Menjadi Penonton vs Menjadi Pelaku

Tidak banyak film yang saya nonton berulang kali. Salah satu dari beberapa judul film yang ‘langka’ ini adalah “Titanic”. Ya, saya sudah menonton film ini berkali-kali, terakhir kali beberapa minggu yang lalu di RCTI, dan sampai sekarang film ini masih menjadi salah satu film favorit saya.

Salah satu bagian yang paling menyentuh dalam film ini adalah bagian akhir film ini. Ketika saya meminta beberapa teman saya untuk memikirkan sebuah adegan sedih dalam film, sebagian besar dari mereka akan langsung memikirkan adegan ini.

Adegan Jack bersama Rose di tengah luasnya Samudera Atlantik di malam hari, setelah Titanic tenggelam.

Mari bayangkan adegan ini bersama saya…

Pengorbanan Jack

Rose berbaring di atas bekas pintu kayu yang terapung. Sementara Jack hanya memegang pinggiran kayu tersebut, dan membiarkan tubuhnya di dalam air beku Samudera Atlantik. Apa boleh buat. Jika Jack memaksa naik ke atas kayu tersebut, mereka berdua akan tenggelam bersama. Karena kayu itu hanya bisa menampung satu orang saja. Maka Jack berkorban untuk Rose.

Jelas Jack sangat kedinginan. Tubuhnya menggigil seluruhnya. Asap langsung keluar dari mulutnya ketika dia mulai berbicara, menggambarkan betapa dinginnya keadaan di sana.

Tidak lama kemudian, ada dua perahu penyelamat yang kembali. Mereka mencari orang-orang yang masih bertahan hidup. Rose melihat cahaya senter sang kru kapal. Harapan Rose terpancar di wajahnya.

“Jack!” panggil Rose, berusaha membangunkan Jack, “Jack! Ada kapal…”

Jack diam tak bergeming.

“Jack!” panggil Rose lagi. Dia mengguncang tubuh Jack lebih keras. Tapi tiada respon dari Jack.

“Jack… Jack… Bangun Jack…” kali ini wajah harapan berubah menjadi wajah penuh kesedihan. Musik “Hymn of The Sea” mulai dialunkan.

Tiadanya jawaban kembali dari Jack meyakinkan Rose bahwa Jack telah tiada. Air mata mengalir di mata Rose. Kesedihan yang tak tergambarkan bergejolak di dalam hatinya. Akhirnya, dia melepaskan Jack ke dasar lautan dan membiarkannya beristirahat dengan tenang.

“Jack telah berkorban bagiku. Aku tidak akan menyia-nyiakan pengorbanannya…” Dengan sekuat tenaga Rose berusaha memanggil perahu yang belum menyadari keberadaannya. Namun, suaranya terlalu kecil. Rose tidak kehilangan akal. Dia melihat ada peluit di dekatnya, dan dia meniup peluit itu. Perahu pun datang, dan Rose pun diselamatkan.

Seberapa Jauh Anda Memahaminya?

Bagaimana? Sebuah kisah yang mengharukan bukan? Akan lebih mengharukan ketika Anda menonton langsung adegan ini di filmnya. Namun, sebelum Anda menontonnya, izinkan saya bertanya sebuah pertanyaan.

Seberapa jauh Anda memahami penderitaan yang Jack alami dalam peristiwa tersebut?

Karena penasaran, saya langsung menjelajah internet sehabis menonton film tersebut. Akhirnya saya mengetahui, Jack meninggal karena terserang “hypothermia” – yaitu sebuah keadaan di mana suhu tubuh jauh di bawah suhu normal tubuh, yang mengakibatkan kematian.

Saya mulai merasakan dinginnya keadaan di sana. Ada yang mengatakan suhu air di sana mungkin beberapa derajat di bawah nol. Saya mencoba memahami penderitaan yang dialami oleh Jack yang basah kuyup di tengah air yang beku tersebut. Saya mencoba memahami “hypothermia” yang dialami oleh Jack.

Namun bayangan saya tidak ada apa-apanya, dibandingkan ketika saya mengalami sendiri, sebagian kecil penderitaan yang mungkin pernah dialami oleh Jack.

Penderitaan di Minggu Pagi

Hari Minggu pagi itu saya ada di puncak dalam sebuah retret. Setengah jam lagi kebaktian Minggu akan dimulai, dan saya akan membawakan sebuah sharing. Maka, saya harus mandi. Meskipun, banyak teman-teman saya yang memilih untuk tidak mandi pagi itu (Saya bisa mengerti alasan mereka setelah saya keluar dari kamar mandi).

Angin pagi yang menerpa masuk ke dalam kamar saya sudah cukup untuk membuat saya menggigil. Melepaskan selimut tidak semudah hari-hari biasanya. Namun, saya memaksakan diri untuk bangun, mengambil handuk saya, dan pergi ke kamar mandi.

Saya mengisi ember yang ada dengan air yang nyaris beku. Saya mulai ragu apakah saya sebaiknya mandi atau tidak. Tapi, karena sudah kepalang tanggung, akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan. “Ah, paling mandi cuma lima menit…”

Tidak salah. Saya mandi tidak lebih dari lima menit. Dan lima menit di dalam kamar mandi itu mengingatkan saya pada lima menit yang dilewati Jack di tengah Samudera Atlantik.

Guyuran demi guyuran membuat saya menggigil hebat. Saya bahkan mengira saya mengalami hypothermia (yang ini sih lebay, hypothermia jauh lebih parah dibanding sekedar menggigil hebat). Percayalah, saat-saat itu menjadi saat-saat yang paling baik untuk mensyukuri kehidupan dan kehangatan yang ada di sekitar kita.

Saya seperti merasakan sebagian kecil dari apa yang Jack rasakan. Dan, saya pun mengerti sepenuhnya, mengapa akhirnya Jack meninggal. Karena saya pernah mengalaminya (meskipun apa yang saya alami sebenarnya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang Jack alami).

Memahami Tuhan Pun Seperti Itu

Saya rasa, pemahaman kita dengan Tuhan pun seperti itu. Kita mungkin berusaha memahami Tuhan melalui kesaksian-kesaksian orang lain, tetapi pemahaman yang kita dapat tidak akan sebaik jika kita mengalami Tuhan secara pribadi.

Ketika kita berhenti mengenal Tuhan dari hanya “kata orang”, dan mulai mengalami secara langsung kasih dan anugerah Tuhan yang menjamah hidup kita, pengenalan kita akan Tuhan akan menjadi jauh lebih dalam.

Saya merasakan sendiri masa-masa ketika Tuhan sepertinya memeluk saya.

Saya merasakan sendiri kebaikan-kebaikan Tuhan yang nyata atas hidup saya.

Saya merasakan sendiri teguran-teguran Tuhan melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup saya, termasuk peristiwa kecil ketika saya mandi pagi itu.

Dan saya pun masih terus merindukan pengalaman-pengalaman pribadi saya dengan Tuhan selanjutnya, sehingga saya bisa semakin mengenal Tuhan, dan menjadi pribadi yang lebih mengasihi…

Biarkan Tuhan menjamah kita secara pribadi, dan kita akan semakin mengenal sang Pencipta kita.

Tuhan memberkati kita semua,

Charles Christian

Tag:, , , ,

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

One response to “Menjadi Penonton vs Menjadi Pelaku”

  1. Lucky dc says :

    Tuhan memang selalu akan memberikan hal yang indah pada saatnya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: