Kalau Anda Berpikir Anda Bisa, Anda Bisa. Kalau Anda Berpikir Anda Tidak Bisa, Anda Tidak Bisa

Judul di atas adalah sebuah quote yang cukup populer. Mungkin awalnya ada dari Anda yang tidak menyetujui quote tersebut. Masakan kita bisa atau tidak bisa berdasarkan apa yang kita pikirkan. Tidak dong, itu tergantung kemampuan kita, anugerah Tuhan, dan lain-lain (yang sebenarnya itu semua benar juga).

Saya pun awalnya berpikir seperti itu. Wah, betapa enaknya kalau quote ini benar. Saya tinggal berpikir, “Saya juara kelas”, maka saya akan menjadi juara kelas. Ketika saya berpikir, “Saya bisa jadi miliarder”, maka saya akan menjadi miliarder.

Kesalahan orang biasanya (termasuk saya dahulu) adalah menganggap semua proses itu akan didapatkan secara instan. Ketika saya berpikir “saya juara kelas”, saya mengharapkan saya bisa jadi juara kelas secara instan. Saya bisa tetap bermalas-malasan, tidak pernah belajar, tidak pernah mendengarkan guru… dan saya mengharapkan saya menjadi juara kelas karena saya percaya quote di atas. Saya mau katakan, ini sama sekali bukan yang dimaksud oleh quote tersebut. Quote tersebut bukanlah berbicara sesuatu yang supernatural dan instan. Ketika Anda berpikir Anda bisa, bukan berarti secara instan Anda pasti akan langsung bisa tanpa berusaha.

Namun demikian, saya percaya pada quote di atas. Saya akhirnya menemukan sebuah penjelasan yang masuk akal yang menjelaskan mengapa quote di atas bisa menjadi benar.

Yang dimaksud oleh quote di atas sebenarnya adalah mengenai fokus pikiran kita. Ketika kita memfokuskan diri kalau kita bisa, itu akan mempengaruhi kita. Seperti apa pengaruhnya? Pengaruhnya akan terlihat ketika kita mencari dan ketika kita gagal.

Pengaruh Pertama: Ketika Kita Mencari

Pengalaman ini saya dapatkan ketika saya mencari parkir di sebuah gedung parkir. Saya berpikir saya pasti akan mendapatkan tempat kosong dalam gedung parkir itu. Saya pasti akan mendapatkan parkir! Karena saya berpikir saya pasti mendapatkan parkir, itu membuat saya mengemudikan mobil lebih lambat, dan saya mencari ke sekeliling apakah ada tempat kosong. Karena saya fokus kepada tempat kosong, saya akan dapat melihat dengan mudah jika terdapat tempat kosong. Ini sama halnya ketika Anda fokus kepada warna merah, Anda akan melihat banyak warna merah di sekeliling Anda. Itu bukan karena warna merahnya yang bertambah banyak, tetapi karena Anda memfokuskan diri Anda pada warna merah. Akhirnya, tidak heran jika saya mendapatkan tempat kosong untuk parkir.

Pasti akan berbeda halnya jika saya berpikir sebaliknya, tidak ada tempat kosong di dalam gedung parkir tersebut. Jika saya berpikir begitu, mungkin saja dari awal saya akan enggan masuk ke dalam gedung parkir itu (yang membuat saya menyerah sebelum mencoba). Kalaupun saya masuk ke dalam gedung parkir itu, saya akan masuk dengan pesimis, mengemudikan mobil lebih cepat, kurang melihat sekeliling, dan ingin cepat-cepat keluar dari gedung parkir tersebut untuk membuktikan bahwa diri saya memang benar. Memang tidak ada tempat kosong lagi di dalam gedung parkir tersebut.

Ini akan membawa saya ke dalam sebuah dilema. Di satu sisi, saya ingin mendapatkan parkir. Di sisi lain, saya yakin tidak ada tempat kosong yang tersisa. Jika saya mendapatkan parkir, itu berarti keyakinan saya salah, dan semua orang tentu tidak senang kalau keyakinannya disalahkan. Jika saya tidak mendapatkan parkir, itu berarti saya akan bangga karena keyakinan saya benar, tetapi justru tujuan saya untuk mendapatkan parkir tidak tercapai. Mengapa saya harus menceburkan diri saya dalam dilema ini dengan bersikap pesimis?

Namun bukankah bersikap pesimis dapat mengurangi kekecewaan kita jika memang tidak ada tempat kosong lagi di dalam gedung parkir tersebut? Nah, ini dia kesalahannya. Kebanyakan orang berfokus pada mengurangi kekecewaan karena tidak mendapatkan, daripada berusaha terus untuk mendapatkan. Ini membawa saya pada pengaruh yang kedua…

Pengaruh Kedua: Ketika Kita Gagal

Jika saya berpikir pesimis, “Ah, tidak ada lagi tempat kosong di dalam gedung parkir itu…”, ketika pada akhirnya saya gagal dan tidak mendapatkan tempat parkir, saya akan semakin memperkuat keyakinan saya. “Tuh kan benar kata saya, tidak ada lagi tempat kosong…”, dan akhirnya mengurungkan niat saya untuk mencari tempat parkir lagi. Saya akan mudah menyerah. Tujuan saya tidak tercapai. Bahkan, di kesempatan berikutnya, saya akan menjadi semakin pesimis, mengingat kejadian-kejadian yang ada di masa lalu.

Namun, ketika saya berpikir “Saya pasti akan mendapatkan tempat parkir”, ketika saya mengitari gedung tersebut dan tidak mendapatkan tempat kosong, saya tidak akan mudah menyerah. Kurang lebih, yang saya katakan adalah seperti ini, “Ah masa sih, ga ada tempat kosong? Saya yakin ada kok… Mungkin tadi saya kelewatan. Saya akan coba cari lagi deh, kali ini lebih hati-hati.” Nah, akhirnya saya akan mencoba mencari lagi. Tentu kemungkinan mendapatkan tempat parkir jika kita mengitari gedung parkir dua kali akan lebih besar ketimbang hanya mengitari sekali. Tidak heran jika saya mungkin akan mendapatkan parkir ketika saya mengitari gedung parkir untuk kedua kalinya.

Jadi, “bisa” atau “tidak bisa” karena pikiran kita bukanlah sesuatu hal yang instan dan supernatural. Tapi, pikiran kita akan mempengaruhi tindakan kita. Dan, tindakan kita akan mempengaruhi hasil yang kita dapatkan.

Mari kita memfokuskan diri kita pada hal-hal yang positif, yang semakin mendekatkan diri kita pada tujuan hidup kita.

Tuhan memberkati kita semua.

Charles Christian

Tag:, , , , ,

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

3 responses to “Kalau Anda Berpikir Anda Bisa, Anda Bisa. Kalau Anda Berpikir Anda Tidak Bisa, Anda Tidak Bisa”

  1. patihmomo says :

    mantabs bro.. :-bd

    gue suka kutipan ini : pikiran akan mempengaruhi tindakan kita & tindakan kita akan mempengaruhi hasil yg kita dapatkan.

    Salam optimis.. ^_^

  2. Cahya says :

    We are what we think🙂 – isn’t it?

  3. Lucky dc says :

    Absolutely true, pikiran kita akan membawa tindakan kita untuk bertindak🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: