Izinkan Orang Lain Untuk Mengasihi Anda

“Mama!!! Ini kenapa ayamnya kecil-kecil??? Nasinya banyak begini, ayamnya kecil begini, makanan macam apa ini???” teriak Andi dari ruang makan.

Sang ibu keluar dari dapur, membawa semangkuk besar sayur hijau dan sepiring tahu-tempe. “Ini ada sayur ijo dan tahu-tempe juga yang bisa kamu makan…”

“Sayur begitu mana bisa dimakan. Ngelihatnya saja sudah bikin ga nafsu makan…” kata Andi.

“Ya, adanya hanya ini… Kamu mau makan ngga?” sang ibu mulai kesal melihat Andi bersungut-sungut.

“Apa? ‘Mau makan ngga?’ Jadi gini mama memperlakukan anak mama sendiri…” Andi berdiri dari kursinya.

“Kamu sekarang makin berani ya sama mama???” sang ibu semakin kesal.

“Mama benar-benar membuat Andi ga nafsu makan lagi. Memang dari dulu mama selalu pilih kasih, lebih sayang dengan Budi. Mentang-mentang aku lebih tua, mama ga sayang aku, aku cuma dibentak-bentak. Cuma dede yang mama sayang!” Andi langsung meninggalkan meja makan, masuk ke kamarnya dan membanting pintu kamarnya keras-keras.

Sang ibu sungguh kaget melihat putra sulungnya. Perasaannya bercampur aduk, antara marah, kecewa, dan sedih. Tangannya gemetar. Hampir saja mangkuk yang sedang dipegangnya terjatuh.

“Mama, aku pulang…” terdengar suara dari pintu depan.

“Budi…” sang ibu melihat putra bungsunya menghampirinya dari jauh dengan muka berseri-seri.

“Ayo makan, Budi. Kamu belum makan kan?” tanya sang ibu.

“Wah… Mama masak lagi hari ini? Mama tau aja Budi belum makan. Makasih banget ya ma, pasti mama capek banget masak ini semua. Mestinya mama tunggu Budi pulang kan bisa Budi bantuin…”

“Tidak, Budi. Mama senang kok memasak buat kamu. Ayo makan…”

“Wah, ada ayam, sayur, tahu, tempe… Sudah empat sehat nih ma…🙂 Mama juga pasti belum makan, ayo kita makan bareng. Sini aku ambilin nasi buat mama.”

“Ayamnya agak kecil gapapa ya, Budi…?”

“Wah, bisa makan ayam saja aku sudah bersyukur ma. Tadi Budi baru saja ketemu satu pengemis di depan rumah. Dia malah ga bisa jalan dan tiga hari ini belum makan ma. Makanya aku kasihan dan aku kasih uang jajanku tadi ke dia.”

“Oh, bapak-bapak yang di depan rumah itu? Dia itu penipu, Budi…”

“Hah? Maksud mama?”

“Ya dia tuh sebenarnya orang sehat yang disuruh mengemis sama orang, jadi dia pura-pura ga bisa jalan dan kelaparan supaya banyak orang yang kasihan.”

“Oh, jadi dia bisa jalan ya ma? Saya berdoa pada Tuhan agar dia bisa sembuh, ga nyangka ternyata doa saya dijawab secepat ini. Kasihan juga ya dia ma, disuruh-suruh mengemis sama orang.”

Sang ibu hanya bisa tersenyum, “Kadang-kadang kamu tuh terlalu baik, Budi…”

“Hehe, Tuhan sudah baik banget sama saya, ma… Saya bisa sekolah, bisa punya rumah, bisa makan tiap hari, dan yang terutama, punya mama yang selalu ada buat saya. Kebaikan saya masih kalah jauuuuuh ma dari kebaikan Tuhan.” Budi menjawab dengan tersenyum lebar.

Sang ibu begitu terharu, tidak dapat berkata apa-apa.

“Ngomong-ngomong, ko Andi sudah makan ma?”

Sang ibu menggelengkan kepalanya.

“Kalau gitu saya panggil dia dulu ya ma, biar kita bisa makan sama-sama… :)” kata Budi, dan dengan langkah yang riang dia pergi menghampiri kamar kakaknya.

Pertanyaan Untuk Anda

Saya punya beberapa pertanyaan untuk Anda.

Seandainya saat ini saya berikan Anda sejumlah uang yang harus Anda berikan kepada seseorang antara Andi atau Budi, kepada siapakah uang itu akan Anda berikan?

Seandainya saat ini Anda harus menemani seorang dari kedua anak tersebut berjalan-jalan, siapakah yang akan Anda pilih untuk berjalan-jalan bersama Anda? Andi atau Budi?

Seandainya saat ini Anda akan memeluk seseorang. Siapakah yang akan Anda peluk? Andi atau Budi?

Seandainya saat ini Anda sedang mencari seorang sahabat. Siapakah yang akan Anda jadikan sahabat? Andi atau Budi?

Kalau Anda sama seperti saya, Anda akan menjawab Budi untuk keempat pertanyaan di atas. Lalu, apakah itu berarti Anda pilih kasih dengan Budi? Atau Budi yang mengizinkan Anda untuk mengasihinya?

Rasa Syukur Mengubahkan Hidup

Cerita di atas memang hanyalah sebuah cerita karangan saya. Tetapi ada makna yang dalam yang ingin saya bagikan melalui cerita tersebut.

Kalau Anda perhatikan, Andi dan Budi mendapatkan hal yang sama. Mereka sama-sama mendapatkan ayam, sayur, tahu, dan tempe untuk makan siang mereka. Namun mengapa respon mereka berbeda?

Inilah jawabannya. Budi menghargai hal-hal yang sederhana, sementara Andi hanya menghargai hal-hal yang spektakuler.

Budi menghargai hal-hal yang sederhana karena dia percaya bahwa semua hal yang dia dapatkan dalam hidup ini adalah anugerah Tuhan. Anugerah adalah sesuatu yang diberikan kepada mereka yang tidak layak mendapatkannya. Budi menyadari setiap hal-hal sederhana yang dia terima adalah anugerah Tuhan.

Sementara Andi berpikir dirinya layak mendapat hal yang lebih baik, makanan yang lebih enak, rumah yang lebih mewah. Dia tidak dapat menghargai hal-hal yang sederhana, karena dia merasa dirinya hanya pantas menerima hal-hal yang spektakuler.

Arti lain dari penjelasan saya di atas adalah, Budi akan lebih bersyukur daripada Andi, karena Budi dapat mensyukuri hal-hal yang sederhana yang tidak dipandang oleh Andi.

Karena Budi lebih bersyukur, Budi menjadi lebih bahagia. Dia akan merasa begitu dikasihi oleh Tuhan dan sesamanya. Dan karena itu, Budi akan menjadi pribadi yang lebih mengasihi, karena dia telah merasakan kasih itu sebelumnya. Dan karena Budi menjadi pribadi yang lebih mengasihi, dia mengizinkan orang lain untuk mengasihi dia lebih lagi.

Begitulah seterusnya Budi akan menjadi pribadi yang bahkan semakin mengasihi lagi…

Hal sebaliknya yang terjadi pada Andi. Karena Andi sulit untuk bersyukur, dia akan menjadi pribadi yang lebih bersungut-sungut. Dan karena itu, tidak jarang dia akan melukai lingkungan sekitarnya entah dengan kata-kata atau perbuatannya. Dia tidak mengizinkan semua orang mengasihi dia. Dia hanya mengizinkan orang-orang yang bisa memberinya hal-hal yang spektakuler untuk bisa mengasihi dia. Tidak heran, Andi menemukan dirinya tidak dikasihi.

Bila dilanjutkan, Andi akan menjadi pribadi yang dipenuhi oleh iri hati, karena melihat orang lain begitu dikasihi sementara dia tidak. Begitulah seterusnya Andi akan menjadi pribadi yang semakin bersungut-sungut dan dijauhi lingkungan sekitarnya.

Pada akhirnya, Andi dan Budi akan menjadi pribadi yang seperti bumi dan langit. Bukan karena lingkungan mereka yang berbeda, tetapi karena rasa syukur mereka yang berbeda.

Kawan, rasa syukur mengubahkan hidup.

Jika Anda saat ini merasa kurang dikasihi banyak orang, cobalah periksa standar rasa syukur Anda. Apakah Anda adalah pribadi yang terlalu sulit untuk dibuat bersyukur? Apakah Anda mengharuskan hal-hal spektakuler terjadi untuk dapat bersyukur?

Saat ini, marilah kita ubah standar rasa syukur kita. Syukurilah setiap hal-hal yang sederhana, bahkan hal-hal yang sepertinya tidak layak untuk kita syukuri. Karena semuanya itu adalah anugerah Tuhan. Dan Tuhan selalu memberikan kebaikan kepada mereka yang mengasihi Dia (Roma 8:28).

Jadilah pribadi yang lebih mengasihi. Izinkan orang lain untuk mengasihi Anda.

Tuhan memberkati kita semua.

Charles Christian

Tag:, ,

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

One response to “Izinkan Orang Lain Untuk Mengasihi Anda”

  1. Rumah says :

    Cerita yang Inspiratif🙂

    Makasih untuk Motivasinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: