Kesimpulan yang Salah

Saya mempunyai sebuah remote TV yang unik di rumah saya. Untuk dapat menyalakan TV saya, saya harus melakukan hal-hal berikut.

Pertama, saya ambil remote TV saya, dekatkan ke TV, dan tekan tombol “Power” pada remote itu. Namun jangan heran kalau TV saya tidak menyala meskipun tombol “Power” sudah ditekan, karena kita perlu melakukan sebuah gerakan rahasia yang saya temukan dengan susah payah. Apakah itu? Kita harus menggoyangkan remote TV itu, memukul bagian belakang remote itu sekali, lalu tekan tombol “Power” sekali lagi. Dan, 2 detik kemudian, secara ajaib TV saya akan menyala.

Apa hubungannya menggoyangkan remote dan menyalakan TV? Kenapa remote itu harus dipukul dulu sebelum TV saya mau menyala? Jawabannya… Saya tidak tahu. (Ini sama anehnya dengan membetulkan handphone yang rusak terbanting dengan membantingnya sekali lagi. Tidak masuk akal kan?). Tapi yang saya tahu, cara itu bekerja. TV saya menyala. Maka itu yang saya lakukan setiap menyalakan TV saya. Setidaknya sampai suatu hari ketika papa saya menemukan saya sedang menggunakan jurus rahasia ini…

Siang itu, saya sedang menyalakan TV. Seperti biasa, saya menekan tombol “Power”, menggoyangnya, lalu memukulnya sekali. Saat itulah papa saya datang melihat saya…

“Apa yang kamu lakukan? Kenapa dipukul-pukul tuh remote?” tanya papa saya.

“Ini emang begini pa, kalau ga gini ga mau nyala…” jawab saya dengan bangganya seperti seorang guru sedang mengajarkan sebuah jurus rahasia pada muridnya.

Papa saya menghampiri saya dan berkata, “Ah, bukan begitu caranya… Itu mah namanya ngerusak remote. Tekan aja tombol “Power”-nya dan tunggu 5 detik.”

Tidak percaya namun penasaran, saya mencobanya. Saya tekan tombol “Power”. 5 detik kemudian, TV itu menyala. Tanpa goyangan. Tanpa pukulan. TV ITU MENYALA!

“Dari mana papa tahu?”

“Baca dong buku manualnya…”

Ya, saya memang belum membaca buku manual TV itu. Tapi, hanya karena TV saya menyala, saya mengira cara saya sudah benar. Namun sebenarnya, remote saya pasti akan rusak, kalau saya meneruskan cara saya lebih lama.

Melalui peristiwa itu saya belajar, kesimpulan yang saya buat dan saya yakini benar belum tentu benar. Apalagi, saya bukanlah pencipta TV itu. Sudah tentu pencipta TV itu lebih mengenal ciptaannya. Jadi, saya harusnya lebih percaya pada buku manual daripada kesimpulan saya yang hanya berdasarkan pengalaman.

Bayangkan seandainya waktu pertama kali saya menyalakan TV itu, saya menekan tombol “Power” lalu berjoget di depan TV, dan TV menyala setelah saya berjoget. Mungkinkah saya menarik kesimpulan TV akan menyala jika saya berjoget di depan TV?😛

Begitu pula dengan hidup ini. Ketika kita menemui kegagalan, kita seringkali membuat kesimpulan kita sendiri.

“Saya gagal karena saya bodoh…”

“Saya gagal karena keberuntungan tidak berpihak pada saya…”

“Saya gagal karena Tuhan menolak saya, karena Tuhan tidak sayang pada saya.”

Kita lupa melihat Buku Manual yang diberikan oleh Pencipta kita, yang berkata “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11).

Hai kawan, ingatlah satu hal ini… Ketika kita gagal, Tuhan bukan sedang menolak kita, tetapi Tuhan sedang mengalihkan kita kepada suatu hal yang lebih baik.

Failure is not God’s rejection, but God’s redirection.

Ketika kita gagal, itu mungkin berarti Tuhan sedang berkata, “Kau tidak seharusnya berjuang di bidang ini Nak, aku telah menyiapkan bidang lain yang jauh lebih baik dan cocok untukmu.”

Atau mungkin pula Tuhan sedang berkata, “Aku menggagalkanmu untuk melindungimu Nak dari konsekuensi buruk yang lebih besar, konsekuensi dari pilihan yang salah yang telah kau pilih dahulu.”

Atau mungkin pula Tuhan sedang berkata, “Nak, melalui kegagalan ini, aku sedang menanamkan sebuah hati yang tulus berbeban di dalam hatimu untuk membantu orang lain dengan kegagalan yang sama di masa yang akan datang. Engkau akan menjadi saksi-Ku bagi mereka Nak…”

Daftar ini bisa menjadi sangat panjang…

Apapun kegagalan yang pernah kita alami, Tuhan pasti memiliki rencana yang indah di balik kegagalan itu. Mari kita melihat kegagalan kita dari sudut pandang Pencipta kita. Karena Dia yang paling mengenal kita. Bacalah Buku Manual yang telah dia berikan, dan kita akan menghindari banyak kesimpulan-kesimpulan yang salah.

Setiap kali kita menemui kegagalan, tanyakanlah, “Bagaimana Tuhan dapat menggunakan kegagalan ini untuk membuat saya menjadi lebih baik?”

Carilah jawabannya langsung kepada Pencipta kita.

Tuhan memberkati kita semua,

Charles Christian

Tag:, , , ,

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

8 responses to “Kesimpulan yang Salah”

  1. goei says :

    nice reflection. Happy new year Char!

  2. Charles says :

    @goei:

    Hi Mon… Happy new year too.

    Apa kabar? Btw, g lg di S’pore loh. Nanti g kabarin u via FB y… 😀

  3. anang nurcahyo says :

    artikel unik, sangat menarik.. ga kebayang misal setelah tekan tombol power trus mukulin orang, berati tv-nya mau idup kalo kita mukulin orang dulu.. he3..

  4. Yohanes Huatabalian says :

    haha, sungguh menginspirasi dan fun
    wkwkwk,…..

  5. iiN greeN says :

    hhiii.. awal bacanya ketawa – terakhir2nya syarat pesan-pesan.. nice reflection..

  6. NGEDZ SEVENFOLDZ says :

    bgs bgs bgs…..
    ketawa sendiri gw baca’y….
    like this…..:D

  7. Devita says :

    kata2’y sgt indah mnyentuh hati,,,
    saya sgt mngagumi bgian ini :
    “..Failure is not God’s rejection, but God’s redirection.

    Ketika kita gagal, itu mungkin berarti Tuhan sedang berkata, “Kau tidak seharusnya berjuang di bidang ini Nak, aku telah menyiapkan bidang lain yang jauh lebih baik dan cocok untukmu.”

    Atau mungkin pula Tuhan sedang berkata, “Aku menggagalkanmu untuk melindungimu Nak dari konsekuensi buruk yang lebih besar, konsekuensi dari pilihan yang salah yang telah kau pilih dahulu.”

    Atau mungkin pula Tuhan sedang berkata, “Nak, melalui kegagalan ini, aku sedang menanamkan sebuah hati yang tulus berbeban di dalam hatimu untuk membantu orang lain dengan kegagalan yang sama di masa yang akan datang. Engkau akan menjadi saksi-Ku bagi mereka Nak…”

    Daftar ini bisa menjadi sangat panjang…

    Apapun kegagalan yang pernah kita alami, Tuhan pasti memiliki rencana yang indah di balik kegagalan itu. Mari kita melihat kegagalan kita dari sudut pandang Pencipta kita. Karena Dia yang paling mengenal kita. Bacalah Buku Manual yang telah dia berikan, dan kita akan menghindari banyak kesimpulan-kesimpulan yang salah.

    Setiap kali kita menemui kegagalan, tanyakanlah, “Bagaimana Tuhan dapat menggunakan kegagalan ini untuk membuat saya menjadi lebih baik?”…”

    tulisan kaka bgitu mngena di hati saya,,
    trimakasih ka,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: