Uang, Kekayaan, dan Spiritualitas (1): Sebuah Pergumulan Besar

Tulisan saya kali ini akan sedikit berbeda dari tulisan saya biasanya. Jika biasanya saya banyak memberikan nasihat-nasihat motivasi, kali ini saya akan lebih banyak bercerita dan mencurahkan isi hati saya secara jujur. Saya akan membahas satu topik yang cukup sensitif di kalangan Kekristenan, yaitu mengenai uang, kekayaan, dan spiritualitas.

Banyak orang yang diam-diam bergumul akan hal ini. Saya termasuk di antaranya. Sekarang, melalui tulisan ini, saya mau sharingkan proses pergumulan saya itu.

“Apakah orang Kristen boleh kaya? Bisakah orang kaya masuk Surga? Apakah benar Tuhan ingin kita menjadi kaya?” Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang terus saya pertanyakan sepanjang pergumulan saya. Di akhir pergumulan saya, saya menemukan bahwa pertanyaan itu ternyata bukanlah pertanyaan yang baik. Saya akan menjelaskan alasannya di seri terakhir tulisan saya.

Oh ya, ngomong-ngomong, saya memutuskan untuk membuat tulisan saya kali ini menjadi sebuah serial bersambung (mengingat panjangnya tulisan yang saya buat kali ini). Pesan saya, janganlah mengutip kata-kata saya lepas dari konteksnya. Apa yang saya tuliskan di sini adalah proses pergumulan saya. Tolong jangan mengambil kesimpulan apa-apa sebelum saya menyimpulkannya di seri terakhir dari tulisan saya.

Oke, cukup pengantarnya… Sekarang marilah kita mulai seri pertama dari tulisan ini.😀


Antara Uang dan Tuhan

Saya menemukan ada dua pandangan ekstrim kekristenan ketika berbicara tentang uang dan kekayaan.

Pandangan ekstrim yang pertama adalah pandangan “Orang Kristen harus kaya.” Pandangan ini biasanya diyakini oleh mereka yang mempercayai “Teologi Sukses”. Mereka menganggap kekayaan sebagai berkat Tuhan yang pasti didapatkan oleh semua orang beriman. Menurut mereka, Tuhan itu Maha Baik, dan pastilah akan memberkati orang-orang yang beriman kepada-Nya dengan berlimpah-limpah materi, kesuksesan, serta uang yang banyak. Bagi mereka, orang yang miskin adalah orang yang kurang beriman, maka kurang diberkati Tuhan.

Pandangan ekstrim yang kedua adalah pandangan “Orang Kristen tidak boleh kaya.” Mereka mempunyai ayat favorit yang berbunyi “lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Karena itu, mereka mengambil kesimpulan, orang kaya mustahil masuk Surga. Menurut mereka, setiap orang beriman dipanggil untuk menderita bagi Tuhan di dunia, salah satunya adalah dengan menjadi miskin. Dengan menjadi miskin, mereka yakin Tuhan akan mencukupkan kebutuhan mereka setiap hari melalui cara-cara yang mungkin tidak pernah mereka duga. Mereka hanya cukup beriman dan menunggu. Bagi mereka, orang kaya adalah orang yang cinta uang, yang akan lebih mementingkan uangnya daripada Tuhan.

Saya tidak menyatakan apakah kedua pandangan di atas benar atau salah, setidaknya tidak saat ini.

Saya akan menceritakan pergumulan yang saya hadapi terkait uang, kekayaan, dan spiritualitas.


Tuhan VS Uang

Ketika saya masih kecil, saya sudah ikut sekolah Minggu. Di sana, saya banyak mendengar cerita-cerita Alkitab. Saya mendengar cerita bagaimana hidup Tuhan Yesus yang jauh dari kekayaan. Di dalam sebuah cerita, ada seorang kaya yang ingin mengikut Yesus. Yesus memerintahkan orang kaya itu untuk menjual hartanya dan membagi-bagikan semua hartanya kepada orang-orang miskin sebelum dapat mengikut Dia. Saya juga cukup sering mendengar ayat yang saya kutip di atas: “lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (saat itu saya benar-benar membayangkan seekor unta dan sebuah jarum jahit!)

Pikiran saya mulai terprogram pernyataan-pernyataan berikut: “Tuhan menentang orang kaya.”, “Orang kaya mustahil masuk Surga.”, “Orang kaya adalah orang yang cinta uang lebih daripada Tuhan.”, “Tuhan ingin kita hidup cukup. Jangan menjadi kaya.”

Dengan kata lain, saya mulai mengadopsi ekstrim kedua.

Tanpa saya sadari, saya memposisikan uang dan Tuhan dalam sudut yang berlawanan. Saya seperti dihadapkan pada sebuah pilihan: “mendapatkan uang ATAU mendapatkan Tuhan”, dan saya hanya bisa memilih satu saja, karena Matius 6:24 menuliskan “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan.”

Percaya saya, dihadapkan pada pilihan di atas adalah sebuah tekanan batin. Kenapa? Karena saya ingin mendapatkan Tuhan, tapi saya tidak mungkin tidak mendapatkan uang, karena saya masih perlu makan.


Uang Bukan Segalanya, Namun Segalanya Butuh Uang

Mempertarungkan antara Tuhan dan uang ternyata bukanlah ide yang baik. Karena, jika pilihannya hanya “mendapatkan uang” atau “mendapatkan Tuhan”, secara teori saya bisa memilih untuk “mendapatkan Tuhan”, tapi pada prakteknya saya pasti harus “mendapatkan uang” juga.

Uang memang bukan segalanya, namun segalanya butuh uang. Kita masih membutuhkan uang untuk membeli makanan, untuk menopang hidup kita. Gereja pun butuh uang untuk biaya operasional mereka, dan membiayai banyak pelayanan. Dari sana, saya mulai mengubah pemahaman saya…


Cinta Uang Adalah Akar Dari Segala Kejahatan

Kalau dahulu saya beranggapan “uang adalah akar dari segala kejahatan”, seiring berjalannya waktu saya menyadari bahwa bukan “uang” yang menjadi akar dari segala kejahatan, tapi “kecintaan kepada uang”.

Jadi, dengan konsep ini, yang harus dihindari bukanlah memiliki banyak uang. Yang harus dihindari adalah menjadi seorang yang cinta uang (lebih daripada cinta Tuhan).

Bagaimana kita tahu bahwa kita lebih cinta uang atau cinta Tuhan? Sederhana saja, apakah kamu rela memberikan uangmu untuk Tuhan? Jika ya, maka kamu lebih cinta Tuhan. Jika tidak, maka kamu lebih cinta uang.

Pada tahap ini, saya merasa menjadi kaya itu oke, selama tidak cinta uang.

Ada banyak keraguan saya yang tampaknya dijawab satu persatu selama masa ini.

Salah satu contoh keraguan yang saya hadapi adalah “Apakah dengan menjadi kaya, saya akan menjadi lebih jahat, sombong, dan jauh dari Tuhan? (mungkin karena dulu saya suka nonton sinetron yang menggambarkan orang kaya itu jahat dan sombong)” Untuk pertanyaan ini, saya mendapatkan sebuah jawaban dari sebuah buku: “Kalau pada dasarnya kamu adalah orang baik, menjadi kaya akan membuat kamu semakin baik. Kalau pada dasarnya kamu adalah orang jahat, menjadi kaya akan membuat kamu semakin jahat. Kalau kamu yakin kamu adalah orang baik, kekayaanmu akan membuatmu dapat menolong lebih banyak orang.”

Lalu saya juga berpikir, “Bagaimana jika ketika saya menjadi kaya, saya menjadi cinta uang (lebih daripada cinta Tuhan)?” Dan, saya seperti mendapatkan jawaban berikut: “menjadi kaya dan cinta Tuhan adalah sulit. Tapi kalau kamu benar-benar cinta Tuhan, kamu pasti akan tetap cinta Tuhan ketika kamu kaya. Kalau kamu menjadi berubah jadi cinta uang, berarti pada dasarnya kamu tidak benar-benar cinta Tuhan dari dahulu.”

Pada tahap ini, pemikiran saya mulai berubah. Saya dapat menjadi kaya dan tetap beriman.

Hingga akhirnya, sebuah peristiwa menghantam saya. Peristiwa yang membuat saya ingin menjadi kaya. Saya akan ceritakan peristiwa ini di seri mendatang dari tulisan saya minggu depan.🙂

Bersambung…

Uang, Kekayaan, Dan Spiritualitas (2): Mengapa Ingin Kaya?
Uang, Kekayaan, Dan Spiritualitas (3): Apa Definisi “Kekayaan” Bagimu?

Tag:, , , , , , , , ,

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

3 responses to “Uang, Kekayaan, dan Spiritualitas (1): Sebuah Pergumulan Besar”

  1. Yohanes Hutabalian says :

    luar biasa😀
    mohon izin share ke tman2 fb ku. hehe
    God bless…

  2. Jansen says :

    Ya. Memang susah di mengerti , Saya memang tidak pernah susah, segala sesuatunya di sediakan Tuhan, Saya juga tidak pernah miskin karena segala sesuatunya selalu ada dari orang orang terdekat. walaupun sebenarnya Uang di Bank Setiap bulan Nol. Tapi terus terang tetap jadi pergumulan dalam hidup Saya , Memang untuk menjadi kaya kita perlu Licik , berani dan spekulasi , sedikit menekan dan sedikit menyimpang tapi pribadi kita kadang tidak seperti itu . Saya tidak bisa merubah kepribadian kita untuk jadi yang seperti itu karena mau mendapatkan uang. Tapi sampai sekarang Tuhan belum memberi Saya uang cukup untuk tabungan Saya. Walaupun SAya percaya suatu hari kelak saya bisa kaya karena Anugerah Tuhan. Seperti yang Saudara katakan. Memang saya percaya sekali itu dapat terjadi. Memang kalau saya pertimbangkan untuk menjadi kaya dalam arti kaya sekali kadang kadang kita harus menghilangkan unsur kemanusiaan. Karena saya selalu mengidentikkan diri saya seperti orang itu. Jadi sama siapapun saya suka kasihan dan memberi berlebihan. Saya seperti orang kehilangan batasan karena hal itu ? Tapi Saya tetap percaya Suatu hari kelak Tuhan pasti melihat kekurangan Saya dan memberi Berkat yang saya perlukan tanpa perlu saya harus merubah Kepribadian Saya. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: