Tag Archive | berubah

Kesalahan yang Membawa Berkah

Saya yakin, setiap dari kita pasti pernah berbuat salah, entah disengaja atau tidak disengaja. Tidak sedikit pula yang akhirnya menyesali kesalahannya terus-menerus. Kesalahan itu membawa malapetaka bagi mereka. Namun, jika kita tahu caranya, ternyata kita bisa membalikkan kesalahan yang seharusnya membawa malapetaka bagi kita, menjadi berkah untuk kita. Setidaknya, itu yang saya dapatkan dari kisah yang saya alami berikut.

Kisah ini terjadi hari Minggu lalu, ketika saya dan keluarga makan malam bersama di Pizza Hut Pluit Village. Seperti biasa, sang waiter memberikan daftar menu, dan mencatat pesanan kami. Sebelum dia pergi, dia berkata “Baik Pak… Menunya bisa saya ambil ya Pak? Pizzanya ditunggu 15 menit. Terima kasih.” Kata-kata itu mungkin tidak asing bagi Anda yang sering makan di Pizza Hut. Tampaknya, itu sudah menjadi suatu standar pelayanan Pizza Hut, agar waiter berkata-kata seperti itu, dan menjanjikan pizza yang dipesan akan datang dalam waktu 15 menit.

Kami pun menunggu… 10 menit kemudian, salah satu pesanan kami, yaitu Spaghetti, datang. Spaghetti pun saya lahap sembari menunggu pizza yang belum datang. Waktu terus berlalu, 5 menit, 10 menit, hingga 15 menit kemudian, ketika Spaghetti telah habis saya lahap, ternyata pizza yang kami pesan belum kunjung tiba. Ini berarti sudah terlambat lebih dari 10 menit dari waktu yang dijanjikan sebelumnya.

Saat itu, yang ada di pikiran saya adalah “Wah, kok pelayanan mereka ke customer kaya gini ya?”, “Wah, mereka melanggar janji”, “Wah, mereka sudah melakukan kesalahan…”, “Wah, kalau pelayanan mereka begini, mereka bisa kehilangan customer mereka.” dan lain sebagainya. Intinya, saya menganggap Pizza Hut telah berbuat kesalahan besar dan tidak profesional dengan membiarkan customernya menunggu terlalu lama, lebih dari waktu yang dijanjikan. Kami mulai kesal, dan memanggil sang waiter menanyakan pizza yang kami pesan.

“Mas, mana pizza yang kami pesan? Sudah setengah jam kok belum keluar? Janjinya kan 15 menit…” protes kami.

Baca Lanjutannya…

Iklan

Meninggalkan Bulan untuk Menggapai Bintang

Tuhan mungkin membuat kita tidak nyaman berpijak di bulan agar kita dapat meninggalkan bulan dan menggapai bintang. –Charles Christian

  • Kita mungkin menyangka kita sudah cukup sukses dengan mencapai bulan (karena kita tinggal di bumi), dan merasa bahwa bulan adalah pencapaian yang tertinggi, sehingga kita nyaman dan berhenti ketika sampai di bulan.
  • Tuhan membuat kita tidak nyaman lagi di bulan yang mungkin kita kenal sebagai “surga” untuk menunjukkan kepada kita bahwa ada bintang di atas bulan. Ada hal yang lebih baik daripada apa yang kita anggap “surga”. Tuhan menawarkan kepada kita sukacita penuh dengan kehadiran-Nya.
  • Saat kita tidak nyaman lagi berpijak di bulan, kita mempunyai dua pilihan. Kita bisa tetap bersikeras tinggal di bulan meskipun tidak nyaman, atau kita akan meninggalkan bulan. Jika kita bersikeras tinggal di bulan, kita akan merasakan ada suatu hal yang hampa dalam hidup kita seperti rasa tidak nyaman kita di bulan.
  • Kalau kita memutuskan untuk pergi dari bulan, ada dua kemungkinan yang dapat terjadi. Kita dapat semakin mendekati bintang atau semakin menjauhi bintang. Apakah kita semakin mendekati atau menjauhi, itu tergantung apakah kita taat dan mengikuti Tuhan yang menunjukkan jalan kepada bintang itu kepada kita? Tuhan sudah menunjukkan jalannya melalui Firman-Nya. Tugas kita adalah mencarinya dan berjalan di jalan yang sudah ditunjukkan Tuhan. Maka, kita pasti akan menggapai bintang itu pada akhirnya.
  • Ketika kita sudah menggapai bintang, kita akan melihat betapa bodohnya kita dahulu yang merasa nyaman berada di bulan. Kita akan menyadari bahwa bintang adalah jauh lebih baik daripada bulan, dan kita akan mendapat sukacita sejati, yang tidak kita dapatkan ketika kita ada di bulan. Tuhan akan menyambut kita di bintang tersebut.

Baca Lanjutannya…

Bagaimana Cara Mengubah Orang Lain

Sepanjang hidup kita, pasti ada orang-orang di sekitar kita yang kita harapkan untuk berubah. Namun, tidak jarang orang tersebut tidak kunjung berubah dan malah kita yang menjadi frustrasi. Pernah mengalaminya?

Saya tertarik dengan sebuah kisah yang ditulis di dalam sebuah buku yang saya baca. Kisah ini menceritakan bagaimana seorang pangeran yang gila dapat diubahkan dan disembuhkan dari kegilaannya. Berikut adalah kisahnya.

Seorang pangeran pernah menjadi gila dan berpikir dia adalah seekor kalkun. Dia terdorong untuk duduk telanjang di bawah meja, mematuki tulang-belulang dan remahan roti seperti seekor kalkun. Para tabib istana sudah angkat tangan untuk dapat menyembuhkan dia dari penyakit gila ini, dan sang raja menjadi sangat sedih.

Seorang bijak datang dan berkata, “Aku akan berusaha menyembuhkannya.”

Lalu, orang bijak itu melepas pakaiannya dan duduk telanjang di bawah meja di dekat sang pangeran, mematuki remah-remah dan tulang-belulang.

“Siapa kamu?” tanya pangeran. “Apa yang kamu lakukan di sini?”

“Aku adalah seekor kalkun,” kata pangeran.

“Aku juga seekor kalkun,” kata orang bijak.

Mereka duduk bersama seperti itu selama beberapa saat, dan akhirnya mereka menjadi teman baik. Suatu hari, orang bijak itu memberi isyarat kepada pelayan raja untuk melemparkan bajunya. Dia berkata kepada pangeran, “Apa yang membuatmu berpikir kalkun tidak bisa memakai baju? Kamu bisa memakai baju dan tetap menjadi seekor kalkun.” Dengan begitu, keduanya memakai baju mereka.

Setelah beberapa saat, orang bijak itu memberi isyarat lagi kepada pelayan, dan mereka melemparkan celana panjang. Lalu, dia berkata kepada pangeran, “Apa yang membuatmu berpikir kamu tidak bisa menjadi seekor kalkun jika kamu memakai celana panjang?”

Orang bijak melanjutkan cara ini sampai keduanya berpakaian lengkap.

Segera dia memberi isyarat lagi, lalu dia dan pangeran diberi makanan seperti biasa di atas meja. Lalu, orang bijak berkata, “Apa yang membuatmu berpikir kamu akan berhenti menjadi kalkun jika kamu makan makanan enak? Kamu bisa makan apa pun yang kauinginkan dan tetap menjadi seekor kalkun!” Mereka berdua lalu memakan hidangan yang disajikan.

Akhirnya, orang bijak berkata, “Apa yang membuatmu berpikir seekor kalkun harus duduk di bawah meja? Kalkun sekalipun bisa duduk di depan meja, dan seekor kalkun dapat juga berjalan ke mana saja dan tidak akan ada yang merasa keberatan.”

Pangeran merenungkan perkataan itu dan menerima pendapat orang bijak itu. Ketika dia beranjak berdiri dan berjalan seperti seorang manusia, dia juga mulai bertingkah laku layaknya manusia.

Sumber: Diceritakan kembali oleh David J. Liebarman, Ph.D. dalam bukunya “Agar Siapa Saja Mau Berubah untuk Anda”

Ada beberapa pelajaran yang saya ambil dari kisah tersebut. Saya belajar bahwa untuk membantu orang lain agar dapat berubah, kita dapat mengaplikasikan hal-hal berikut.

  1. Baca Lanjutannya…

Mengubah Dunia

Ketika saya masih muda dan bebas berimajinasi, saya bermimpi mengubah dunia. Seiring dengan bertambahnya usia dan kebijaksanaan, saya mendapati dunia yang tidak berubah, saya pun menyederhanakan keinginan saya dan memutuskan hanya ingin mengubah negeri saya.

Akan tetapi, tampaknya tak ada yang berubah dengan negeri saya. Usia pun kian senja, usaha terakhir saya adalah berusaha mengubah keluarga, orang-orang terdekat. Akan tetapi, lagi-lagi, mereka tetap sama, tak ada yang berubah.

Baca Lanjutannya…

%d blogger menyukai ini: