Uang, Kekayaan, Dan Spiritualitas (2): Mengapa Ingin Kaya?

Empat bulan yang lalu, paman saya sakit, dan masuk ke rumah sakit. Begitu banyak sakit komplikasi yang dideritanya. Berita buruknya, dia tidak mempunyai uang untuk biaya pengobatan.

Sehari di rumah sakit menghabiskan dana jutaan rupiah. Dia tidak dapat menanggungnya. Istrinya juga tidak bisa menanggungnya.

Menjadi satu-satunya keluarga yang diharapkan saat itu, keluarga saya yang menanggung biaya pengobatannya. Namun, keadaan bertambah berat ketika setelah beberapa minggu di rumah sakit, tidak ada tanda-tanda pemulihan, yang ada malah biaya yang bertambah besar setiap harinya.

Pertengkaran demi pertengkaran mulai terdengar di rumah saya. Mama saya, yang mengurus keuangan keluarga, melihat kondisi keuangan akan semakin kritis jika pengobatan dilanjutkan.

Dilema terbesar ada di pundak papa saya. Meskipun kakak papa saya ini bukanlah seorang yang menyenangkan dan telah berbuat begitu banyak kesalahan, dia tetaplah kakak papa saya, dan dia sedang terbaring sakit di rumah sakit saat ini, seperti menunggu ajal menjemput yang tidak tahu kapan terjadi. Konon, ikatan batin antar saudara kandung begitu besarnya, melampaui semua logika akuntansi dan perencanaan keuangan.

Papa saya begitu sedih, karena seolah dihadapkan pada sebuah pilihan yang tidak seharusnya, antara kakak kandungnya atau istrinya.

Suatu hari, saya menjenguk paman saya ini di rumah sakit. Sebenarnya, saat itu adalah kali pertama saya datang menjenguk paman saya. Sebelumnya, saya hanya mendengar kabar paman saya dari papa dan mama saya. Karena saya tidak dekat dengan sang paman, saya tidak merasakan apa yang dirasakan oleh papa saya. Tapi, segalanya berubah ketika saya melihat dia untuk pertama kalinya di rumah sakit.

clip_image002

Saya melihatnya di atas tempat tidur. Selang oksigen ada di hidungnya. Matanya membuka setengah. Kakinya penuh dengan perban. Sudah berminggu-minggu dia tidak bangun dari tempat tidurnya, bukan karena tidak mau, tapi karena dia tidak bisa. Saya mendengar suara-suara yang dikeluarkannya, seolah dia berjuang begitu rupa untuk setiap nafas yang ditariknya.

Tiba-tiba, saya merasakan sebuah kepedihan yang amat sangat, dan saya menangis. Saya tidak dapat menahan air mata keluar dari mata saya.

Tahukah kawan, mengapa saya menangis? Karena wajahnya benar-benar mirip dengan wajah papa saya! Ketika saya melihat paman saya terbaring di sana, saya seperti melihat papa saya yang sedang terbaring di sana. Lemah. Tidak berdaya.

Yang menyentak saya lebih hebat lagi adalah sebuah kenyataan bahwa saya tidak mempunyai cukup uang untuk memberikan pengobatan kepada papa saya, seandainya papa saya yang menderita sakit saat itu.

Saya melihat papa saya, dengan wajahnya yang sangat sedih dan prihatin, mengambil satu botol Aqua. Dia membuka tutupnya, dan menuangkan sedikit air ke tutupnya, dan mulai menuangkannya ke dalam mulut paman saya. Itulah ritual yang biasa dilakukan papa saya ketika menjenguk paman saya. Memberinya minum, dan duduk di sampingnya. Papa saya terus setia melakukannya, meskipun tiada kata terima kasih yang terlontar dari mulut paman saya. Ya, itulah kasih.

Saat itu, saya benar-benar ingin menjadi kaya. Bukan untuk diri saya sendiri, tapi untuk membantu orang lain. Dengan uang yang saya miliki, saya punya kebebasan lebih untuk membantu orang-orang yang saya kasihi. Saya membayangkan betapa menyesalnya saya kalau saya tidak dapat memberikan pengobatan kepada papa saya jika papa saya sakit. Itu benar-benar menyakitkan hati saya.

Kini, paman saya telah tiada. Tuhan memanggilnya pulang dua bulan yang lalu. Tapi, saya tidak bisa melupakan momen itu, ketika saya melihatnya terbaring di rumah sakit. Setiap kali saya mengingatnya, setiap kali pula keinginan saya untuk menjadi kaya begitu berkobarnya. Namun, jauh di lubuk hati saya, saya tetap menganggap “ada yang salah dengan menjadi kaya.” Rasanya, menjadi kaya seperti menjauhkan diri dari Tuhan, dan memilih mamon.

Sampai bulan lalu, saya membaca satu tulisan yang sangat menginspirasi saya. Di sana, saya seperti menemukan puzzle yang hilang dari pembahasan tentang kekayaan dan spiritualitas. Saya menyadari kesalahan dari konsep yang saya anut dahulu. Kini, menjadi kaya adalah suatu hal yang mendamaikan bagi saya. Saya tidak lagi menganggap Tuhan sebagai anti kekayaan. Tapi, sebelumnya, kita perlu mendefinisikan ulang kekayaan itu. Saya akan menjelaskannya pada Anda tentang apa yang saya dapatkan dari tulisan itu, dan bagaimana tulisan itu telah mengubah konsep saya tentang kekayaan dan spiritualitas.

Bersambung…

Tag:, , , , , , , ,

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

4 responses to “Uang, Kekayaan, Dan Spiritualitas (2): Mengapa Ingin Kaya?”

  1. anthonysteven says :

    Condonlences for your uncle charles.. I have some comments but I want to wait for part three first🙂

  2. Charles says :

    @anthonysteven:

    Hi To… Long time no see u.🙂

    I’ll wait for your comments yah…😀

  3. Yohanes Hutabalian says :

    nice.
    God bless

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: