Ketika Tuhan Disalahkan

Pernah mengalami suatu kekecewaan sehingga membuat kita menyalahkan Tuhan?

“Tuhan! Mengapa hal ini terjadi? Di manakah Engkau? Mengapa Engkau tidak menjawab doaku? Apakah Engkau benar-benar ada? Mengapa Engkau tidak adil? Aku kecewa kepadaMu…”

Saat itu, kita seolah-olah melupakan status kita sebenarnya, sebagai seorang manusia yang berdosa dan tidak layak dikasihi, tetapi Tuhan mau mengasihi kita. Apakah kita hanya mengikut Tuhan karena Dia memberikan kita kesenangan? Apakah kita mensyukuri segala berkat yang telah Dia berikan kepada kita? Setiap hal-hal kecil yang sebenarnya sangat berharga. Setiap udara yang kita hirup, matahari yang kita rasakan, keluarga dan teman yang kita miliki… Seberapa sering kita merasa kita bisa berbuat lebih banyak dan lebih baik daripada apa yang telah diperbuat oleh Tuhan?

Sebelum kita menyalahkan Tuhan, ingatlah status kita, ingatlah segala hal kecil yang telah Tuhan berikan yang begitu berharga, dan ingatlah bahwa apa yang dia berikan adalah yang terbaik untuk kita. 😀

Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?” Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?

Roma 9:20-21

———————-

O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

Roma 11:33-36

Iklan

Tag:, , , , , , , , , ,

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

3 responses to “Ketika Tuhan Disalahkan”

  1. yud1 says :

    jadi ingat, ada kutipan tentang sebuah cerita. agak lupa persisnya sih, tapi kira-kira begini.

    di sebuah tembok kampus, pada suatu malam seorang mahasiswa menulis, ”Tuhan telah mati—begitulah kata Nietzsche!”

    esok malamnya, seorang profesor menulis di bawah huruf-huruf itu, ”Nietzsche telah mati—begitulah kata Tuhan!”

    simpel, tapi kena. bagaimana sebenarnya ‘kebutuhan akan Tuhan’ itu bisa diinterpretasikan secara berbeda oleh masing-masing individu. termasuk ya ‘menyalahkan Tuhan’ dalam konteks ini, yang akhirnya sih biasanya ke arah pemikiran sekuler-radikal — tapi ini tergantung individu, sih.

    kalau katanya Marx, agama itu candu masyarakat. kalau katanya Freud, agama itu hanya proyeksi bawah sadar manusia, dan tidak akan bertahan lama.

    dua-duanya tidak terlalu berhasil menjelaskan bahwa Tuhan masih tetap dibutuhkan (terlepas dari manusia yang sering frustrasi dan misuh-misuh) selama beberapa ribu tahun terakhir ini, tuh. :mrgreen:

  2. Charles says :

    @yud1:

    Yup. Saya baru dengar juga ceritanya. Manusia butuh Tuhan, tapi seringkali tidak menyadarinya, apalagi orang kalangan skeptik.

    terima kasih telah berbagi 😀

  3. Yohanes Hutabalian says :

    wow, that great : )

    Thank’s buat renungannya 😀

    God bless

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: