Jakarta: Kota Penuh Keajaiban

Jakarta adalah tempat yang sangat baik untuk menguji kesabaran Anda. Kalau tidak percaya, cobalah bawa mobil Anda melintasi jalan-jalan di Jakarta selama sehari penuh. Ketika hari berakhir, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Kemungkinan pertama adalah Anda akan menjadi orang yang lebih sabar. Kemungkinan kedua adalah Anda akan bersumpah tidak akan pernah naik mobil lagi di Jakarta.

Saya masih ingat kata-kata seorang kolumnis harian Kompas berikut: “In Jakarta, every second is a miracle.” Wow! Ini benar sekali…

Lihatlah angkot yang tiba-tiba menepi dari kecepatan 80 km/jam tanpa memberi sen (karena memang lampu sennya rusak).

Lihat pula motor-motor yang tiba-tiba datang dari arah berlawanan, arah yang sama sekali tidak pernah Anda duga, sampai-sampai Anda mengira motor itu seperti ninja yang bisa menghilang dan muncul kembali (akhirnya saya tahu kenapa ada sebutan ‘motor ninja’). Dan cobalah Anda perhatikan motor itu dengan pengendaranya. Tidak ada helm. Tidak ada kaca spion. Yang ada hanya telepon di telinganya. Ya! Dia sedang telepon… (ide siapa yang mengatakan telepon bisa menggantikan helm!?).

Perhatikan mobil-mobil yang lebih suka menerobos trotoar untuk memutar balik daripada berputar di putaran yang disediakan 100 m di depan mereka. Untuk yang satu ini, tampaknya yang mereka butuhkan hanya kacamata yang lebih tebal. Entah bagaimana dengan kacamata mereka yang sekarang, trotoar terlihat seperti putaran. Sangat absurd memang.

Dahulu, lampu merah berarti berhenti. Lampu kuning berarti hati-hati dan saatnya memperlambat kendaraan. Lampu hijau berarti jalan. Sekarang, lampu merah berarti maju sebanyak-banyaknya asal ga ketabrak (kalau kebetulan jalan kosong, lampu merah berarti jalan). Lampu kuning berarti saatnya mengebut. Lampu hijau berarti saatnya klakson dibunyikan. Taruhlah orang buta di persimpangan lampu merah. Saya yakin, orang buta itu pasti tahu kapan lampu berubah menjadi hijau. Gampang saja, dia tinggal mendengar saat klakson paling banyak dibunyikan. Lalu, bagaimana kalau lampu mati? Ah, itu sudah pasti artinya jalan…

Pejalan kaki pun tidak mau kalah. Meskipun zebra cross cuma berjarak 10 meter, rasanya mereka lebih suka tidak menyeberang di zebra cross. Mungkin mereka pecinta zebra yang menganggap dengan menginjak zebra cross, mereka sedang menginjak-injak martabat kaum zebra (maaf kalau saya agak jayus…). Belum lagi pejalan kaki yang berjalan dengan santainya menyebrangi keluaran jalan tol, di mana puluhan mobil dan truk yang keluar dari tol melalui jalan itu dengan kecepatan 80 km/jam. Mereka benar-benar mempunyai iman yang sangat besar dengan rem mobil-mobil dan truk-truk tersebut.

Dan, apakah Anda mau tahu keajaiban yang terjadi? Mereka semua bisa bertahan dengan keadaan ini, sehari, sebulan, setahun, bahkan sampai bertahun-tahun lamanya. Benar yang dikatakan kolumnis Kompas tersebut. Keajaiban terjadi setiap detik di Jakarta.

Keajaiban terjadi ketika angkot dapat menepi tiba-tiba dari kecepatan tinggi tanpa menubruk tiang listrik (atau ditubruk angkot lain).

Keajaiban terjadi ketika mobil-mobil dapat seketika berhenti dan tidak menabrak motor yang bahkan muncul bagaikan ninja.

Keajaiban terjadi ketika pejalan kaki dapat membagi jalan mereka di trotoar bersama mobil dengan akurnya.

Keajaiban terjadi ketika tabrakan dapat terhindarkan di persimpangan bahkan ketika semua pengendara dari berbagai arah berpikir “ini saatnya jalan” setelah melihat lampu lalu lintas yang mati.

Keajaiban terjadi ketika para pejalan kaki melihat truk berhenti 5 meter di samping mereka, dan mereka dapat berkata, “Aha! Rem truk itu baik sekali…”

Keajaiban terjadi setiap detik di Jakarta. Bagaimana mungkin Anda tidak bersyukur tinggal di kota yang penuh keajaiban ini?

Keajaiban memang terjadi. Tetapi saran saya, jangan menggantungkan diri Anda pada keajaiban. Bagaimana jika suatu saat keajaiban tidak terjadi? Itulah yang disebut dengan kecelakaan. Semoga Anda tidak perlu mengalaminya, untuk membuktikan peraturan lalu lintas itu baik adanya.

Patuhilah peraturan.

Ciptakanlah keajaiban Anda sendiri.

Bersyukurlah Anda tinggal di Jakarta, kota penuh keajaiban.

Tuhan memberkati kita.

Charles Christan.

Tag:, , , ,

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

8 responses to “Jakarta: Kota Penuh Keajaiban”

  1. lia says :

    :)) benar banget char.
    lia paling suka bagian ini:
    “Dahulu, lampu merah berarti berhenti. Lampu kuning berarti hati-hati dan saatnya memperlambat kendaraan. Lampu hijau berarti jalan. Sekarang, lampu merah berarti maju sebanyak-banyaknya asal ga ketabrak (kalau kebetulan jalan kosong, lampu merah berarti jalan). Lampu kuning berarti saatnya mengebut. Lampu hijau berarti saatnya klakson dibunyikan. Taruhlah orang buta di persimpangan lampu merah. Saya yakin, orang buta itu pasti tahu kapan lampu berubah menjadi hijau. Gampang saja, dia tinggal mendengar saat klakson paling banyak dibunyikan. Lalu, bagaimana kalau lampu mati? Ah, itu sudah pasti artinya jalan…”

  2. Yohan Wibisono says :

    “Nice artikel, inspiring ditunggu artikel – artikel selanjutnya, sukses
    selalu, Tuhan memberkati anda, Trim’s :)”

  3. MENONE says :

    waaaaaaaaahhhhh klo q ga berani nyoba bs stresssssss hahahahahahahha…………… lihat az udh stresss……….

  4. hudaesce says :

    Wah……,baru tahu nh kalo jakarta,segitu semrawutnya.maklum seumur-umur belum pernah ke jakarta,hehehehee

  5. Akang Haji says :

    Bagus banget artikelnya pak, coba kalo dipasang di koran, pasti dapat penghargaan. Lebih bagus lagi kalau disusun ulang menjadi buku, lengkap dengan fotonya, pasti laku keras😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: