Uang, Kekayaan, dan Spiritualitas (3): Apa Definisi “Kekayaan” Bagimu?

Pada dua tulisan sebelumnya, saya sudah menjelaskan mengenai pergumulan yang saya hadapi seputar uang, kekayaan, dan spiritualitas (khususnya iman Kristen saya). Pada tulisan ini, saya akan membagikan posisi saya saat ini. Bagaimana pandangan saya saat ini tentang uang, kekayaan, dan spiritualitas?

Mari kita kembali ke pertanyaan awal yang saya ajukan di awal tulisan pertama saya: “Apakah orang Kristen boleh kaya?” Jawaban yang saya yakini saat ini adalah: “Orang Kristen sudah seharusnya dan harus berjuang terus untuk menjadi kaya.” Tolong jangan salah paham dan menelan pernyataan saya tersebut mentah-mentah sebelum membaca penjelasan saya mengenai definisi “kaya” menurut saya…

Apa Itu Kekayaan?

Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sangat mendasar yang harus dijawab terlebih dahulu. Jawaban dari pertanyaan: “Apakah orang Kristen boleh kaya?” akan sangat bergantung pada definisi “kekayaan” bagimu.

Umumnya, orang akan mendefinisikan kekayaan berdasarkan banyaknya harta materi atau uang yang dia miliki. Majalah Forbes menyatakan seseorang disebut kaya jika memiliki penghasilan lebih dari 1 juta US$ per tahun. Ada lagi paham lain yang menyatakan seorang disebut kaya jika dia sudah mempunyai passive income yang lebih besar daripada pengeluarannya. Kekayaan seringkali diidentikkan dengan kebebasan finansial.

Mari saya beritahu satu hal, kawan… Kekayaan jauh lebih berharga dari sekedar mempunyai banyak uang.

Bagi saya, kekayaan lebih adalah mengenai “hubungan” daripada “uang”. Definisi kekayaan saya adalah terjalinnya hubungan yang baik antara saya dengan Tuhan, keluarga, dan sesama saya. Semakin erat hubungan saya dengan Tuhan, keluarga, dan sesama, maka semakin kaya saya.

Tapi Charles, Bukankah Kita Juga Butuh Uang!?

Ya, saya mengakui, seringkali uang dibutuhkan untuk membuat hubungan saya dengan Tuhan, keluarga, dan sesama menjadi semakin erat. Uang dibutuhkan untuk menghidupi diri saya dan keluarga saya. Uang dibutuhkan untuk membantu sesama kita yang kesulitan finansial. Uang dibutuhkan para hamba Tuhan yang memberitakan Injil. Uang dibutuhkan untuk membangun tempat-tempat ibadah.

Tapi, intinya, uang bukanlah tujuan akhirnya. Uang hanyalah alat yang dapat saya gunakan untuk membangun hubungan saya dengan Tuhan, keluarga, dan sesama menjadi lebih baik lagi. Hanya jika uang itu dapat digunakan untuk mendekatkan diri saya pada Tuhan, uang menjadi hal yang baik.

Lihat, inilah hal yang seringkali membuat orang-orang sulit mengaitkan uang, kekayaan, dan spiritualitas. Itu adalah karena mereka menetapkan dua tujuan dalam satu waktu. Tujuan pertama adalah kaya secara rohani. Dan tujuan kedua adalah kaya secara finansial. Apakah keduanya bisa tercapai dalam satu waktu? Belum tentu…

Banyak orang yang seolah memaksa Tuhan untuk menjadikannya kaya secara finansial agar dia dapat menjadi berkat bagi banyak orang. Mereka berpikir, jika mereka kaya secara finansial, barulah mereka dapat menjadi berkat. Ini adalah pemikiran yang terbalik! Justru, menjadi berkat haruslah dilakukan bahkan jika kita tidak kaya secara finansial. Dan, kalau Tuhan menganugerahkan kekayaan finansial kepada kita, kita harus mengucap syukur dan terus menjadi berkat bagi orang lain. Tidak ada kewajiban Tuhan untuk menjadikan kita kaya secara finansial.

Jadi, mungkinkah kita kaya secara rohani dan kaya secara finansial juga? Saya percaya, ini mungkin! Tapi, kekayaan rohani haruslah yang jadi utama, dan kekayaan finansial kita gunakan untuk lebih memperkaya rohani kita. Ini bukanlah hal yang mudah (lihatlah betapa banyaknya orang yang jatuh secara rohani karena kekayaan finansial). Itulah sebabnya Allah benar-benar memilih setiap dari kita yang sudah siap untuk itu.

Orang Salehlah yang Justru Diuji Tuhan

Banyak paham teologi sukses mengatakan, orang yang saleh akan lepas dari kesulitan. Allah akan memberikan kesuksesan dan kelimpahan terus menerus bagi orang yang taat kepada-Nya. Sungguhkah seperti itu? Jika kita dengan teliti membaca Alkitab, kita seharusnya sudah tahu jawabannya adalah tidak. Justru sebaliknya… Orang salehlah yang justru diuji Tuhan.

Di kitab Kejadian, kita melihat Tuhan menguji iman Abraham dengan memintanya mempersembahkan anaknya, Ishak. Di kitab Ayub, kita melihat Tuhan justru yang berkata pertama kali kepada Iblis tentang Ayub yang begitu saleh. Dan, Tuhan juga yang mengizinkan Iblis untuk mencobai Ayub.

Mengapa Allah mengizinkan Iblis mencobai Ayub? Pada akhirnya, Allah menganugerahi Ayub harta berkali-kali lipat dibandingkan hartanya sebelumnya. Tapi, mengapa Ayub perlu mengalami penderitaan sebelum mendapatkan anugerah Allah tersebut? Itu karena Allah menginginkan Ayub betul-betul sangat amat kaya secara rohani sebelum dia akhirnya kaya juga secara finansial.

Orang yang belum kaya secara rohani sangat berbahaya jika kaya secara finansial. Kekayaan finansial akan membuat kebebasan kita bertambah besar. Dan, kebebasan yang bertambah besar akan sangat berbahaya jika kita belum bisa bertanggung jawab. Bayangkan Anda membiarkan anak Anda yang masih balita mengendarai mobil Anda. Bukankah itu akan menjadi sebuah bencana? Begitu pula, uang di tangan orang-orang yang belum kaya secara rohani akan menjadi bencana bagi dirinya dan orang lain.

Tapi, kalau mobil itu dikendarai oleh kita yang sudah tahu bagaimana cara mengendarainya, bagaimana peraturan yang harus diikuti, bagaimana etika yang ada di jalan raya… Mobil akan menjadi hal yang baik. Mobil akan mempercepat kita sampai pada tujuan. Uang di tangan orang-orang yang sudah kaya secara rohani akan membuat mereka semakin kaya secara rohani.

Inilah mengapa Allah memperkaya Ayub secara rohani terlebih dahulu. Pada awalnya, Ayub memang sudah kaya rohani. Tapi, setelah mengalami sederetan cobaan Iblis, Ayub menjadi sangat-sangat-sangat kaya secara rohani.

Ayub 42:5 mengatakan, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.”

Lihatlah perbedaan kekayaan rohani Ayub sebelum dan sesudah dia dicobai. Sebelumnya, Ayub hanya mendengar dari orang saja tentang Allah, tetapi sekarang matanya sendiri memandang Allah. Ayub merasakan sendiri kuasa Allah di dalam hidupnya.

Kekayaan Sejati

Jadi kawan, kekayaan sejati bukanlah kekayaan finansial. Banyak orang yang kaya secara finansial yang tidak bahagia. Kekayaan yang sejati adalah kekayaan hubungan. Hubungan yang kaya dengan Tuhan, dan hubungan yang kaya dengan sesama kita.

Kekayaan finansial akan menjadi baik hanya jika kekayaan finansial itu semakin memperkaya hubungan kita dengan Tuhan dan sesama.

Kawan, kejarlah kekayaan sejati terlebih dahulu. Dan Tuhan akan menganugerahkanmu kekayaan finansial, jika Allah berkenan memberikannya dan kita sudah siap menerimanya.

Kejarlah apa yang mendamaikan hatimu. Itulah yang diinginkan Tuhan. Kejarlah kekayaan finansial hanya jika kamu sudah mencapai level mengejar kekayaan finansial itu mendamaikan hatimu. Dan, saya percaya, saat mengejar kekayaan finansial mendamaikan hati kita, kita telah kaya secara rohani. Maka kita pasti akan menggunakan kekayaan finansial itu untuk lebih memperkaya hubungan kita dengan Tuhan dan sesama, menjadi seorang yang lebih rendah hati, dan menjadi lebih banyak berkat dengan menolong lebih banyak orang yang membutuhkan di sekitar kita.

Itulah definisi “kekayaan” bagi saya.

Apa definisi “kekayaan” bagimu?

Tuhan memberkati kita.

Charles Christian

Tag:, , , , , , , , , ,

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

7 responses to “Uang, Kekayaan, dan Spiritualitas (3): Apa Definisi “Kekayaan” Bagimu?”

  1. rumus cepat matematika says :

    makasih banyak ilmunya…salam hangat,,,

  2. Resa says :

    tukeran link yuk mas…klo tertarik komen di blog sya ya..
    terima kasih

    kreatif anak jalanan

  3. Yohanes Hutabalian says :

    bagus om Charles
    like this : )
    saya share ke tman2 fb ku boleh ya??
    God bless😀

  4. Ferdinan Naibaho says :

    Thanks Bang Charles buat share pengalamannya.. GBU

  5. miharsodono says :

    Sippp saya sangat sangat diberkati, Tuhan akan membalas taburan bapak…shalom

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: