tahukah kamu salah satu kalimat yang paling berhasil untuk menjerumuskan 1 orang ini juga untuk ikut merokok? Saya rasa kalimat itu bukanlah “Cobain nih rokok, enak loh…”, tapi kalimat berikut…

Baca Lanjutannya…

%d blogger menyukai ini: