Archive | Juli 2010

Seorang Anak Bimbingan Yang Menjadi Berkat Untuk Saya

Sebuah Berita Mengejutkan Di Pagi Hari

“Ko, kayanya nanti saya ga kaer (kebaktian remaja) dan pembinaan deh… Rumah saya kebakaran!”

SMS itu masuk ke dalam inbox handphone saya pada hari Minggu kemarin, 25 Juli 2010 Pk 03:21 dini hari. Pengirimnya? Kurniawan, seorang anak bimbingan saya di gereja.

Saya baru membaca SMS itu ketika saya bangun jam setengah 6 pagi. Hampir saja saya menjatuhkan handphone saya saat membacanya. Saya langsung mencoba menghubungi dia.

Sia-sia. Handphone-nya tidak aktif. Saya malah menjadi bertambah khawatir. “Oh Tuhan, apa yang terjadi dengannya?”

Saya sungguh bergumul saat itu. Pagi itu, saya ada janji pergi dengan teman saya. Tapi, saya tidak akan mungkin dapat meninggalkan anak bimbingan saya dalam keadaan yang belum jelas dan sangat membuat saya khawatir. (Sebenarnya saya malu mengakui bahwa awalnya saya masih ragu-ragu untuk membantu anak bimbingan saya sendiri, tapi saya ingin bercerita dengan jujur). Kebingungan saya terjawab beberapa menit kemudian di kamar mandi saya.

Saya sedang mandi ketika saya bertanya kepada Tuhan di dalam hati saya, “Tuhan? Apa yang harus saya lakukan?” Dan saya percaya, Tuhan menjawabnya ketika ada sebuah suara yang saya rasakan sangat jelas di dalam hati saya: “Datanglah ke sana…”.

“Tapi Tuhan, apa yang bisa saya lakukan di sana?” Saya tidak pernah membantu orang yang mengalami musibah kebakaran sebelumnya. Meskipun di satu sisi saya sangat ingin membantu, di sisi lain saya merasa bingung dan tidak nyaman.

Semua keraguan saya sirna ketika suara itu bergema lagi di dalam hati saya: “Datanglah ke sana… Aku ingin menunjukkan sesuatu yang besar kepadamu.”

Singkat cerita, akhirnya saya membatalkan janji dengan teman saya. Dan saya pergi, ke lokasi kebakaran itu. Saat itu, saya sama sekali tidak tahu, bahwa Tuhan akan memberi saya berkat yang melimpah di sana.

Baca Selengkapnya..

Blame Disease

“Char, belok di sini…” saya mendengar suara teman saya di sebelah saya.

“Bukan di sini… Di depan ada satu belokan lagi…” saya menjawab dengan begitu yakinnya, sambil terus menyetir mobil saya terus maju melewati belokan itu.

Tapi, benar kata teman saya, tidak ada belokan lagi di depan. Saya baru saja melewati belokan yang benar.

“Tuh kan, ga ada belokan lagi… Bener kan tadi gua bilang. Lo ga ikutin sih, nyasar dah…” teman saya geleng-geleng kepala.

Ouch. Percaya saya, tidak pernah menyenangkan mengetahui kita salah pilih jalan, apalagi karena kita yang keras kepala.

Baca Selengkapnya..

Fokus Pada Hal Kecil Untuk Mencapai Hal yang Lebih Besar

Michael Jordan memiliki sebuah catatan prestasi yang menarik. Dia rata-rata menghasilkan 32 poin untuk timnya dalam satu pertandingan basket. Ketika ditanya, bagaimana dia dapat melakukannya, dia menjawab, “Fokus saya adalah menciptakan 8 poin dalam setiap quarter. Karena ada 4 quarter dalam sebuah pertandingan, maka saya menghasilkan 32 poin dalam satu pertandingan.”

Memiliki mimpi yang besar itu sangat bagus. Tapi, terkadang mimpi yang besar membuat orang-orang yang mempunyai mimpi itu menjadi bingung bagaimana mereka dapat mencapainya. Seolah-olah, mimpi itu adalah suatu hal yang tak dapat dicapai oleh mereka. Kenapa? Karena mereka merasa mimpi itu terlalu besar untuk mereka.

Baca Selengkapnya..

Uang, Kekayaan, dan Spiritualitas (3): Apa Definisi “Kekayaan” Bagimu?

Pada dua tulisan sebelumnya, saya sudah menjelaskan mengenai pergumulan yang saya hadapi seputar uang, kekayaan, dan spiritualitas (khususnya iman Kristen saya). Pada tulisan ini, saya akan membagikan posisi saya saat ini. Bagaimana pandangan saya saat ini tentang uang, kekayaan, dan spiritualitas?

Mari kita kembali ke pertanyaan awal yang saya ajukan di awal tulisan pertama saya: “Apakah orang Kristen boleh kaya?” Jawaban yang saya yakini saat ini adalah: “Orang Kristen sudah seharusnya dan harus berjuang terus untuk menjadi kaya.” Tolong jangan salah paham dan menelan pernyataan saya tersebut mentah-mentah sebelum membaca penjelasan saya mengenai definisi “kaya” menurut saya…

Apa Itu Kekayaan?

Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sangat mendasar yang harus dijawab terlebih dahulu. Jawaban dari pertanyaan: “Apakah orang Kristen boleh kaya?” akan sangat bergantung pada definisi “kekayaan” bagimu.

Umumnya, orang akan mendefinisikan kekayaan berdasarkan banyaknya harta materi atau uang yang dia miliki. Majalah Forbes menyatakan seseorang disebut kaya jika memiliki penghasilan lebih dari 1 juta US$ per tahun. Ada lagi paham lain yang menyatakan seorang disebut kaya jika dia sudah mempunyai passive income yang lebih besar daripada pengeluarannya. Kekayaan seringkali diidentikkan dengan kebebasan finansial.

Mari saya beritahu satu hal, kawan… Kekayaan jauh lebih berharga dari sekedar mempunyai banyak uang.

Baca Selengkapnya..

%d blogger menyukai ini: