Jangan Sampai Menyesal Nanti…

Banyak orang yang menyesal di akhir hidupnya.

John Izzo pernah mewawancarai banyak orang tua yang telah mendekati akhir hidupnya, tentang hal apa yang paling mereka sesali sepanjang hidup mereka. Berikut adalah jawaban-jawaban yang paling sering muncul…

“Saya tidak cukup banyak meluangkan waktu saya bersama keluarga…”

“Saya tidak sempat mengungkapkan rasa sayang saya pada orangtua saya…”

“Saya tidak cukup mengasihi…”

Mereka baru menyesalinya ketika mereka sudah tua, dan mereka baru menyadari bahwa hubungan itu lebih berharga daripada apa yang mereka kejar sepanjang hidup mereka.

Di akhir hidup Anda, penghargaan apakah yang ingin Anda dapatkan?

Karyawan terbaik? Atau anak terbaik?

Orang terkaya? Atau ayah terbaik?

Manager terhebat? Atau keluarga terharmonis?

Orang tersukses? Atau orang yang paling bahagia?

Saya tidak mengatakan Anda tidak boleh menjadi karyawan terbaik, orang terkaya, manager terhebat, dan orang tersukses. Itu semua adalah hal yang baik. Namun, kita harus menyusun prioritas kita.

Jangan sampai karena kita terlalu fokus mengejar penghargaan “karyawan terbaik”, kita menjadi terlalu sibuk untuk bertemu orang tua kita.

Jangan sampai karena kita terlalu fokus mengejar kekayaan, kita menolak anak kita ketika dia mengajak kita bermain.

Jangan sampai kita mengorbankan waktu-waktu bersama keluarga kita untuk mengejar penghargaan “manager terhebat”.

Jangan sampai kita menjadi orang sukses yang tidak bahagia, apalagi mengorbankan iman kita untuk mencapainya.

Karena di akhir hidup kita, hal yang berarti bukanlah seberapa besar pencapaian yang telah kita raih, tapi seberapa banyak kasih yang telah kita berikan.

Akan tiba saatnya kita akan kehilangan papa kita, mama kita, kakak kita, adik kita, suami kita, istri kita, anak kita, saudara-saudara kita, teman-teman kita… Seberapa banyak kasih dan kehangatan yang telah kita berikan kepada mereka semasa mereka masih hidup?

Seorang bijak berkata, “Dalam memutuskan sebuah keputusan, tanyakanlah kepada dirimu yang berusia 99 tahun. Karena orang tua akan membuat keputusan yang lebih bijak.”

Maka, ketika suatu hari dia sedang sibuk bekerja di depan komputernya, dan anaknya yang masih kecil merangkak masuk dan mengajaknya bermain, dia mulai melakukannya… Dia mengandaikan dirinya yang berusia 99 tahun di atas sebuah kursi goyang, dan dia mengandaikan dirinya yang berusia 40 tahun datang dan bertanya, “Apa yang harus saya lakukan?”

Dan setiap kali, dirinya yang berusia 99 tahun akan selalu menjawab, “Bermainlah dengan putramu… Karena akan tiba saatnya kamu tidak akan bisa bermain dengannya meskipun kamu sangat ingin bermain dengannya.”

Maka itulah yang dia lakukan. Dia bermain bersama anaknya, selelah apapun dia, sesibuk apapun dia. Dia mungkin bisa menolak ketika anaknya meminta permen, coklat, atau mainan… Tapi, dia tidak pernah menolak, ketika anaknya meminta waktunya.

Orang menyesal karena dua hal. Pertama, dia hanya melihat apa yang dia tidak miliki, dibandingkan apa yang dia telah miliki. Kedua, dia salah memprioritaskan apa yang lebih penting dalam hidupnya, untuk dia kejar dalam hidupnya.

Kejarlah kedekatan dengan Tuhan…

Kejarlah keharmonisan di dalam keluarga…

Bermimpilah untuk menjadi pribadi yang lebih mengasihi…

Tentukanlah prioritasmu sekarang, dan kejarlah hal-hal yang lebih penting, dan kamu akan menjalani sebuah hidup yang berarti.

Sehingga takkan ada penyesalan di akhir hidup kita nanti…

Tuhan memberkati kita semua,

Charles Christian

Tag:, , ,

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

7 responses to “Jangan Sampai Menyesal Nanti…”

  1. Tommy Dharmaji says :

    nice one…really like this…
    yah, di dunia ini tak ada yang abadi, kita mengejar sesuatu yang sebenarnya pada akhirnya tak juga kita bawa setelah menemui akhir hidup kita…
    jadi apa sebenarnya yg kita cari? apa itu “harta kehidupan”?
    hanya hati…hati yang terbentuk setelah pertemuan dan perpisahan dengan banyak orang…
    hanyalah hati yang tersisa selamanya…

  2. syaifulrizals says :

    sungguh memberikan inspirasi tentang pencarian arti kehidupan nih…

  3. Lucky dc says :

    Blup2…. Deep inside Charles, you know what, kok kamu bijak banget ya, keep on sharing with inspired stories…🙂

  4. Yohannes Nainggolan says :

    WOW, amazing😀
    Gbu Om Charles

  5. teguhsasmitosdp1 says :

    Luar biasa,…rangnkaian kata-kata yang bijak, penuh perasaan, menyentuh kalbu, sampai bulu kuduk berdiri saat membacanya. Terima kasih sekali telah mengingatkan apa arti hidup yang sesungguhnya. Membaca sebuah tulisan memang kadang lebih menyentuh dan memberikan kesadaran dibandingkan dengan mendengar ceramah,…sekali lagi salut.

  6. Queena says :

    ^_^,,
    makasiy ya buat renungannya

  7. nuraeni says :

    thank’s untuk infonya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: