Jawaban Faktual vs Jawaban Solutif

Sore itu, saya masuk ke dalam sebuah restoran sushi. Telah terbayang di pikiran saya sushi favorit saya yang akan saya pesan. Saya mencoba mencarinya di antara rak-rak display yang ada di sana. Setelah bolak-balik 3 kali karena tidak menemukan sushi favorit saya, saya sukses didatangi pelayan toko. Bukan satu, tapi dua pelayan toko!

Seorang pelayan pria dan wanita menghampiri saya. Si pelayan pria bertanya, “Ada yang bisa saya bantu pak? Sedang cari sushi apa?”

“Oh saya sedang cari sushi favorit saya, yang ada abon-abonnya itu, tapi saya lupa namanya…”

Si pelayan pria langsung mengambil daftar menu dan menunjukkan gambar sushi favorit saya dan bertanya pada saya, “Oh yang ini ya pak?”

“Ya, betul… Yang itu!” jawab saya.

Tiba-tiba si pelayan wanita berkata, “Oh, sushi itu kita sedang kosong pak sekarang…”

Sedikit rasa kekecewaan timbul ketika mendengar sushi favorit saya sedang kosong. Ketika saya sedang berpikir untuk pindah ke restoran seberang, tiba-tiba bak oase di padang gurun, si pelayan pria berkata, “Oh, sushi ini ada pak. Akan kami segera siapkan ya. Bapak bisa langsung duduk saja, nanti saya antar…”

Maka terjadilah, saya duduk, si pelayan pria segera masuk ke dapur, dan beberapa menit kemudian keluar dengan membawa sushi favorit saya. Akhirnya saya jadi makan di restoran sushi itu dan tidak jadi pindah ke restoran seberang.

Akhirnya, tidak hanya saya berhasil menikmati sushi favorit saya hari itu, saya juga mendapatkan sebuah pelajaran yang berharga yang terlintas di benak saya ketika sedang menunggu sushi favorit saya. Pelajaran apa yang saya dapatkan?

Pelajaran yang Saya Dapatkan

Dalam cerita saya, ada dua orang pelayan yang memberikan dua jawaban yang berbeda.

Pelayan pertama (wanita) memberikan jawaban bahwa “sushi favorit saya sedang kosong.” Saya menyebut jawaban pelayan pertama ini sebagai “jawaban faktual”.

Mengapa faktual? Karena memang jawaban itu tidak salah dan berdasarkan fakta yang ada. Ya, memang sushi favorit saya saat itu sedang kosong. Itu adalah faktanya. Tapi, jawaban faktual ini akan membuat saya berpindah ke restoran seberang dan tidak akan memberikan keuntungan untuk restoran sushi ini.

Pelayan kedua (pria) memberikan jawaban bahwa “dia akan segera membuatkan sushi favorit tersebut untuk saya.” Saya menyebut jawaban pelayan kedua ini sebagai “jawaban solutif”.

Mengapa solutif? Karena jawaban ini tidak berfokus pada fakta yang ada bahwa sushi favorit saya sedang kosong, tetapi berfokus pada solusi bagaimana saya dapat memperoleh sushi favorit saya, atau setidaknya memberikan saya solusi-solusi alternatif lainnya.

Karena jawaban solutif ini, restoran sushi tersebut akhirnya memperoleh untung dari saya, dan saya pun mendapatkan kesenangan karena mendapatkan sushi favorit saya.

Intinya, jawaban faktual berfokus pada fakta, dan jawaban solutif berfokus pada solusi.

Lalu bagaimana pelajaran ini diaplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari kita? Saya akan berikan sebuah aplikasi yang sederhana.

Ada satu quote yang berbunyi demikian:

“Anda cari siapa yang salah, ketemu siapa yang salah. Anda cari solusi, ketemu solusi.”

Bayangkan ada kesalahan yang terjadi yang merugikan Anda. Apa saja… Entah sesederhana teman Anda memberi petunjuk jalan yang salah yang membuat Anda nyasar, atau serumit teman Anda melakukan kelalaian hingga menyebabkan benda berharga Anda hilang. Apakah yang pertama kali akan Anda lakukan?

Sebagian besar orang akan mulai mencari orang-orang yang bisa disalahkan, dan mulai menyalahkannya. Mereka mencari fakta: siapa yang salah? Dan mereka mencari siapa yang salah bukan untuk mencari solusi, tetapi untuk menyalahkan dan melempar tanggung jawab. Mereka ingin hanya si orang yang salah saja yang mencari solusi untuk memperbaiki kesalahannya. Fokusnya bukan kepada bagaimana kesalahan itu bisa diperbaiki, tetapi bagaimana orang yang salah bisa dihukum sekeras-kerasnya.

Pertanyaannya, sebenarnya mana sih yang lebih penting dan menguntungkan kita? Apakah yang lebih penting itu adalah dihukumnya orang yang salah atau kesalahannya diperbaiki? Saya pribadi menganggap bahwa akan lebih penting jika kesalahan itu bisa diperbaiki. Jadi, mengapa tidak berfokus pada bagaimana mencari solusi atas masalah tersebut?

Apakah Anda akan menemukan orang yang salah atau Anda akan menemukan solusi, itu tergantung pada apa yang sebenarnya Anda cari.

Jadi, mengapa tidak jika mulai sekarang, kita lebih berfokus pada solusi daripada fakta? Saya yakin jika Anda melakukannya, ini akan mencegah banyak masalah yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Carilah jawaban solutif lebih daripada jawaban faktual.

Tuhan menyertai kita,

Charles Christian

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

7 responses to “Jawaban Faktual vs Jawaban Solutif”

  1. Cahya says :

    Kenapa tidak memberikan kedua jawaban. Misalnya memberitahukan bahwa sushi sedang kosong, namun dicari tahu apakah bisa disediakan dalam tempo segera.

  2. Charles says :

    @Cahya:

    Yup, kita bisa juga memberikan jawaban faktual dan jawaban solutif, tetapi akan lebih baik jika kita berfokus pada jawaban solutifnya.

    Terima kasih untuk komentar pelengkapnya ya.😀

  3. khalif says :

    kebetulan saya seorang pegawai di salah satu perusahaan di bandung..
    gini sob.. klo di tempat kerja ada yg mlakukan kslahan dan mnjadikan barang jadi rusak.. si bos ny lebih mmilih solutif dan faktual,solutifny mmperbaiki barang yg tadi rusak dan faktualny SP[surat peringatan]ataw klo brulang2 bisa di pecat tuh..
    so… lebih baik keduanya jangan di pisahkan… biar sama2 enak…

  4. iiNgreeN says :

    ya, setuju dengan pendapat Cahya.. Memberikan kedua jawaban terasa lebih bijak ya.. Dalam kehidupan sehari-hari solusi juga lebih mudah didapat kalau dilengkapi data yang faktual kan.. Jadi lebih suka jawab dua-duanyaaa… Thanks 4 sharingnya pak. Ikutan belajar juga jadinya (tapiii nggak kebagian sushinya.. he)

  5. matitaputtychristi says :

    Memandang dengan cara pandang Allah, jauh lebih indah.
    Thanks Ka Charles. GBU

  6. Serta's Blog says :

    Kalau jawaban dari pelayan kedua (jawaban solutif) itu karena dalam diri nya sudah kebentuk customer oriented, Sikap pelayan kedua ini adalah sikap seorang owner, dia memposisikan dirinya sebagai pemilik resto, sehingga dengan sigap dia akan mengupayakan apa yang diminta sang Raja (customer) agar dia tidak kehilangan seorang pelanggan. Disamping itu, seorang owner tidak akan melihat siapa pelanggannya, sekalipun mungkin (mungkin loh ya) produk yang dipesan (sushi dengan abon) bukan produk terbaik atau termahal. Namun seorang owner akan tetap berpikir secara singkat dan tepat (tentu dengan prinsip win win) menyanggupi permintaan si pelanggan, sedangkan jawaban pelayan pertama (jawaban faktual) dikarenakan beliau masih belum memiliki sense of serve, harus dilatih lagi, meskipun jiwa service itu memang sudah terlahir dari diri kita.
    Hehehehehehe…

  7. hansel says :

    itu pas restonya lagi sepi ya.. ngejer omset tuh less..😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: