Pelajaran dari Novel “The Christmas Shoes”

Sudah lebih dari 3 tahun berlalu sejak novel terakhir yang saya baca habis dari awal sampai akhir. Kemarin, rekor itu pecah. Saya menghabiskan sebuah novel setebal 198 halaman dalam waktu dua hari. Saya tidak bisa mengingat kapan terakhir kali saya menyelesaikan membaca sebuah buku dalam waktu dua hari.

Novel itu berjudul “The Christmas Shoes”, oleh Donna VanLiere. Novel yang dibuat berdasarkan lagu NewSong dengan judul yang sama tersebut, begitu menginspirasi saya.

Novel ini mengisahkan tentang kisah dua keluarga, keluarga Robert dan Nathan.

Robert adalah seorang ahli hukum yang sukses dan memiliki segalanya dalam hidup—sekaligus tak satu pun. Karena terlalu memusatkan diri pada keberhasilan pekerjaan dan materi, ia nyaris kehilangan pernikahannya. Ia tak lagi memperhatikan istrinya, Kate, kedua putrinya … dan akhirnya, dirinya sendiri.

Nathan yang berusia delapan tahun memiliki seorang ibu yang penuh kasih, yang menanti ajal karena kanker. Namun Nathan dan keluarganya membangun sebuah kehidupan yang sederhana tapi bermakna dan berjuang untuk menikmati setiap detik tersisa yang mereka miliki bersama.

Sebuah kesempatan pada malam Natal mempertemukan Robert dan Nathan—Robert berbelanja untuk keluarga yang tak lagi dikenalinya dan Nathan berbelanja untuk ibunya yang akan segera meninggalkannya. Dan setelah pertemuan itu, kehidupan mereka berubah selamanya. Robert menerima suatu pelajaran penting: terkadang hal-hal terkecil dapat mengubah segalanya.

Ada banyak bagian dalam novel ini yang menyentuh saya, dan banyak pelajaran yang dapat dipetik darinya. Saya akan membagikan satu bagian, saat Maggie, ibu Nathan yang menderita kanker rahim, mempersiapkan putranya yang akan segera ditinggalkannya. Bagian ini, meskipun agak panjang, tetapi sangat bagus dan mempunyai makna yang dalam. Berikut adalah cuplikannya.

Jack beranjak dari tempat duduknya, ia tahu apa yang ingin dikatakan istrinya. Mereka pernah membicarakan hal ini sebelumnya, bagaimana, apa, dan kapan harus memberi tahu Nathan. Keadaan Maggie begitu cepat memburuk. Baik Jack maupun Maggie tak pernah membicarakan soal waktu, namun mereka berdua sadar bahwa waktunya telah begitu mendekat.

“Tentu,” jawabnya sambil berjalan ke dapur.

“Bu Patterson selalu memikirkan sesuatu yang menyenangkan untuk kau lakukan,” Maggie berkata kepada Nathan. “Apa cerita yang harus kautulis beberapa minggu lalu yang amat kusukai itu?”

“Tentang katak?”

“Bukan. Ibu suka yang itu juga, tapi bukankah ceritanya mengenai bunga?”

“O, ya!” matanya bersinar. “Tentang apakah yang bunga-bunga pikirkan di bawah tumpukan salju.”

Maggie tersenyum melihat semangat besar putranya. Ia selalu suka membantu ibunya mengurus bunga. Ketika ia masih balita, Maggie menunjukkan titik hijau terkecil di tanah dan berkata, “Lihat, Nathan, ia mulai bertumbuh,” dan kemudian hari demi hari mereka menyaksikan bunga-bunga berkembang dan memekar sepanjang musim semi dan musim panas.

Maggie mengubah posisi duduknya dan berjuang keras menahan air matanya agar tidak keluar saat harus berbicara dengan putranya.

“Kau tahu, banyak hal yang akan terjadi pada minggu-minggu yang akan datang,” ia mulai perlahan-lahan. “Dan, banyak dari semua hal itu yang akan membuatmu bertanya-tanya.”

Nathan sudah mulai bertanya-tanya, dan wajahnya menunjukkan hal itu.

“Nathan,” ia menenangkan diri. “Suatu hari, ketika kau lebih dewasa kau mungkin ingin menyalahkan Allah karena membuatku sakit, namun Ibu tidak ingin kau melakukan itu.”

Nathan mengerutkan keningnya, kebingungan. Mengapa ibunya berbicara tentang keadaan sakitnya? Ia selalu beranggapan bahwa ibunya akan pulih karena mereka yang benar-benar sakitlah yang berada di rumah sakit.

“Ibu ingin kau selalu tahu bahwa Allah tidak membuatku sakit, Allah menolongku melalui sakit ini,” ia menghibur. “Ia memberiku kekuatan untuk bermain denganmu dan Rachel, serta menopang Ibu pada hari-hari yang sangat mengerikan.”

Nathan menundukkan kepalanya. Ia tidak suka bercakap-cakap tentang penyakit ibunya. Maggie berjuang untuk menemukan kata-kata yang tepat bagi anaknya yang berusia delapan tahun itu.

“Sebentar lagi,” ia berkata perlahan, “kau mungkin mendengar orang-orang dewasa berkata seperti, ‘Kasihan sekali, Allah memanggilnya pada usia begitu muda.’ Tapi mereka keliru, Nathan. Mereka keliru, dan Ibu tidak ingin kau mendengarkan mereka. Ketika mereka berkata sesuatu seperti itu, Ibu ingin kau selalu ingat apa yang baru kukatakan kepadamu saat ini. Allah tidak mengambil Ibu, Ia menerima Ibu.”

Dahi Nathan mengernyit saat ia memandang ibunya. Maggie menatap mata putranya yang ketakutan. Mungkin apa yang diceritakannya terlalu sukar untuk dipahami Nathan.

“Maksud Ibu di surga?” ia bertanya dengan suara nyaris berbisik.

Mendengar apa yang Nathan ucapkan, sungguh membuat hati Maggie pedih.

“Ya sayang, di surga.”

Nathan terdiam, Jack mendengarkan dari dalam dapur.

“Allah akan membawa Ibu ke surga?” Nathan bertanya dalam kebingungan.

“Tidak,” Maggie memastikan. “Ia tidak akan membawaku, Nathan. Ia akan membuka tangan-Nya dan menerima Ibu. Bedanya amat besar, dan Ibu selalu ingin kau mengingatnya.”

Nathan gelisah mendengar perkataan ibunya dan dengan perlahan bertanya, “Apa yang akan Ibu lakukan di sana?”

“Ibu bahkan tidak bisa membayangkannya,” Maggie berkata, suaranya terbata-bata. “Yang Ibu tahu, untuk waktu yang lama Ibu akan memandang Allah dan senantiasa bersyukur kepada-Nya karena mengirimkan Yesus pada hari Natal, dan untuk kehidupan yang diberikan-Nya kepada Ibu di sini bersamamu. Di sana tentu amat indah, Nathan, hingga Ibu bahkan tidak mampu mulai berpikir apa yang akan Ibu lakukan. Tapi Ibu tahu Ibu tidak akan sakit lagi.”

Nathan menatap ibunya. Maggie tersenyum. “Ibu akan benar-benar sehat dan Ibu akan berlari dan melompat dan bermain dan menari seperti yang biasa Ibu lakukan bersamamu sebelum jatuh sakit.”

Nathan tercenung lama memikirkan semua ini. Ia tidak suka membicarakan hal ini dengan ibunya. Ia tak suka karena semua ini memengaruhi perasaannya.

“Apakah ada binatang di sana?” akhirnya ia bertanya dengan rasa ingin tahu.

“Binatang-binatang terindah yang pernah Ibu lihat,” Maggie menjawab dan anaknya terpesona. “Binatang-binatang yang Allah ciptakan di dunia ini buat kita tidak sebanding dengan binatang-binatang di surga. Zebra dan jerapah? Mereka akan terlihat seperti kucing biasa dibandingkan binatang-binatang di surga.”

“Dan, tak satu pun dari mereka yang galak bukan?” Nathan bertanya penuh selidik.

“Tidak. Tak satu pun yang galak. Mereka lembut dan indah, dan kau bisa menaiki mereka dan bermain dengan mereka sepanjang hari.”

“Apakah jalanan benar-benar terbuat dari emas?”

Maggie tersenyum.

“Jalanan terbuat dari emas dan akan ada sungai-sungat dan air terjun yang indah, dan dataran yang paling indah yang pernah Ibu lihat.”

“Bunga-bunga akan tampak jauh lebih cantik daripada milik Ibu?” ia bertanya, terkejut.

“Lebih cantik daripada milik Ibu,” Maggie tertawa. “Bunga-bunga dan pohon-pohon jauh lebih cantik dari apa pun yang pernah Allah ciptakan di dunia ini.” Ia berhenti dan membiarkan Nathan merenungkan apa yang baru saja ia katakan.

“Apakah Ibu akan bertemu dengan Kakek di sana?” akhirnya ia bertanya sembari menatap kakinya yang terayun.

“Ya,” ia tersenyum. “Ia akan berada di pintu gerbang menanti Ibu.” Mata Maggie dipenuhi air mata, dan ia memalingkan kepalanya.

Nathan berpikir selama beberapa saat, berhenti mengayun kakinya, dan kemudian bertanya dengan lemas sambil memandang kakinya, “Mengapa Ibu harus pergi?”

Di dapur, Jack membenamkan kepalanya ke dalam lengannya.

“Karena Ibu sakit dan Ibu tidak bisa membaik lagi,” Maggie menjawab dengan lembut.

“Apakah aku bisa pergi bersama Ibu?” ia bertanya, takut dengan apa yang baru saja dikatakan ibunya. Maggie meremas sprei dan memutarnya, air mata menggenangi matanya.

“Tidak, sayang, kau tidak bisa pergi bersama Ibu.”

Air mata Nathan menetes, membasahi wajahnya saat ia menubruk dan memegang erat ibunya. “Aku tidak mau Ibu pergi tanpa aku,” ia menangis terisak.

Maggie melingkarkan tangannya ke punggung putranya. Dalam waktu yang singkat, ia tidak akan punya kekuatan untuk melakukannya lebih lama. Ia memeluk Nathan lebih erat.

“Ibu tidak ingin pergi tanpamu juga,” ia berkata, air mata menetes deras di wajahnya. “Ibu mau memberikan apa saja di dunia ini untuk tinggal bersamamu, tapi Ibu tidak bisa. Ibu harus pergi.”

“Tidak Ibu—tidak!” anak kecil itu memohon, jari-jemarinya yang mungil mencengkeram erat tubuh ibunya. “Aku tidak mau Ibu meninggalkan aku.”

Maggie mengusap wajahnya dan menarik Nathan lebih dekat, lalu menyeka air matanya.

“Hanya karena Ibu akan pergi tidak berarti Ibu tidak akan selalu bersamamu,” ia berkata sejuk. Saat bibir bawahnya mulai gemetar, Maggie tahu bahwa Nathan jelas tidak memahami apa yang baru saja dikatakannya. Ia memegang lembut wajah Nathan dengan kedua tangannya.

“Ibu mungkin tidak ada di sisimu, namun Ibu akan selalu berada di sini,” ia berkata sambil menyentuh dada putranya.

“Di situlah ayah dan Ibu hidup setelah ia pergi ke surga, dan di situlah Ibu akan selalu hidup di dalammu, di dalam hatimu.”

Anak kecil itu membaringkan kepalanya di dada ibunya dan Maggie dengan lembut mengusap punggung putranya.

“Ibu ingin kau selalu tahu,” ia berbisik kepadanya, “bahwa kegembiraan yang terbesar dalam hidupku adalah menjadi ibumu.” Ia mengarahkan wajah Nathan menghadap wajahnya dan mencium keningnya. Sambil menatap matanya, ia berdoa agar Nathan akan selalu mengingat malam ini. Agar suatu hari, hal ini akan memberi rasa damai kepadanya—agar hal ini akan memberinya harapan di hari Natal.

Ia memeluk erat Nathan, menciumi setiap bagian wajahnya hingga anak itu menggeliat dan mulai tertawa kegelian. “Kau sebaiknya bersiap untuk tidur, Anak Muda.”

Jack berdiri di dapur, mengusap matanya dengan lap piring sebelum berjalan ke ruang keluarga. Ia tidak ingin anaknya melihatnya menangis, yang akan semakin membuatnya makin berpikir. Namun mungkin ada baiknya membiarkan Nathan melihatnya menangis, untuk menunjukkan bahwa hal itu diperbolehkan, bahwa semua orang bisa menangis.

“Kembalilah ke kamarmu, Nathan,” kata Jack, “dan Ayah akan segera ke sana untuk menemanimu.”

“Ibu sayang kamu,” kata Maggie sambil mencium anak kecil itu lagi.

“Aku sayang Ibu juga,” ia menjawab dan memberinya ciuman selamat malam.

Nathan berjalan sendirian di lorong, tanpa sadar bahwa percakapan tadi suatu saat akan memberi pengaruh kepadanya.

Sebuah luapan perasaan tampak di wajah Maggie. Jack dengan penuh kasih mencium matanya dan mengusap air matanya. Ia akan berusaha menjelaskan semuanya kepada Nathan, suatu hari kelak saat ia makin dewasa. Ia akan menjelaskannya terus-menerus, hingga Nathan memahaminya.

Bagian lain, yang sangat menyentuh, tentunya adalah pertemuan Robert dan Nathan di malam Natal. Hal yang paling baik untuk dapat menggambarkan bagian ini adalah dengan menikmati lagu “The Christmas Shoes” karya NewSong berikut.

 

 

Pesan akhir dalam novel ini berkata: “Jika kita bersikap terbuka, Allah dapat memakai bahkan hal terkecil pun untuk mengubah kehidupan kita … untuk mengubah kita. Mungkin hal itu adalah seorang anak yang tertawa, rem mobil yang membutuhkan perbaikan, obral daging panggang, langit tak berawan, sebuah perjalanan ke hutan untuk menebang pohon Natal, seorang guru sekolah dasar, … atau bahkan sepasang sepatu. Sebagian orang tak akan pernah percaya. Mereka mungkin merasa bahwa hal-hal itu terlalu sepel, terlalu sederhana, atau terlalu tak berarti untuk selamanya mengubah sebuah kehidupan. Namun aku percaya, dan akan selalu percaya.”

Ya, saya pun percaya novel ini bisa menjadi alat yang dipakai Allah untuk menyentuh dan mengubah kita.

Terakhir, saya akan membagikan lirik lagu “The Christmas Shoes” yang menjadi inspirasi bagi Donna VanLiere.

It was almost Christmas time, there I stood in another line
Tryin’ to buy that last gift or two, not really in the Christmas mood
Standing right in front of me was a little boy waiting anxiously
Pacing ’round like little boys do
And in his hands he held a pair of shoes

His clothes were worn and old, he was dirty from head to toe
And when it came his time to pay
I couldn’t believe what I heard him say

Chorus:
Sir, I want to buy these shoes for my Mama, please
It’s Christmas Eve and these shoes are just her size
Could you hurry, sir, Daddy says there’s not much time
You see she’s been sick for quite a while
And I know these shoes would make her smile
And I want her to look beautiful if Mama meets Jesus tonight

He counted pennies for what seemed like years
Then the cashier said, "Son, there’s not enough here"
He searched his pockets frantically
Then he turned and he looked at me
He said Mama made Christmas good at our house
Though most years she just did without
Tell me Sir, what am I going to do,
Somehow I’ve got to buy her these Christmas shoes

So I laid the money down, I just had to help him out
I’ll never forget the look on his face when he said
Mama’s gonna look so great

Sir, I want to buy these shoes for my Mama, please
It’s Christmas Eve and these shoes are just her size
Could you hurry, sir, Daddy says there’s not much time
You see she’s been sick for quite a while
And I know these shoes would make her smile
And I want her to look beautiful if Mama meets Jesus tonight

Bridge:
I knew I’d caught a glimpse of heaven’s love
As he thanked me and ran out
I knew that God had sent that little boy
To remind me just what Christmas is all about

Repeat Chorus

Semoga lagu dan kisah ini dapat memberkati Anda semua.

Mari kita perhatikan hal-hal kecil di sekitar kita sebagai anugerah Allah untuk kita.

Tuhan memberkati kita semua.

Charles Christian

*Sumber kisah: Novel “The Christmas Shoes”, oleh Donna VanLiere, Gradien Books, 2005, p.123-131.

Setiap peristiwa, besar atau kecil, merupakan sebuah perumpamaan yang melaluinya Allah berbicara kepada kita, dan seni kehidupan adalah bagaimana mendapatkan pesannya.

– Malcolm Muggeridge –

Tag:, , , ,

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

6 responses to “Pelajaran dari Novel “The Christmas Shoes””

  1. Jabon says :

    suka banget yach baca novel..? lam kenal dari petani jabon ya..

  2. Refly says :

    Lagunya bagus banget….
    Jadi pengen baca novelnya juga, beli di mana les..?

    Btw, ijin buat linkback ya.
    Thx😀

  3. cristina sinaga says :

    maksih uda buat cerita tentang kisah inii..
    mkin sukses.
    syalooo
    g bu

  4. Fendri Feibert Akay says :

    Jadi pengen baca novelnya🙂

Trackbacks / Pingbacks

  1. Lagu: The Christmas Shoes « Sebutir Biji Sesawi Bagi Dunia - 10 September 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: