Paspor

Pagi hari di hari Senin, tanggal 31 Oktober 2011, saya sedang ada di mobil dalam perjalanan menuju ke bandara. Saya akan pergi ke Singapura selama tiga minggu ke depan. Saya tidak tenang saat itu. Ada sebuah pertanyaan yang terus menerus terlintas di pikiran saya:

“Apakah ada barang yang ketinggalan?”

Meskipun saya sudah semalaman menyiapkan barang-barang yang saya bawa, saya tetap khawatir kalau-kalau ada barang yang saya lupakan. Saya tahu, jika ada barang yang saya lupakan, saya tidak mungkin pulang ke rumah lagi, atau saya akan ketinggalan pesawat.

Saat itu, saya hanya mengecek apakah saya membawa paspor saya. Dan… ada! Saya membawa paspor saya. Saya memutuskan untuk menenangkan diri, karena apapun yang saya lupakan, saya rasa saya masih tetap dapat hidup selama tiga minggu ke depan tanpanya (Ya, saya dapat hidup tanpa bantal kesayangan saya… Ngomong-ngomong, itu hanya bercanda, saya tidak punya bantal kesayangan, meskipun saya sayang bantal :P).

Mengingat akan hal itu membawa saya pada sebuah refleksi hidup. Kalau saya mempersiapkan diri saya begitu rupa sampai-sampai saya memastikan bahwa tidak ada barang yang saya lupa bawa untuk sebuah perjalanan yang hanya tiga minggu lamanya, bagaimana saya mempersiapkan diri saya untuk kekekalan, masa setelah saya meninggal nanti?

Di antara semua barang-barang yang penting yang harus dibawa dalam perjalanan (keluar negeri), yang terpenting adalah paspor. Tanpa paspor, kita tidak akan bisa melakukan perjalanan itu. Itulah kenapa saat itu, yang saya periksa pertama adalah paspor saya. Dan itulah kenapa paspor menjadi barang yang paling sering diingatkan orang kepada orang lain yang hendak bepergian keluar negeri.

Begitu pula dengan hidup ini. Setelah hidup ini berakhir, kita akan dihadapkan pada dua jalan, surga atau neraka. Hanya orang-orang yang mempunyai “paspor surgawi” sajalah yang bisa masuk ke surga. “Paspor surgawi” ini bukanlah sebuah buku, tapi “izin” dari Allah sang pemilik surga itu, yang menyatakan bahwa dosa-dosa kita telah ditebus-Nya sehingga kita layak untuk masuk ke dalam surga. Kepada siapakah “izin” itu diberikan? Yohanes 3:16 memberikan jawabannya.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

“Paspor surgawi” itu diberikan bagi setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus, yang telah menebus dosa-dosa kita melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib dan kebangkitan-Nya yang menyatakan kemenangan-Nya dari Iblis.

Kalau saja ternyata ada barang yang saya lupa bawa dalam perjalanan saya tadi, saya tidak akan mati karenanya. Kalaupun saya lupa membawa paspor, kemungkinan terburuk adalah saya tidak jadi berangkat.

Tetapi, kalau saya meninggal dan tidak mempunyai “paspor surgawi” ini, bisa dipastikan bahwa saya harus melewati masa kekekalan di tengah api neraka. Karena hanya ada dua tempat di mana kita bisa melewati masa kekekalan setelah kita meninggal nanti: surga atau neraka. Kekal itu lebih dari ratusan tahun, ribuan tahun, jutaan tahun, miliaran tahun, bahkan triliunan tahun… Kekal itu jauh lebih panjang dari itu semua. Kekal itu selama-lamanya, tidak pernah berakhir.

Di manakah Anda akan melewati masa kekekalan Anda setelah Anda meninggalkan dunia ini?

Siapkanlah paspor surgawi Anda, sebelum terlambat…

Ingatkan juga teman-teman Anda akan paspor surgawi mereka, sehingga kita semua bisa berkumpul kembali dengan mereka di surga nanti.

“Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.” (1 Tesalonika 4:13-14)

Tuhan menyertai kita semua.

Charles Christian

Tag:

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

5 responses to “Paspor”

  1. janeontheblog says :

    wow! very good.

  2. Morentalisa says :

    Charles! Tulisan yang bagus. Akupun pernah menulis tentang paspor dan ini mengingatkanku kembali akan tulisan itu. Tapi tentunya tak sebagus tulisanmu. Tetap semangat memberi inspirasi Charles
    🙂

    • Charles says :

      @Morentalisa:

      Hai Moren, terima kasih untuk kunjungan dan komentarnya ya.

      Oh, tulisanmu yang tentang paspor itu yang inikah?Aku juga baru membacanya, dan tulisanmu juga bagus kok Moren, penuh dengan kejujuran dan pesan yang mendalam dan menginspirasi. Jadi, aku ga setuju nih kalau dibilang tulisan itu tak sebagus tulisanku. Hehe.

      Tetap semangat ya Moren! GBU.😀

  3. venita says :

    thank you for sharing this. it reminds people like me who face people’s death almost everyday to remember this essential point and to work my best to show people the way to their “passport”🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: