Merasa Cukup & Keinginan Bertumbuh: Bagaimana Keduanya Disatukan? (1)

Izinkan saya memulai tulisan saya kali ini dengan sebuah kisah yang saya temukan di Internet. Beberapa dari Anda mungkin sudah pernah membaca kisah ini. Jika Anda sudah pernah membaca kisah ini, Anda bisa melanjutkan ke analisis saya mengenai kisah ini. Oke, berikut adalah kisahnya.

Suatu hari, seorang pedagang kaya datang berlibur ke sebuah pulau yang masih asri. Saat merasa bosan, dia berjalan-jalan keluar dari vila tempat dia menginap dan menyusuri tepian pantai. Terlihat di sebuah dinding karang seseorang sedang memancing. Dia menghampiri sambil menyapa, "Sedang memancing ya pak?"

Sambil menoleh si nelayan menjawab, "Benar tuan. Mancing satu-dua ikan untuk makan malam keluarga kami."

"Kenapa cuma satu-dua ikan, Pak? Kan banyak ikan di laut ini, kalau Bapak mau sedikit lebih lama duduk di sini, tiga-empat ekor ikan pasti dapat kan?"

Kata si pedagang yang menilai si nelayan sebagai orang malas. "Apa gunanya buat saya ?" tanya si nelayan keheranan.

"Satu-dua ekor disantap keluarga Bapak, sisanya kan bisa dijual. Hasil penjualan ikan bisa ditabung untuk membeli alat pancing lagi sehingga hasil pancingan Bapak bisa lebih banyak lagi," katanya menggurui.

"Apa gunanya bagi saya?" tanya si nelayan semakin keheranan.

"Begini. Dengan uang tabungan yang lebih banyak, Bapak bisa membeli jala. Bila hasil tangkapan ikan semakin banyak, uang yang dihasilkan juga lebih banyak, Bapak bisa saja membeli sebuah perahu. Dari satu perahu bisa bertambah menjadi armada penangkapan ikan. Bapak bisa memiliki perusahaan sendiri. Suatu hari Bapak akan menjadi seorang nelayan yang kaya raya."

Nelayan yang sederhana itu memandang si turis dengan penuh tanda tanya dan kebingungan. Dia berpikir, laut dan tanah telah menyediakan banyak makanan bagi dia dan keluarganya, mengapa harus dihabiskan untuk mendapatkan uang? Mengapa dia ingin merampas kekayaan alam sebanyak-banyaknya untuk dijual kembali? Sungguh tidak masuk di akal ide yang ditawarkan kepadanya.

Sebaliknya, merasa hebat dengan ide bisnisnya si pedagang kembali meyakinkan, "Kalau Bapak mengikuti saran saya, Bapak akan menjadi kaya dan bisa memiliki apa pun yang Bapak mau."

"Apa yang bisa saya lakukan bila saya memiliki banyak uang?" tanya si nelayan.

"Bapak bisa melakukan hal yang sama seperti saya lakukan, setiap tahun bisa berlibur, mengunjungi pulau seperti ini, duduk di dinding pantai sambil memancing."

"Lho, bukankan hal itu yang setiap hari saya lakukan Tuan. Kenapa harus menunggu berlibur baru memancing?" kata si nelayan menggeleng-gelengkan kepalanya semakin heran.

Mendengar jawaban si nelayan, si pedagang seperti tersentak kesadarannya bahwa untuk menikmati memancing ternyata tidak harus menunggu kaya raya.

Kisah ini diceritakan kembali oleh motivator Andrie Wongso di sini. Berikut adalah analisis yang diberikan Andrie Wongso mengenai kisah ini.


Netter yang berbahagia, pepatah mengatakan, jangan mengukur baju dengan badan orang lain. Si pedagang mungkin benar melalui analisis bisnisnya, dia merasa apa yang dilakukan oleh si nelayan terlalu sederhana, monoton, dan tidak bermanfaat. Mengeruk kekayaan alam demi mendapatkan uang dan kekayaan sebanyak-banyaknya adalah wajar baginya.

Sedangkan bagi si nelayan, dengan pikiran yang sederhana, mampu menerima apa pun yang diberikan oleh alam dengan puas dan ikhlas. Sehingga hidup dijalani setiap hari dengan rasa syukur dan berbahagia.

Memang ukuran "bahagia", masing-masing orang pastilah tidak sama. Semua kembali kepada keikhlasan dan cara kita menyukuri, apa pun yang kita miliki saat ini.

Sebuah kisah yang indah bukan?

Lalu, apa hubungan kisah ini dengan judul tulisan saya? Ketika pertama kali saya membaca kisah ini, saya membayangkan sang nelayan sebagai seorang yang “merasa cukup”, dan sang pedagang adalah seorang yang “ingin bertumbuh”.

Apakah “merasa cukup” itu baik? Tentu… Tuhan menginginkan kita untuk mensyukuri segala hal yang kita miliki.

Apakah “keinginan untuk bertumbuh” itu baik? Baik juga… Tuhan juga menginginkan kita untuk bertumbuh menjadi lebih baik.

Permasalahannya, dahulu saya selalu merasa bahwa “merasa cukup” dan “keinginan untuk bertumbuh” adalah suatu hal yang berlawanan. Ketika saya “merasa cukup”, saya tidak akan berusaha bertumbuh. Kenapa? Sederhana saja, karena saya sudah “merasa cukup” dengan apa yang saya miliki.

Sebaliknya, ketika saya “ingin bertumbuh”, saya merasa itu dikarenakan saya tidak merasa cukup.

Di titik ini, saya bingung. Apakah saya harus seperti sang nelayan yang merasa cukup dengan hidupnya, dan memutuskan untuk tidak bertumbuh menjadi lebih baik. Ataukah saya seperti sang pedagang yang memutuskan untuk bertumbuh menjadi lebih baik, namun tidak merasa cukup?

Tapi suatu hari, saya menemukan penghubung antara “merasa cukup” dan “keinginan untuk bertumbuh” ini. Kini, saya tidak bingung lagi. Saya menemukan prinsip yang menyatukan “rasa cukup” dan “keinginan untuk bertumbuh” ini.

Namun sebelumnya, saya akan sangat senang mendengar pendapat Anda mengenai kisah di atas. Pendapat Anda mengenai sang nelayan dan sang pedagang. Dan bagaimana pendapat Anda mengenai menyatukan “rasa cukup” dan “keinginan untuk bertumbuh” ini. Silakan tinggalkan pendapat Anda dalam kolom komentar di bawah.

Saya akan membagikan pendapat saya sendiri mengenai hal ini minggu depan, dalam tulisan saya mendatang.😀

Tuhan memberkati kita semua,

Charles Christian

Tag:, , , , , ,

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

40 responses to “Merasa Cukup & Keinginan Bertumbuh: Bagaimana Keduanya Disatukan? (1)”

  1. redsuitee says :

    ehm… bener juga sih..
    waktu baca kisah pedagan en nelayan, gw ngerasa juga hal yang sama..
    di satu sisi, nelayan yang merasa “cukup” dan bersyukur dengan apa yang dimilikinya = ga salah.. begitu juga, si pedagang yang ingin terus “bertumbuh” juga tidak salah..

    gw juga pernah sampai di satu titik, apakah merasa “cukup” aja sudah CUKUP?
    dan akhirnya gw sampai pada konklusi, klo sekedar merasa “cukup” aja ga CUKUP, sehingga gw berpikir bagaimana MOVE buat bertumbuh..
    tapi kayanya ga kepikiran kalo kedua hal itu bisa di-combine jadi satu…

    please share with me😉

  2. budiarnaya says :

    Heee…segala sesuatu sesuai kebutuhan dan kepentingan masing-masing orang…dan besar kecil kerperluan juga berbeda jadi mending hidup dengan Pas-pasan sajalah ( ketika lapar pas ada uang, pingin beli mobil pas ada uang, pingin mancing pas ada kailnya) hee..motivator yang bagus banget mas untuk pembelajaran diri…salam kenal sukses selalu

  3. julicavero says :

    bisa keduanya sejalan sob..tp tergantung orangnya sih…merasa cukup dan tentunya bersyukur tetapi tetap bertumbuh dan melakukan segala tugas kita.

  4. Lucky dc says :

    Charles, kamu kuliah jurusan Psikologi ya??

    Hmm.. Pendapat saya semua sikap di atas baik “merasa cukup” maupun “ingin bertumbuh” harus mempunyai porsi yang sama di dalam kehidupan kita. Jika kedua hal di atas dikombinasikan dengan baik dan seimbang sepertinya hidup kita akan menjadi lebih baik dan baik lagi ke depannya. Ya gak Charles?😉

    • Charles says :

      @Lucky dc:

      Hai Lucky… Saya bukan dari jurusan psikologi kok, saya lulusan komputer, hehe. Tapi tulisan2 saya ga ada komputer2nya ya, hehe.

      Yup betul, harus dikombinasikan dengan baik dan seimbang atas dasar kasih yah…😀

  5. hengki setiawan says :

    Ehm saya juga tersentak mendengar kisah ini “merasa cukup seperti sang nelalayan dan Bertumbuh seperti sang pedagang” tidak berjalan selaras…..kalau saya akan menggapi bahwa merasa cukup kemudian bersyukur itu benar, merasa ingin bertumbuh juga benar(ingin lebih baik) dalam segala aspek….tapi ada satu nilai yang saya rasa hilang : Kebijaksanaan……sebagai penghubungnya…dengan kebijaksannaan ketika bertumbuh dan meraih banyak keuntungan si pedagang dapat menilai bahwa ada berkat/rezeki orang lain yang Tuhan titipkan pada si pedagang, sehingga Si pedagang dapat berbagi…..satu prinsip yang saya dapat…dengan memberi maka kamu akan menerima….dengan satu nilai (kebijaksanaan) maka seseorang dapat bertumbuh, merasa cukup, mampu berbagi…dan siap menerima rezeki/berkat yang baru lagi dari Tuhan….

    • Charles says :

      @hengki setiawan:

      Benar mas… Keduanya tidak memiliki kebijaksanaan untuk memberi lebih banyak apa yang mereka miliki untuk lebih mengasihi ya… Thx untuk tanggapannya.😀

  6. hans law says :

    teman netter
    perlu kita ketahui bahwa “keinginan adalah awal dari penderitaan”
    sprt halnya pedagang dia merasa iri pada nelayan karena dapat memencing setiap saat.karena pedagang punya banyak keingginan yang akhirnya mengekang hidupnya hanya untuk memenuhi keinginan.

    dalam hidup kita sudah seharusnya mengontrol keingginan agar kita tidak terjebak dalam penderitaan.

    rasa bersukur dalam mendapatkan sesuatu perlu juga kita miliki.namun rasa bersukur juga jangan membuat kita tidak berkembang.

    para netter
    perlu kita ingat apa yang kita dapatkan adalah telah di gariskan oleh Tuhan YME.namun hendaknya kita jangan berhenti begitu saja saat mendapatkan rejeki.ada yang harus terus dikejar sampai titik darah terakhir.ada yang datang begitu saja.tinggal kita sadar berada dimanakah kita.

    selamat berpetualang dalam dunia yang penuh dg keinginan dan pikiran yang tak bisa di kekang.

  7. ThomasSabo says :

    That’s wonderful, just keep it up../,

  8. Red says :

    gue rasa keduanya adalah pilihan dan setiap pilihan membawa konsekuensinya sendiri2. nah persoalan muncul jika yg sudah memilih berada di sisi tertentu (cukup atau bertumbuh) lalu membanding2kan apa yg ia pilih dengan pilihan orang lain🙂

  9. orange float says :

    merasa cukup berarti ia mensyukuri apa yang telah ia dapatkan dan semakin ia bersyukur pada pemberian Tuhan maka Tuhan akan menambah semakin banyak anugerahnya. hingga tanpa disadari ia semakin tumbuh berkembang dengan rasa syukurnya

  10. Devita says :

    haduuuuh..
    kereeeeeen…
    aku pernah baca cerita di atas..
    tp ta sampai memikirkan ntuk meng combinasikan hal tersebut…
    masih butuh banyak ilmu dr ms2 n mba2 sxan…
    jwaban’y kan slalu aku tunggu..

  11. achoey says :

    Bersyukur membuat kita kan merasa cukup
    Sementara keinginan untuk tumbuh adalah bagian dari motivasi hidup

    Dahsyat

    Salam semangat

  12. TuSuda says :

    mendapatkan rizki secukupnya dan berupaya untuk berkembang sesuai kemampuan, situasi dan kondisi…🙂

  13. TuSuda says :

    Berusaha menikmati adaptasi kehidupan sesuai situasi…
    Salam kenal dari Kendari… 8)

  14. Duniaku Disini says :

    Benar. Kebahagian tiop orang itu berbeda. Ada yang bahagia karena mendapatkan promosi jabatan. Tapi ada juga yang bahagia hanya karena berhasil mengalahkan rasa tidak percaya dirinya selama ini dengan berani tampil di depan. Intinya adalah selalu mensyukuri apa yang ada.

  15. Debby says :

    kadang2 merasa cukup membuat kita ga ada keinginan bertumbuh ^^
    sementara kehidupan ini juga harus bertumbuh…
    Tapi tidak merasa cukup bukan berarti tidak bersyukur ^^

  16. teguhsasmitosdp1 says :

    Kebahagiaan memang tidak bisa dilihat dari orang lain, tapi diri sendirilah yang tahu bahagia atau tidak, sebesar apapun kepura-puraan yang ditunjukkan oleh orang yang bermasalah tetap tidak bahagia. Semoga tulisan di atas menjadi inspirasi untuk kita semua. salam persahabatan selalu dari kta Pekalongan.

    • Charles says :

      @teguhsasmitosdp1:

      Benar… Saya rasa itu adalah salah satu poin dari cerita di atas. Terima kasih untuk kunjungannya ya. Salam persahabatan juga dari Jakarta.😀

  17. kezedot says :

    sagat indah dan aku menyukainya
    slam dalam persahabatan bloger

  18. teguhsasmitosdp1 says :

    Berubah adalah wajib hukumnya untuk setiap manusia, dan untuk berubah perlu adanya motivasi, salut untuk artikelnya….salam dari pekalongan

  19. iiN greeN says :

    wah, saya blm hobby mancing, berarti sudah kaya blm ya?.. heee
    -bener juga lho ceritanya.. kadang kita merasa jauh lebih kaya hanya karena bisa “membeli’ kebebasan.. padahal ada orang yang jauh lebih kaya, yang sudah bisa mendapatkan kebebasan tanpa membeli…

    -salam-

    • Charles says :

      @iiN greeN:

      Hehe, ga harus mancing juga kan buat kaya…😛

      Yup, sebelumnya, kita harus definisikan dulu apa kekayaan bagi kita. Thx untuk kunjungannya ya…😀

  20. nuraeni says :

    di satukan saja dengan pola pikirmu…

    he..”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: