Mungkinkah Mencintai Secara Apa Adanya?

Suatu siang, ayah saya bercerita kepada saya tentang sebuah kisah cinta yang menarik yang didapatnya ketika mendengarkan radio. Kisah yang akhirnya membuat saya berpikir lebih dalam tentang arti cinta, dan yang akan saya bagikan dalam tulisan saya ini. Berikut adalah kisahnya.

Ada sebuah cerita yang ringan, menarik sekaligus indah. Konon ada seorang cowok yang jatuh cinta pada seorang cewek. Ini biasa. Cowok ganteng jatuh cinta pada cewek cantik.

Cowok ini adalah seorang pendiam. Tidak banyak cakap. Dan dia takut untuk mengungkapkannya. Akhirnya dia memberanikan diri, “Saya cinta kamu. Maukah kamu menjadi kekasihku?” Untunglah cinta si cowok ini tidak bertepuk sebelah tangan. “Saya juga cinta kamu,” jawabnya. Maka keduanya mulai menjadi kekasih.

Suatu waktu si cewek berpikir, “Kenapa ya cowokku mencintai saya ?” Dan dia mulai menanyakannya.

“Saya kenal seorang teman cowok. Dia mencintai ceweknya karena dia bisa menyanyi dengan indah. Suaranya merdu dan enak didengar.” Dan dia menambahkan contoh teman lainnya yang jatuh cinta pada ceweknya, karena dia pandai menari. Tangan dan kakinya begitu gemulai ketika dia mulai menari.

“Lalu kenapa kamu mencintaiku ?”, tanya si cewek. Si cowok hanya diam saja. Memang dia tidak pandai bicara. Dia hanya bisa mematung sambil memandang mata si cewek. Ditanya berulang-ulang, si cowok tetap membisu.

Si cewek mulai naik pitam. Dia mulai berpikir yang negatif. Jangan-jangan si cowok cuma bohong. Mungkin saja dia tidak jatuh cinta padaku, tebaknya. Maka dia ingin memutuskan hubungan dengan si cowok ini. Tentu saja si cowok keberatan.

Di tengah persoalan ini, dalam perjalanan ke luar kota, tiba-tiba si cewek kehilangan kendali pada mobilnya. Mobilnya selip, dan terjun ke jurang. Sialnya dia tidak pakai seat belt.

Suatu keajaiban meski lukanya cukup parah, dia akhirnya sembuh. Meski harus meninggalkan 2 cacat. Yang satu kakinya pincang. Jalannya jadi tertaih-tatih. Dan yang kedua, dia menjadi bisu. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Yang menarik, si cowok tetap sabar dan baik hati menunggui ceweknya.

Dan dia akhirnya berbicara, “Kekasihku, untung aku tidak bilang ke kamu, kalau aku mencintaimu karena suaramu yang indah itu. Dan untung aku juga tidak bilang ke kamu, bahwa aku mencintaimu karena tarianmu yang indah.”

“Coba kalau aku menjawab aku mencintaimu karena suara dan tarianmu, padahal sekarang kakimu sudah luka, dan kamu tidak bisa bersuara lagi. Maka aku tidak punya alasan untuk mencintaimu. Alasan apa lagi yang harus aku utarakan, nanti kamu menyangka aku bohong.”

“Sebenarnya aku mencintaimu tanpa alasan apapun. Karena aku memang sadar dan benar-benar mencintaimu seperti apa adanya. Walaupun sekarang kakimu menjadi pincang dan kamu menjadi bisu.”

Air mata mengalir membasahi pipi si cewek. Dia sungguh tersentuh. Dan mereka kembali menjadi sepasang kekasih.

Kadang kita tidak dapat lagi mencintai seseorang, atau mencintai sesuatu karena alasan a atau b. Bukan berarti kita tidak punya alasan. Tetapi kita memang mencintainya secara apa adanya.

Sumber: Tanadi Santoso

Ketika saya mendengar cerita di atas, saya berpikir, “Seberapa banyak orang yang bisa mencintai pasangannya secara apa adanya?” Saya sampai pada satu kesimpulan, tidak ada orang yang bisa mencintai pasangannya benar-benar secara apa adanya. Tapi, bukankah kisah di atas menggambarkan sang cowok yang mencintai ceweknya secara apa adanya? Well, menurut saya, cowok itu hanya mempunyai toleransi yang lebih besar atas cewek yang dicintainya jika dibandingkan dengan kebanyakan cowok lainnya.

Menurut saya, setiap orang yang mencintai pasangannya memiliki toleransi sendiri-sendiri atas pasangannya. Jika pasangannya telah ada di luar batas toleransinya, dia akan berhenti mencintai pasangannya tersebut. Sebagai manusia yang terbatas, manusia tidak bisa seperti Tuhan yang bisa mencintai dengan sempurna. Percaya atau tidak, ada toleransi yang diberikan setiap orang kepada orang yang dicintainya.

Toleransi itu bisa berbeda tingkatannya, dari yang sangat kecil sampai yang sangat besar. Contohnya, ada orang yang mencintai pasangannya karena pasangannya kaya. Dia menetapkan toleransi bahwa pasangannya haruslah bukan orang miskin. Maka, ketika pasangannya jatuh miskin, dia berhenti mencintai pasangannya karena pasangannya sudah melewati batas toleransi cinta yang dia tetapkan. Toleransi ini bisa berbagai macamnya, misalnya “seagama”, “nyambung kalau ngobrol”, “ganteng/cantik”, “perhatian”, “dia harus cinta sama saya juga”, dan lain-lain.

Pemikiran saya ini membawa saya pada satu pertanyaan yang menurut saya harus dijawab oleh setiap pasangan ketika menjalin hubungan yang serius, yaitu “Apakah batas toleransi cintamu kepada pasanganmu?” Batas ini sangatlah penting, karena ketika pasangan kita melewati batas toleransi cinta kita, kita akan berhenti mencintai pasangan kita. Selama kita berprinsip bahwa pasangan hidup kita adalah pasangan kita seumur hidup kita, kita harus meyakinkan bahwa pasangan kita tidak akan pernah (atau sangat sulit sekali) untuk melewati batas toleransi cinta kita. Ini bisa menjadi salah satu pertimbangan kita dalam memilih pasangan yang akan mendampingi hidup kita.

Tapi, meskipun kita sudah mempunyai batas toleransi cinta yang tinggi terhadap pasangan yang kita cintai, tidak menutup kemungkinan pasangan kita dapat melewati batas tersebut. Lalu bagaimana dong? Di sinilah dibutuhkan satu hal yang dinamakan “komitmen”.

Contohnya, kita menetapkan batas toleransi cinta: “pasangan kita tidak selingkuh”. Untuk menjaga batas tersebut, diperlukan komitmen dari pasangan kita untuk “tidak selingkuh”. Itulah yang akan menjaga pasangan kita tetap ada di batas toleransi cinta kita. Itulah juga mengapa komitmen menjadi satu hal yang sangat penting untuk dijaga oleh setiap pasangan. Apabila kita benar-benar mencintai seseorang, kita pasti mau terus menjaga komitmen yang telah kita buat dengannya.

Oleh karena itu, saya menyimpulkan “to love someone is to keep a commitment”. 😀

Tag:, , , , , , ,

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

9 responses to “Mungkinkah Mencintai Secara Apa Adanya?”

  1. anonim says :

    One day i asked my father : “Pa, why you want to get marriage with Ma?”. My father said : “Yah… it is fate”. Is fate same as to keep commitment??

    • Charles says :

      Just because your father answered that “it is fate” doesn’t mean that your father doesn’t keep his commitment he made with your mother.

      At least, your father keep his commitment: “not to leave your mother”, right?😀

  2. havban says :

    kita cinta.. terus.. dia gak cinta..

    itu gimana dunk??

  3. anonim says :

    Well… i think the true reason why you love someone can’t be expressed by words. “At least, your father keep his commitment: “not to leave your mother”, right?😀 ” –> it is not just that commitment, it is all commitments (when you marriage you vowed it) my father kept. CC.

  4. watur says :

    menerima apa adanya

    • LITHA says :

      aku sih pngen cowok ku menerima aku apa adanya tp aku krng suka dngan sikap nya yang bgitu super cuek kpada ku.

  5. dyan says :

    thkz taz crtanY…ni smbeR insPrasi bg q

  6. zainuri says :

    jika harus memilih salah satu antara jatuh cinta dan bangun cinta, maka kupilih yang kedua ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: