Yang Baik Dituntut Sempurna, Yang Kurang Baik Didiamkan

Terinspirasi dari suatu sore beberapa bulan yang lalu, di mana saya akan memimpin sebuah rapat jam 3 sore. Tepat jam 3 sore, hanya ada satu orang peserta rapat, (anggaplah namanya Denny), yang sudah datang dan sedang duduk menunggu di sofa, sedangkan yang lainnya belum datang.

Saat itu, saya berkata kepada Denny, “Den, coba lihat jam, jam berapa sekarang… Jam 3 kan, dan kita akan mulai rapat jam 3. Kenapa kamu masih duduk santai aja di sofa? Ayo cepat masuk ke dalam ruang rapat!”

Saat saya teringat kembali atas peristiwa tersebut, saya mulai berpikir. Bukankah Denny adalah seseorang yang sangat baik dengan datang tepat waktu, bahkan sebelum waktu yang dijanjikan. Bukankah dia lebih baik dari teman-temannya yang saat itu belum datang, atau bahkan tidak datang? Tapi, kenapa justru dia yang sangat baik tersebut, yang saya tuntut lebih? Kenapa dia yang justru saya lebih disiplinkan, dan kenapa justru dia yang merasakan energi negatif saya yang muncul karena banyaknya anak-anak yang belum datang rapat di waktu yang dijanjikan? Kalau dia yang sudah melakukan hal yang baik, malah mendapatkan respon negatif dari saya, bukankah itu akan membuatnya kecewa dan menjadi enggan datang tepat waktu lagi untuk menghindari energi negatif saya?

Di sisi lain, banyak anak-anak yang akhirnya tidak datang rapat. Namun, saya tidak mem-follow-up mereka. Kenapa? Karena untuk mem-follow-up mereka membutuhkan waktu, tenaga, dan dana ekstra. Dimulai dari waktu untuk mencari keberadaan mereka, tenaga yang dikeluarkan untuk mencari mereka, dan dana untuk menelepon mereka. Akhirnya, mereka “selamat” dari energi negatif saya. Mereka saya diamkan. Mereka merasa baik-baik saja dengan tidak datang rapat tepat waktu, atau bahkan tidak datang rapat sama sekali. Akhirnya, mereka cenderung untuk mengulanginya.

Ironis sekali. Bukankah keinginan saya adalah agar mereka datang tepat waktu? Tapi mengapa mereka yang datang tepat waktu yang justru mendapatkan perlakuan buruk? Sedangkan, mereka yang tidak datang tepat waktu toh “baik-baik saja”.

Marilah Kita Mulai Memberikan Apresiasi

Saya sampai pada sebuah kesimpulan bahwa kita ada di zaman di mana apresiasi adalah hal yang langka. Orang-orang cenderung untuk melihat hal-hal yang buruk dibanding hal-hal yang baik. Mereka banyak menegur hal-hal yang buruk, namun mereka lupa bahwa ada lebih banyak lagi hal-hal baik yang seharusnya mereka apresiasi, dan mereka melupakannya.

Apa langkah yang dapat diambil selanjutnya? Saya memutuskan, bukankah lebih baik bagi saya untuk menunjukkan energi positif dan mengapresiasi Denny yang sudah datang tepat waktu? Ya, dia layak untuk diapresiasi, karena dia lebih baik daripada teman-temannya yang lain dengan datang tepat waktu. Akan baik pula jika saya berikan apresiasi tersebut di depan teman-teman yang lain, yang membuat Denny merasa tindakannya dihargai. Denny akan senang, dan akan senang untuk datang tepat waktu di kesempatan-kesempatan berikutnya. Begitu pula dengan teman-temannya yang lain, akan termotivasi untuk menjadi Denny-Denny yang lain dan akan datang tepat waktu juga di kesempatan berikutnya.

Bagaimana dengan teman-teman yang tidak datang tepat waktu atau bahkan tidak datang? Dibutuhkan sesuatu yang dapat menjadi efek jera bagi mereka. Hal yang paling baik menurut saya adalah memberikan nilai tambah bagi orang-orang yang datang tepat waktu. Berikan mereka sesuatu yang berharga yang tidak didapatkan orang-orang yang tidak datang tepat waktu. Atau, berikan hukuman kepada mereka yang tidak datang tepat waktu. Namun, perlu diperhitungkan pula, bahwa hukuman untuk mereka yang tidak datang sama sekali haruslah lebih berat daripada hukuman untuk mereka yang tidak datang tepat waktu. Atau, mereka akan cenderung memilih untuk tidak datang sama sekali di saat mereka terlambat.

Akhir kata, saya juga mau mengapresiasi Denny atas usahanya untuk datang tepat waktu saat itu.😀

Tag:, , , , , , , ,

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

7 responses to “Yang Baik Dituntut Sempurna, Yang Kurang Baik Didiamkan”

  1. agungfirmansyah says :

    Mantab Char…
    Saya jg sering melampiaskan kejengkelan kpd mereka yg sebenarnya baik, seperti si Deny.

  2. Bernard Immanuel says :

    hehehe… “anggaplah namanya Denny”????

  3. tiara mulia says :

    Tulisan yang bagus, emang bener banyak yang menuntuk si Baik jadi sempurna dan si kurang baik didiamkan. Justru jika kita menuntut si “Denny” untuk kesempurnaannya, bisa memperkerdil mentalnya…begitu bukan?🙂

  4. Charles says :

    @tiara mulia:

    Yup, betul sekali Tiara… Oleh karena itu, marilah kita mengapresiasinya…

    Thanks ya untuk komentarnya.😀

  5. Yohanes Hutabalian says :

    matav om charles : D

    tanpa saya sadari, saya merasa dalam organisasi kami,
    saya dipertuntut seperti Denny oleh pembimbing kami, saya kerja extra, bahkan saya harus mengerjakan perkerjaan teman yang tidak bisa datang pada setiap pertemuan atai kegiatan. dan apresiasi ya saya dapat tidak ada.😦

    tapi degan membaca artikel ini saya merasa, lebih semangat lagi, walau pembimbing saya belum memberikan apresiasinya, tapi saya percaya Bapa di Surga sudah mengetahuinya.😀

    thx om charles. God bless

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: