Pergoki Seseorang Sedang Berbuat Baik (2): Cara Saya Menghadapi Ayah Saya

Sebagai seorang anak, saya juga bergumul dalam menghadapi ayah saya (bagi yang belum membaca tulisan saya minggu lalu, bisa membacanya dulu sekarang sebelum melanjutkan membaca tulisan ini). Saya akan membagikan tiga cara efektif yang saya lakukan.

Pilihan untuk Bersyukur

Pertama, saya sadar saya selalu bisa memilih apakah saya akan mensyukuri hal-hal positif yang ada dalam diri ayah saya, atau meratapi kelemahan-kelemahan ayah saya. Saya memilih untuk bersyukur.

Saya bersyukur saya memiliki seorang ayah yang setia dan bertanggung jawab. Saya bersyukur saya memiliki seorang ayah yang memberikan teladan. Saya bersyukur saya memiliki seorang ayah yang begitu mengasihi anak-anaknya. Saya bersyukur saya memiliki seorang ayah yang mendidik anak-anaknya. Tulisan ini akan menjadi satu buku jika daftar ini saya lanjutkan…

Di sisi lain, saya tidak menutupi kalau ayah saya juga mempunyai banyak kelemahan. Untuk itu, saya lakukan cara berikutnya.

Komunikasikan

Cara kedua, saya mencoba untuk mengkomunikasikan kepada ayah saya hal-hal yang mengganggu saya. Saya berusaha memberitahu ayah saya dengan berbagai cara (namun terkadang saya masih menggunakan cara-cara yang kurang baik, ampuni saya Tuhan). Tulisan ini pun adalah salah satu cara saya untuk berkomunikasi dengan ayah saya. Dan, saya harap, tulisan ini pun bisa menjadi berkat untuk lebih banyak orang.

Cara yang Sangat Dahsyat

Cara ketiga ini adalah cara yang menurut saya sangatlah dahsyat. Cara apakah itu? Saya mencoba untuk berubah juga. Saya akan berusaha untuk membersihkan jendela dari atas ke bawah. Saya akan mempelajari cara kerja mesin cuci. Saya akan mencoba membersihkan kamar saya.

Pertanyaan besarnya, bagaimana caranya saya dapat berubah? Apa yang memotivasi saya? Motivasi inilah yang membuat cara ini menjadi cara yang sangat dahsyat dan efektif bagi saya.

Tidak mudah melakukan semua itu, apalagi jika tiada penghargaan yang diberikan. Tetapi, setiap kali saya mencoba melawan ayah saya, saya teringat bahwa saya tidak akan selamanya bersama ayah saya. Akan tiba saatnya ayah saya meninggalkan saya.

Saya akan membayangkan saat itu. Ketika ayah saya terbujur kaku di depan saya, tiada berdaya. Saya membayangkan, apa pun yang ayah saya minta saya lakukan, akan saya lakukan. Tidak peduli, betapa menyakitkan cara komunikasi yang ayah saya gunakan. Saya akan membersihkan setiap debu yang ada di kamar saya. Saya akan mencuci semua pakaian yang kotor. Saya akan mengelap semua jendela yang saya lihat. Saya akan melakukan semua hal yang ayah saya ingin saya lakukan. Karena saya mengasihinya.

Bersyukurlah Tuhan memberikan kita kemampuan untuk membayangkan, kita bisa merasakan sesuatu sebelum hal itu benar-benar terjadi.

Saat menulis tulisan ini, tiada lagi rasa kesal yang ada di dalam hati saya. Yang ada hanyalah rasa syukur. Saya bersyukur ayah saya masih “menceramahi” saya. Kenapa? Karena itu artinya ayah saya masih cukup sehat untuk menceramahi saya.

Kita terbiasa memberikan penghargaan kepada seseorang ketika dia telah tiada. Ketika ada orang yang kita kasihi yang meninggal, kita akan mengingat segala hal baik yang pernah dia lakukan kepada kita. Kita mulai menyesal mengapa kita kurang menghargai semua itu ketika dia masih hidup. Betapa kita kurang membahagiakan orang-orang yang kita kasihi. Maka, saat itulah kita menangis, kita berikan penghargaan, kita sebutkan semua kebaikan dia, di depan orang yang kita kasihi. Sayang, orang yang kita kasihi itu tidak dapat mendengar penghargaan kita lagi, dia tidak lagi dapat menerima kasih yang kita berikan kepadanya. Karena dia sudah meninggal.

Saat saya menulis tulisan ini, saya beberapa kali diganggu oleh teriakan ayah saya yang memanggil saya untuk membantunya. Semuanya hanyalah masalah-masalah kecil. Membantu membukakan pintu, membantu mengangkat telepon, membantu menjemur pakaian. Saya tidak suka diganggu saat sedang menulis, karena itu akan mengganggu konsentrasi saya, dan membuat saya melupakan banyak hal yang ingin saya tulis.

Tetapi, saya selalu gagal untuk tetap duduk di kursi saya. Saya akan keluar dan membantu ayah saya. Kenapa? Karena saya tidak ingin menyesal. Saya tidak tahu berapa lama lagi Tuhan akan mengizinkan ayah saya bernafas. Bayangkan seandainya ayah saya meminta saya mengambilkan minum, dan saya melawannya. Lalu, tiba-tiba Tuhan memanggil ayah saya. Saya tidak dapat membayangkan betapa menyesalnya saya melihat gelas yang belum sempat saya antar kepada ayah saya yang telah tiada. Saya tidak ingin merasakan penyesalan itu. Saya mengasihi ayah saya.

Sayangnya, saya seringkali lupa akan hal itu, dan saya seringkali pula sulit mengendalikan emosi saya. Maka, inilah yang terus menjadi doa saya, agar saya dapat berubah menjadi seorang anak yang penuh syukur, dapat mengendalikan emosi, dan lebih mengasihi. Dan, agar saya dapat membiasakan diri dengan perubahan itu.

Jangan memilih untuk menyesal. Pilihlah untuk mengasihi. Sekarang.

Tuhan memberkati kita semua,

Charles Christian

Tag:, , ,

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

5 responses to “Pergoki Seseorang Sedang Berbuat Baik (2): Cara Saya Menghadapi Ayah Saya”

  1. andipeace says :

    sampai sekarang dan sampai kapanpun saya tetap membutuhkan sosok seorang ayah…
    bagi saya, ayah saya adalah orang yang sangat luar biasa..

    salam

  2. Lucky dc says :

    Charles excellent post…🙂
    Menggugagah hati ceritanya dan mengingatkan kepada saya jangan sampai menyesal untuk berbuat baik kepada orang-orang yang telah tulus untuk menyayangi kita🙂
    Terharu dengan cerita di atas…

  3. wien says :

    “jangan memilih untuk menyesal, pilihlah untuk mengasihi”…kata-kata yg sangat bijak yg mungkin jarang diucapkan…saya berharap siapapun yg membaca tulisan mas Charles ini semoga akan tergugah hatinya dan lebih memilih untuk mengasihi daripada menyesal kemudian hari…

    salam kenal mas Charles…

  4. Domain dan Hosting says :

    tulisan yang sarat dengan motivasi om🙂

  5. patihmomo says :

    tulisan yg sangat menggugah hati :-bd

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: