Pergoki Seseorang Sedang Berbuat Baik (1): Saya dan Ayah Saya

Suatu pagi, saya sedang mengelap jendela kamar saya. Suatu hal yang jarang saya lakukan, tapi saya mencoba berinisiatif membersihkan kamar saya.

Ketika itulah, ayah saya masuk dan dengan spontan berkata, “Kalau ngelap tuh dari atas ke bawah, jangan dari bawah ke atas. Kamu ngelap dari bawah ke atas, nanti kotoran yang di atas jatuh lagi ke yang di bawah…”.

Di kesempatan lain, ayah saya meminta saya membantu menjemur pakaian. Maka saya sebagai anak yang baik, ada di sana, di depan mesin cuci. Saya mulai mengeluarkan baju dari mesin cuci ketika saya menyadari masih banyak air yang tergenang di dalam mesin cuci. Suatu hal yang tidak biasa, karena biasanya tidak ada air di sana. Maka saya memanggil ayah saya yang biasa mencuci baju.

Ayah saya datang dan langsung berkata, “Hei, itu belum papa cuci. Kemarin papa lupa cuci. Masukin lagi! Masukin lagi! Makanya kamu harus ngerti nih mesin cuci, liat angkanya 1, bukan 9… Sini papa ajarin kamu! Kamu harus bisa dan ngerti hal-hal seperti ini…”

Di hari yang lain, saya mencoba membereskan kamar saya, yang rupanya tidak jauh berbeda dari kapal pecah. Alasannya? Saya tidak tahan mendengar ayah saya yang senantiasa berkata, “Papa paling ga suka liat kamar kamu berantakan. Beresin. Ini kan kamar kamu, kamu yang harus beresin.” Maka, dengan sedikit kekuatan sulap, saya menyulap kamar saya, setidaknya menjadi lebih terlihat sebagai sebuah kamar tidur daripada tumpukan kapal pecah. Sebuah kemajuan, saya pikir. Ayah saya tidak setuju.

Keesokan harinya, ayah saya masuk ke dalam kamar saya. Daripada berkata, “Kamar kamu sudah lebih rapi. Papa seperti melihat sebuah kamar sekarang.”, ayah saya malah berkata, “Kamar kamu kotor sekali. Debu di mana-mana. Kamu harus pel kamar ini sehari dua kali…”. Dia membawa kain pel, dan mulai mengepel lantai kamar saya, memberikan contoh pada saya.

Yang menyakitkan adalah, ayah saya benar. Kamar saya masih kotor. Kemarin saya hanya mengepel seadanya, sehingga ketika ayah saya mengepel 1 meter persegi di dalam kamar saya, kain pel itu sudah dipenuhi debu. Dan, itu adalah bukti nyata kalau kamar saya masih sangat kotor. Hal menyakitkan yang lain, ayah saya tidak melihat kamar saya yang lebih rapi. Dia melihat kamar saya yang masih sangat kotor. Setidaknya, itu yang saya tangkap dari apa yang dia katakan.

Ngomong-ngomong, semua kejadian yang saya ceritakan adalah yang saya alami dalam 2 hari terakhir. Bisa dibayangkan, dengan usia saya yang sudah mencapai 20+ tahun ini, sudah berapa banyak kejadian serupa yang saya alami.

Maksud Ayah Saya Sangat Baik, Hanya Caranya yang Tidak Efektif

Jangan salah sangka. Ayah saya bermaksud baik. Benar-benar baik. Dia ingin mendidik anak-anaknya. Dia ingin anak-anaknya menjadi lebih baik dan lebih bertanggung jawab. Dia ingin anak-anaknya bertumbuh menjadi lebih kuat dan lebih dewasa. Tapi, itu menyakitkan saya setiap kali saya mendengarnya.

Semua yang dikatakan ayah saya benar. Sebenarnya, ada banyak sekali hal yang benar yang bisa dikatakan. Saya akan mencoba mendaftarkan fakta-fakta yang ada dari kejadian-kejadian di atas:

1. Saya mengelap jendela kamar saya, suatu hal yang jarang saya lakukan.

2. Saya mengelap jendela dari bawah ke atas.

3. Saya mematuhi perintah papa saya untuk membantu menjemur.

4. Saya belum menguasai cara kerja mesin cuci.

5. Saya membereskan kamar saya.

6. Saya belum mengepel kamar saya dengan bersih.

Dari enam fakta di atas, ayah saya hanya menyebutkan tiga di antaranya, yaitu fakta 2, 4, dan 6. Saya sungguh tidak beruntung, ketiga fakta yang disebutkan ayah saya adalah fakta-fakta yang negatif. Memang, ketiga fakta tersebut benar. Tetapi, ayah saya melupakan (atau setidaknya tidak menyinggung) ketiga fakta lainnya (fakta 1, 3, dan 5), yang ternyata ketiganya adalah fakta-fakta yang positif.

Perkataan yang Efektif dan Tidak Efektif

Bandingkan kedua perkataan berikut.

Perkataan pertama: “Kamar kamu kotor sekali. Debu di mana-mana. Kamu harus pel kamar ini sehari dua kali…”

Perkataan kedua: “Wah, papa lihat kamar kamu sudah lebih rapih. Ada kemajuan nih, papa sekarang merasa lebih nyaman di kamar kamu. Dan, papa akan lebih nyaman lagi di kamar kamu jika kamar ini bisa lebih bersih. Sepertinya, masih ada debu yang menempel. Tapi gampang, debu-debu itu akan hilang jika kamu mengepelnya. Dan, jika kamu lakukan itu, kamu akan benar-benar membantu pekerjaan papa. Ngomong-ngomong, boleh papa ajarkan kamu bagaimana cara mengepel yang efisien dan hasilnya benar-benar bersih?”

Seandainya Anda ada di pihak sang anak, perkataan yang mana yang membuat Anda akan menjadi lebih rajin dan lebih semangat membersihkan kamar Anda?

Saya pribadi, saya memilih perkataan kedua.

Bagaimana dengan perkataan pertama? Menurut saya perkataan itu sangat beracun. Mengapa beracun? Karena, perkataan itu tidak hanya membuat saya enggan mengepel kamar saya, tetapi juga membuat alam bawah sadar saya berpikir bahwa tindakan saya membereskan kamar saya kemarin adalah salah. Mengapa? Karena, saya mendapat perlakuan negatif karena melakukannya. Dan, otak kita dilatih menghindari kesengsaraan.

Lihatlah, ayah saya menginginkan saya membersihkan kamar saya. Perkataan pertama tidak efektif. Perkataan kedua jauh lebih efektif. Perkataan pertama membuat saya merasa tidak dihargai dan enggan untuk melakukan. Perkataan kedua membuat saya semangat dan ingin melakukannya berulang kali. Perkataan mana yang akan Anda pilih untuk Anda katakan? Pilihan ada di tangan Anda.

Tapi Saya Tidak Dapat Berubah, Inilah Diri Saya…

Saya bisa mendengar beberapa orang berkata, “Tapi Charles, inilah diri saya. Inilah gaya ngomong saya. Saya memang tidak sempurna. Maklumi sajalah. Saya tidak bisa berubah.”

Tidak. Pertanyaannya bukanlah apakah Anda bisa berubah atau tidak. Pertanyaan sebenarnya adalah “Apakah Anda mau berubah?”. Saya percaya, ini semua hanyalah masalah kemauan dan kebiasaan. Orang yang tidak mau berubah takkan pernah bisa berubah. Orang yang mau berubah tetapi tidak membiasakan diri juga akan sulit untuk mempertahankan perubahan itu.

Mungkin perkataan kedua bukanlah menjadi kebiasaan di lingkungan Anda saat ini. Anda bisa memulai untuk membiasakannya. Anda pasti akan membiasakan salah satu hal yang akhirnya Anda sebut sebagai gaya Anda. Mengapa tidak membiasakan kebiasaan yang efektif?

Sekali lagi, itu semua adalah pilihan Anda. Apakah Anda mau berubah. Apakah Anda tidak mau berubah. Apakah Anda mau membiasakan diri dengan perubahan. Apakah Anda tidak mau membiasakan diri dengan perubahan. Anda yang memilih semuanya. Tidak ada yang bisa memaksa Anda.

Memergoki Orang Lain Sedang Berbuat Baik

Sekarang, beberapa di antara Anda mungkin telah memutuskan untuk mau berubah. Namun, bagaimana saya mengubahnya? Kebiasaan apa yang harus saya tanam? Saya akan membagikan satu kebiasaan baik yang dapat kita lakukan.

Satu kebiasaan baik itu adalah: “Pergokilah orang lain sedang berbuat baik.”

Kita terbiasa memergoki seseorang sedang berbuat salah. Entah dia sedang mengelap jendela dari bawah ke atas. Atau kurang bersih dalam mencuci piring. Atau mengerjakan tugas dengan penuh kesalahan. Apa yang selanjutnya terjadi sudah dapat ditebak. Kita akan mengomentari hal-hal yang buruk, dan menutup mata pada hal-hal yang baik.

Mengapa kita tidak melakukan sebaliknya? Mengomentari hal-hal yang baik, dan menutup mata pada hal-hal yang buruk. Yang saya maksud dengan menutup mata bukan berarti kita mengabaikan keburukan-keburukan itu. Tetapi, kita lebih memfokuskan kepada hal-hal yang baik, agar dia dapat termotivasi untuk memperbaiki keburukan-keburukan yang ada.

Dalam satu kejadian, kita dapat menemukan hal positif dan negatif di dalamnya. Mari kita biasakan untuk memuji hal yang positif terlebih dahulu. Berikan apresiasi untuk hal-hal positif yang telah dilakukan. Itu akan menjadi bahan bakar mereka untuk melakukan hal-hal positif itu lebih sering lagi. What gets attention, gets repeated. Tunjukkan kita menghargai usaha positif yang telah dia lakukan, maka dia akan mengulangi usaha-usaha positif tersebut. Selanjutnya, barulah kita bimbing dia menjadi lebih baik, dengan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan.

Orang-orang senang diri mereka dipuji. Orang-orang akan lebih menyukai orang yang menghargai mereka, yang memuji mereka. Dan, orang-orang akan lebih mendengarkan orang-orang yang mereka sukai. Jadi, jangan heran jika mereka akan melakukan apa yang diminta oleh orang-orang yang memuji mereka. Jangan biarkan orang-orang yang tidak baik yang memuji mereka untuk melakukan hal-hal yang tidak baik. Mengapa tidak kita lebih dahulu memuji mereka agar mereka tidak mencari pujian dari tempat lain?

Mari kita jadikan memuji orang lain, menghargai orang lain, dan memberikan apresiasi kepada orang lain sebagai gaya hidup kita. Mari kita mulai memergoki orang-orang sedang berbuat baik.

Mari kita juga terus mendoakan mereka, agar kita dan mereka bisa menjadi pribadi yang lebih baik.

Tuhan memberkati kita semua,

Charles Christian

P.S.: Minggu depan, saya akan membagikan tiga cara efektif yang saya gunakan untuk menghadapi ayah saya. Nantikan ketiga cara tersebut di tulisan saya mendatang.

Tag:, , , , , ,

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

4 responses to “Pergoki Seseorang Sedang Berbuat Baik (1): Saya dan Ayah Saya”

  1. muji pur says :

    MANTAPHHHH…. Ayah Bijak yang baik dan anak santun yang penurut… semoga untuk “Minggu depan, saya akan membagikan tiga cara efektif yang saya gunakan untuk menghadapi ayah” masih merupakan cara santun yang penurut yah.. hahaha

  2. julianusginting says :

    wew..ayah yg mantafff..pengen jd gt ahh

  3. julicavero says :

    menantikan tulisan kedepannya ahh… 3 cara efektif menghadapi ayah…

  4. Lucky dc says :

    Charles tulisan yang sangat menginspirasi, walau bagaimanapun orang punya dua sisi, positif dan negatif, tinggal pilihan orang tersebut untuk memilih menonjolkan kelebihannya atau kekurangannya…🙂
    Dan satu lagi orangtua mendidik kita dengan cara terbaik yang mereka tahu. So, try to understand them from their point of view😉
    Ditunggu postingal lanjtannya:mrgreen:
    God Bless You😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: