Ketika Kita Pergi Meninggalkan Dunia Ini…

Dua bulan yang lalu, seorang teman sekelas saya yang kuliah di NTU pergi meninggalkan dunia ini dengan tiba-tiba karena jatuh. Bulan lalu, giliran saudara mama saya yang pergi karena sakit yang merenggut tubuhnya di usianya yang ke-51. Hari ini, giliran saudara papa saya yang menghembuskan nafasnya yang terakhir, kembali karena penyakit, di usianya yang ke-23.

Saya seakan tersentak. Seorang demi seorang orang yang saya kenal meninggalkan dunia ini, dengan cara yang berbeda-beda, dengan usia yang berbeda-beda pula. Suka atau tidak, cepat atau lambat, saya pun akan mendapatkan giliran. Ketika saat itu terjadi, kira-kira apakah saya sudah siap? Apakah saya sudah cukup membahagiakan orang-orang di sekitar saya? Apakah orang-orang yang saya kenal akan menangisi kepergian saya? Pengaruh seperti apa yang telah saya buat di dunia ini? Apakah saya akan diingat orang karena hal positif yang saya buat, atau hal negatif yang saya lakukan sepanjang hidup ini? Kira-kira, sudah puaskah Tuhan melihat hidup saya?

Dua hari yang lalu, ketika saya naik bajaj, saya memberikan uang bayaran dua ribu Rupiah lebih daripada ongkos yang kami sepakati. Saya menghargai kerja keras dia, dan terutama karena satu hal, dia tidak merokok. Ketika begitu banyak abang bajaj yang merokok, dia mengambil keputusan untuk tidak ikut-ikutan, dan saya sangat menghargainya. Tapi, ada yang lebih penting daripada sekadar dua ribu Rupiah tersebut. Saya melihat dia tersenyum, dan berterima kasih. Oh, saya sungguh bahagia melihat senyum tersebut. Saya tidak menyangka saya akan mendapatkan senyumnya yang menurut saya jauh lebih berharga dari dua ribu Rupiah milik saya.

Kemarin, saya menonton sebuah acara di RCTI, “Uang Kaget”. Di sana, ada seorang ibu yang cacat, tetapi tetap bekerja menjadi buruh cuci dan tukang pijat dengan penghasilan Rp 200.000,- sebulan. Sungguh sangat memprihatinkan. Ketika dia didatangi RCTI jam 4 sore, dia belum makan dari pagi, karena ketidakmampuannya membeli makanan. Namun, meskipun ibu itu miskin, tetapi dia tidak pernah menyusahkan orang. Bayangkan betapa bahagianya dia ketika diberikan “uang kaget” 11 juta Rupiah. Ketika waktu belanja telah habis, ibu itu langsung melakukan sujud syukur di jalan. “Terima kasih Tuhan,” katanya. Bayangkanlah betapa bahagianya kita jika kita dapat menolong orang-orang yang membutuhkan kita.

Tadi sore, saya mengunjungi rumah saudara sepupu saya yang masih bayi. Saat itu, saya melihat betapa indahnya senyum seorang bayi, begitu damai dan polos. Senyum yang tulus. Ketika saya bermain “ciluk ba” dengannya, bagaimana dia bisa tertawa dengan tulus. Bagaimana matanya menyipit, mulutnya mengembang, dengan suara “ehehe” yang keluar dari mulutnya. Sungguh indah melihat senyum yang tulus.

Selama hidup ini, seberapa banyak senyum yang telah saya berikan kepada orang lain. Sebuah pepatah Irlandia berkata “Tuhan sudah memberikan kita sebuah wajah, senyum harus kita lakukan sendiri.” Jika senyum itu begitu membahagiakan, mengapa saya harus tidak tersenyum? Dan, ketika saya pergi meninggalkan dunia ini, berapa banyak senyum yang telah saya kembangkan di wajah orang-orang? Apakah Tuhan akan tersenyum ketika saya bertemu dengan-Nya nanti?

Tuhan hanya memberikan saya hidup satu kali. Jika saya masih hidup saat ini, itu kesempatan yang Tuhan berikan. Saya akan manfaatkan dengan baik. Saya tidak akan menunda-nunda lagi. Setiap kali saya akan menunda, saya akan kembali membaca tulisan saya ini. Ini adalah keputusan saya, tujuan saya hidup di dunia ini, untuk membahagiakan Tuhan dan orang-orang yang juga hidup di dunia ini, sejauh mungkin yang saya dapat lakukan. Saya harus bersemangat menghadapi hidup ini, karena hidup ini adalah kesempatan saya membahagiakan orang lain. Akan saya hargai hidup ini, mumpung belum terlambat…

Terima kasih Tuhan.

Ketika kita datang ke dunia ini, kita menangis dan orang di sekitar kita tertawa bahagia.

Ketika kita pergi meninggalkan dunia ini, sebaliknya yang terjadi, orang di sekitar kita menangis dan kita tertawa bahagia.

Jika suatu saat kamu pergi meninggalkan dunia ini, apakah kamu akan bahagia bertemu Allah di Sorga, atau menangis di tengah api?

Jika suatu saat kamu pergi meninggalkan dunia ini, apakah kamu ingin orang-orang menangisi kepergianmu, atau orang-orang tertawa karena kamu telah pergi?

Jika suatu saat kamu pergi meninggalkan dunia ini, apa yang kamu ingin untuk orang-orang ingat tentangmu?

Lakukanlah hal tersebut, sekarang juga, selagi Tuhan masih memberikanmu waktu untuk hidup di dunia ini, selagi semuanya masih belum terlambat…

Iklan

Tag:, , , , , , ,

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

6 responses to “Ketika Kita Pergi Meninggalkan Dunia Ini…”

  1. muji pur says :

    wah..wahh. mantap char setuju… sayang banget gw baru tau dunia beginian sekarang neh.. hahha.. tapi okelah, bukan masalah besar itu.. hehehe… yupzz setuju, untuk melakukan sesuatu hal lakukan lah sekarang atau tidak sama sekali, hal ini akan mempengaruhi berapa cepat hasilnya nanti.. giving the best.. perbuatlah semuanya untuk Tuhan bukan sekedar untuk Manusia,… Gb Bro.. =)

  2. dilly says :

    makasi charles uda ingetin aku… kalo aku lupa, boleh ya buka halaman ini lagi… πŸ™‚

  3. angel says :

    wahh..ebat deh..tanx ya…

  4. sukempi says :

    ya kita baru ngrasa kehilangan setelah sesuatu itu ga ada di samping kita

  5. becky says :

    terima kasih sdr charles utk sharingnya πŸ™‚
    benar2 memberkati sekali dan memberikan kesegaran buat hati yg lg patah semangat.
    kl boleh curhat, sy sebenarnya merasa diri sy sudah ga berharga lagi, ga layak dan kehilangan tujuan hidup sy..tp sy disadarkan utk ga lagi terus menerus mengasihi diri sendiri krn di luar sana byk org2 yg keadaannya jauh lebih menderita dari sy dan masih bisa bersyukur..knp sy tidak?
    sy jg ingin hidup sy mempunyai arti bg org lain dan membawa berkat utk org lain dan menyenangkan hati Tuhan..amin..
    thx a lot yaa
    GBU

    • Charles says :

      @becky:

      Wah, sungguh senang rasanya mengetahui tulisan saya bisa menjadi berkat untuk Becky. Terima kasih yah untuk komentar positifnya yang membuat saya semakin semangat dalam berkarya.

      Terus semangat yah menjalani hidup ini, menjadi berkat untuk sesama dan terus menyenangkan hati Tuhan. GBU… πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: