Tujuan vs Cara, Mana yang Lebih Penting?

Suatu hari saya pergi ke sebuah rumah makan di sekitar tempat tinggal saya. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, yang menandakan waktunya untuk makan malam. Saya duduk di salah satu bangku yang tersedia dan seorang pelayan membawakan daftar menu.

Saya termasuk seorang yang tidak menyukai masakan yang pedas, dan mungkin dapat dikategorikan juga sebagai seorang yang “chili-phobia” atau phobia cabe. Setelah melihat menu yang tersedia, akhirnya saya memutuskan untuk membeli nasi goreng. Tetapi muncullah sebuah masalah yang sebenarnya sederhana, tetapi dapat menjadi cukup rumit.

Masalahnya adalah di Indonesia, masakan pedas sudah menjadi masakan/makanan yang biasa, dan bisa dibilang masakan menggunakan cabe adalah default dari masakan di Indonesia. Dan karena saya tidak menyukai masakan yang pedas, dan juga karena saya seorang chili-phobia, saya tentu tidak akan membiarkan uang saya terbuang untuk membeli masakan pedas yang tidak bisa saya makan.

Mungkin Anda berpikir, “Jika tidak ingin masakan yang pedas, bukankah tinggal bilang ke pelayannya?” Hal yang sama yang saya pikirkan yang sebenarnya sudah sering saya lakukan. Tetapi saat itu, tiba-tiba muncul masalah, atau jika tidak ingin disebut masalah mungkin bisa dikatakan pemikiran, “Apakah yang harus saya katakan kepada pelayan itu? Apakah ‘jangan pedas’ atau ‘jangan pakai cabe’…”

Mungkin pemikiran di atas terlihat agak bodoh, karena mungkin sebagian besar dari Anda menganggap tidak ada bedanya antara ‘jangan pedas’ dengan ‘jangan pake cabe’. Sayangnya, setelah menganalisa secara singkat, saya malah membuat masalah sederhana itu menjadi rumit, dan saya akan menjelaskan jalan pemikiran saya kepada Anda.

JANGAN PEDAS

Jika saya mengatakan kepada pelayan, “Jangan pedas”, itu berarti saya menjelaskan kepada pelayan itu tujuan saya, yaitu membuat masakan yang sampai ke tangan saya, yang nantinya akan menghuni perut saya setelah melewati mulut saya, tidak pedas. Namun perlu kita ketahui bahwa setiap orang mempunyai interpretasi yang berbeda dengan kata “pedas”. Ada yang menganggap pakai cabe merah itu tidak pedas, kalau pakai cabe rawit baru pedas. Ada yang menganggap memakai lada saja sudah pedas.

Permasalahan yang timbul karena kemungkinan interpretasi kata “pedas” yang berbeda antara saya dengan pelayan membuat tujuan saya bisa tidak tercapai jika interpretasi kami terhadap kata “pedas” berbeda. Itulah kekurangan ucapan “Jangan pedas”, yang sebenarnya ditinjau dari sisi lain memiliki kelebihan, yaitu pelayan menjadi tahu tujuan saya mengatakan hal itu kepada pelayan. Apakah tujuan saya? Tidak lain adalah agar saya tidak diberi masakan pedas.

JANGAN PAKE CABE

Jika saya mengatakan kepada pelayan, “Jangan pake cabe”, itu berarti saya menjelaskan kepada pelayan itu cara yang dia harus lakukan untuk mencapai tujuan saya, yang tidak saya berikan kepada pelayan itu secara eksplisit.

Di satu sisi, cara ini memiliki kelebihan, yaitu sudah pasti masakan yang akan sampai ke tangan saya tidak memakai cabe, tetapi itu tidak menjamin masakan yang sampai ke tangan saya tidak pedas.

Untuk membuat sebuah masakan pedas tidak mutlak harus menggunakan cabe. Ada kalanya lada dapat membuat masakan menjadi pedas, dan saya tidak ingin masakan yang pedas. Saus-saus seperti di Restoran Korea banyak yang pedas, meskipun tidak memakai cabe yang kelihatan bentuknya. “Karena pesannya tidak pake cabe, boleh dong kalau dipakein lada yang banyak…” Mungkin saja sang koki berpikir seperti itu, dan itu tidak salah.

Jadi jelas cara ini juga mempunyai kelemahan, yaitu cara ini tidak menjamin tujuan kita tercapai.

Jika Anda menjadi saya, manakah yang akan Anda pilih? Saya berpikir sebentar, kemudian akhirnya memutuskan mengatakan kepada pelayan itu, “Mas… Jangan pedas dan jangan pake cabe ya.” Cukup aneh, namun perlu, setidaknya untuk pelayan seperti saya…

Iklan

Tag:, , , , , , , ,

About Charles

Seorang alumni Fakultas Ilmu Komputer UI. Suka mengoleksi buku-buku dan membagikan inspirasi-inspirasi yang didapatkannya. Mencintai matematika dan logika sederhana. Hobinya adalah mencari inspirasi dan membagikannya. Seorang biasa yang percaya bahwa dia memiliki Tuhan yang luar biasa.

11 responses to “Tujuan vs Cara, Mana yang Lebih Penting?”

  1. zahra says :

    Yoi charles, sama kaya gw ternyatah. Kalo jadi lo yang duduk di kasus gitu gw udah sangat terbiasa bilang, “mas, gak pake cabe ya, asin!” pasti mas-masnya juga ngeh kalo kita ga bisa makan pedes.

    Kalo malu, ngomongnya bisik-bisik aja X) tapi mending malu dikit daripada makanannya gak enak. XD

  2. Andra says :

    mas, ga pake cabe, ga pake pedas, ga pake lama *haiyah*

  3. Felicia says :

    Wah. sama .. saya juga gak dementh ma cabe
    Biasanya siih kalo di resto saya slalu bilang ma masnya..
    “Mas, jangan pake cabe trus jangan pake micin yahhh”

    heheh.. tapi kalo ko char gak suka lada kayaknya bilang..
    “Mas jangan pake cabe ma jangan pake lada yaa”
    sudah cukup deh sepertinya 🙂

  4. yud1 says :

    simply said, cabe -> pedas, tapi tidak sebaliknya.

    karena untuk membuat suatu makanan jadi pedas, kemungkinan bisa pakai cabe, lada, paprika (wut?) dlsb. jadi, mungkin saja makanan masih pedas, tanpa cabe.

    btw, bukankah predikat ‘pedas’ lebih kuat daripada predikat ‘cabe’? jadi mungkin ada baiknya kita pakai saran yang pertama. :mrgreen:

    ~doyan pedes, jadi gak bingung soal ini 😀

  5. anthonysteven says :

    saya suka pedas, hidup cabe!

    cabe deee (loh?)

  6. waterbomm says :

    hemm..
    dibilang jangan pedas, tetep pake cabe 1,
    dibilang pedas, otomatis pake cabe..
    jadinya gimana ya… 😀

  7. Charles says :

    @zahra:
    Bener zah… Mending ngomong daripada tersiksa saat makan, hehe… Btw, ternyata asin ada hubungannya sama pedes ya…

    @Andra:
    oh iya, kurang ga pake lama…

    @Felicia:
    wah ternyata kita sama yah, hehe.

    @yud1:
    perbedaannya, saat kita mengatakan “jangan pedas” kita memberikan tujuan kita, dan saat kita mengatakan “jangan pake cabe” kita memberikan salah satu cara yang umum untuk membuat tujuan kita terwujud. Agak ribet ya, hehe…

    @anthonysteven:
    Hati-hati, kebanyakan makan cabe nanti sakit perut loh….

    @waterbomm:
    wah, ini namanya abangnya yang bandel… harus diapain yak? hmm…

  8. Refly Hadiwijaya says :

    klo gw sukanya jangan pedas tapi pake cabe (ato pake cabe tapi jangan pedas – ada bedanya ga ya?)….. :mrgreen:

  9. deni says :

    les, gw bingung daritadi mikir2, judulnya nyambung dimana sama tulisannya ya..atau gw yang gak bisa mencari korelasinya ya..hahahaha

    tapi boleh tuh les, sering2 makan sama gw..ntar kalo pedes buat gw aja dah 😀 😀 😀

    *simbiosis mutualisme 😛

  10. RedZz says :

    Cha.. Cha.. ==a
    gw ampe speechLess..

  11. Charles says :

    @Refly Hadiwijaya:
    wah yang ini agak aneh, hehe… tapi ada kalanya pake cabe bisa ga pedas sih…

    @deni:
    wah den, gw pikir bingung apa, ternyata mikirin judulnya ya? hehe… nih hubungannya, kalo kita ngomong “jangan pedas” kita sedang memberikan tujuan kita (agar makanannya jangan pedas), sedangkan kalau “jangan pake cabe” kita sedang memberikan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mencapai tujuan kita. Kapan-kapan gw bikin tulisan yg lebih jelas deh, hehehe…

    ~itu mah parasitisme den, haha…

    @RedZz:
    speechless kenapa nih Bun? ==a

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: