Pelajaran dari Bermain Pasir di Pantai

Pada tahun baru kemarin, saya bersama keluarga pergi ke Pantai Anyer. Di sore hari yang teduh, saya dan saudara-saudara saya yang lain pergi ke pantai dan bermain pasir di sana. Saya tidak menyangka, saya dapat memetik banyak pelajaran berharga ketika saya sedang bermain pasir di pantai.

Saya berniat untuk membangun sebuah istana pasir yang besar. Untuk mewujudkannya, saya perlu mengumpulkan pasir-pasir cukup banyak untuk dibuat istana. Maka, saya mulai menggali lubang untuk mengeluarkan sebanyak mungkin pasir. Ketika saya sedang menggali lubang, saya melihat hamparan pantai yang begitu rapi. Tidak ada lubang, tidak ada bangunan pasir, dan lain-lain. Padahal, tentunya banyak orang tiap hari yang menggali lubang di sini, membuat bangunan pasir di sini. Tapi, kenapa itu semua lenyap? Di sini, saya belajar satu hal.

1. Jangan membangun di atas pasir

Ya, mereka semua lenyap terhantam ombak. Bangunan yang dibangun di atas pasir tidaklah kokoh. Apalagi, jika bangunan itu sendiri dibuat dengan pasir.

Saya berpikir, apa yang sedang saya lakukan di hidup ini? Apakah saya seperti sedang membangun di atas pasir, atau di atas fondasi yang kokoh? Jangan sampai di akhir hidup saya, saya baru menyadari ternyata apa yang saya perjuangkan sepanjang hidup ini hanyalah sebuah istana pasir yang bersifat sementara, yang jauh dari kekal.

Lalu, saya melanjutkan menggali lubang. Saya mengerjakan semuanya sendiri tanpa memberitahu saudara-saudara saya yang lain. Namun, ada yang aneh… Ketika lubang yang saya buat sudah cukup dalam, tiba-tiba beberapa saudara saya datang membantu menggali lubang. Di sini, saya belajar satu hal yang lain.

2. Lakukan saja, dan orang lain akan membantumu ketika mereka dapat melihat teladanmu

Daripada omong besar, lebih baik kita langsung lakukan hal-hal yang baik, dan menjadi teladan. Mari kita lakukan hal-hal yang menjadi misi kita, dan biarkan orang lain melihatnya. Ketika mereka melihat teladan kita, kemungkinan mereka membantu atau mengikuti kita akan menjadi lebih besar.

Karena sudah banyak yang membantu membuat lubang, saya lalu fokuskan pekerjaan saya untuk membangun istana pasir. Saya mulai membangunnya, semakin lama semakin besar. Namun, tidak ada seorang pun yang membantu saya membuat istana. Semuanya sibuk menggali lubang. Di sini, saya belajar satu hal yang lain lagi.

3. Visi harus dikomunikasikan

Mereka terus menggali lubang karena saya tidak memberitahu visi saya kepada mereka, bahwa visi saya adalah “membuat istana pasir”, bukan “menggali lubang”. Kita harus komunikasikan visi ini dengan baik.

Tak lama kemudian, saya melihat di kejauhan ada saudara saya yang lain yang seluruh badannya sedang ditimbun pasir oleh saudara saya yang lain lagi. Saya cukup tertarik, dan saya melihat “menimbun dia dengan pasir” lebih menarik daripada “membangun istana pasir”. Akhirnya, saya memutuskan untuk berpindah haluan dan membantu saudara saya yang lain itu untuk menimbun, sesuatu yang diikuti oleh saudara saya yang sedang menggali lubang. Saya belajar satu hal yang lain lagi.

4. Visi dapat berubah, jika kita menemukan visi yang lebih baik

Ketika kita melihat visi yang lebih baik, yang lebih tinggi, kita dapat mengubah visi kita. Tentunya, tidak hanya mengubah visi, tetapi meningkatkan usaha kita juga untuk mencapai visi yang baru tersebut.

Kembali ke bermain pasir, ternyata istana pasir yang telah saya buat sebagian tidaklah sia-sia. Saya dapat memanfaatkan pasir tersebut untuk menimbun saudara saya ini. Saya belajar lagi hal yang lain.

5. Visi yang baru tidaklah membuat visi yang lama sia-sia

Kita juga dapat memanfaatkan apa yang telah kita dapatkan ketika kita mengejar visi lama, untuk mengejar visi baru. Kita bisa memanfaatkan ilmu-ilmu yang telah kita pelajari dahulu, untuk mengejar visi baru ini.

Akhirnya, visi baru saya tercapai. Saudara saya berhasil ditimbun oleh pasir seluruh tubuhnya, menyisakan kepalanya yang tersembul keluar. Kami akhiri momen bermain pasir sarat makna ini dengan berfoto bersama. 😀

Rangkuman:

  1. Jangan membangun hidupmu di atas pasir.
  2. Lakukan saja, dan orang lain akan membantumu ketika mereka dapat melihat teladanmu.
  3. Visi harus dikomunikasikan.
  4. Visi dapat berubah, jika kita menemukan visi yang lebih baik.
  5. Visi yang baru tidaklah membuat visi yang lama sia-sia.
Iklan

Tag:, , , , ,

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: