Ketika Kita Berhenti Mengeluh, Kita Menjadi Lebih Kuat

Kemarin, ketika saya sedang menjelajah internet, saya menemukan sebuah video yang lucu berikut.

Bagaimana komentar Anda ketika melihat kedua orang yang ada di eskalator tersebut? Banyak dari Anda mungkin berpikir kedua orang itu sungguh konyol. Ngapain juga teriak-teriak minta tolong dan sibuk mengeluh karena eskalator mati di tengah jalan? Kenapa mereka ga langsung aja naik sendiri dengan jalan kaki?

Kita mungkin gregetan ketika melihat tingkah kedua orang itu. Tapi, ternyata banyak dari kita yang melakukan hal yang sama dalam hidup kita. Berapa banyak orang yang sibuk mengeluh ketika menghadapi masalah? Berapa sering kita sibuk menyalahkan orang lain karena hal buruk yang menimpa kita?

Mungkin Anda berkata, tapi dia yang membuat saya mengalami hal buruk ini.

Ya, mungkin dialah yang menyebabkan hal buruk itu terjadi. Tapi, ketika kita menyalahkan orang lain, secara tidak langsung kita memberikan kontrol hidup kita kepada mereka. Merekalah yang menentukan nasib kita. Apakah kita menjadi sedih atau gembira, mereka yang menentukan. Kita seolah menjadi tidak punya kuasa atas hidup kita sendiri.

Jadi, daripada menyalahkan orang lain, lebih baik kita bertanggung jawab 100% atas apa yang terjadi dalam hidup kita. Sebagai contoh, seorang guru pernah berkata, “Murid-murid saya begitu nakal… Mereka tidak akan pernah dapat diajar.” Jika sang guru terus berpikir muridnya yang salah, dia tidak sempat berpikir tentang mengubah dirinya sendiri. Dia akan terus dan terus menunggu muridnya berubah. Dan, kita tidak tahu kapan murid-murid itu akan berubah. Kita menjadi seorang yang pasif, berpikir kalau kita adalah korban dari kenakalan murid-murid itu.

Coba bandingkan dengan pola pemikiran berikut: “Tidak ada murid yang resisten. Yang ada hanya guru yang tidak fleksibel.” Ketika kita berpikir seperti ini, kita tidak akan tergoda untuk menyalahkan murid-murid itu. Ketika mereka tidak belajar dengan baik, kita sebagai guru akan berpikir, apa yang dapat saya lakukan untuk meningkatkan minat belajar mereka? Mungkin saya harus mengubah cara mengajar saya menjadi lebih menyenangkan. Mungkin saya harus lebih memperhatikan mereka. Dan lain-lain. Kali ini, kita mengambil tanggung jawab 100% dari apa yang terjadi. Kita tidak menyalahkan orang lain. Hasilnya? Kita menjadi mempunyai kuasa untuk mengubah keadaan, sesuatu yang jauh lebih pasti, yaitu dengan mengubah diri kita sendiri terlebih dahulu.

Kembali ke cerita eskalator tadi, orang itu tentunya tidak akan mendapatkan apa-apa jika mereka terus mengeluh, mengeluh, dan mengeluh. Menyalahkan orang lain takkan membawa mereka naik. Tapi, ketika mereka mulai berpikir, “Apa yang saya (ya, SAYA, bukan orang lain!) dapat lakukan untuk mengatasi masalah ini?”, mereka akan mulai menemukan cara. Mereka akan naik dengan kaki mereka sendiri, dan mengatasi masalah yang mereka hadapi.

Jadi, ketika kita menghadapi masalah, janganlah bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, kenapa masalah ini menimpaku? Kau sungguh tak adil…”. Melainkan, bertanyalah, “Tuhan, saya yakin Engkau punya rencana yang indah dari masalah yang engkau berikan kepada saya. Sekarang, apa yang dapat saya lakukan, Tuhan, untuk dapat menggenapi rencana-Mu tersebut?”

Mari kita berhenti mengeluh dan menyalahkan orang lain dan menjadi seorang korban yang lemah. Marilah kita mulai memikul tanggung jawab atas apa yang terjadi pada diri kita, berikan respon yang tepat, dan jadilah pemenang. Ketika kita berhenti mengeluh, kita akan menjadi seorang yang lebih kuat.😀

Tag:, , , , , ,

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

3 responses to “Ketika Kita Berhenti Mengeluh, Kita Menjadi Lebih Kuat”

  1. Cahya says :

    Ha ha…, mungkin masalah bukan pada eskalator, tapi pada pandangan, kalau ternyata eskalatornya sampai setinggi langit, tidak ada salahnya bertanya dahulu apakah akan ada yang memperbaiki, jika tidak turun saja kembali.

    Atau, jarak yang hanya satu lantai itu tampak jauh seperti jarak ke langit? Ah…, mungkin itu masalah pandangan masing-masing orang.

  2. Chandra says :

    Mantap sekali Charles… Makasih tulisannya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: