Rasa Sakit Terbesar

Apabila saya bertanya kepada Anda, “Menurut Anda, rasa sakit yang terbesar itu seperti apa sih?”, apakah yang akan menjadi jawaban Anda?

Dulu sekali, waktu saya baru mulai imut-imut (karena sekarang lebih imut-imut, hehe, mohon maaf kalau saya terlalu jujur), saya pikir rasa sakit yang terbesar itu adalah “sakit perut waktu lagi di jalan”.

Ya, saya sempat mengalami sakitnya menahan diri untuk tidak mencret di tengah rasa sakit perut yang luar biasa, di tengah perjalanan bersama beberapa teman. Tepat saat itu, impian terbesar saya adalah menemukan toilet terdekat dan “melepaskan” semuanya.

Sungguh tidak enak rasanya sakit perut sampai saya sempat mengatakan saat itu, “tiada yang lebih sengsara daripada sakit perut”. Untung zaman itu kata lebay belum ditemukan, kalau tidak saya pasti sudah dibilang lebay setengah mati.

Seiring berjalannya waktu, pendapat saya pun mulai berubah. Saya sempat sampai pada sebuah pernyataan “rasa sakit terbesar adalah ketika kita telah berkorban tetapi malah dicaci maki karena apa yang kita lakukan ternyata adalah suatu hal yang tidak diharapkan”.

Ini biasa dialami oleh orang yang lagi pacaran. Pernahkah Anda bela-belain menguras kantong dan mengorbankan waktu santai Anda untuk membelikan kado untuk seorang yang Anda kasihi, namun ketika Anda memberikan hadiah itu, hadiah itu malah dilempar balik kepada Anda? Ya, Anda salah membeli barang. Yang Anda beli adalah barang yang ternyata tidak disukai pasangan Anda, dan akhirnya pasangan Anda jadi ngambek. Wah, sakit sekali rasanya, sudah capek-capek berkorban, tetapi yang didapat malah lebih buruk daripada Anda tidak memberikan apa-apa.

Jadi rasanya, tidak terlalu lebay ya, kalau saya katakan rasa sakit terbesar itu adalah “rasa tidak dihargai”? Saya melihat beberapa dari Anda mulai angguk-angguk kepala. Tetapi kembali seiring berjalan waktu, pendapat saya berubah lagi. Dan pendapat saya terus-menerus berubah. Beberapa di antaranya yang saya pernah rasakan, saya sempat berpikir bahwa rasa sakit terbesar itu adalah:

  • Sakit mata karena bintitan yang berkepanjangan selama berbulan-bulan,
  • Kehabisan nafas setelah 10 menit bermain futsal (rasanya ini cuma berlaku untuk saya, karena beberapa orang baru 5 menit sudah kehabisan nafas :P),
  • Sendirian di tengah banyaknya masalah yang mendera bertubi-tubi,
  • Kehilangan handphone,
  • Rasa gatal tapi tidak bisa digaruk,
  • Disakiti oleh orang-orang terdekat,

dan masih banyak lagi. Ini membuat saya berpikir, kenapa pendapat saya tentang rasa sakit terbesar ini terus berubah ya? Ternyata, sesungguhnya, hal-hal di atas semuanya bukanlah rasa sakit terbesar, tetapi hanyalah hal kurang mengenakkan yang pernah terjadi pada saya.

Ketika kita sedang mengalami kesakitan, kecenderungannya adalah kita berpikir bahwa rasa sakit yang kita alami saat ini adalah rasa sakit terbesar yang mungkin terjadi.

Ketika mata saya sakit misalnya, saya merasa lebih baik saya sakit perut daripada sakit mata. Seolah sakit mata lebih menyakitkan daripada sakit perut. Tapi ketika perut saya sakit, saya merasa lebih baik saya sakit mata daripada sakit perut. Seolah kini sakit perut lebih menyakitkan daripada sakit mata.

Tapi dari contoh di atas, kita sebenarnya bisa mengatakan satu kenyataan, rasa sakit yang kita alami saat ini, seberapa pun sakitnya, bukanlah rasa sakit yang terbesar. Kenapa? Sama seperti contoh di atas, di saat kita sakit perut kita setuju bahwa sakit mata lebih baik daripada sakit perut, berarti sakit mata bukanlah rasa sakit terbesar. Dan di saat kita sakit mata kita setuju bahwa sakit perut lebih baik daripada sakit mata, berarti sakit perut bukanlah rasa sakit terbesar. Dengan kata lain, sakit perut dan sakit mata, sama-sama bukan rasa sakit terbesar.

Jika Anda ditanya, mana yang lebih menyakitkan, “sakit hati atau sakit gigi?”, apa jawaban Anda?

Jika Anda menjawab sakit hati lebih sakit daripada sakit gigi, hampir bisa saya pastikan saat ini Anda sedang tidak sakit gigi. Ketika Anda sakit gigi, pendapat Anda mungkin berubah.

Jadi, daripada kita meratapi rasa sakit kita, bukankah lebih baik kita menghibur diri kita bahwa rasa sakit yang kita alami saat ini bukanlah rasa sakit yang terbesar? Masih ada banyak orang yang mengalami rasa sakit yang lebih parah daripada kita, dan bukankah itu berarti kita seharusnya bersyukur daripada meratap?

Dan, di atas segala rasa sakit yang mungkin kita alami saat ini, kita tidak perlu khawatir. Karena Tuhan telah berjanji, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5:7).

Percayalah kepada-Nya, bahwa Tuhan senantiasa memelihara Anda di tengah rasa sakit yang Anda alami, dengan cara-cara yang mungkin tidak pernah Anda duga.

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya.

Sebab Ia yang memelihara kamu.

Tuhan memelihara kita semua,

Charles Christian

Tag:, , ,

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: