Blame Disease

“Char, belok di sini…” saya mendengar suara teman saya di sebelah saya.

“Bukan di sini… Di depan ada satu belokan lagi…” saya menjawab dengan begitu yakinnya, sambil terus menyetir mobil saya terus maju melewati belokan itu.

Tapi, benar kata teman saya, tidak ada belokan lagi di depan. Saya baru saja melewati belokan yang benar.

“Tuh kan, ga ada belokan lagi… Bener kan tadi gua bilang. Lo ga ikutin sih, nyasar dah…” teman saya geleng-geleng kepala.

Ouch. Percaya saya, tidak pernah menyenangkan mengetahui kita salah pilih jalan, apalagi karena kita yang keras kepala.

“Oke… Kalau gitu kita putar balik saja, terus belok kiri.” saran teman saya lagi.

Saya betul-betul tergoda untuk mengikuti saran-saran teman saya selanjutnya. Namun, sejujurnya, bukan karena saya mempercayainya. Tapi, karena saya tidak ingin bertanggung jawab atas kesalahan yang terjadi.

Kalau sarannya benar, itu bagus. Kalau sarannya salah, dan kita jadi nyasar, ada yang bisa disalahkan. Siapa lagi, kalau bukan teman saya yang memberi saran itu.

Itu benar-benar godaan yang besar. Godaan untuk melepas tanggung jawab, dan menyalahkan orang lain. Apa pun yang terjadi, kita aman. Kalau benar, bagus. Kalau salah, orang lain yang akan kita salahkan.

Saya rasa, ini lebih dari sekedar godaan. Ini adalah sebuah penyakit. Saya menyebutnya, “Penyakit Saling Menyalahkan”, atau “Blame Disease”.

Tanda-tanda penyakit ini sangat mudah dilihat. Tanda-tandanya adalah orang yang terjangkit penyakit “Blame Disease” akan selalu mencari kambing hitam (hal-hal yang bisa dia salahkan) ketika suatu hal yang buruk terjadi.

  • Ujian dapat nilai jelek karena kebanyakan main game, yang disalahkan adalah guru yang ga bisa ngajar.
  • Jadi sakit karena kurang tidur, yang disalahkan adalah bos yang memberi banyak pekerjaan.
  • Jatuh ke dalam lubang karena jalan ga lihat-lihat, yang disalahkan adalah pekerja yang menggali lubang.

Menyalahkan sepertinya sangat enak. Melepas tanggung jawab sepertinya membuat kita aman.

Tapi benarkah kita benar-benar aman ketika melepas tanggung jawab?

Kembali ke cerita saya, saya berpikir lagi, siapa yang rugi kalau akhirnya kita nyasar? Apakah hanya teman saya yang rugi? Tidak… Saya juga rugi.

Bukankah kita akan lebih menyesal jika kita salah karena tidak mengikuti kata hati kita (yang ternyata benar)?

Saat itu juga, saya putuskan untuk mengikuti saran teman saya, tapi tetap bertanggung jawab atas segala risikonya (dan syukurlah ternyata sarannya tepat🙂 ).

Ketika seseorang terjangkit “Blame Disease” stadium lanjut, kita bahkan bisa menghancurkan diri kita sendiri hanya agar kita bisa menyalahkan orang lain, dan membuat orang lain merasa bersalah.

Itulah yang terjadi dengan orang yang memilih bunuh diri karena ditinggalkan pacarnya. Kenapa mereka bunuh diri? Karena mereka ingin menyalahkan mantan pacarnya yang telah meninggalkannya. Mereka ingin berkata kepada mantan pacarnya, “Lihatlah kematianku. Ini terjadi karena kamu meninggalkanku!” dan membuat mantan pacarnya merasa bersalah.

Seolah, mereka berhasil dengan membuat mantan pacarnya merasa bersalah. Mereka berhasil menyalahkan. Tapi, faktanya mereka kehilangan nyawanya. Mereka menukarkan nyawa mereka untuk kepuasan atas rasa bersalah mantan pacar mereka! Bukankah ini sangat tidak masuk akal? Tapi ironisnya, ada saja yang melakukan kebodohan ini.

Jadi, bagaimana menyembuhkan “Blame Disease” ini? Saya menyarankan dua langkah berikut.

1. Bertanggung jawablah atas apa pun yang kita lakukan dan apa pun yang terjadi dalam hidup kita.

Bertanggung jawab di sini bukan berarti kita menyalahkan diri kita sendiri. Bertanggung jawab berarti ketika kita salah, kita mengakui kesalahan kita, dan belajar dari kesalahan itu. Kita selalu melihat apa yang dapat kita ubah dari diri kita sendiri untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. Fokus kita bukan lagi mencari kambing hitam, tapi mengubah diri kita menjadi lebih baik.

2. Selalu melihat sisi positif dari segala hal buruk yang terjadi, dan syukurilah.

Saya yakin, semua hal buruk yang terjadi pada diri kita pasti mempunyai sisi positif. Ketika kita bisa memfokuskan diri kita pada hal-hal positif tersebut, kita menjadi mampu mensyukuri hal buruk yang terjadi pada diri kita. Dan kita tidak akan menyalahkan siapa-siapa ketika kita mulai bersyukur. Kenapa? Sederhana saja, karena kita tidak lagi menganggap kesalahan itu sebagai sebuah kesalahan. Kita melihatnya sebagai sebuah pelajaran yang berharga. Malah, mungkin saja kita malah berterima kasih kepada orang-orang yang semula kita jadikan kambing hitam.

Tuhan menginginkan kita saling mengasihi, bukan saling menyalahkan.

Mari kita bebaskan diri kita dari “Blame Disease” ini.

Tuhan memberkati kita semua.

Charles Christian

Tag:, , , , ,

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

22 responses to “Blame Disease”

  1. patihmomo says :

    mantaaabbss gaaann…

  2. Nine says :

    setuju sobat ngan artikel nih..keren…no 1 & no 2 tu tepat sekali🙂

  3. zik says :

    ya betul , kita harus bertanggung jawab apa yang telah kita lakukan…

  4. Hariez says :

    hahahahha…benar juga sob tanggung jawab memang hal yang paling utama dalam menjalani kehidupan ini😀

    salam hangat

  5. zankjex says :

    setuju…mulai dari sekarang saya harus belajar bertanggung jawab, hehe..

    salam blogger!

  6. lyna riyanto says :

    saya akan lebih banyak bersyukur🙂
    terima kasih
    postingnya sangat bermanfaat

  7. Cahya says :

    Tapi tentunya itu termasuk penyakit menyalahkan diri sendiri kan? Walau bersalah alias salah, yang sebaiknya dikerjakan adalah memperbaiki, bukannya menambah lebih banyak “label” salah -, ah…, tapi kadang berbicara lebih mudah daripada aplikasinya.

  8. TuSuda says :

    Iya, baiknya kita selalu menghargai kemampuan diri dalam mencapai cita-cita, dengan tetap bekerjasama dengan yang lainnya. Makasi atas semangat inspirasinya…

  9. yusami says :

    memang tidak jarang terjadi demikian, malah orang sering mencari kompensasi dari sebuah kesalahn yang dibuatnya, semoga saya tidak demikian. salam hangat dan sukses selalu.

  10. julianusginting says :

    salam kenal bang charles..😀

  11. orange float says :

    manusia memang tidak ada yang mau disalahkan bahkan sudah jelas terbukti salah pun masih enggan untuk minta maaf.

  12. Jasmine says :

    bis nangis,putus dari pacar.baca artikel ne jadi semngat ge,mksh om🙂

  13. yanti says :

    OOT: iya mas…betul kalau konten is a king…hihihi..btw nice blog…lebih menginspirasi dari blog ecek-ecek saya mas…

  14. Yohan Wibisono says :

    “Nice artikel, inspiring ditunggu artikel – artikel selanjutnya, sukses selalu, Tuhan memberkati anda, Trim’s :)”

  15. Yohanes Hutabalian says :

    “Blame Disease”
    nice posting. mohon izin share ke tman2 fb ku ya.
    Tuhan memberkati kita semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: