Benarkah kamu sayang padanya?

Apakah kamu memiliki seseorang yang sangat kamu kasihi? Mungkin dia orang yang spesial untukmu, atau keluargamu, atau temanmu, atau siapapun dia… Punya? Yah, saya yakin kamu pasti mempunyai orang yang kamu kasihi. Izinkan saya bertanya satu pertanyaan, benarkah kamu mengasihinya?

Apakah jika dia mengecewakanmu, kamu akan tetap mengasihinya?

Apakah ketika kamu memberinya hadiah dan dia menolaknya, bahkan menyakitimu, kamu akan marah padanya? Ataukah kamu akan berusaha dengan lebih keras untuk menyenangkannya?

Apakah ketika dia berbuat suatu hal yang memalukan, kamu akan meninggalkannya?

Jika dia tidak lagi mengasihimu, akankah kamu tetap mengasihinya?

Jika dia berbuat kesalahan yang sangat besar kepadamu, dapatkah kamu mengampuninya dan tetap mengasihinya seperti sedia kala?

Jadi, apakah kamu benar-benar mengasihinya? Apakah kamu benar-benar sayang padanya? Ataukah itu semua hanya untuk kesenanganmu?

Saya mempunyai sebuah cerita. Sebuah cerita yang menggambarkan kasih yang sesungguhnya. Rasa sayang yang sesungguhnya. Cerita yang mengharukan bagi sebagian orang, namun sayangnya, sangat sedikit orang yang dapat meneladaninya. Inilah ceritanya…

Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.

Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat.

Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.

Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.

Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.

Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.

Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria.

Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat.

Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.

Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.

Apa yang kamu dapatkan dari cerita di atas? Pertama kita bisa melihat betapa kurang ajarnya si anak bungsu karena dia telah meminta warisan sebelum ayahnya meninggal. Betapa dia tidak tahu berterima kasih. Dia telah mendapatkan hal-hal terbaik dari ayahnya, tetapi dia tidak puas. Dia malah memilih mengikuti jalannya sendiri dan pergi merantau dan berfoya-foya. Mungkin kita berkata, betapa buruk si anak bungsu ini. Tapi cobalah kita pikirkan, pernahkah kita menjadi seperti si anak bungsu ini? Di saat orang tua kita menasihati kita untuk kebaikan kita, apakah kita masih suka melawan? Apakah kita masih mengikuti jalan kita dan tidak mendengarkan nasihat orang tua kita? Bukankah itu yang dilakukan si anak bungsu? Melawan orang tuanya dan berbuat sekehendak hatinya…

Kedua kita melihat bagaimana hasil yang dituai oleh si anak bungsu yang mendurhakai orang tuanya ini. Bagaimana dia “bersenang-senang” dan menghamburkan uang yang didapatkannya. Sayangnya, dia tidak menyadari, kalau kesenangan yang dia alami hanyalah kesenangan semu yang sesaat. Mungkin saat itu, dia mempunyai banyak teman. Namun mereka bukanlah teman sejati, mereka hanyalah teman yang ada di saat suka, yang hanya ingin memanfaatkan si anak bungsu dan hartanya. Segera setelah harta si anak bungsu habis, teman-temannya meninggalkan dia. Seberapa sering kita berpikir bahwa kekayaan dan harta dapat membeli semua hal, termasuk teman? Seorang teman barulah teruji ketika kita mengalami kesulitan. Akankah mereka tetap setia? Si anak bungsu ini akhirnya mengalami masa-masa menderita, di mana tidak ada yang memberikan makanan kepadanya, bahkan ampas makanan babi pun tidak!

Hal ketiga adalah hal yang menjadi inti tulisan ini. Ketika si anak bungsu menyadari bahwa perbuatannya salah, dia memutuskan untuk kembali kepada ayahnya. Yang unik adalah sang ayah tidaklah marah dan membenci si anak bungsu yang telah mendurhakainya. Malah, ketika si anak bungsu ini masih jauh, sang ayah telah berlari menyambutnya. Itu berarti sang ayah dengan setia menunggu anak bungsunya kembali. Kasih sayang dan pengampunan yang diberikan sang ayah kepada anak bungsunya patut diacungi jempol. Sang ayah benar-benar sayang kepada anaknya!

Hal keempat yang menarik adalah bagaimana si anak sulung tidak senang ketika sang ayah menyambut si anak bungsu yang telah banyak berbuat salah. Si anak sulung tidak terima si anak bungsu yang buruk itu diperlakukan sebegitu istimewa, sedangkan dirinya yang baik tidak pernah diperlakukan begitu istimewa. Ini artinya si anak sulung tidak sungguh sayang kepada ayahnya, tetapi si anak sulung hanya menyayangi dirinya saja. Seandainya si anak sulung benar-benar sayang kepada ayahnya, tentunya dia juga ikut bersukacita karena ayah yang disayanginya bersukacita. Apakah kita juga pernah menjadi seperti si anak sulung tersebut?

Jadi, benarkah kamu menyanyangi dia yang kamu akui sebagai orang yang kamu sayangi? Rasa sayang tidak dapat dilepaskan dari kesetiaan. Seberapakah kamu setia padanya? Seperti sang ayah dengan setia menunggu anak bungsunya, rasa sayang yang sejati akan membuat kita tetap setia kepada orang yang kita sayangi. Dan waktulah yang akan mengujinya… 😀

Tulisan serupa:

Iklan

Tag:, , , , , , , , , , , , ,

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

5 responses to “Benarkah kamu sayang padanya?”

  1. yud1 says :

    poin pertama kedua dan ketiga oke, tapi… kok yang terakhir agak mengganjal yah.

    Si anak sulung tidak terima si anak bungsu yang buruk itu diperlakukan sebegitu istimewa, […] Seandainya si anak sulung benar-benar sayang kepada ayahnya, tentunya dia juga ikut bersukacita karena ayah yang disayanginya bersukacita.

    ah, itu kan cerita bagusnya! :mrgreen:

    nggak, serius deh. IMO, dalam sebuah hubungan (apapun itu), yang penting adalah kedua pihak sama-sama merasa dihargai dan enjoy dengan hubungan tersebut. ketika kedua belah pihak sudah tidak bisa sama-sama senang sebuah hubungan (apapun itu), hal ini berarti bahwa hubungan itu tidak sehat.

    ergo, dalam konteks ini hubungan ‘ideal’ dalam contoh kasus sebenarnya tidak sehat! sang ayah bersikap egois dengan tidak memperhatikan perasaan anak sulungnya, sementara anak sulung bersikap egois dengan tidak mempedulikan perasaan ayahnya.

    tapi bukankah cinta (atau kasih sayang, IMO sinonim) meliputi kesediaan untuk saling memahami dan toleransi? dalam kasus ini, yang terlihat malah kontradiksi dari hal tersebut. hubungan yang tidak memperhatikan perasaan dari pihak lain yang terlibat, pantaskah disebut sebagai kasih sayang? 😉

    ~btw, tampaknya
    ~masalah ini memang nggak ada matinya ya? 😀

  2. hanggadamai says :

    warisan itu ndak perlu diminta
    jangan jadi seperti si anak bungsu ,,

  3. Lex dePraxis says :

    “Rasa sayang tidak dapat dilepaskan dari kesetiaan.”

    Memang benar, namun rasa sayang tidak selalu dengan otomatis menciptakan kesetiaan.

  4. Hansel says :

    bah.. gw pikir u mo share story pengalaman pribadi les..

    hihihihi

  5. natalia says :

    Bagus ya ceritanya.. dapet darimana sih?

    Ohh..gua inget, dari buku yang udah dicetak milyaran kopi ke seluruh dunia, kan?

    Hehe.. setuju, les… Ini baru yang dinamain “the greatest love of all”..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: