Kompromi

Semua orang dapat membuat komitmen, namun tidak semua berhasil memenuhinya.

Tantangan terbesar bukanlah saat kita “membuat komitmen”, tetapi seberapa setia kita dalam “memenuhi komitmen” yang telah kita buat.

Saya merasakannya sendiri, bagaimana “memenuhi sebuah komitmen” tidaklah semudah “membuat komitmen”. Berkali-kali saya gagal memenuhi komitmen yang telah saya tetapkan.

Tiga tahun yang lalu, saya sempat membuat sebuah komitmen untuk update blog setiap hari jam 6 pagi, yang kemudian saya longgarkan menjadi update blog seminggu sekali, setiap hari Rabu jam 6 pagi. Saya bahkan membuat ini menjadi sebuah “public commitment“.

Selama dua bulan pertama (Januari – Februari 2010), saya berhasil menjalankan komitmen saya untuk “update blog setiap hari”. Selanjutnya, kesibukan membuat saya mengubah komitmen saya dari “update blog setiap hari” menjadi “update blog seminggu sekali”. Dan komitmen ini hanya berhasil saya jalankan selama 10 bulan berikutnya sampai dengan bulan Desember 2010.

Bahkan, sebelum tulisan ini terbit, terakhir kali saya update blog saya ini sekitar 4 bulan yang lalu! Ini adalah salah satu contoh kegagalan memenuhi komitmen yang telah saya buat.

Hal ini membuat saya berpikir dan bertanya-tanya, faktor apa yang membuat saya gagal dalam memenuhi sebuah komitmen? Setelah sekian lama merenungkan, saya menemukan jawabannya yang ternyata sangat singkat, hanya 1 kata. Yang membuat saya gagal dalam memenuhi sebuah komitmen adalah satu hal ini: KOMPROMI.

Saya ingat saat-saat saya “update blog setiap minggu” di tahun 2010. Saya ingat bagaimana saya begitu memperjuangkan dan memaksa diri saya untuk membuat tulisan baru setiap minggunya.

Saya juga ingat hal yang menggagalkan komitmen saya, ketika saya berkompromi dengan berkata “Ah, minggu ini saya begitu lelah dan banyak kesibukan. Tak ada waktu untuk menulis blog. Tidak update blog satu minggu tak apa-apalah, nanti minggu depan saya update dua tulisan.”

Kompromi yang terdengar sangat masuk akal dan sangat dapat diterima, tetapi itulah awal dari kehancuran komitmen yang saya buat.

Ketika saya menyadari hal ini, saya mulai menelaah komitmen-komitmen yang pernah saya buat. Ada beberapa komitmen yang berhasil saya jalankan selama beberapa tahun sampai hari ini, namun ada juga banyak komitmen yang telah saya tinggalkan. Ketika saya menganalisa komitmen-komitmen yang saya gagal penuhi, saya harus mengakui bahwa semua komitmen tersebut gagal saya penuhi karena kompromi kecil yang saya buat. Berikut adalah lima kompromi yang paling umum saya gunakan:

1. KOMPROMI ‘NANTI SAJA’: “Ah, nanti saja… Sekarang tidur dulu, besok pagi saya akan bangun jam 5 pagi untuk buat tugas ini.” Kompromi klise ini membuat sebuah siklus penundaan yang tidak pernah habisnya seperti yang saya pernah ceritakan di sini.

2. KOMPROMI ‘SEKALI INI SAJA’: “Ah, sekali saja tidak apa-apa.” atau “Ah, sekali ini lagi saja…” (Yang saya tidak sadari, ketika saya mengatakan ‘ah, sekali ini lagi saja’ sebanyak 100 kali, saya sudah melakukan itu 100 kali. Kompromi inilah yang membuat saya gagal update blog saya setiap minggu, karena 2 tahun yang lalu saya berkata, ‘sekali ini saja saya tidak update blog saya.’)

3. KOMPROMI ‘KITA MASIH LEBIH BAIK DARI YANG LAIN’: “Ah, orang lain juga melakukannya, malah ada yang lebih parah. Tidak apa-apa saya lakukan juga, toh saya masih lebih baik dibanding dia.” (Kenyataannya, kita pasti bisa menemukan orang yang lebih buruk dari kita. Menjadi peringkat 29 dari 30 di kelas tidak menjadikan itu baik hanya karena kita lebih baik dari si peringkat 30).

4. KOMPROMI ‘ORANG LAIN PASTI MENGERTI’: “Ah, orang lain pasti mengerti kenapa saya langgar komitmen ini, karena kesibukan dan keluarga saya.” (Ya, orang lain mungkin memahami kegagalan kita, namun tentu akan lebih baik jika kita berhasil).

5. KOMPROMI ‘TIDAK ADA YANG TAHU’: “Ah, tidak ada yang tahu komitmen ini selain saya, saya langgar juga tidak ada yang tahu.” (Orang lain mungkin tidak tahu, namun kita tidak bisa membohongi Tuhan dan diri kita sendiri).

Daftar kompromi ini sangatlah beragam, namun lima kompromi di atas adalah yang paling sering saya jumpai dalam kehidupan saya. Jika Anda punya contoh lain, silakan bagikan melalui kolom komentar di bawah…

Lalu mengapa komitmen kita bisa runtuh hanya karena satu kali kompromi? Ini karena, melakukan kompromi kedua itu dua kali lebih mudah dibandingkan melakukan kompromi pertama, melakukan kompromi ketiga itu dua kali lebih mudah dibandingkan melakukan kompromi kedua, dan begitu seterusnya. Ketika kita telah sekali berkompromi, akan sangat mudah kita melakukan ratusan kompromi berikutnya!

Jadi, bagaimana kita dapat menjalankan komitmen kita dengan setia? Satu jawaban: dengan menghindari kompromi pertama!

“Menghindari kompromi” mungkin bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, namun percayalah, bila kita berhasil melakukannya, ini akan mengubah kehidupan kita menjadi jauh lebih baik.

Hindarilah kompromi. Marilah kita lakukan komitmen kita dengan setia.

Tuhan menyertai kita semua,

Charles Christian

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

4 responses to “Kompromi”

  1. Merlintan says :

    hahhaaaa,, kena banget yahh ko… mantapp..

  2. christine marintan says :

    aku sulit untuk menjalankan komitmen .. jadi aku menghindarinya

  3. Fendi haris says :

    benar banget bahwa komitmen sangatlah mudah untuk dibuat,, nmun sulit untuk memenuhinya,,

  4. yulsicfamily says :

    bantu dong bang
    Yoongie naik kereta dari Seoul ke Busan membutuhkan waktu 1 jam 40
    menit…
    Lalu ?? Jika Yoongie pulang dari Busan ke Seoul membutuhkan waktu
    berapa menit ?
    Asumsi : tak ada angin sepanjang perjalanan.
    Jawabannya : ? (Masukan apa yang lo baca)
    ini jwbn ny APA ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: