Bagaimana Kita Dapat Bertumbuh?

Siang itu, saya seperti menjelajah dalam sebuah labirin. Saya melihat tulisan yang tertera di papan nama jalan yang ada persis di depan saya: “Sawah Lio 17”. Saya jadi penasaran, apakah orang yang memberi nama jalan waktu itu sedang kehabisan ide atau sedang belajar berhitung.

Saya sedang mencari sebuah rumah yang bersembunyi di dalam gang yang berliku-liku tersebut. Saya sudah beberapa kali mendatangi rumah itu. Perbedaannya hanyalah, ini kali pertama saya mencari rumah itu SENDIRI.

Sebelumnya, saya selalu ditemani oleh teman saya. Teman saya yang menunjukkan jalan. Saya hanya mengikuti. Dan, voila, saya sampai di rumah itu. Kadang, saya kagum bagaimana teman saya dapat mengingat begitu banyak jalan yang berliku-liku itu. Saya sendiri akan melupakan di mana belokan keenam ketika saya ada di belokan keduabelas.

Tidak heran siang itu saya tersesat. Yang saya tahu hanyalah pintu masuk labirin dan bentuk rumah yang saya cari. Di mana rumah yang saya cari di dalam labirin itu? Saya tidak ada ide sama sekali. Saya memutuskan untuk mencari gang demi gang yang ada di dalamnya.

 

Setengah jam berlalu. Saya berjalan dari gang yang satu ke gang yang lain, sambil melihat-lihat apakah ada rumah yang saya cari. Hasilnya? Gagal. Saya tidak menemukan rumah yang saya cari. Saya akhirnya menyerah mencari sendiri. Saya keluar dari labirin itu, dan mengajak teman saya untuk menunjukkan jalan. Ketika saya kembali ke pintu masuk labirin itu lagi, saya sudah bersama teman saya.

Teman saya menunjukkan jalan ke rumah itu. Akhirnya, saya menemukan rumah yang saya cari, dengan bantuan teman saya (seperti kasus-kasus sebelumnya). Tapi, kali ini berbeda. Hal yang aneh terjadi. Kalau dahulu saya selalu tidak bisa mengingat jalan yang saya lalui, kali itu saya bisa mengingatnya dengan sangat jelas. Bahkan, saya merasa jalannya sangat sederhana. Saya yakin di waktu mendatang, saya bisa menemukan rumah itu SENDIRI.

Apa yang membedakan? Saya mengenal jalan yang ditunjukkan oleh teman saya. Saya baru beberapa menit yang lalu tersesat di jalan-jalan itu. Tapi, di saat saya pikir saya tersesat, saya sebenarnya sedang mempelajari jalan-jalan tersebut. Saya melihat sekeliling, rumah-rumah yang ada, belokan-belokan yang ada. Saya melihat rumah berpagar hijau, tukang bakmi di tikungan, salon di tengah gang, dan banyak hal lagi yang lain… Di saat saya tersesat, saya dipaksa untuk lebih memperhatikan sekeliling. Dan, ketika saya kembali ke jalan tersebut (kali ini dengan kompas berjalan, alias teman saya), saya sudah mengenal jalan-jalan yang saya lalui. Saya akhirnya tahu, jalan mana yang benar.

Seringkali, kita terlalu nyaman dengan hidup kita, yang membuat kita tidak berusaha bertumbuh. Seperti saya yang dahulu selalu ditunjukkan jalan dan saya hanya mengikuti. Yang saya perlu lakukan hanyalah mengikuti. Saya tidak perlu berpikir dan memperhatikan sekeliling. Ikuti saja! Sangat nyaman. Tapi, kenyamanan itu membuat saya tidak bertumbuh. Ketika teman saya tidak ada, saya tersesat.

Tuhan memberikan kita ujian untuk membuat kita bertumbuh. Kita membutuhkan ujian-ujian dan masa-masa yang sulit dan tidak nyaman untuk memaksa kita bertumbuh. Ketika saya tersesat, saya akan menjadi lebih memperhatikan sekeliling dan mencoba mempelajari jalan-jalan yang ada.

Ngomong-ngomong, tidak semua orang akan melakukan itu ketika mengalami ujian. Ada juga orang yang ketika mengalami ujian malah menyalahkan diri sendiri, menyalahkan lingkungannya, dan menjadi depresi. Ujian tidak membuat mereka bertumbuh, tetapi menghancurkan mereka.

Berita baiknya, kita diberikan kebebasan untuk memilih, apakah kita akan menjadikan ujian yang kita alami untuk menghancurkan kita, atau untuk membuat kita bertumbuh. Pilihan kita akan terlihat dari respon kita ketika menghadapi ujian/masalah itu.

Hal lain yang saya pelajari adalah jangan takut atau malu untuk meminta bantuan orang lain. Kita semua membutuhkan bantuan orang lain. Kita tidak bisa hidup sendiri. Ingat, saya menemukan rumah itu karena teman saya yang membantu saya. (Ngomong-ngomong, jangan lupa minta bantuan Tuhan, karena Tuhan yang paling tahu jalan yang paling benar).

Hal terakhir yang saya pelajari adalah, terkadang kita harus berani mengambil risiko agar kita dapat bertumbuh. Kita harus berani menghadapi kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi, karena setiap kesalahan itu akan mengajarkan kita sebuah pelajaran yang berharga. Andaikata saja saya tidak mengambil risiko untuk masuk ke dalam gang itu SENDIRIAN, dan jadi tersesat, saya tidak akan pernah bisa menemukan rumah itu sendiri. Saya hanya akan menjadi seorang pengikut yang tidak pernah tahu jalan apa yang sedang dilaluinya.

Ambil risiko. Jangan takut gagal. Belajar dari kegagalan. Minta bantuan Tuhan dan orang lain. Teruslah bertumbuh.

Tuhan memberkati kita semua,

Charles Christian

Iklan

Tag:, , , ,

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

One response to “Bagaimana Kita Dapat Bertumbuh?”

  1. Lucky dc says :

    Bener ujian membuat kita bertumbuh, tapi jika kita ingin memilih bertumbuh. Begitupula dengan mengambil keputusan pasti di setiap pilihan ada resikonya dan jangan pernah takut gagal karena gagal merupakan proses menuju sukses 🙂
    Salam kenal bro 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: